Hero In The Shadows (Pahlawan Dalam Bayangan)

Hero In The Shadows (Pahlawan Dalam Bayangan)
Episode 27


__ADS_3

Celsi langsung mengguyur tubuhnya dibawah software yang menyala, ia terus terisak saat membayangkan dirinya yang begitu kotor.


"Arrgghh...kenapa?, kenapa aku bisa seperti ini?". Tanya Celsi pada dirinya sendiri seraya terus memeluk dirinya.


Saat itu.


Tangan Brian semakin terus gencar, saat jari Brian ingin menerobos masuk kedalam inti Celsi, tiba-tiba saja Celsi tersadar dengan apa yang mereka lakukan, sebelum Brian berhasil menerobos pertahannya, ia segera mendorong dengan kasar tubuh Brian hingga terjatuh disebelahnya.


Celsi kembali memakai jubah mandinya yang sudah terbuka dan bergegas menuju kamar mandi.


Celsi terus meraba tubuhnya sendiri, ia merasa jijik melihat tubuhnya, sekarang ia tidak ubahnya seperti *******. Walaupun Brian belum sempat menerobos perahannya tetap saja ia merasa dirinya sudah sangat kotor, secara Brian sudah melihat tubuh telanjangnya.


Aku benci !!, tubuhku sudah sangat kotor. Hiks...hiks..., sekarang apa yang harus aku lakukan?.


Celsi terus memaki dirinya sendiri, ia benar-benar menyesal dengan apa yang terjadi. Celsi terus membiarkan air membasahi kepala dan seluruh tubuhnya ia bahkan tidak peduli dengan dirinya lagi, ia hanya bisa terus menangis dan terisak akibat ulahnya sendiri.


Kau benar-benar seperti ****** Celsi, kau sangat kotor. Kau tidak pantas disebut wanita baik-baik lagi, sekarang kau sangat menjijikkan. Batin Celsi.


"Ayah, ibu....". Isak Celsi kembali.


"Kak Hans, maafkan Celsi, sekarang Celsi tidak pantas untuk kakak". Tuturnya seraya terus menangis.


Celsi terus bergumam dengan tidak jelas, bahkan ia sudah tidak menyadari berapa lama ia di dalam kamar mandi, penyesalan terus menghampirinya.


"Kak Hans...hiks...hiks...". Gumamnya lagi.


"Padahal Celsi sudah berjanji kalau Celsi hanya kan menjadi milik kak Hans, tapi sekarang Celsi sudah tidak pantas... hiks ... hiks ..., Celsi adalah wanita yang sangat buruk". Tuturnya kembali.


Selama 3 jam Celsi terus mengguyur tubuhnya dibawah air yang terus mengalir, ia bahkan tidak memperdulikan tubuhnya yang sudah tampak kebiruan karena kedinginan. Celsi terus membiarkan tubuhnya dijatuhi oleh air dingin itu, berharap semua noda dan kesalahannya hanyut terbawa air, tapi apalah daya nasi sudah menjadi bubur.

__ADS_1


Sementara Brian sendiri juga ikut merasa bersalah dengan apa yang ia lakukan, ia yakin kalau Celsi pasti sangat membencinya saat ini.


Aku begitu bodoh, aku sudah berubah menjadi pria berensek, dan keparat, aku begitu menakutkan.


Brian terus menyalahkan dirinya sendiri dengan apa yang terjadi, untung saja Celsi dengan cepat mendorong tubuhnya, atau bisa-bisa dia sudah dicap sebagai lelaki bejat yang memperkosa wanita yang tidak berdaya.


Brian terus mondar-mandir ia tidak tau apa yang harus ia lakukan sekarang, dirinya sangat cemas sekarang, cemas karena Celsi akan sangat membencinya dan juga cemas dengan dirinya sendiri yang sudah berubah menjadi lelaki bejat.


Selama 3 jam Brian menunggu Celsi keluar dari kamar mandi, namun tetap saja Celsi tidak kunjung keluar, ia berniat akan meminta maaf pada Celsi, dan ia akan menerima hukuman yang akan Celsi berikan padanya karena menurutnya itu semua adalah kesalahannya.


"Kenapa dia belum keluar". Resah Brian seraya terus menatap pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat.


Setelah menunggu sangat lama namun tetap saja Celsi Belum keluar, ia memutuskan untuk mengetok pintu saja.


Tok ... tok...


"Celsi apa kau masih didalam". Panggil Brian dengan berani. Sebenarnya jantungnya berdebar sangat kencang saat memanggil nama Celsi, namun ia mencoba bersikap biasa sebisa mungkin.


Pintunya dikunci, apa yang harus aku lakukan sekarang?.


Brian sedikit mundur kebelakang lalu kemudian.


Barak....


Hanya dalam satu kali dobrak pintu itu langsung terbuka. Dengan cepat Brian langsung masuk kedalam, dan ia sangat terkejut mendapati Celsi yang sudah tidak sadarkan diri dibawah guyuran shower yang terus menyala.


"Celsi, sadarlah". Panggil Brian seraya terus menepuk-nepuk kedua pipi Celsi.


Namun hasilnya nihil, Celsi tetap tidak sadar sehingga Brian langsung mengangkat tubuh Celsi dan membaringkannya keatas ranjang kembali.

__ADS_1


Tidak bisa, aku tidak boleh mengganti bajunya lagi, atau bisa-bisa aku tidak bisa mengontrol perasaanku. Sebaliknya aku meminta bantuan Palayan saja.


Brian kemudian langsung keluar dari dalam kamarnya dan menuruni anak tangga, ia segera memanggil salah seorang pelayan wanita dan memintanya segera mengganti baju Celsi.


Benar, Brian dan Celsi sudah sampai di New York. Saat mereka sampai di kota itu, Celsi masih tertidur dan itu membuat Brian harus kembali menggendongnya hingga sampai mobil. Vino dan Vio langsung dibawa oleh mobil yang berbeda, mereka akan langsung pulang ke rumah utama, sementara Brian akan kembali ke rumahnya sendiri. Yap, Brian sudah tidak tinggal bersama orang tuanya lagi, walau begitu ia tetap sering berkunjung ke rumah orang tuannya, dan karena itu Brian membawa Celsi ikut bersamanya. Karena merasa lelah, akhirnya Brian membaringkan tubuh elena di atas ranjangnya sendiri, dan ia juga ikut berbaring di sana.


Brian kemudian mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Datang sekarang juga ke rumahku". Ucap Brian dengan dingin.


Setelah mengatakan hal itu, Brian langsung mematikan sambungan telpon tersebut, ia langsung duduk disebuah sofa yang seraya menunggu orang yang baru saja ia hubungi.


Setelah menunggu hampir 15 menit, orang yang ditunggu akhirnya datang juga.


"Kenapa kau sangat lama?". bentak Brian dengan emosi. Ia bahkan menatap orang itu dengan sangat tajam.


"Hey, apa salahku?, apa kau pikir aku tidak membutuhkan waktu untuk datang ke rumahmu?". Tanya orang itu dengan sangat kesal.


Brian sama sekali tidak peduli, ia bahkan semakin menatap orang yang dihadapannya dengan sangat tajam.


Orang tersebut langsung berdecak sebal melihat sikap Brian. Ia tidak habis pikir, bagaimana bisa Brian marah hanya karena ia tidak datang cepat.


Dasar manusia es, apa Lo pikir dengan menutup mata lalu membukanya aku bisa langsung ada di hadapanmu?. Jika saja ada pintu Dora Emon mungkin aku akan memilih menggunakan pintu itu supaya aku bisa cepat sampai.


Brian kemudian langsung berjalan diikuti oleh orang yang tadi, ia segera menaiki satu persatu anak tangga hingga ia sudah tiba didepan pintu kamarnya sendiri.


Orang itu hanya mengikuti langkah Brian dalam diam, dia tidak ingin bertanya apapun karena percuma, Brian tidak akan menjawab, yang ada dia malah ditatap dengan sangat tajam nanti.


Brian langsung membuka pintu dan mendorongnya dengan pelan.

__ADS_1


"Cepat masuk". Ucap Brian seraya menatap orang itu dengan datar.


"Cih, dasar muka datar. Dia bahkan tidak memasang ekspresi apapun saat mengatakannya, entah kapan gunung es ini akan mencair". Gerutunya terus menerus seraya masuk kedalam kamar Brian.


__ADS_2