
Menjalani kehidupan sebagai murid biasa dari sekolah biasa adalah hal yang biasa. Namun dibalik itu semua,sebuah keinginan yang sangat besar membelenggu hati seorang gadis. Gadis biasa dan lahir dari keluarga yang biasa. Keinginan untuk merubah masa depannya dan kehidupannnya suatau saat nanti. Tanpa kenal waktu,ia selalu berusaha menjadi yang terbaik dalam segala hal,tentu tanpa sepengetahuan keluarganya. Ia melakukan itu semua dengan diam diam. Orang tuanya hanya berpikir jika anaknya seseorang yang bodoh dan tak mempunyai keinginan apapun.
Dengan seiringnya berjalan waktu,kini gadis itu telah menjadi sosok gadis yang berbeda. Setiap ada waktu bagi dirinya,ia akan melakukan hal yang menurutnya akan membawanya pada impiannya itu. Telah menjadi kegiatannya setiap hari jika harus berangkat sekolah sangat pagi karena jarak sekolah dan rumahnya lumayan jauh dan jalan kaki.
"Udah mau berangkat ?" tanya sang ibunda
"Iya bun,akut kesiangan"
"Gak tunggu teman teman mu dulu ?"
"Gak bun,mereka lama datangnya mending sendiri"
"Gak takut emang dijalan sendiri ?"
"Takut ? Takut kenapa ?"
"Yah kan berangkat sendiri"
"Gak bun. Manda berangkat dulu ya"
Menjadi rutinitas kesehariannya berangkat sekolah sendiri. Bagi dirinya, apa untungnya ia berangkay dengan temannya yang pada akhirnya ia dicuekin mereka.
************
Sepanjang perjalanan amanda merasakan hembusan angin pagi yang begitu menyejukkan. Tangan tangan mungilnya membelai setiap helai daun yang dilewatinya. Tak terasa senyuman indah terukir dari bibirnya.
"Teman" ucapnya pelan
Ia tahu apa yang diucapkannya tak salah. Ia hanya berpikir apakah ia memiliki seseorang yang disebut dengan teman ? Bukan maksud dirinya jika ia tak punya teman ia punya,namun maksudnya apakah ada orang yang benar benar menganggapnya sebagai teman yang sesungguhnya.
__ADS_1
Tangannya berhenti membelai apapun yang ia lihat. Ia tahu tak seharusnya ia melakukan hal itu dengan meragukan teman temannya. Tapi,dilubuk hatinya yang paling dalam ia menginginkan seorang teman yang menerimanya apa adanya tanpa harus melihat ia dari keluarga mana. Itu yang selalu menjadi beban pikirannya.
'Apakah aku layak mendapatkan seorang teman yang seperti itu ?' batinnya.
************
Saat ini jam menunjukkan pukul 06.30 dan keadaan sekolah masih terbilang sepi,hanya satu dua murid yang terlihat. Dengan napas lelah ia hanya berjalan menuju kelasnya dan mengistirahatkan tubuhnya. Matanya menunjukkan rasa kantuk yang lumayan,wajar karena semalaman ia hampir tak tidur,ia ingin mengejar impiannya tanpa diketahui siapapun. Untuk menghilangkan rasa kantuknya,ia beranjak dari tempat duduknya dan menuju kantin sekolah.
"Pagi bi " sapanya dengan lembut
"Pagi,tumben sendiri. Mana yang lain ?" tanya bibi kantin
"Yang lain ?" tanyanya bingung
"Iya nazma dan nazia. Bukannya kalian selalu berangkat bareng ?"
"Oh mereka. Aku berangkat lebih dulu bi,soalnya mereka suka santai dan agak siang jadi aku tinggalin aja"
Sekolah mulai ramai dan waktu mulai siang. Akhirnya ia meninggalkan kantin dan masuk menuju kelasnya. Sebenarnya ia merasa tak nyaman ketika melihat nazma dan nazia selalu bersama dan terlihat sangat lengket. Memang bukan haknya untuk memutuskan hal itu,namun tetap ia merasa tak terima dengan hal itu. Dirinya pindah sekolah karena ingin mersakan hal baru,bukan hal menyesakkan seperti ini. Dengan perlahan ia melewati mereka,namun tiba tiba tangannya dipegah oleh nazma. Mau tidak mau ia harus berhenti dan memberikan senyum palsu yang akan membuat hatinya terasa sakit.
"Kenapa kau ninggalin kami ?" tanyanya tanpa melepas genggaman tangannya
"Ada hal yang harus kukerjakan pagi sekali,jadi maap aku berangkat lebih dulu" ucapnya tanpa melihat lawan bicara
"Apa ?"
"Maksud mu ?"
"Hal apa yang harus kau kerjakan sampai harus meninggalkan kami"
__ADS_1
'Kami' batinnya sedikit teriris mendengar kata kami,bearti dirinya dan nazia
"Bukan hal yang merepotkan" ucapnya dengan melepas tangan nazma lembut.
Amanda melewati nazma begitu saja dan duduk di bangkunya. Beruntung bangku amanda berada dibelakang nazma,jadi nazma tak tahu apa yang sedang terjadi sebenarnya pada amanda. Amanda duduk di tempatnya dengan perasaan yang tak karuan.
"Kami ?" ulangnya dengan pelan.
Melihat hal itu,nazma hanya menghela napas pasrah dengan perubahan sikap amanda. Semenjak mereka pindah sekolah sikapnya benar benar berubah,ia seakan akan kehilangan sosok amanda yang ceria dan tak pernah menyembunyikan apapun dari dirinya. Yang ia ketahuia bahwa dirinya dan amanda telah berteman sejak kecil,dan keluarga mereka berhubungan sangat baik.
' apa yang terjadi denganmu,kenapa kamu berubah ?' batinnya
************
Tak terasa jam pelajaran pun selesai, kini waktunya bagi setiap murid untuk meninggalkan kelasnya masing masing. Amanda membereskan semua buku bukunya dan memasukkannya kedalam tas. Tiba tiba ada seseorang yang membantunya melakukan hal itu, tentu ia tahu siapa orang itu. Tanpa banyak bicara ia beranjak dari tempat duduknya.
"Terimakasih" ucapnya dan meninggalkan orang itu,lagi lagi tangannya ditangan.
"Pulang bersama ?" tanyanya dengan lembut
"Kalian pulang saja dulu,aku ada tambahan jam pelajaran " ucapnya dengan melepaskan genggaman tangan itu.
"Perlu kami tunggu ?"
'Lagi lagi kami'
"Tidak perlu,nanti orangtua kalian mengkhawatirkan kalian. Aku bisa pulang sendiri" ucapnya dengan meninggalkan nazma yang masih berdiam diri di tempatnya.
Sebenarnya hari ini tak ada jam tambahan sama sekali,tapi amanda ingin menghindari mereka,mereka yang membuat hatinya semakin terluka jika berada disekitarnya.
__ADS_1
' maaf' ucapnya dengan melangkah menjauhi keberadaan kedua temannya itu.