
Tanpa mengatakan sepatah kata pun,aman Amanda melewatinya begitu saja,ia hanya ingin hari ini berjalan dengan baik tanpa gangguan apapun. Tapi,melihat pemuda tersebut berada di depan rumahnya,ia merasa keinginan nya itu tak akan terjadi.
Merasa dirinya dihiraukan,dengan cepat pemuda itu mengejar Amanda dan berniat untuk mengajaknya berangkat sekolah bersama.
"Amanda tunggu"
Mendengar namanya disebut mau tak mau Amanda harus berhenti.
"Ada apa ?"
"Kita berangkat bareng "
'berangkat bareng ? Apa dia gila ? Apa dia belum cukup memberiku masalah?' batinnya
Amanda tak merespon kata kata pemuda tersebut,yang ia lakukan hanya berjalan kembali tanpa mempedulikannya.
Merasa tak dianggap,pemuda tersebut mengejarnya kembali dan menahan tangan Amanda.
"Apa ?"
"Kan aku memintamu untuk berangkat bersama"
"Aku tak mau"ucapnya dengan melepaskan genggaman tersebut
"Kenapa ?"
"Kau bilang kenapa ? Apa kau tak menyadari gara gara dirimu aku jadi dibenci oleh mantan kekasihmu,yang aku sendiri tak tahu alasan pastinya. Dan,tiba tiba ia melempar kesalahannya padaku. Dan kau tanya kenapa ?"
Mendengar ucapan Amanda yang seperti itu,pemuda tersebut terdiam. Ia tak mengungkit semua itu. Itu memang kesalahan,ia memutuskannya begitu saja tanpa menjelaskan apapun pada mantan kekasihnya itu.
"Tapi--"
Belum sempat pemuda tersebut menyelesaikan kata katanya, Amanda pergi begitu saja dengan orang yang melintas didepan mereka.
"Berhenti"ucapnya menghentikan seorang temannya yang melintas didepannya itu.
__ADS_1
"Ada apa ?"
"Boleh,aku ikut denganmu?"
Mendapat pernyataan seperti itu,orang itu untuk sesaat menoleh pada Faisal kemudian mengangguk.
"Terimakasih" ucap Amanda dan Langsung pergi bersama temannya itu.
Melihat kepergian Amanda dengan orang lain, entah mengapa Faisal merasa kesal olehnya. Tanpa menunggu lama ia pun berangkat sekolah
Sekolah
"Terimakasih, atas tumpangannya"ucap Amanda dengan tersenyum lembut
"Sama sama"
Amanda Pun berjalan menuju kelasnya dan setelah menyimpan tasnya ia langsung berjalan menuju kantin sekolah soalnya ia belum sarapan sama sekali.
Amanda menikmati makannya dengan santai,ia sangat jarang merasakan hal itu apalagi setelah kejadian tersebut,tentu hal ini adalah hal yang sangat berharga baginya.
"Tak biasanya,pagi pagi kau sudah dikantin"
"Aku belum sempat sarapan"
Nadia tak bicara apapun lagi mendengar penuturan Amanda,ia pun sarapan bersamanya.
Tak seperti rencana mereka,mereka kira sarapan pagi ini akan sangat tenang tanpa gangguan apapun,namun hal itu harus terbuang jauh jauh dari alam mimpi mereka berdua.
Orang yang Nadia khawatir kemarin,kini telah berada di hadapan mereka.
Amanda sama sekali merasa tak terganggu dengan datangnya orang tersebut,ia harus terbiasa akan hal itu mulai saat ini,sampai dia yang keluar dari sekolah ini atau yang mengganggunya.
Merasa diabaikan begitu saja,ia sangat marah. Selama ini tak pernah ada seorang pun yang berani mengabaikan dirinya seperti yang dilakukan Amanda padanya. Dengan cepat ia mengambil gelas minuman yang ada di depan Amanda dan menyiramkannya tepat pada makanan Amanda yang sedang dinikmatinya saat ini.
Melihat hal itu Nadia sangat terkejut,ia akan berdiri dan marah namun tangannya ditahan Amanda agar Nadia tetap diam ditempatnya.
__ADS_1
Nadia menuruti keinginan temannya itu,walau saat ini ia benar benar sangat marah atas tingkah orang yang ada di hadapannya,yang menurutnya itu sudah sangat keterlaluan.
"Wah,ternyata dia masih punya keberanian untuk datang ke sekolah ini"ucapnya dengan menatap tajam Amanda
Amanda hanya diam dan melanjutkan
sarapannya yang masih utuh belum terkena air yang ditumpahkan kakak kelasnya itu.
Melihat Amanda tetap melanjutkan kegiatannya dengan tenang,tanpa terasa terganggu olehnya. Tentu hal itu membuat dirinya semakin naik darah,ia benar benar merasa diremehkan. Ia pun mengambil sendok yang dipakai Amanda dan membuangnya kelantai.
Tentu hal itu telah mengundang perhatian banyak murid saat ini. Ada berbagai macam tanggapan tentang hal itu,ada yang setuju dengan apa yang dilakukan orang tersebut terhadap Amanda,ada pula yang mengkritiknya karena menurut mereka itu sudah sangat kelewatan.
Kali ini batas kesabaran Nadia telah habis,ia bangkit dan menatap orang yang didepannya dengan tajam.
"Apa yang kakak lakukan ?!"
"Aku ? Aku melakukan hal yang seharusnya aku lakukan "
"Tapi bukan seperti ini juga kak ! Ini sudah kelewatan"
"Kelewatan ? Kurasa tidak. Ini memang sepantasnya gadis ini dapatkan,karena apa ? Karena dia telah membuat aku diputuskan"ucapnya dengan menatap Amanda amat tajam.
Siapa pun yang melihat tatapan itu akan merasa takut,tapi tindak untuk Amanda dan Nadia.
"Itu bukan salah Amanda,tapi salah kakak sendiri"
"Apa maksudmu ?! "Ucapnya dengan menatap tajam Nadia
Yang mendapat tatapan seperti itu,malah tersenyum sinis.
"Kakak putus bukan salah Amanda atau siapapun,tapi salah kaka sendiri" ulangnya dengan pelan dan menekan Setipa perkataannya
Merasa dirinya dihina,dengan cepat tangannya akan menampar pipi Nadia.
Melihat tangan kakak kelasnya terangkat dan akan menamparnya tentu Nadia terkejut,dengan spontan ia menutupkan matanya.
__ADS_1
Namun setelah menunggu cukup lama ia tak merasakan tamparan apapun,akh akhirnya ia membuka matanya untuk melihat apa yang terjadi.