
Amanda merasakan jika seseorang mengelus tangannya dengan sangat lembut,ia tahu siapa yang melakukan hal itu,siapa lagi kalau bukan Nadia. Amanda menoleh dan melihat Nadia yang menatapnya dengan tatapan yang penuh dengan kekhawatiran. Meskipun Nadia tidak mengatakannya jika ia khawatir,nam namun Amanda dapat melihat dengan jelas kekhawatiran itu. Amanda tersenyum lembut padanya, untuk mengatakan jika ia baik baik saja.
Nadia tahu arti senyuman itu,senyuman yang menyembunyikan banyak luka dalam dirinya. Mungkin Amanda hanya tak ingin membuatnya khawatir,tapi ia sudah tak ingin ditipu lagi oleh senyuman tersebut.
Istirahat
Semua murid berhamburan keluar kelas, karena ini waktunya untuk menghilangkan semua rasa lelah yang dimiliki. Tapi tidak untuk Amanda dan Nadia. Mereka berdua masih setia terdiam ditempat duduknya,bukan mereka tak ingin keluar tapi mereka tak membuat masalah lagi jika bertemu dengan kakak kelasnya lagi.
"Man"ucap Nadia memecahkan keheningan antara mereka berdua
"Apa kau serius dengan ucapanmu itu ?"
Mendengar perkataan Nadia yang seperti itu,membuat Amanda menoleh pada Nadia.
"Maaf"hanya itu yang diucapkannya
"Mengapa minta maaf,kau tak melakukan kesalahan apapun"
"Maaf aku harus mengatakan hal itu,maaf jika aku membuatmu kecewa,maaf aku tak bisa menjaga janjiku padamu,maaf aku harus pergi dengan cepat,maaf aku--"ucapannya dengan nada yang bergetar menahan sesak didadanya itu
Nadia yang melihat itu hanya dapat memeluknya untuk menghilangkan sedikit rasa sedihnya itu.
"Tidak apa-apa" ucapnya dengan mengelus punggung Amanda dengan lembut
Entah mengapa Amanda mengucapkan begitu banyak maaf untuk seorang Nadia. Ia sendiri tahu mengapa dirinya melakukan hal itu. Ia hanya mengikuti apa yang kata hatinya inginkan.
Ditengah kesunyian itu,tiba tiba ponsel Amanda bergetar dan hal itu membuat mereka menghentikan pelukan tersebut. Dengan perlahan, Amanda melihat siapa yang menghubunginya saat ini.
Setelah mengetahui siapa yang menghubunginya,tanpa ragu Amanda mengangkat panggilan tersebut.
"Halo"
"Halo,man. Kau dimana sekarang ?"
__ADS_1
"Aku disekolah,ada apa ?"
"Ok. Kalau begitu aku kesana sekarang "
"Raihan ada ap--"
Tuuttt...tutt
Panggilan tersebut terputus begitu saja, Amanda mendengus kesal melihat kelakuan Raihan yang seperti itu. Bukankah dirinya tahu,jika Amanda paling tidak suka diperlakukan seperti ini.
Melihat Amanda yang kesal,Nadia bingung apa yang terjadi dan siapa yang menghubunginya sehingga membuat Amanda kesal seperti itu.
"Siapa yang menghubungimu ?"
"Bukan siapa siapa"
"Tapi kenapa kau terlihat kesal setelah orang itu menghubungimu "
Amanda hanya diam mendengar perkataan Nadia. Ia hanya bingung untuk apa Raihan menghubunginya jika bukan soal pekerjaan,tapi seingatnya ia sudah mengatakan pada Raihan untuk tidak menerima pekerjaan apapun karena ia akan melakukan ujian. Atau jangan jangan ----
"Iya"
"Ada yang mencarimu"
"Siapa ?"
"Keluar dan lihatlah"
Ucapan temannya itu semakin membuat Amanda bingung. Siapa yang mencarinya di sekolah ini,jikabukan jika bukan kakak kelasnya yang menyebalkan itu.
Amanda dan Nadia pun keluar untuk mengetahui siapa yang mencarinya. Saat ia keluar semua murid tengah berkumpul di satu tempat,sehingga ia tak dapat melihat siapa orang tersebut. Dengan sudah payah Amanda dan Nadia berusaha melihat siapa orang tersebut.
Setelah berusaha cukup keras akhirnya mereka dapat melihat orang tersebut. Amanda terkejut dengan apa yang dilihatnya, dirinya tak menyangka jika orang tersebut mewujudkan kata katanya bukan hanya omong kosong belaka.
__ADS_1
Saat ini Do,Sehun dan Raihan tengah
dikerubuni banyak orang,bagi mereka itu hal biasa karena itu sudah menjadi makanan keseharian mereka dimana pun mereka berada. Ditengah banyaknya orang yang berkumpul,Do dapat melihat seorang gadis yang sangat ia kenal,maka tanpa ragu ia melambaikan tangannya pada Amanda.
Amanda yang melihat lambaian tangan itu bukannya senang tapi merasa kesal akan hal itu. Dengan susah payah,ia menyembunyikan kenyataan bahwa ia mengenal orang seperti mereka,tapi hari ini mereka sendiri yang menghancurkan hal itu.
Dengan langkah cepat, Amanda menarik tangan Raihan dan membawanya dari kerumunan orang orang tersebut.
Raihan yang ditarik begitu saja bingung dan kaget, namun ia tak melakukan perlawanan apapun, karena ia tahu jika ini kesalahannya juga.
Merasa sudah menemukan tempat yang cukup sepi, Amanda melepaskan genggaman tangannya pada Raihan. Ia menatap Raihan dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Ada apa ?" Tanya Raihan pura pura tak tahu
"Kau bilang ada apa ? Kenapa kau membawanya kemari ?"
"Siapa ?"
"Mereka " ucap Amanda dengan menunjuk kerumunan orang orang tersebut
Setelah tahu apa yang dimaksud Amanda,Raihan hanya menghela nafasnya.
"Mereka yang memintanya"
"Mereka yang memintanya. Jadi jika mereka memintanya kau melakukan keinginan mereka ?"
"Aku tak punya pilihan, Amanda"
"Kau punya"
"Bagaimana ?"
"Kau tolak permintaan mereka dengan kamu mencari alasan,mudah bukan ?"
__ADS_1
"Menurutmu mudah,tapi tidak bagiku"