
Melihat hal itu amanda tersenyum lembut dan meraih uluran tangan Nadia, seorang teman yang selalu ada untuknya dalam kondisi apapun.
Mereka akhirnya berjalan untuk pulang,melupakan semua yang terjadi saat itu pula. Sepanjang jalan pulang,keduanya sama sama diam,tak berani mengeluarkan sepatah kata pun.
"Man"ucapnya pelan
Amanda tak menjawab panggilan Nadia, namun ia menatap nadia dengan tatapan yang lembut.
"Apa cita citamu sangat tinggi ? Sehingga kau harus pergi jauh"
Untuk sesaat Amanda terdiam,ia bingung harus menjawab apa.
"Bukan maksudku untuk melarangmu pergi jauh untuk mengejar apa yang kau inginkan. Tapi,jika nanti kau pergi jauh,baga bagaimana dengan orang tuamu ? Siapa yang akan menjaga mereka dihari tuanya"
Apa yang dikatakan Nadia ada benarnyanamun ia tak terlalu memikirkan hal itu. Kenapa ? Karena masih ada dua kakak laki lakinya yang akan menjaga ayah dan ibunya itu.
"Aku tahu maksudmu,nad. Terimakasih sudah mengkhawatirkan orang tuaku. Tapi kamu tenang saja,ada kedua kakak laki laki ku yang akan menjaga mereka."
"Aku tahu tapi ----"
Amanda menggenggam tangan Nadia lembut untuk menghilangkan rasa khawatir Nadia.
"Meskipun aku pergi jauh,aku masih bisa menghubungi mereka lewat telpon kan ? Dan aku bisa pulang "
Nadia hanya menunduk mendengar jawaban Amanda yang seperti itu.
"Kau benar"
Mereka pun melanjutkan perjalanan pulang. Meski menempuh waktu yang cukup lama,tapi mereka sampai dengan selamat. Nadia mengantarkan Amanda kerumahnya terlebih dahulu.
"Apa kau tak ingin menginap ?" Tanya Amanda lembut
__ADS_1
"Maaf,lain kali saja. Lagian besok harus kembali sekolah,dan aku belum menyiapkan keperluan sekolah"ucapnya dengan tersenyum lembut
"Baiklah"
"Aku pulang dulu. Ingat tidur nyenyak besok sekolah,kau harus menyiapkan mentalmu"
"Hah ? Kenapa ?"
"Kau ini. Pura pura tidak tahu atau lupa"
Amanda untuk sebentar terdiam.
"Oh iya. Aku lupa. Hehehe"
"Yasudah,aku pulang dulu"
"Baiklah,hati hati dijalan"
Amanda hanya dapat menatap kepergian Nadia dari teras rumahnya. Karena udara malam semakin dingin,ia pun memasuki rumahnya. Ia hanya dapat tersenyum ketika memasuki rumahnya yang terbilang sangat sepi karena hanya dirinya yang menempati rumah ini.
'suatu saat rumah ini akan benar benar kosong'batinnya
Ia pun menatap setiap sudut rumah ini,menyimpan setiap memori yang perlu ia ingat tentang rumahnya,karena suatu saat ia tak dapat merasakan rumahnya lagi.
Baru Amanda hendak melangkahkan kakinya,tiba tiba ponselnya berdering.
Drrrt...drttt...
Dengan perlahan ia melihat siapa yang menelponnya saat ini. Setelah mengetahui siapa yang menghubunginya,ia hanya menarik napasnya pelan.
"Untuk apa ia menghubungiku lagi"gumamnya.
__ADS_1
Ia pun mengabaikan panggilan tersebut,dan melanjutkan kegiatannya yang tertunda itu.
Ternyata ponselnya masih terus berdering,tanda bahwa orang tersebut tidak menyerah untuk menghubunginya saat ini.
"Ia benar benar gigih"
Amanda pun terpaksa mengangkat panggilan tersebut.
"Halo"
"Ada apa, oppa ?" Tanyany dengan nada yang sedikit dingin
"Kau masih marah ?"
"Tidak"
"Benarkah ? Tapi kenapa nada suaramu seperti itu. Seperti marah padaku"
"Tidak"
"Benar ?"
"Aish. Sebenarnya apa yang oppa inginkan ?" Tanyanya dengan jengkel
"Aku hanya ingin bertemu denganmu"
"Bukankah sudah kukatakan tidak bisa oppa. Apa oppa tak mengerti,arti tidak bisa yang aku maksud"
"Aku mengerti. Namun,aku hanya ingin menjelaskan semuanya padamu,agartidak agar tidak terjadi kesalahpahaman"
"Kesalahpahaman ?"
__ADS_1