
Didapur amanda tak benar benar melakukan tugasnya, ia hanya melamun dan larut dalam pikiran kalutnya itu. Ia hanya tak mengerti mengapa sikaonya ada faisal jadi berubah seperti ini, ia tak bisa mengontrol emosi yang menguasai pikirannya saat ini.
Nadia menyusul amanda menuju dapur,karena ia tahu pasti semuanya berjalan tak beres jika amanda bertemu dengan faisal.
Benar saja apa yang menjadi perkiraannya itu,ia melihat amanda sedang melamun. Membiarkan masakan didepannya begitu saja,dengan cepat nadia mengambil alih posisi amanda,jika tidak maka masakannya akan gosong begitu saja. Merasa ada seseorang yang menyingkirkan tubuhnya, amanda tersadar dari lamunanya dan menyadari apa yang telah dilakukannya.
" maaf"ucapnya pelan
"Kau duduk saja,biar ini aku yang menyelesaikannya" ucapnya dengan tersenyum pada amanda
Amanda tak berani membantah perintah nadia saat ini, ia hanya melaksanakan apa yang nadia katakan. Akhirnya ia hanya duduk dan memerhatikan nadia yang sedang memasak dengan cekatan.
Tidak berapa lama, masakan pun selesai. Mereka sama sama makan dalam diam,tak berani buka pembicaraan terlebih dahulu. Setelah selesai makan,amanda merapikan meja makan dan membawa semua piring kotor.
"Biar aku yang melakukannya,kau duduk saja"
Tanda tak ingin dibantah,amanda dengan cepat melakukan semua tugasnya. Sedangkan nadia hanya duduk diam dutemoatnya. Amanda tak sadar jika ia melakukannya dengan pikiran yang entah kemana.
praaanggg
Piring yang dioegangnya terjatuh dan itu membuatnya terkejut. Nadia yang berada di meja makan pun sama terkejutnya dengan amanda. Dengan cepat nadia menghampiri amanda dan membantunya membereskan semua ecahan piring yang berserakan dilantai.
"Biar aku saja yang membereskannya,kau duduklah" ointa nadia dengan lembut
"Tak apa biar aku saja"
Karena tak hati hati,tangan amanda berdarah terkena oecahan piring.
"Awww" ringisnya pelan
Nadia yang melihat tangan amanda berdarah hanya dapat menghela napas.
"Sudah kubilang biar aku saja,kan lihat tanganmu berdarah. Lebih baik kau obati tanganmu dan biar ini aku yang menyelesaikannya"
"Tapi ak-"
"Tak ada tapi tapi an" ucapnya dengan menatap amanda tegas
"Baiklah"
__ADS_1
Amanda pun segera bangkit dari tempatnya untuk mengobati luka ditangannya. Meski ia berkata bahwa ia baik baik saja,tetap saja rasanya perih. Sebesar apapun itu luka tetaolah luka,walaupun luka itu kecil tetap akan terasa perih. Nadia membereskan lecahan piring dan membuangnya ketempat yang aman. Nadia pun menghampiri amanda yang sedang mengobati lukanya,namun apa yang dilihatnya amanda lagi lagi melamun bukan mengobati lukanya.
Nadia hanya menggeleng kepalanya melihat kelakuan amanda yang seperti itu. Nadia pun merebut obat yang dioegang oleh amanda.
"Kau ini berniat mengobati lukamu atau tidak ?" tanyanya dengan membersihkan lukanya
Amanda hanya diam dan menunduk. Ia memerhatikan nadia yang sedang mengobati lukanya. Entah kenapa waktu waktu ini pikirannya melayang jauh tidak tahu kemana. Berbagai pikiran bersarang di kepalanya, tentang faisal yang tiba tiba terus mendekatinya meskipun dia telah memiliki seorang kekasih,dan tentang oppa nya.
Seharian ini ia tak menerima kabar darinya,ia tahu bahwa dia adalah orang sibuk namun sesibuk sibuknya dia,dia tak pernah sekaluoun tidak menghubunginya seperti hari ini.
"Apa kau punya masalah ?" tanya nadia yang selesai mengobati luka amanda
Yang ditanya tak menjawab,ia masih sibuk dengan lamunannya sendiri.
"Man" ucapnya dengan menyentuh tangan amanda lembut
"Hah ? Apa ?" ucapnya bingung
Nadia menggeleng, melihat respon amanda yang seperti itu.
"Kau baik ?"
Nadia menatap tak percaya dengan apa yang dikatakan amanda padanya.
"Benarkah ? "
Amanda mengangguk pasti.
"Kalau begitu jawab pertanyaan pertamaku "
"Pertanyaan pertamamu ?" tanyanya bingung
"Berarti kamu tak mendengarkan perkataan ku sebelumnya kan ?"
Amanda menggeleng pasrah.
Melihat respon seperti itu, nadia hanya menghela napas pelan.
"Aku bertanya apa kau mempunyai masalah ?"
__ADS_1
"Tidak"
"Yakin ?"
"Hmm"
"Sepertinya kau menyembunyikan sesuatu dariku ?"
"Aku tidak menyembunyikan apapun darimu "
"Benarkah ? Lalu kenapa kau menghindari faisal ?"
Mendengar nama faisal disebut membuat amanda terdiam. Ia tak tahu harus menjawab apa atas pertanyaan yang satu ini.
"Berarti perkiraanku benar. Kau memiliki masalah dengannya"
"Aku tidak memiliki masalah dengannya, nadia"
"Lalu ken--"
"Lebih baik kau pulang, ini sudah sore. Tak mungkin kan jika kau harus menginap dirumahku"
"Kau mengusirku ?" tanyanya tak percaya dengan apa yang dikatakan amanda
"Tidak"
"Aku tak yakin meninggalkan mu sendirian, apa lagi dalam keadaan seperti ini"
"Aku ingin sendiri, nad"
Mendengar perkataan amanda, nadia pasrah karena ia tahu. Ia tak akan bisa memaksa keinginan temannya itu.
"Baiklah. Tapi kau harus janji padaku,jika terjadi sesuatu atau --"
"Kau mendoakan aku agar terjadi sesuatu begitu ?" potongnya
"Tidak,bukan begitu maksudku"
"Iya aku mengerti. Jangan terlalu khawatir berlebihan nad,aku baik baik saja. Dan aku janji jika ada sesuatu aku akan menghubungimu"ucapnya dengan menggenggam tangan nadia lembut.
__ADS_1
Rasanya lega,jika Amanda sudah berjanji seperti itu. Meski ia tahu amanda pasti tak akan meneoati janji tersebut, tapi meskipun begitu ia tetap merasa lega. Akhirnya nadia pun pulang kerumahnya meskipun dengan berat hati.