Hidup Bersama Sang Idaman

Hidup Bersama Sang Idaman
Bagian.21


__ADS_3

Sepulangnya nadia, Amanda memasuki kamarnya. Ia benar benar ingin sendiri untuk saat ini, pikirannya benar benar tak tenang. Dengan perlahan ia mendekati jendela yang berada di kamarnya,ia menatap langit sore yang berwarna jingga.


" apa oppa sedang melihat langit saat ini ? Apa langit disana sama indahnya oppa ?" gumamnya dengan memandang langit sore.


Tak ingin pikirannya terlalu jauh mengangkasa,amanda memilih untuk membaringkan tubuhnya,dan menenangkan pikirannya.


******


Hari ini,hari untuk kembalinya dia menuju negaranya. Selama dalam perjalanan, ia tetap terdiam tak mengeluarkan seoatah kata apapun. Yang ia lakukan hanya menatap keluar jendela,pikirannya sangat kacau. Selama dalam perjalanan, ia tak pernah melepaskan ponselnya dari genggamannya. Sehun yang berada disampingnya, hanya menatapnya khawatir.


Tak biasanya hyungnya bersikao seperti ini, hyung yang selalu ceria dan banyak bicara menjadi sangat pendiam.


Selama itu pula ponselnya terus berdering, namun tak pernah ia lirik sedikit pun ponselnya itu.


"Hyung" sapanya dengan memegang tangan hyungnya lembut


D.o menoleh karena merasa ada seseorang yang memanggilnya dan memegang tangannya.


"Ponsel mu terus berdering, apa tak hyung angkat dulu" ucapnya dengan menatap ponsel yang digenggam hyungnya


Ia pun melihat ponselnya yang dalam genggamannya. Bukannya mengangkat panggilan tersebut, ia malah menyimpannya disampingnya dan mengabaikan panggilan tersebut.


"Kenapa hyung ?"


"Tak apa" jawabnya tanpa menoleh pada sehun,ia hanya asyik memandangi langit diluar sana.

__ADS_1


"Tapi ponselnya terus berdering hyung tak kau angkat dulu siapa tahu oen-"


"Kau saja yang angkat" jawabnya tanpa menoleh pada sehun


Sehun bingung dengan jawabnya hyungnya itu. Bukan hanya dirinya, tapi yang lain pun begitu,karena sejak tadi mereka mendengarkan pembicaraan mereka berdua.


*********


Setelah bangun tidur yang ternyata masih malam dan langit masih gelap. Amanda mengambil ponselnya dan menatap ponselnya dengan ragu. Ia merasa heran kenapa oppa nya tak menghubunginya sama sekali,apa ia marah padanya ? Tapi jika marah karena apa ? Karena ia merasa tak melakukan kesalahan apapun. Dengan ragu ia mencari namanya dan menekan tombol panggil.


Tapi panggilan yang ia lakukan tak kunjung diangkat oleh oppa nya. Amanda semakin merasa heran,karena ia tak pernah membiarkan panggilan darinya. Namun amanda tak menyerah begitu saja,ia mencoba memanggilnya kembali dan hasilnya tetap nihil.


Berkali kali ia coba,namun hasilnya sama tak satu pun panggilan darinya yang diangkat. Dengan pasrah amanda pun menghentikan kegiatannya itu,ia tak ingin menghubunginya lagi,toh ia tak memiliki kesalahan apapun.


"Apa akan turun hujan ?" gumamnya


Tak lama rintik rintik hujan turun membasahi malam,benar saja apa yang dikatakan amanda hujan turun.


"Hujan turun juga"


Ia memandang langit malam yang dihiasi hujan turun dengan sendu,entah perasaan nya saat ini benar benar kacau. Yang ia inginkan mendengar suaranya disaat seperti ini bukan malah keheningan seperti saat ini.


Dengan perlahan ia pun menutup tirai jendelanya,mendengarkan aluanan hujan seakan musik pengantar tidur baginya,damai dan tentram itu yang ia rasakan.


Mungkin malam ikut bersedih,melihat hati amanda yang begitu rapuh. Maka langit pun tak membiarkannya untuk bersedih seorang diri.

__ADS_1


Amanda tak ingin belarut dengan kesedihanya,ia pun akhirnya mengambil jaket yang cukup tebal,dan mulai berjalan keluar rumahnya dengan membawa sebuah payung hitam milikya. Tak lupa ia membawa ponselnya, siapa tahu oppa nya akan menghubunginya nanti.


*********


Akhirnya mereka pun telah sampai ditempat kelahirannya. Dengan perlahan mata yang awalnya terlejam karena lelah sedikit demi sedikit akhirnya terbuka. Tangannya tak melepaskan genggaman ponselnya. Langit disini terlalu kelabu bagi dirinya, sejak kembalinya dia kemari semuanya terasa amat berat. Ia sangat tak ingin bangkit dari posisi nya saat ini, entah kenapa sedangkan dirinya masih memiliki tugas lain yaitu membuat sarapan untuk teman temannya.


Dengan malas ia bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan menuju daour. Tepat, ruangan itu masih sangat sepi, tak ada seorang pun yang bangun seoagi dirinya. Dengan cekatan ia menyiaokan semua keoerluan yang ia butuhkan.


Tak lama satu persatu temannya terbangun,namun tak ada sapaan seperti biasanya yang ada hanya sebuah keheningan. Sedangkan dirinya menyibukan diri berkutat dengan kegiatannya. Tiba tiba seorang temannya datang menghampiri nya dan berdiri disampingnya.


"Apa ada yang bisa kubantu ?" tanyany lembut


Ia hanya menoleh sesaat


"Tak perlu sebentar lagi juga selesai, lebih baik hyung duduk saja" ucapnya tanpa menoleh pada lawan bicaranya.


Mendapat jawaban seperti itu tak ada yang bisa dilakukannya lagi,selain menurut dengan apa yang diucapkannya.


Tak lama sarapan pun selesai. Semuanya makan dalam diam tak ada suara lain kecuali sendok yang saling beradu. Ia selalu terbiasa melakukan semua tugasnya sendiri, dari memasak hingga mencuci piring. Ia tak keberatan dengan semua hal itu. Namun kegiatannya kali ini dihentikan oleh seseorang.


"Ini biar kami yang melakukannya, kau istirahat saja" ucapnya dengan dingin


Ia menatap yang lain meminta oendaoat,yang lain pun hanya mengangguk menyetujui perkataan tersebut.


Akhirnya ia menyimpan piring kotor yang berada di tangannya menuju dapur,dan ia berlalu meninggalkan ruangan tersebut tanpa seoatah kata apapun. Yang lain hanya dapat menghela napas melihat sikaonya yang benar benar berubah.

__ADS_1


__ADS_2