Hidup Bersama Sang Idaman

Hidup Bersama Sang Idaman
Bagian.26


__ADS_3

"Tapi jujur,aku tak memiliki niat sama sekali untuk menghancurkan hubungan kalian"


"Aku tak percaya dengan kata kata yang kau ucapkan itu"ucapnya dengan menatap Amanda acuh.


Yang ditatap seperti itu,hanya menghela napas. Lelah,sungguh ia benar benar lelah.


"Kalau kakak tidak percaya dengan kata kataku,terserah kakak"ucap Amanda dengan menarik tangan Nadia untuk pergi dari tempat itu.


Amanda dan Nadia pergi menuju kelasnya,kare karena waktu pembelajaran akan segera dimulai kembali. Nadia memerhatikan wajah Amanda yang benar benar sedang memikirkan berbagai macam masalah dalam hidupnya.


*******


Kini waktunya bagi semua warga sekolah untuk pulang,tentu hal ini adalah hal yang paling dinantikan Amanda. Bagaimana tidak ? Ia bisa menjernihkan pikirannya nanti.


Tentu Nadia menatap temannya itu dengan khawatir,takut jika orang orang yang mengganggunya datang seperti tadi.


"Berhenti menatapku seperti itu,nad"ucapnya tanpa menatap lawan bicaranya


"Aku hanya khawatir"


"Khawatir ? Kenapa ?" Tanyanya bingung


"Aku takut,jika mereka akan meng--"


"Aku bisa menjaga diriku sendiri"ucapnya tersenyum lembut pada Nadia


"Apa perlu aku menginap ditumahmu ?" Tanya Nadia dengan menatap Amanda penuh harap


Mendengar hal itu amanda tersenyum dan menggeleng pelan "tak perlu,aku bisa menjaga diriku sendiri"


"Kau yakin ?" Tanya Nadia ragu


"Hmmm"


"Baiklah jika itu keinginanmu aku tak bisa memaksanya.


Akhirnya mereka pun berpisah,kare karena jalan kerumah mereka berbeda. Selama dalam perjalanan pulang pikiran Amanda melayang entah kemana. Sungguh,saa ini ia tak benar benar fokus memperhatikan langkahnya. Hingga suara dering ponselnya membuyarkan lamunannya.


Ia pun mengambil ponselnya yang berada di dalam sakunya. Tentu,ia tahu siapa yang menelponnya,kare karena ia tak menghapus nomor orang itu. Dengan malas ia mengangkat panggilan tersebut.


"Halo"


"Man"ucapnya lembut.

__ADS_1


Suara ini. Suara yang beberapa hari Amanda rindukan ,yang ia hubungi berkali kali namun tak mendapat balasan apapun. Yang sekarang coba Amanda lupakan,nam namun orang itu kembali menghubunginya.


'apa yang orang ini inginkan lagi ?' batinnya amat bergejolak,antara rindu dan kecewa.


"Apa kau masih disana ?" Tanyany lagi


"Hmm"


"Kenapa tak ingin bertemu denganku man,apa kau membenciku ?" Tanyanya sedu


Mendengar suara tersebut begitu, sungguh Amanda sangat tak tega. Hatinya ikut merasa sakit dan sedih.


"Tidak"


"Lalu ken--"


"Aku sibuk oppa. Sebentar lagi ujian kelulusan"


"Oh benarkah ?" Ucapnya pelan


"Jika begitu aku yang k--"


"Untuk apa ?" Tanya Amanda pelan


"Untuk apa oppa kemari ? Bukankah oppa ingin pergi meninggalkan ku ? Bukankah teman teman oppa tak mengijinkan oppa berhubungan denganku ? Oppa akan melupakanku untuk se--"ucap Amanda yang semakin lama semakin pelan.


"Aku tak akan melupakanmu" potongnya meski dengan pelan


Sungguh, ia tak menyangka jika ia akan melukai gadis yang ingin di lindunginya oleh keegoisannya dan teman temannya.


Mendengar hal itu ,aman Amanda hanya diam.


Meski hanya mengenalnya dalam waktu sebentar,tapi ia tahu jika oppanya itu bukan orang yang mengingkari janjinya. Tanpa sadar air mata Amanda mengalir begitu saja,tentu langkah kakinya berhenti.


"Aku janji man,aku tak akan melupakanmu"ucapnya kembali


"Bagaimana bisa ?" Ucap Amanda amat lirih


"Hah ?"


"Bagaimana bisa oppa tak akan melupakanku,jika oppa sendiri tak akan menghubungi ku lagi seperti biasanya ?"


Mendengar hal itu,ia hanya diam. Apa yang dikatakan Amanda ada benarnya, bagaimana bisa ia akan mengingat seseorang jika seseorang itu tak pernah berhubungan dengannya ?

__ADS_1


Amanda tak kuat menahan sedihnya lagi,de dengan cepat ia memutuskan sambungan telepon tersebut. Yang dapat Amanda lakukan saat ini hanya menangis,menang menangis karena orang yang membuatnya nyaman akan pergi dari kehidupannya untuk selamanya. Dengan perlahan amanda melangkahkan kakinya menuju rumahnya yang jaraknya tak terlalu jauh.


******


Dengan menghela nafas,d.o membanting kan ponselnya pada tempat tidurnya. Ia pun membaringkan tubuhnya di samping ponsel tersebut. Ia menatap ponselnya dengan tatapan yang sulit diartikan,saat ini kepalanya benar benar terasa pusing baginya.


Ia sungguh tak mengerti dengan dilema yang dirasakannya saat ini. Dengan perlahan ia menyambar jaket hangatnya,dan berjalan menuju keluar kamarnya yang membuatnya sesak untuk sesaat.


Tanpa d.o sadari saat ini,semua orang tengah berkumpul di ruangan bersantai tersebut kecuali dirinya.


"Mau kemana Hyung ?" Ucap Sehun yang melihat d.o sudah sangat rapi


"Ah,hanya mencari udara segar"


"Tapi,kena kenapa kau membawa tas dan paspormu,apa kau akan bepergian jauh?" Tanya salah satu hyungnya.


Mendapat pertanyaan seperti itu,d.o hanya diam dan melihat apa yang dimaksud hyungnya itu.


"Aku hanya ingin berlibur beberapa hari, hyung"ucapnya dengan senyum yang dipaksakan olehnya itu.


Mendengar jawaban seperti itu,membuat membuat hyungnya berjalan mendekatinya dan menatap dalam mata d.o. mencari kebohongan yang sedang disembunyikannya,ketika ia mendapatkan kebohongan tersebut,tiba tiba tiba Hyung tertuanya menariknya.


"Apa kau akan menemuinya?" Ucapnya dengan nada lembut


Mendengar hal itu,d.o hanya dapat terdiam. Ia benar benar tak bisa membohongi satu hyungnya ini. Bukan hanya d.o yang terkejut dengan perkataan tersebut tapi semua orang yang berada di sana.


"Jadi apa yang kukatakan benar ?" Tanyanya kembali


"Iya Hyung." Ucapnya tanpa berani menatap hyungnya itu


Suho hampir terbawa emosi,jika saja Xiumin tidak mengeratkan genggamannya itu.


"Berapa hari ?"


"Hanya tiga hari"


"Apa yang akan kau katakan padanya ?" Ucap Suho yang sedang mati Matian memendam emosinya itu.


"Aku hanya akan mengatakan salam perpisahan"


"Salam perpisahan ?" Ucap Sehun dengan sedu.


Karena ia tahu,bagaimana hyungnya itu sangat bahagia ketika mendapatkan seseorang yang dapat bercerita dengannya. Dan kali ini,hyungnya dengan mudah mengatakan akan melakukan salam perpisahan,bukankah itu sangat menyakitkan untuk dirinya sendiri dan gadis itu.

__ADS_1


Ia menatap hyungnya yang masih tertunduk,tak berani mengangkat kepalanya. Dapat terlihat jelas olehnya,jika saat ini hyungnya tengah amat terluka. Diantara kebisuan itu Sehun pergi dari tempatnya dan mempersiapkan diri untuk ikut dalam dengan hyungnya,dengan ijin atau tanpa dari hyungnya itu.


__ADS_2