Hukuman Bagi Sang Pembunuh

Hukuman Bagi Sang Pembunuh
Mimpi Buruk


__ADS_3

"Elyn... ada apa?" Ayah yang berdiri di depan pintu itu bertanya pada Elyn yang saat itu masih belum tidur.


"Aaah.. Ayah.." Elyn menatap ayahnya dengan mata berkaca-kaca. Ayah menghampiri putrinya. Di belainya dengan lembut rambut Elyn.


"Putri ayah kenapa? Kenapa jam segini belum tidur sayang?" Ucap ayah keheranan melihat Elyn yang duduk termenung menatap jendela kamarnya itu.


Tentu hal yang wajar jam 10 malam adalah jam yang sangat larut bagi anak-anak seusianya.


"Tadi Elyn bermimpi buruk ayah.. Elyn bermimpi tenggelam ayah, sangat gelap. Elyn tidak bisa bernafas. Elyn terbangun dan terkejut. Ketika Elyn mencoba untuk tidur lagi, Elyn masih merasa takut dan tidak berani menutup mata ayah..."


"Elyn tersayang ayah, sangat ketakutan ya.. Semua akan baik-baik saja. Itu hanya mimpi.. Ada ayah disini.. Ayah akan menemanimu sampai Elyn ku tertidur. Bagaimana?" Ujar ayah sambil membetulkan selimut Elyn.


"Elyn benar-benar takut ayah.. Setiap memejamkan mata rasanya Elyn kembali tenggelam." Rengek Elyn pada ayahnya


"Kan ada ayah disini sayang.. Tidur lah.. Atau mau tidur bersama ayah dan ibu?" Tutur ayah pada Elyn berusaha untuk menenangkan Elyn.


Elyn mengerutkan keningnya ia memikirkan tawaran ayahnya dengan baik. Ayah yang melihat itu tersenyum tipis.


"Aaah.. Tidak usah ayah.. Ayah temani saja sampai Elyn tertidur ya." Seru Elyn menolak tawaran ayahnya itu.


"Iya tuan putri ku tersayang.. " Sembari kembali merebahkan tubuh Elyn ke kasur serta memperbaiki selimut Elyn.


"Tapi yah, jika Elyn tenggelam apakah ayah akan menolong Elyn?" Tanyanya penasaran dan kembali bangkit dari tidurnya.


"Tentu saja...!" Seru ayah penuh keyakinan.

__ADS_1


"Lalu... bagaimana jika disitu tidak ada ayah.?" Elyn tampak sangat serius dengan pertanyaannya.


Dengan tatapan heran mendengar pertanyaan anaknya itu ayahpun menjawab sambil tersenyum.


"Tentu saja akan ada pangeran yang menolong putriku tercinta.." Jawab ayah. Terlepas itu pertanyaan yang serius atau bukan. Tapi itu jawaban yang tepat untuk seorang anak kecil.


"Benarkah ayah.." sahut Elyn dengan penuh semangat. Bagaimana pun kisah Putri dan Pangeran adalah dongeng yang indah bagi anak-anak.


"Iya Elyn ku tersayang.. Sudah tidurlah.. Agar Elyn ayah cepat tidur, ayah akan memberitahu satu hal padamu.. Hari Minggu nanti kita akan berangkat dengan perusahaan ayah untuk liburan dengan kapal pesiar. Kita akan berlayar melewati beberapa negara, bahkan kita akan mengunjungi Benua Zorina. Bukankah kamu sangat ingin ke sana?" Ucap ayah memberikan kabar gembira seraya meyakinkan Elyn agar Elyn segera kembali tidur.


"Beneran yah..?" Elyn masih tidak menyangka.


"Tentu saja.. Ayah bahkan meminta atasan ayah untuk memajukan jadwal Liburan Karyawan agar bisa bertepatan di hari ulang tahun putri ayah tercinta ini.. Bagaimana.?" Ayah kembali berusaha meyakinkan Elyn. Ia berharap kabar baik ini membuat Elyn bisa melupakan mimpi buruknya.


"Wah... Terimakasih ayah.. Elyn sangat bahagia.. Elyn sangat tidak sabar menantikannya.." Tampak seutas senyuman kini semakin merekah dari bibir mungil Elyn.


Ayah memang sering mengecek kembali kamar Elyn. Untuk memastikan ia tertidur atau sekedar merapihkan buku yang berserakan di atas kasur ketika Elyn ketiduran. Itu sudah menjadi kebiasaan ayah tiap hatinya. Tak jarang, Elyn pun menunggu ayahnya jika mimpi buruk terjadi seperti saat ini.


Tak lama setelah Elyn memejamkan matanya. Ia pun tertidur pulas dan melupakan mimpi buruk itu, mungkin karena bahagia setelah mendengar ucapan ayahnya tadi. Kabar gembira yang sangat ia idamkan.


***


Keesokan harinya Elyn bangun lebih cepat dari biasanya. Bangun tidur Elyn langsung berlari menuju meja makan untuk sarapan. Biasanya Elyn memang akan di bangunkan ketika sarapan sudah selesai di siapkan, tentu saja dengan usaha ekstra untuk membangunkan Elyn. Karena ia sering susah untuk di bangunkan. Akan tetapi pagi itu Elyn tampak sangat bersemangat. Mungkin karena ia mengingat ucapan ayah semalam. Bahwa mereka akan mengunjungi Benua Zorina. Tempat yang paling ingin ia kunjungi. Tentu saja ia sangat ingin mendengar detailnya dari ayah secepat mungkin.


"Elyn.. Jangan berlari kamu baru bangun tidur nanti tergelincir looh.." Seru Ayah yang mengkhawatirkan putrinya yang buru-buru menuju ruang makan.

__ADS_1


Dari jauh Ayah sudah melihat Elyn bahkan tergopoh-gopoh menuruni tangga dengan kaki kecilnya itu.


Elyn hanya tertawa sembari menghampiri ayah dan ibunya di meja makan tersebut. Ia mulai duduk di samping ayahnya.


"Waaah.. Eeelyyyyn... Putri kesayangan ibu bangun lebih cepat hari ini.. Ada apa nih?" Ibu yang bertanya-tanya sekaligus merasa heran melihat putrinya dengan ceria sudah bangun lebih cepat dari biasanya itu.


"Tentu saja.. Itu karena Elyn mau bertemu dengan ayah.." Elyn menjawab dengan nada ceria dan bangga. Ia sangat tidak sabar dan menatap ayahnya terus.


Melihat itu, ibu jadi sedikit cemburu. Ibu mulai mencoba menggoda putri kesayangannya itu.


"Jadi, kamu tidak mau bertemu ibumu ini.. Aah.. ibu jadi sedih!" Ujar ibu dengan ekspresi sedih untuk menggoda Elyn.


"Aku sayang ibu, aku jg ingin bertemu ibu. Tapi aku ingin mendengar cerita ayah. Ayah bilang kita akan ke benua Zorina.. " Ujar Elyn dengan tersenyum serta menghampiri ibunya. Ia memeluk dan cium pipi ibunya tersebut.


Ibu akhirnya tersenyum bahagia. Ayah yang sedari tadi memperhatikan mereka ikut tersenyum. Abelyn Casia Nadifa adalah anak satu-satunya mereka. Mengingat kondisi Ibu Elyn yang memang tidak memungkinkan untuk memiliki anak lagi. Elyn menjadi satu-satunya pusat perhatian mereka.


"Benarkah itu ayah.?" Tanya ibu pada ayah yang sedari tadi meminum kopi sambil melihat mereka bertingkah.


Elyn yang merasa bangga karena ibu belum tahu kabar ini semakin sumringah. Seolah Elyn lah orang pertama yang ayah beritahu. Siapa yang tidak senang dengan perasaan diistimewakan.


"Tentu saja.. Kita akan berlayar dan singgah di benua Zorina. Kita bahkan akan berlabuh di ibukotanya Bahia.." Tutur ayah membenarkan ucapan Elyn.


"Wah.. Pasti menyenangkan sekali.. Ibu juga jadi tidak sabar nih.." Ibu yang ikut bahagia. Ia tahu jika Elyn sangat ingin pergi ke sana.


Mereka sarapan dan mengobrol panjang lebar. Diselingi canda dan tawa mereka. Suasana hangat ala keluarga bahagia. Mereka asyik membahas detail keberangkatan mereka nanti. Mereka juga berdiskusi tentang persiapan untuk liburan nanti.

__ADS_1


Elyn terlihat sungguh tidak sabar. Tentu bukan sekedar mengunjungi Benua Zorina yang ia impikan itu. Tapi karena mereka juga akan merayakan hati ulang tahunnya nanti. Kebahagiaan ganda bagi Elyn.


__ADS_2