Hukuman Bagi Sang Pembunuh

Hukuman Bagi Sang Pembunuh
Sesal


__ADS_3

Pagi itu Evan bergegas menghampiri kamar Regi. Iya sangat kesal dengan apa yang Regi katakan padanya. Apalagi sekarang Ayahnya sendiri yang menyuruh Regi untuk menjaga Elyn. Padahal Regi awalnya akan menjadi asisten sekaligus bodyguard untuknya kelak.


"Regi.. Ayo kita bicara.." Evan mengetuk pintu kamar Regi dengan kuat.


"Apa sih.. Matahari belum terbit juga kamu udah berisik.." Regi membuka pintu kamarnya dan mengomel kesal.


"Apanya yang belum terbit tuh udah ada cahaya." Evan menunjuk ke arah luar jendela.


Langit masih gelap. Matahari masih malu-malu menunjukkan dirinya. Regi menatap ke luar jendela dengan tatapan yang datar.


"Jangan bilang kamu tidak bisa tidur karena ingin segera bertemu dengan ku. Dan subuh-subuh begini kamu sudah di sini karena ingin bicara dengan ku?" Ucap Regi dengan tepat sasaran.


"Pokoknya kita harus bicara.." Evan melipat kedua tangannya dan bergegas duduk di sofa.


"Eheeeem..." Evan berdehem menandakan jika Regi harus segera duduk dan berbicara dengannya .


"Aku cuci muka dulu..." Regi mengabaikan kode Evan dan beranjak menuju kamar mandi.


"Cuci muka apanya ini udah 30 menit." Evan yang sedari tadi duduk menunggu Regi sudah mulai bosan.


"Ooooi... Kamu cuci muka apa tidur sih.?" Evan semakin geram.


"Sabar.. Lagi P.. O.. O.. P.." Regi berteriak dari kamar mandi dengan suara yang aneh.


"Sialan..." Evan semakin kesal setelah apa yang ia dengar.


"Bisa-bisa aku menunggu orang yang sedang buang air besar begini.." Evan semakin kesal.


Tak lama Regi keluar dari kamar mandi dengan wajah yang terlihat lega.


"Maaf tadi sembelit.." Ucapnya polos tanpa memperdulikan wajah Evan yang sudah sangat kesal.


"Jadi apa yang akan kamu katakan?" Regi menepuk pundak Evan yang sedang duduk di sofa tersebut.


"Udah cuci tangan pakai sabun kan.." Evan menatap aneh wajah Regi. Jelas Evan seolah terlihat jijik dengan pundaknya yang di sentuh Regi.

__ADS_1


"Udah laaah... Apa sih..." Regi tampak kesal.


"Eheeem..." Evan kembali berdehem. Kini Regi benar-benar duduk di sofa di hadapannya.


"Jadi kamu ada hubungan apa sebenarnya dengan Elyn. Sejak kapan kalian jadi semakin dekat? Semalam apa yang kamu lakukan dengan Elyn?" Evan bertanya dengan bertubi-tubi.


"Sabar pak.. Satu-satu nanya nya.." Regi mengerut keningnya.


"Pertama-tama aku tidak ada hubungan seperti yang kamu bayangkan. Aku murni ingin menjaga Elyn. Mengerti." Ucap Regi tegas.


"Yaa.. Yang aku bayangkan.." Evan terlihat gugup.


"Bukannya kamu cemburu.." Regi mendelik dan menatap tajam wajah Evan yang sudah tersipu malu.


"Itu.." Tanpa banyak bicara lagi Evan menganggukkan kepalanya dengan pelan.


"Ya terlihat jelas..." Ucap Regi dengan santainya.


Evan merasa malu mendengar apa yang di ucapkan Regi. Ia tertunduk dalam dan berbicara dengan lirih.


"Jadi.. Biarkan aku saja yang menjaganya. Dan jangan terlalu dekat dengan Elyn."


"Tapi..." Evan memandang wajah Regi. Jelas Regi tidak asal bicara. Ia sangat tegas apa yang ia katakan.


"Dengar ya.. Semalam saja jika tidak ada aku. Elyn bisa saja kembali menghilang."


"Bagaimana bisa?" Evan tampak terkejut mendengar ucapan Regi.


"Kamu lupa apa yang kamu lakukan.?" Regi terlihat sangat kecewa.


"Apa sih.. Coba katakan yang benar. Aku tidak mengerti." Evan semakin terlihat gusar


"Kamu kan ada Bella dan lupa dengan Elyn." Regi mencemooh Evan.


"Aku sedang berusaha menghindari Bella dan mencari Elyn. Bella aja yang ganjen tahu.." Evan semakin kesal.

__ADS_1


"Udah ah.. Jangan bertele-tele lagi. Aku tidak mau bertengkar dengan mu." Evan meminta untuk langsung berbicara ke intinya saja.


"Kamu tidak memperhatikan Elyn dengan baik Evan. Kamu nyaris tidak tahu apa yang Elyn hadapi. Ia mengalami kesulitan dengan Bella dan teman-temannya. Bukannya kamu tahu Elyn itu selalu berusaha menyelesaikan masalahnya sendiri dan menahan semua beban di pundaknya yang mungil itu. Ia selalu tidak ingin menyusahkan siapapun. Jangan tertipu dengan senyumannya yang manis. Elyn tak seceria yang kamu bayangkan Evan."


Seketika perkataan Regi yang tepat sasaran mengoyak hati Evan.


"Aku tidak tahu.. Aku pikir mereka berteman." Evan lemas dan menyandarkan tubuhnya di sofa. Ia mengusap kedua matanya dengan kasar. Ia sangat menyesali karena tidak memperhatikan Elyn dengan baik.


"Kamu ingat di hari pertama kita berlayar? Dia menghindari mu dan memutuskan keluar malam itu denganku dan bukan dengan mu, karena dia tertekan oleh Bella dan teman-temannya. Sebenarnya bukan hanya mereka. Tapi oleh anak-anak lainnya. Kamu tahu kan. Mereka juga sangat ingin dekat dengan mum Namun kamu selalu bersama Elyn bagi mereka Elyn seperti gangguan saja." Tutur Regi panjang lebar.


"Tapi kan mereka tidak tulus berteman dengan ku. Mereka begitu karena aku seorang Naratama. Aku sudah berusaha ramah dengan siapapun. Bahkan semalam ketika Bella dengan genit bergelayut padaku. Aku berusaha sebaik mungkin agar tidak menyakitinya dan membuat masalah" Evan membela diri.


"Dia juga berbohong padamu kan padahal Elyn tidak biasa berbohong. Dia juga merasa bersalah karena tidak menepati janjinya pada Bella. Ketika kamu mengabaikannya dan fokus dengan Bella bahkan kamu terakhir kali ketika Elyn menghilang kamu juga menyalahkan dirimu karena membiarkan Elyn sendirian. Yang itu aku tidak tahu apa yang terjadi. Tapi yang jelas. Elyn sudah cukup tertekan." Regi kembali mengungkit kisah kelam Evan.


"Bukan cuma itu Evan.. Sedari dulu.. Dia sudah cukup menahannya." Regi merendahkan ucapannya.


"Bagaimana kamu tahu semua itu. Elyn selalu tampak ceria." Evan semakin sesak mendengar apa yang Regi katakan.


"Aku juga tidak sengaja. Beberapa kali kejadiannya terjadi di depanku tanpa sengaja. Dan itu membuatku semakin memperhatikan Elyn."


"Ah... Satu lagi.. Aku dan Elyn itu sepupu. Apa kamu tahu?" Regi menatap mata Evan tanpa ragu.


"Kamu tidak tahu apa-apa kan.. Sekarang bagaimana aku bisa mempercayai kamu jika kamu ingin menjaganya dengan baik?" Tanya Regi.


Evan terkejut mendengar jika Regi adalah sepupu Elyn. Ia berteman dengan Elyn sudah cukup lama. Regi bahkan adalah asisten yang di persiapkan untuknya kelak. Tentu saja Regi mengenalnya mungkin sejak ia masih di dalam perut ibunya.


"Aku benar-benar tidak tahu apapun tentang Elyn.." Sesal Evan yang membuat hatinya terkoyak dan hancur lebur.


Selama ini dia sering bermain ke rumah Elyn dengan leluasa. Mereka juga sering bermain bertiga. Tapi fakta jika Regi adalah sepupu Elyn. merupakan hal baru di telinga Evan.


"Apa yang aku lakukan.." Evan menggigit ujung bibirnya kesal.


"Aku sudah sangat jahat pada Elyn. Tapi Elyn masih mau tersenyum lembut begitu padaku." Evan mengingat kembali apa yang telah ia lakukan.


Rasa cemburu yang membakar hatinya tak sebanding dengan sakit yang di pendam Elyn selama ini. Evan menyesali ia tak sepeka itu untuk memperhatikan Elyn. Ia tak sadar jika Elyn terbebani atau malah ketika ia menyembunyikan sesuatu.

__ADS_1


Seluruh perasaan yang ada berhamburan di benak Evan. Hatinya yang hancur dan pikirannya yang kalut semua menjadi satu. Hingga rasa sesal lah yang menyelimuti batinnya.


"Eeelyyyyn.."


__ADS_2