
Evan bergegas ke kamarnya ia semakin tidak sabar untuk menyerahkan mainan yang ia beli sejak beberapa waktu lalu yang tak sempat di berikan kepada Elyn
"Pas sekali kan.. Umss.. Mana ya.. Aku kan sudah menyimpannya waktu itu.." Gumam Evan seraya mencari letak pistol mainan yang di belinya.
"Nah ini dia.." Evan memegang erat mainan tersebut dan bergegas untuk menemui Elyn.
Ketika Evan membalikkan tubuhnya dan ingin membuka pintu. Kepala Evan serasa pusing telinganya berdengung keras.
Ngiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing....
Evan menutup kedua telinganya. Kepalanya serasa akan pecah akibat suara dengungan tersebut. Pandangannya kabur dan nafasnya semakin tidak beraturan.
"Kepalaku.." Rintih Evan.
Evan berusaha bangkit untuk naik ke atas tempat tidurnya. Namun tangannya tak sanggup meraih tempat tidurnya.
"Aaah..." Tubuh Evan semakin lemas
"Aku menagih janjimu.." Suara keras yang menggelar.
Suara uang tidak asing bagi Evan. Suara misterius yang sempat muncul beberapa waktu lalu. Nafas Evan semakin terasa berat.
"Apa mau mu?" Evan yang sudah terkapar itu memegang erat dadanya yang semakin sulit bernafas.
"Diam lah, biarkan aku meminjam tubuh mu!" Pinta suara misterius tersebut.
"Tidak bisa. Aku sudah janji pada Elyn." Tegas Evan meski dengan suara yang terbata-bata.
"Aku sudah menyelamatkan Elyn mu.. Kamu sudah berjanji." Teriak suara misterius tersebut.
"Tidak lama hanya 10 menit. Ah tidak. Aku bisa menyelesaikannya hanya dengan 5 menit" Ucapnya lagi.
"Kamu mau apa dengan tubuhku.?" Evan tampak ragu.
"Aku tidak ada waktu menjelaskan."
Tiba-tiba sosok bayangan besar menghampiri Evan. Bayangan itu perlahan merasuk ke dalam tubuhnya. Tubuhnya semakin terasa berat.
"Aaaaa..." Evan merintih.
Sosok tersebut kini sepenuhnya merasuk ke dalam tubuh Evan.
"Hahahaha.. Menyenangkan sekali punya tubuh seperti ini." Sosok yang merasuki tubuh Evan itu tertawa lebar.
__ADS_1
"Ah, tubuh ini hanya tubuh anak-anak. Bagaimana caranya ya?" Tubuh Evan yang di rasuki oleh makhluk tersebut menatap cermin di hadapannya. Ia memutar tubuhnya dan terus memandangi bayangan di cermin.
"Tubuh ini lemah. Tapi masih lebih baik dari pada aku tidak punya tubuh sama sekali"
"Baiklah.. Coba kita lihat apa yang bisa aku lakukan untuk mu Elyn." Senyuman licik terlihat jelas di wajahnya.
"Hahaha... Ini benar-benar takdir yang menggelikan. Bagaimana bisa benda ini ada di tangan bocah sialan ini." Sosok tersebut yang merasuki tubuh Evan memandang lekat pistol yang awalnya ingin Evan berikan pada Elyn
"Dengan ini sudah cukup untuk ku membunuh anak itu.." Senyuman tersebut semakin menyeringai di wajah Evan.
Evan kini tampak sangat mengerikan. Matanya tajam dan pucat, senyuman licik tak lipat di wajahnya. Sesekali suara terkekeh terdengar dari bibirnya. Jalannya berat dan sempoyongan bak orang mabuk yang nyaris kehilangan keseimbangan.
"Sulit sekali menggerakkan tubuh ini.." Gerutunya sembari menyeret kedua kakinya.
"Dimana dia. Aku harus segera membunuhnya. Anak dalam tubuh ini terus memberontak. Aku tidak boleh berlama-lama lagi." Ucapnya parau.
Matanya mendelik kesana-kemari. Tatapannya yang tajam menyusuri seluruh area yang ia lewati. Suara langkah kaki yang terseret dan desis dari bibirnya lah satu-satunya suara yang ia ciptakan. Semakin menggema di antara lorong yang sempit.
"Itu dia.. Aku harus segera membunuhnya.. Harus.. Hahahah" Suara tawa itu menggelegar.
Evan yang menyeret kakinya itu berjalan dengan cepat bagaikan zombie yang menemukan mangsanya. Ia bergegas menghampiri dan mendekati Elyn. Suara serak dan paraunya mengucapkan kalimat yang sama.
"Aku harus membunuhmu.."
"Aku harus membunuhmu.."
"Aku harus membunuhmu.."
"Elyn..." Teriaknya dengan sangat keras.
Elyn yang mendengar namanya di panggil itu pun menoleh ke arah suara yang tak asing baginya. Senyuman Elyn merekah begitu mendengar suara tersebut. Suara dari Evan yang sedang ia tunggu.
Namun, hal yang tak terduga muncul. Wajah Evan tampak mengerikan. Senyuman Elyn perlahan memudar. Hingga ia mendengar dengan samar apa yang Evan ucapkan.
"Aku harus membunuhmu Elyn." Ucapnya dan tersenyum lebar.
Tak lama Evan mengangkat lengannya. Pistol putih dengan batu sihir merah itu di angkatnya tepat di hadapan Elyn.
Senyuman tersungging di wajah Evan. Ia mengucapkan sesuatu yang Elyn tidak bisa dengar. Pendengaran Elyn mendadak lumpuh, matanya terasa rabun, ia sangat ketakutan melihat Evan dengan wajah yang menyeramkan. Hawa membunuhnya terasa menusuk tubuh Elyn. Hanya gerakan mulut Evan yang terlihat di matanya terasa samar namun tak terdengar suara apapun dan .........
Duarrrrrr............
Pistol tersebut mengeluarkan energi besar yang menembak ke arah dada Elyn.
__ADS_1
Byuuuuur...
Elyn terpental, tubuhnya jatuh ke dalam kolam renang. Darahnya membuat air kolam menjadi memerah. Tubuhnya kini tenggelam di dasar kolam renang tersebut.
Pandangan Elyn semakin buram. Ia mencoba meraih namun tangannya tak menggapai apapun. Ia terus menggeliat mencoba berenang namun tubuhnya terasa sangat berat.
Ia tak sanggup mengucapkan apapun. Air kolam yang bercampur darah itu memenuhi tenggorokan Elyn. Ia terbatuk beberapa kali dan memegang lehernya dengan kedua tangannya. Pandangannya semakin suram dan akhirnya hanya kegelapan yang ia rasakan.
Jika ada orang mengucapkan kata-kata sebelum kematian. Elyn merasa ragu. Faktanya jangankan memikirkan agar tubuh ini selamat. Ia tak sanggup memikirkan apapun. Hanya kesunyian dan kehampaan serta suara air yang terus masuk ke dalam mulutnya seiring dengan usahanya untuk mencoba bernafas.
"Ini kan saatnya aku mati.." Hanya itu yang terlintas di benaknya.
Tanpa kata indah tentang penyesalan, tanpa adanya ucapan maaf yang terlintas, tanpa pesan cinta untuk kedua orang tuanya bahkan tanpa kenangan-kenangan buruk atau kenangan indah yang terlintas di pikiran dan benaknya. Hanya ada kegelapan dan kehampaan. Sepi, sendiri, basah, gelap, bingung dan dingin.
***
Regi mengawasi Elyn dari kejauhan. Jarak yang aman agar tidak menganggu privasi Elyn. Ia masih menatap Elyn yang asyik bermain di tepi kolam renang.
"Jika dia begitu terus. Dia bisa saja terjerembab dan nyebut ke ke kolam renang." Gumam Regi.
"Dia bisa berenang tidak ya?" Regi mencoba mengingat kembali. Namun ia tak menemukan jawabannya.
"Kayaknya enggak deh.. Dia kan sempat bilang mau belajar renang dengan Evan. Tapi dia udah belajar belum ya.? Ah... Ga tahu deh.." Regi menyerah dengan segala pikirannya.
Regi melihat kembali Elyn yang kini terdiam mematung. Seolah baru melihat hantu. Matanya menerawang jauh.
"Kenapa tuh Elyn.." Gumam Regi sembari mencoba mendekat ke arah Elyn.
Regi mencoba memastikan sekitar Elyn. Tampaknya tidak ada sesuatu yang aneh. Tak lama Evan terlihat berjalan menghampiri Elyn. Seketika Regi pun menghentikan langkahnya.
"Sudah ada Evan. Biar dia saja yang memastikan Elyn baik-baik saja atau tidak" Pikirnya yang menyerahkan Elyn pada Evan.
Regi tak berpikir negatif ia tak menangkap ada yang aneh dari gelagat Evan. Regi hanya berbalik arah dan mencoba kembali ke posisinya semula mengawasi Elyn.
Namun suara dentuman senjata menggelegar di iringi suara sesuatu yang nyebur ke kolam renang
Seketika Regi berbalik arah. Betapa terkejutnya ia begitu melihat kejadian tersebut. Ia tak mempercayai apa yang di lihatnya. Regi terdiam untuk beberapa saat. Tubuhnya mematung. Di pandangnya keadaan sekitar.
Tampak tubuh Evan tergeletak di lantai tepi kolam renang. Regi dari kejauhan masih bingung dengan apa yang terjadi. Ia kembali mencoba mencerna. Langkahnya perlahan mendekati Evan. Ia berjongkok di samping tubuh Evan yang tak sadarkan diri itu.
"Evan.." Ucapnya parau.
Matanya mendelik menatap ke arah kolam renang. Ia lupa dengan sosok Elyn yang seharusnya ia jaga. Regi terdiam sejenak menatap air kolam yang memerah.
__ADS_1
"Eeee... Eeelyn.." Gumamnya terbata-bata..