
Usai mendengar pernyataan Evan untuk saling memaafkan membuat Elyn terlihat lebih santai. Senyumnya kembali terlukis di wajah mungilnya.
Evan sudah merasa sangat bodoh akan keegoisannya. Evan yang malah lebih penasaran dengan awal mula kesalahpahaman mereka sampai melupakan kejadian saat ini. Melihat Elyn yang sudah kembali ceria Evan memberanikan diri untuk bertanya. Ia ingin mendengarnya langsung.
"Elyn... Boleh tidak aku tahu kenapa kamu jadi terluka seperti ini?" Tanya Evan hati-hati. Evan masih memandang lekat luka-luka di sekujur tubuh Elyn.
"Hmm... Jadi ceritanya aku mencari kakak tadi pagi ketika di hotel. Kesana-kemari tapi tak kunjung menemukan kakak. Aku mencari kakak dengan gaun dan sepatu pesta yang pasti tidak nyaman. Kemudian kaki ku sakit sekali. Ternyata tumit kaki ku lecet akibat sepatu itu." Elyn perlahan menceritakan apa yang ia alami.
"Terus.. Luka lainnya kenapa Elyn?" Tanya Evan yang dengan wajah yang tampak sedih.
"Ah... Karena pakaianku kusut dan rambutku juga acak-acakan. Aku coba datang ke pesta langsung. Tapi karena acara yang belum di mulai dan suasana riuh. Elyn jadi kebingungan di dalam situ. Aku pikir karena belum mulai mungkin masih sempat kalau Elyn kembali ke kapal dan mengganti pakaian lain terus kembali lagi ke pesta di hotel." Lanjut Elyn menceritakan pengalamannya.
"Kenapa tidak mengajakku jika ingin kembali ke kapal?" Tanya Evan yang merasa kasihan mendengar cerita Elyn.
"Dia terluka mencari ku di kapal waktu itu. Kepalanya sampai benjol. Kali ini ia bahkan terluka juga karena mencari aku. Aku benar-benar payah. Dan masih saja aku selalu melimpahkan kesalahan pada Elyn atas rasa cemburu ku. Padahal bisa saja kan jika Regi dan Elyn memang tidak ada apa-apa!" Gumam Evan kesal akan dirinya sendiri.
"Ya ampun kak Evan... Kan kakak bintang utamanya. Kalau aku ajak kakak nanti semua orang akan ribut. Lagian kakak kan sedang bersama Bella. Masa aku merebut kakak sih." Elyn menjawab pertanyaan Evan seketika.
Evan yang mendengar itu hatinya semakin terasa tersayat. Ia sangat menyesal ingin membuat Elyn cemburu akan kedekatannya dengan Bella.
"Evan, kamu benar-benar bodoh.. Sangat bodoh. Apa yang kamu pikirkan saat itu. Seandainya saja aku tetap percaya Elyn dan selalu disisinya." Sesal Evan mengingat apa yang ia lakukan pada Elyn.
"Tapi ketika Elyn berjalan ke kepal ternyata jauh sekali ya dari hotel. Perasaan tadi ketika pergi ke hotel tidak sejauh itu. Kaki Elyn jadi mulai tambah lecet. Mulai tumit, mata kaki sampai akhirnya Elyn di kejar anjing liar. Aku takut setengah mati. Ketika di kejar aku sempat jatuh beberapa kali. Aku pikir, aku akan mati di makan anjing waktu itu." Elyn melanjutkan ceritanya dengan antusias. Terlihat tangannya yang gemetar mengingat kembali kejadian itu.
"Anjing.. Kamu di kejar anjing Elyn.. Ya tuhan.. Kamu tidak apa-apa? Kamu tidak di gigit kan?" Tanya Evan bertubi-tubi. Ia bangkir dari duduknya dan memberikan Elyn. Evan pun memegang erat pundak Elyn dan membolak-balikan tubuhnya serta melihatnya dengan seksama tubuh Elyn dari ujung kaki sampai ke ujung kepala.
__ADS_1
"Duh kak Evan. Apaan sih.. Pelan-pelan kakiku sakit tauuuu." Ujar Elyn yang merasa sakit ketika Evan dengan tergesa-gesa membolak-balik tubuhnya.
"Ah.. Maaf.. " Evan tertunduk dan duduk lemas mendengar cerita Elyn. Ia juga menyesal karena sudah membuat kaki Elyn sakit lagi. Padahal baru saja di obati.
"Aku kenapa-kenapa sih.. Aku sangat takut. Tapi aku baik-baik saja. Ada yang menolongku waktu itu" Tutur Elyn yang tak mau berbohong jika dia baik-baik saja.
"Kamu pasti terkejut dan sangat takut Elyn." Ucap Evan sembari memegang erat tangan Elyn.
"Iya.. Aku kira aku akan mati saat itu. Anjingnya sangat mengerikan. Dia menggonggong pada ku. sampai ada kakak berambut merah tampan yang menolongku. Ia sangat keren. Ia mengusir anjing itu seketika. Aku tidak tahu pasti sih bagaimana dia mengusirnya soalnya aku menutup mataku. Tapi aku selamat berkat kakak keren itu." Elyn bercerita dengan antusias diselingi senyuman kecilnya.
"Dia cerita pengalaman mengerikan dengan tersenyum. Hanya karena yang menolongnya kakak Tampan dan Keren.. Dasar cewek sama aja kalau udah lihat yang tampan." Gerutu Evan.
"Tapi lebih tampan aku kan.." Evan tak mau kalah.
"Ummm.... Tapi kakak itu lebih keren." Jawab Elyn seketika.
"Pokonya sangat tampan dan keren. Bukan hanya menyelamatkan nyawaku. Kakak itu juga memberiku makan dan membawaku kembali ke kapal." Jawab Elyn penuh keyakinan.
"Penyelamat nyawanya katanya. Ya Tuhan.. Dia sampai seantusias itu menceritakan kakak tampan itu." Evan semakin kesal dan tak ingin kalah.
"Aku pasti lebih tampan" Tutur Evan sambil mencubit hidung Elyn.
"Dia mengantarkan mu ke kapal. Sepertinya kami harus mencari dan berterimakasih padanya telah menolong mu Elyn." Ucap Evan lagi.
"Memang benar sih, jika orang itulah yang menyelamatkan Elyn.." Tutur Evan. Evan sangat tak bisa membayangkan jika terjadi sesuatu pada Elyn. Ia pasti tak akan bisa memaafkan dirinya jika Elyn sampai terluka lebih parah. Saat ini saja ia sudah sangat menyesal.
__ADS_1
"Ah.. Kakak tenang saja kakak itu juga bekerja di kapal ini loh.. Katanya dia berkerja sebagai pelayan kapal ini." Jawab Elyn dengan wajah yang berseri-seri.
"Kok malah tambah kesal ya..." Gumam Evan yang melihat wajah Elyn berseri-seri menceritakan kakak tampan itu.
"Aku akan mencarinya nanti.. Kamu ingat kan orangnya yang mana Elyn? Kita harus berterima kasih kepadanya." Seru Evan yang memang mensyukuri Elyn di tolong olehnya.
"Tentu saja aku ingat. Wajahnya tampan begitu gimana bisa lupa.." Senyum Elyn merekah menjawab pertanyaan Evan.
"Makin ngeselin aja tu orang.. Lagian kok aku sekesal ini juga sih. Padahal dia yang sudah menolong Elyn." Gerutu Evan yang heran ia sangat kesal dengan orang yang bahkan tak ia kenal.
"Iiih.. Elyn kan lebih tampan aku dari pada om om itu.." Evan terlihat gemas dan mencubit pipi Elyn. Evan berharap Elyn mengiyakan tapi Elyn lagi-lagi mengatakan jika kakak itu tampan dan mengabaikan pernyataannya.
"Kok malah om om sih... Dia tampan tau.." Elyn mengelus pipinya yang tadi di cubit Evan.
" Coba bilang aku yang lebih tampan!" Pinta Evan manja pada Elyn.
"Ah... Jadi dari tadi kak Evan bertingkah aneh karena itu.." Gumam Elyn heran yang tak habis pikir Evan segitunya ngambek ingin di bilang ia lebih tampan.
"Kakak itu tampan tapi kak Evan juga tampan dan aku lebih sayang kakak." Elyn yang mulai peka itupun akhirnya menyebutkan dari mulutnya sendiri jika Evan tampan.
"Kok masih bawa kakak itu lagi sih." Evan sedikit kesal.
"Ya.... Setidaknya Elyn lebih menyayangi aku!" Seru Evan yang senang mendengar Elyn mengatakan ia menyayangi Evan.
"Bener kan kamu lebih sayang aku." Tanyanya memastikan.
__ADS_1
"Pasti dong.." Jawab Elyn.
"Aku benar-benar penasaran setampan apa kakak rambut merah itu. Sampai Elyn menyebutnya tampan berkali-kali." Evan semakin penasaran dengan sosok penyelamat Elyn.