Hukuman Bagi Sang Pembunuh

Hukuman Bagi Sang Pembunuh
De Javu


__ADS_3

Mereka memotong kue dan menyantapnya saat itu juga. Sesi penyerahan kado juga terasa lancar. Elyn berulang kali mengucapkan terimakasihnya.


Evan pun menyerahkan kado yang ia simpan di dalam sakunya. Kotak kado mungil itu di genggam erat oleh Elyn.


"Kamu hanya menyukai kado dari Evan ya.." Ibu Elyn mendelik tajam.


"Kamu menyukai kadonya atau Evannya ya.?" Ibu Elyn kembali menggoda Elyn.


"Ibu...." Elyn tersipu malu.


"Ya sudah sesi buka kadonya besok pagi aja ya sekalian sarapan. Ini tengah malam. Ayo bubar dan kembali tidur." Perintah ayah.


"Iiiih... Ayah merusak suasana aja.." Teriak Elyn.


"Hei.. Ini tengah malam loh.." Ayah menunjuk ke arah jam yang ada di dinding.


"Hehehe.. " Elyn terkekeh. Ia akhirnya menuruti perintah ayahnya.


Acara kejutan untuk Elyn berjalan lancar. Mereka akhirnya bubar dan kembali ke ruangan masing-masing.


Elyn yang kembali terbaring di kasurnya memeluk erat kado dari Evan. Ia sangat senang bukan main. Di tambah lagi, besok mereka akan tiba di Zornia. Tempat yang sangat ingin Elyn tuju.


***


Pagi itu, Elyn mengenakan pakaian baru yang sengaja di belinya. Ia memakai pita yang ia perlihatkan pada Evan.


Lily menata rambutnya dengan sangat cantik. Lily bolak balik menatap bayangan dirinya di cermin. Gaun dan rambutnya sudah sempurna.


Evan datang tepat waktu sesuai janji. Mereka berencana membuka kado hari ini. Di ruang tamu ruangan Elyn di kapal tersebut, kini sudah di penuhi oleh banyak kotak kado. Elyn sedari pagi sangat senang dan penuh semangat.


Satu persatu kado tersebut di buka. Sesekali ia membaca kartu ucapan yang tertera di kado tersebut. Jelas sekali rona bahagia tersirat di wajah Elyn.


"Sekarang tinggal kado dari ayah, ibu dan Kak Evan." Teriaknya girang.


Elyn dengan semangat membuka kado pemberian ayahnya. Dia berteriak girang begitu melihat isi kotak tersebut. Ucapan terimakasih serta kecupan manis di pipi ayahnya tak lekat ia berikan. Hal yang sama begitu Elyn membuka kado dari ibunya.


Sekarang giliran kado dari Evan. Kado yang selalu di dekapnya eratnya sedari tadi.


"Waaaa... Apa ini.." Teriak Lily begitu melihat sebuah kalung berlian yang cantik.


"Kalung.." Evan tersenyum lembut.

__ADS_1


"Pasti mahal banget ini.." Teriak Elyn tak menyangka.


"Iya, mahal.. Makanya kamu jaga baik-baik ya.." Evan menjawab tanpa ragu.


"Cih, sombong.." Elyn mengerutkan bibirnya.


"Hahaha.." Terdengar suara tawa Evan yang di sambut tawa dari orang tua Elyn.


"Cantik.." Evan terpana begitu melihat kalung dengan berlian berwarna Biru itu sangat cocok dengan gaun dan pita yang di kenakan Elyn saat itu.


Elyn menatap bayangannya di cermin. Ia pun ikut takjub dengan apa yang kini ia kenakan. Elyn tampak sangat cantik dan anggun.


"Aku sudah dewasa.." Ucapnya lirih yang di sambung tawa semua orang yang ada di situ.


***


Mereka tiba tepat waktu. Saat ini mereka berlabuh di pulau pribadi milik keluarga Naratama. Tempat dimana janji Evan yang akan membawanya ke pantai dan bermain di sana. Tempat tersebut juga merupakan tempat istimewa untuk Evan dan ibunya dulu.


"Kita makan siang dulu, baru deh turun ya.." Evan tak ingin buru-buru. Meski para penumpang lain sudah turun dari kapal tersebut.


"Oke kapten.." Teriak Elyn.


Mereka masih sibuk membereskan kado ulang tahun Elyn. Sehingga tidak masalah juga bagi Lily untuk tidak buru-buru turun. Meski ia sangat penasaran dan antusias dengan Zornia.


"Akhirnya..." Elyn terlihat lega.


"Aduh.. Pinggang ku." Keluh ayah begitu ia bangun dari tempat duduknya.


"Ayaah.." Ibu mencubit pinggang ayah.


"Mereka memutuskan makan siang dengan memesan makanan. Elyn seperti biasa. Porsi makannya cukup luar biasa.


"Aku kan harus mempersiapkan energi untuk bermain di pantai dengan kakak." Dalihnya begitu makanan tersebut tiba.


"Alasan doang kamu itu..." Ledek Evan yang mengambil minuman dan meletakkannya di depan Elyn.


"Hehe.." Elyn tertawa karena ia tak bisa lagi berdalih.


"Kak, aku benar-benar bahagia banget hari ini.." Ucap Elyn sambil mengunyah makanannya.


"Makan dulu yang bener ah.." Evan memperhatikan.

__ADS_1


"Iya iya.." Elyn mengangguk walau sebagian makanan di mulutnya muncrat.


"Haha.." Evan tertawa melihat itu. Ia mengelap lembut pipi dan bibir Elyn yang kotor dengan saputangan miliknya.


"Katanya sudah dewasa" Ledek ibu yang melihat tingkah manja anaknya tersebut


"Ih, ibu.." Elyn cemberut dan memalingkan wajahnya.


Usai makan siang ibu dan ayah pamit mereka akan menuju villa terlebih dahulu dan meningap barang yang di bawa untuk menginap di villa.


"Kalian nanti nyusul kan.. Kamu jangan keluyuran sendirian loh ya.." Ibu Elyn kembali memperingati putri tercintanya.


"Iya ibuku sayang.." Dengan riang Elyn mengiyakan perintah ibunya.


Sepeninggalan mereka Evan dan Elyn masih asyik bercanda dan tawa. Hingga Evan mengingat sesuatu.


"Ah iya, pistol itu aku masih menyimpannya. Nanti sekalian saja aku kasih ke Elyn. Dia pasti sangat senang. Kita bisa memainkan itu di tepi pantai nanti" Gumam Evan


"Elyn, ada yang mau aku ambil dulu.. Kamu nanti tunggu aku di kolam renang aja ya.." Evan pamit tanpa basa-basi lagi. Ia bergegas kembali ke kamarnya


"Eh, ah.. Iya..." Ucap Elyn begitu Evan dengan buru-buru sudah pergi meninggalkan dirinya sendirian.


"Tuh kan.. Akunya sering ditinggal bukan akunya yang mau keluyuran sendirian loh.." Keluh Elyn.


"Ya sudah deh.." Elyn mengabaikannya. Dan kembali mempersiapkan barang yang akan di bawanya. Elyn menyimpan beberapa cemilan di dalam tasnya. Ia sudah berencana untuk memakannya nanti di pantai bersama Evan.


Elyn sangat antusias. Ia kini berada di tempat idamannya. Meski baru masuk di tepi wilayah Zornia. Mau bagaimana pun. Mereka sudah ada di Zornia. Tempat yang katanya sumber kebahagiaan. Elyn sangat tidak sabar untuk menemukan kebahagiaan miliknya.


"Ah, tapi aku bahkan sudah bahagia dari tadi malam. Kata ayah semalam kita juga sudah memasuki perairan Zornia. Artinya kebahagiaan ku di mulai sejak tadi malam dong." Renung Elyn.


Elyn pun berjalan perlahan menuju kolam renang. Ia bersenandung riang. Elyn menunggu Evan datang menjemput dirinya.


Elyn menatap jauh dari atas kapal tersebut. Ia menghirup udara lembab yang ada di sana. Aroma laut tercium jelas di hidungnya. Kicauan burung camar bersahutan dan angin yang bertiup lembut membelai tubuhnya.


"Ah.. Indahnya.. " Ucap Elyn dengan riangnya.


Bagaikan de Javu Elyn terdiam sesaat. Ia kembali mengingat mimpinya sebelum mereka berlayar. Ia kembali merasakan sesak di dadanya. Elyn melihat sekelilingnya. Suasana tersebut mendadak tampak suram dan buram. Kepalanya sedikit pusing Elyn nyaris kehilangan keseimbangan tubuhnya.


Tiba-tiba saja Evan datang dari belakang. Ia meneriakkan nama Elyn dengan keras dan ........


Byuuuuur....

__ADS_1


Elyn terhempas ke dalam kolam renang


__ADS_2