
"Hmmmm.. Sejak dulu dia tidak berubah.." Evan duduk menunggu Elyn, sesekali senyumnya terukir lembut.
***
Om Bima memang merupakan teman baik ayahku, ayah bilang mereka satu sekolah. Ibuku mengidap sakit parah terkadang dia tidak bisa beranjak dari ranjangnya. Tubuhnya kian hari kian melemah. Suatu hari Ibu tak bisa lagi bangkit dari ranjangnya. Sejak itu Tante Nina ibunya Elyn jadi semakin sering berkunjung ke rumah. Ayah mempercayakan Tante Nina untuk mengasuhku.
Aku selalu ada di kamar ibu, menemani ibu menghabiskan banyak waktu untuk ibu. Aku menceritakan banyak hal pada ibu hanya untuk membuatnya tersenyum. Aku sangat mencintainya.
Ayah memanglah sangat sibuk. Tapi setiap malam ia selalu menyuapi ibu makan. Kami selalu menghabiskan malam di kamar ibu. Ayah akan memindahkan ku ke kamar jika tertidur di ranjang ibu. Aku tahu ayah harus bekerja mengurusi perusahaan karena tanggung jawabnya. Aku bangga ayah masih menyempatkan waktunya untuk ibu.
Hingga suatu hari sakit ibu semakin parah, hingga ibu meninggal dunia. Saat itu rasanya seluruh duniaku runtuh. Aku merasa sangat kehilangan. Nyaris seluruh waktu ku, aku habiskan hanya bersama ibu. Aku yang selalu ada di kamar ibu. Ketika melihat kamar itu kini sepi tanpa ibu yang berbaring di sana. Kamar yang awalnya selalu cerah dengan cahaya matahari menyinari seluruh ruangan. Kini terlihat redup dengan tirai jendela yang tertutup. Begitu hening, tak ada lagi suara ibu yang menanyakan banyak hal. Buku-buku yang dahulu terlihat berwarna-warni dan berserakan. Kini tersusun rapih di rak dan hanya terlihat samar. Semua berbeda. Hanya karena ibu tak ada di kamar itu lagi. Bahkan aroma obat-obatan yang terhirup setiap masuk kamar itu. Kini hanya tercium aroma lembap dan apek yang entah dari mana.
1 hari, 2 hari, 3 hari, 1 minggu, 1 bulan, dan entah berapa lama. Setiap hari aku mendatangi kamar itu. Aku bahkan sempat marah ketika kamar itu di rapihkan. Aku merasa kehilangan jejak ibu.
Ayah berusaha menghibur ku, bukan cuma ayah, kakek, Om Bima, Tante Nina, bahkan para pelayan dirumah menghiburku. Tapi sekuat apapun aku berusaha untuk membuat mereka tidak khawatir. Aku selalu kembali ke sini, ke kamar ibu yang kini sangat sunyi. Hingga suatu hari ada anak yang masuk ke kamar itu. Ia mengintip dari balik pintu.
"Kakak hantu?" Elyn bertanya
"Siapa? aku?"
"Iyaaa... kakak hantu?" Tanyanya lagi.
"Bukannya kamu yang hantu? Siapa kamu ini kan rumahku. Kenapa aku yang jadi hantu." Aku merasa kesal saat itu
"Kata ibu di kegelapan bisa saja ada hantu"
Dia mengira aku hantu hanya karena aku disini tanpa menghidupkan lampu. Aku sedikit kesan sekaligus merasa aneh dengan anak itu.
"Apa hantu bisa setampan aku?" aku bertanya kembali.
"Aku tidak tahu, kakak hantu pertama yang aku temui!" Ia menjawab dengan serius. Anak yang sangat aneh.
__ADS_1
Yaaa.. Anak itu mengira aku adalah hantu. Anak yang aneh kan. Kemudian dia semakin sering ke kamar ibu. Aku sering mengganggunya. Anak yang entah datang dari mana itu.
Ketika aku merebut mainannya dia tertawa dan mengajakku bermain bersama, ketika aku mengambil bukunya dia tersenyum dan berusaha membacakan buku itu untukku. Bahkan ketika aku melemparnya dengan bantal dia berlari dan tertawa sambil berteriak "Perang bantal yeeeee" tapi ketika aku menghabiskan makanannya dia baru marah dan menggerutu tanpa henti. Seperti kucing yang imut yang direbut makanannya dia.
Akhirnya aku tau dia adalah Elyn anak Tante Nina. semakin hari ia semakin sering ke rumah dia berbuat sesuka hatinya. Lambat-laun aku mulai keluar dari kamar itu entah kapan tepatnya aku bahkan tidak sadar. Namun di luar kamar dia semakin aneh. Kini aku tau kenapa ibunya melarangnya di tempat gelap. Itu karena dia juga sangat ceroboh. Bisa-bisa dia mati karena menabrak semua barang di kegelapan.
Sampai aku sadar jika ternyata Elyn sudah memenuhi hidupku. Ia selalu ada di sisiku. Aku bahkan tidak tau kapan itu di mulai. Tanpa sadar Elyn selalu jadi pusat perhatian ku.
***
"Ya ampun.. Kemana lagi bocah itu" Evan akhirnya tersadar dari lamunannya. Ia memikirkan Elyn yang masih belum kembali. Takut Elyn kenapa-kenapa Evan memutuskan untuk menyusul Elyn.
"Kak Nevan,, apa kakak ada waktu nanti malam kami ingin berbincang dengan kakak" Bella tiba-tiba menghadang.
"Ah iya.." Evan yang matanya masih mencari sosok Elyn asal menjawab saja. Evan pun melanjutkan langkahnya.
"Ah, itu dia.." Tapi kemudian langkah Evan terhenti. Dilihatnya Elyn sedang bersama Regi lagi. Ia memutuskan kembali ke tempat duduknya semula.
"Apa dia sesenang itu. Wajahnya sampai merah bertemu Regi." Evan bergumam dalam hati.
"Maaf ya kak lama.. tadi Elyn sakit perut.." Elyn berkata dengan nada sedikit bergetar.
"Elyn berbohong, ini pertama kalinya ia berbohong" Emosi Evan bergejolak ia tak menyangka Elyn bisa berbohong.
"Iya tidak apa, sekarang sudah baikan. Mau ke klinik? Biar kakak antar." Evan berkata sembari menahan emosinya.
"Tidak apa-apa kak.. Mungkin aku makan dengan terburu-buru tadi." Elyn kini berkilah
"Ya sudah.." Evan akhirnya membiarkan Elyn begitu saja. Ia tidak menanyakan apapun tentang yang ia lihat tadi.
***
__ADS_1
Agar semakin akrab itulah tujuan karya wisata perusahaan. Tak luput dengan acara makan malam. Malam itu seperti biasa. Meja anak-anak di pisah sesuai usia sebaya mereka. Tapi Elyn tampak lebih tidak bersemangat saat itu.
"Abelyn, ingat perkataan kami tadi pagi di toilet kan?" Tanya Monic
"Iii.. yaaa.." Jawab Elyn tergagap
"Kami sudah janji dengan Kak Nevan. Kamu ingat. Jangan mengganggu.!" Seru Dara ketus.
"Kamu kan harus menebus kesalahanmu waktu itu Abelyn" Sambung Rini.
Elyn di desak oleh mereka ketika di toilet tadi pagi. Ia sampai hampir menangis. Jika tidak ada Regi yang secara kebetulan baru keluar dari toilet juga. Karena tidak mungkin menyembunyikan hal itu lagi. Elyn menceritakan kegalauan nya itu pada Regi.
Elyn melihat Bella dan Evan sangat akrab. Rini, Dara dan Monic bahkan ikut tertawa bersama mereka.
"Kak, besok kita sampai di benua Vadim aku dengar kita berlabuh di Negara Tronto." ujar Bella
"Ya, kita akan sampai esok di pagi hari." Jawab Evan.
"Aku pernah ke sana dan di sana banyak benda-benda keren. Kakak mau kan ke pasar untuk membeli dan melihat-lihat bersama kami besok?" Tanya Bella lagi
"Ummm... apa disana ada pistol dan mainan tembakan. Ayah bilang kita bisa membeli tembakan sihir yang unik disana. Ada yang mengeluarkan air dan bunga!" Seru Ellyn yang telah menghampiri mereka untuk ikut dalam perbincangan tersebut.
"Aku lihat besok saja ya, tidak bisa menjanjikannya." Evan tampak mengabaikan Elyn dan focus pada Bella.
Elyn yang di abaikan pun akhirnya memutuskan kembali ke kamarnya, ia ingin segera merebahkan tubuhnya karena emosi yang menyelimutinya. Ia hanya merasa lelah walau tidak banyak hal yang ia lakukan hari itu. Entah mengapa.
Evan juga tidak mengerti dengan tindakannya. Ia ingin membuat Elyn marah, semarah ia ketika melihat Elyn dengan Regi. Tapi itu malah membuat Elyn hanya diam. Tidak seperti yang di harapkan Evan. Hati Evan masih tidak puas.
"Hah.. sekarang dia diam saja ketika aku mengabaikannya. Dulu dia pasti mati-matian mencari perhatianku ketika aku mengabaikannya" Evan menggerutu dalam hatinya sepeninggalan Elyn.
"Kak... kak Nevan.." Monic yang sedari tadi berbicara tapi diabaikan oleh Evan akhirnya mulai geram. Ia memanggil Evan berulang ulang.
__ADS_1
"Ah, maaf sebentar ya.." Evan memang memutuskan mengabaikan Monic saat itu. Ia berfikir untuk menemui Regi saja mengingat Elyn bahkan berbohong tadi pagi. Ia sangat gusar dengan segala pikirannya. Ia harus memperjelas semua ini secepatnya. Ia sangat tidak ingin hubungannya dengan Elyn menjadi kacau begini.