
Evan berjalan lunglai menuju kamarnya. Ia merasa seluruh energinya membuncah tak terkendali. Ia ingin marah sekaligus merasa lemas. Sejatinya ia sangat ingin merebahkan tubuhnya sesegera mungkin. Ia merasa letih karena menahan emosinya.
Bruuks.... Evan menabrak seseorang. "Kamu tidak apa-apa?" Ujar seorang pelayan yang tak sengaja di tabraknya di tepi lorong.
Evan hanya diam bahkan tak menoleh sedikitpun. Ia meneruskan perjalanannya menuju kamar. Hingga ia terhenti di pintu lorong menuju kolam renang. Kakinya melangkah ke kursi dimana ia pernah berbincang dengan Elyn. Ia masih ingat cantiknya Elyn yang disinari lampu.
"Elyn.. Kenapa?" Evan menghembuskan nafasnya.
"Hey,, wajahmu kenapa murung begitu?" Pelayan kapal yang tadi ternyata mengikuti Evan yang murung. Ia menghawatirkan Evan yang berjalan lunglai itu sendirian dan termenung di sana.
"Hmmmm... Entah lah.." Evan menghela nafas nya lagi.
"Dia biasanya mencari ku kini dia pergi bersama yang lain tanpa mencari ku dulu" Evan memandang kursi itu lekat-lekat.
"Ah,, kamu khawatir dia tidak mau bermain denganmu lagi? Mungkin tadi kamu sibuk sehingga dia memilih pergi dengan yang lain, atau ada alasan yang tidak kamu ketahui?" Jawab pelayan tersebut.
"Bukan itu.." Evan sedikit gugup untuk menjawabnya.
"Aaa..aku melihatnya di peluk.." Evan tertunduk malu. Mungkin karena pelayan tersebut tidak di kenalnya, sehingga dia bisa sedikit terbuka dengan pria itu. Toh nanti kami juga belum tentu bertemu setelah usai dari perjalanan ini.
"Ah... cemburu, apa anak sekecil ini bisa cemburu? Aku waktu seumur dia, apa juga pernah begitu ya?" gumam pelayan tersebut dalam hati sambil berusaha untuk tetap memasang wajah netral. Ia merasa sedikit lucu pada kisah cinta anak kecil itu.
"Kamu sudah bertanya padanya? Ada apa? mungkin terjadi sesuatu sehingga terlihat berpelukan. Bisa saja tadi dia hampir tergelincir" Ujarnya berusaha membuat Evan berpikir positif.
"Hmmm.... Dia memang sedikit ceroboh. Ah, dia memang ceroboh" Jawab Evan seketika. Ia masih ingat kejadian semasa mereka mengelilingi kapal.
"Nah, tidak seharusnya kamu semurung itu.. Tenangkan dirimu dan temui lah dia besok. Ini juga sudah malam, kamu bisa masuk angin jika malam-malam terkena angin laut begini. Masuklah..." Pelayan tersebut berusaha membujuk Evan.
Akhirnya mulailah terlihat seutas senyuman di wajah Evan. Ia kembali ceria. Pelayan itu ikut tersenyum melihatnya.
"Baiklah,, terimakasih kakak berambut merah.." Evan tersenyum lebar sambil melambaikan tangannya. Ia berlari meninggalkan pria itu. Kini semangatnya mulai muncul.
"Aah,, indahnya masa anak-anak.. Sayangnya ketika dewasa cemburu tak semanis itu bocah" Ucap pelayan tersebut sembari menatap lautan luas yang diselimuti gelapnya malam.
Keesokan harinya Evan mendatangi kamar Elyn, Elyn pasti belum bangun. Evan berencana mengajaknya sarapan bersama. Evan sudah memesan makanan di taman Jasmin. Taman yang sering menjadi tempat untuk sarapan. Meski banyak restoran dan bahkan ada ruang makan umum. Taman Jasmin memang terkenal tempat yang romantis.
Tok Tok Tok... Evan mengetuk pintu kamar Elyn dan Tante Nina pun membuka pintunya.
"Evan, mau membangunkan Elyn ya.. Tadi Tante sudah bangunkan dia hanya memeluk gulingnya lebih erat" Ibu Elyn tersenyum mengingat tingkah anaknya sembari mempersilahkan Evan masuk.
__ADS_1
Evan menuju kamar Elyn. Di lihatnya Elyn yang tertidur dengan posisi yang sangat cemerlang.
"Haha,, apa dia harus berpose seperti itu? Pose yang sangaaaaat Cemerlang" Evan tertawa kecil.
Eheeem.. Eheeem.. Evan batuk kecil untuk menyesuaikan suaranya.
"Elyyyyyn... Elyyyyyn..." Evan menepuk pelan pundak Elyn.
"Kak Evan.." Elyn berteriak dan langsung memeluk Evan.
Evan tersenyum tambah lebar. Ia senang bukan kepalang karena Elyn memeluknya.
"Elyyyn..." Ujar Evan lembut sembari ikut memeluk Elyn, tapi.......
"Jangan di lihat.. Muka ku pasti bengkak.. Pokonya jangan di lihat.. Kak Evan tutup mata. Awas kalau dibuka.." Elyn mulai menggerutu.
"Oh, dia memelukku karena tidak ingin aku melihat wajahnya yang jelek!" Evan yang mengetahuinya merasa lucu dengan tingkah Elyn.
"Baiklah aku akan menutup mataku.."
"Jangan di buka.. Awas kalau di buka.!" Elyn mengancam Evan
Bruuuuk... "Aaaaduuuh..." Elyn berteriak.
Kakinya yang tersangkut di selimut karena terburu-buru bangkit dari tempat tidur itu akhirnya membuatnya tersungkur. Ia jatuh di karpet. Kepalanya yang benjol itu kini terbentur lagi.
Evan yang kaget mendengar itu akhirnya membuka matanya. Ia terbelalak seakan tidak yakin apa yang di lihatnya.
"Elyn, tidak apa-apa?" Evan bertanya dengan ragu.
"Ah... haaaah...." Elyn yang sangat malu itu tak menjawabnya. Ia langsung lari menuju kamar mandi. Dia bahkan lupa jika tadi ia meminta Evan menutup mata. Mungkin dia juga lupa jika tadi sempat mengancam Evan.
"Iiiiih.. Malu-maluin... " Elyn menggerutu di depan cermin.
"Yuk..." ajak Evan yang melihat Elyn setelah usai bersiap-siap.
"Nanti kamu jangan jauh-jauh dari Evan. Ibu dan ayah ada di Restoran C setelah itu kami akan menuju ruang music. Jika kamu mencari kami. Bisa ke sana mengerti. Jika tidak cukup kembali ke kamar dan minta pelayan untuk memanggil kami ya.." Ibu Elyn membimbing Elyn dengan rasa khawatirnya.
"Jaga elyn ya Evan.. awasi dia dengan baik, kamu tahu kan elyn itu bagaimana.." Pinta ibu Elyn pada Evan.
__ADS_1
"Iya Tante.." Evan mengangguk keras. Ia tahu betul bagaimana Elyn. Dia menyetujui perkataan ibu Elyn dengan pasti. Dengan sangat pasti.
"Elyn ayoooo..." Evan menggenggam tangan Elyn agar segera berangkat.
"Eemm.." Elyn perlahan melepas genggaman tangan Evan. Ia bahkan tidak memandang mata Evan.
"Apa dia masih malu karena kejadian tadi.. Kepalanya pasti sakit.." Evan berpikir dalam hatinya. Ia jadi kembali mengingat Elyn yang tersungkur tadi.
Ffftht... Evan menahan tawanya. Ia membiarkan Elyn jalan sedikit di belakangnya. Agar elyn menjadi lebih nyaman jika ia malu akibat kejadian tadi.
"Sudah sampai,, ayo angkat kepalamu" Evan memegang bahu Elyn. Ia sedari tadi hanya menunduk dan menatap langkah Evan. Ia menyamakan langkah kakinya dengan Evan tanpa menoleh ke manapun.
"Waaaah... Cantiknya.." Elyn akhirnya melihat isi taman tersebut. Dipenuhi bunga warna-warni. Ini adalah taman outdoor yang indah. Bahkan tercium aroma Jasmin yang terhembus angin laut. Perpaduan aroma laut dan Jasmin. Tak heran ini adalah tempat yang pas untuk sarapan pagi yang rileks dan romantis.
"Yuk.. aku sudah memesan meja dan makanan.." Evan menuntun Elyn ke meja yang ia pesan.
"Waaaaaaah..." Ujar Elyn lagi. Ketika melihat makanan yang di sajikan di meja itu.
"Ini surga..." Elyn tersenyum lebar. Ia terlihat bahagia. Taman yang cantik dipenuhi bunga warna-warni, aroma lautan dan Jasmin yang menenangkan jiwa. Ditambah lagi ada makanan beraneka ragam. Itu bukan makanan untuk sarapan biasa. Itu adalah Menu Elyn. Begitulah sebutannya untuk semua cake, roti, puding, kue kering dan cemilan lainnya itu. Di tambah segelas coklat hangat.
Evan yang menyiapkan itu untuknya semakin merasa puas. Ia seolah berhasil merebut kembali mainan yang sebelumnya dicuri.
Dengan kalap mata Elyn melahap makanan yang ada di meja itu. Mulutnya penuh, pipinya berlumuran cokelat.
"Pelan-pelan makannya!" Seru Evan sambil mengelap pipi Elyn dengan lembut.
"iya kak.." Ujarnya yang akhirnya menatap Evan mengangkat kepalanya itu. Pandangannya kini ke depan.
"Eh.." Ujar Elyn terputus.
"Ada apa?" Evan menoleh kesana-kemari karena Elyn tampak tidak fokus melihatnya.
Elyn kembali tertunduk dan melanjutkan makanya.
Evan merasa kalah saing dengan cemilan. Evan berpikir Elyn begitu karena cemilan atau karena dia masih malu akibat kejadian tadi.
"Ah,,, Bella.." Ucap Elyn dalam hati. Ketika ia menangkap sosok Bella yang menatapnya tajam penuh ketidaksukaan. Elyn masih merasa bersalah atas kejadian kemarin. Dia sudah bertekad tidak akan menyusahkan Evan lagi. Dia bahkan menyusahkan Regi. Yang membiarkannya menangis semalam. Elyn berusaha meneruskan sarapannya. Tapi ia tidak tenang.
"Kak, aku ke toilet.." Elyn yang cemas itupun akhirnya memutuskan menghindari Evan. Ia memutuskan kabur dari sana.
__ADS_1