Hukuman Bagi Sang Pembunuh

Hukuman Bagi Sang Pembunuh
Tidak Berdaya


__ADS_3

Lingkaran portal sihir semakin mendekati Elyn dan Evan. Elyn terlihat semakin merasa gugup. Ia menggenggam erat jemari Evan.


"Aku gugup banget kak.." Elyn menatap wajah Evan mengungkapkan keresahannya.


"Kita akan baik-baik saja Elyn.." Evan masih terus berusaha menenangkan kegugupan Elyn. Biar bagaimanapun ini pengalaman pertamanya masuk ke portal sihir.


"Waaaaa..." Elyn berteriak girang. Begitu tubuhnya mulai masuk dalam portal sihir. Ia merasa antusias.


Lingkaran sihir itu melahap mereka. Kini sudah sepenuhnya kapal tersebut masuk ke dalam portal sihir.


"Ini masih permulaan Elyn.. Kamu lihat lingkaran sihir di depan. Nah mulai dari situ sensasi kita di dalam portal sihir akan semakin terasa unik. Nuansanya juga berbeda tidak putih terang seperti ini." Evan menunjuk ke arah lingkaran sihir di depan mereka.


Elyn mulai merasakan pusing di kepalanya begitu memasuki portal sihir tersebut. Kepalanya serasa oleng dan berputar-putar.


"Kak kepalaku pusing.." Ujarnya yang mengabaikan perkataan Evan dan memegang keningnya.


"Mungkin ini karena pertama kalinya kamu masuk portal sihir, jadi sedikit pusing.. Suasana di sini memang sedikit aneh" Evan berjongkok di hadapan Elyn dan mencoba memperlihatkan sekelilingnya.


Untuk melintasi perjalanan dengan portal mang harus melewati 3 portal. Di dalam portal pertama memang hanya hamparan putih saja. Seperti tidak berada di manapun. Bak di atas kertas putih polos. Berbeda dengan Portal Ke dua dan portal ketiga sama seperti portal pertama. Tujuan portal pertama dan ketiga memang agar dampak yang di timbulkan bagi tubuh manusia biasa bisa berkurang. Tidak rusak akibat efek sihir yang besar.


"Ummm... Mungkin juga.." Elyn pun berusaha tidak menghiraukan kepalanya mulai terasa semakin berat.


Namun... Ketika lingkaran sihir yang ke dua mendekat. Elyn semakin merasakan keanehan di kepalanya. Kini bukan hanya pusing yang berputar-putar, kepalanya serasa berdenyut kuat. Nyeri tak tertahankan makin menyiksanya. Begitu mereka memasuki portal ke dua.


"Aaarrrrgt... " Elyn menjerit keras. Ia meronta-ronta. Ia menarik-narik rambutnya. Kepalanya terasa sangat sakit. Elyn terjatuh dari kursi rodanya.


Evan terkejut begitu mendengar teriakan Elyn. Ia melihat Elyn yang menggeliat dan meronta-ronta. Ia memegang tangan Elyn untuk menghentikannya menarik-narik rambutnya.


"Elyn.. Elyn..." Teriaknya.


Suasana menjadi riuh. Elyn di kerumunin orang di sekitarnya. Evan berusaha memeluk Elyn menenangkannya. Namun Elyn masih terus berteriak kesakitan. Sampai tim medis dan penyihir datang.


***


Elyn tertidur usai meronta-ronta cukup lama. Tubuhnya terkulai lemas tidak berdaya. Kedua orang tuanya semakin cemas melihat ribut Elyn juga banyak rontok dan tercabut di sela-sela jemarinya. Itu pasti sangat menyakitkan.

__ADS_1


Wajah Evan yang pucat dan bibirnya yang kering. Jelas menunjukkan betapa khawatirnya Evan pada kondisi Elyn saat ini.


Ayah dan kakek Evan bahkan hadir dan mencoba ikut menenangkan kedua orang tua Elyn yang tampan pucat pasi tersebut.


"Sepertinya tubuh putri anda menolak sihir yang ada di portal sihir. Ia tidak bisa memproses tubuhnya dalam sihir. Penolakan yang kuat membuat energi di tubuhnya bergejolak. Kami sudah melakukan apa yang kami bisa agar mengurangi dampaknya dan membuat putri bapak tertidur. Ini mungkin sementara dan ketika ia sadar dia akan kesakitan kembali." Dokter mencoba menjelaskan kondisi Elyn.


"Baru kali ini kami melihat seseorang yang menolak sihir sampai seperti ini. Apalagi di tubuh putri bapak ada sihir yang sulit di kenali. Saya akan mencoba menghubungi Menara Sihir untuk meminta bantuan. Saat ini kami sangat memohon maaf. Sampai kita keluar dari portal. Kami tidak bisa melakukan apapun kepada putri bapak selain membuatnya tetap tertidur." Penyihir tersebut memohon maaf dan terlihat sangat gusar.


"Jadi.. Kita tidak bisa apa-apa?" Ibu Elyn menangis mengetahui kondisi putri satu-satunya itu.


"Maafkan kami.." Dokter dan penyihir tersebut menundukkan kepalanya.


"Bagaimana bisa ada sihir yang tidak di kenal?" Sentak kakek Evan.


"Maaf tuan.. Itu saya juga harus meminta bantuan Menara Sihir terlebih dahulu.." Ucap penyihir tersebut lirih.


"Mungkinkah karena ia terkena debu sihir ketika Elyn menghilang?" Ayah Elyn mencoba menduga-duga.


Evan yang mendengar itu terduduk di lantai. Ia sangat tidak bisa memaafkan dirinya begitu mendengar hal tersebut.


"Evan.." Ayah Evan mencoba menopang tubuh Evan yang juga ikut terkulai lemas.


"Kami akan langsung menghubungi Menara Sihir tuan. Mohon di mengerti." Sang penyihir tersebut menundukkan kepalanya.


"Ini salahku.. Ini salahku.." Evan berteriak histeris.


"Evan.. Evan.. Tidak nak.. Kita belum tahu kenapa Elyn seperti ini.. Tenanglah.." Ayah Evan mencoba menenangkan putranya.


Evan akhirnya tenang dengan bantuan dokter. Ia di suntik dengan obat penenang dan membaringkan tubuhnya di ranjang sebelah ranjang Elyn.


***


Suara riuh dokter dan penyihir yang berdiskusi serta suara orang-orang di sana terdengar samar di telinga Evan.


Tubuhnya terkulai lemas ia hanya bisa melihat tanpa menggerakkan tubuhnya. Ia menatap Elyn yang ada di sampingnya.

__ADS_1


"Elyn..." Mulutnya memanggil-manggil nama Elyn. Tapi tak kunjung mengeluarkan suara.


Tangannya ingin menggapai Elyn namun tubuhnya tak sanggup di gerakkan.


"Jika benar dia seperti ini karena kesalahanku.. Apa yang harus aku lakukan tuhan.." Evan menitikkan air matanya di sela ketidak berdayaannya.


***


"Kita harus tahu apa yang terjadi sebelumnya. Bisa saja memang berhubungan.." Menyampaikan pendapat dari menara sihir pada orangtua Elyn.


"Aku akan mencoba mencari sekali lagi. Bahkan jika dia penyusup di kapal ini." Ayah Evan bertekad untuk mencoba mencari orang yang menyelamatkan Elyn lagi. Agar mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


Besar kemungkinan Elyn mengalami penolakan sihir yang dahsyat juga berhubungan dengan kejadian yang menimpa Elyn.


"Benar juga.. Bisa saja dia adalah penyusup." Kakek Evan menyetujui pendapat putranya


Kakek Evan sudah menerima beberapa data seluruh karyawan kapal yang berambut merah seperti yang di ceritakan Elyn pada manager kapal tersebut. Namun, tak ada yang mengaku mengenal sosok Elyn. Apalagi menyelamatkannya.


Hal itu membuat pencarian penyelamat Elyn semakin tertunda. Sudah semua karyawan yang ada dengan ciri-ciri tersebut di interogasi. Namun tak kunjung membuahkan hasil.


"Aku akan mencoba bertanya pada manager kapal ini sekali lagi." Kakek Evan bergegas pergi.


***


"Maaf tuan... Semua karyawan yang berambut merah hanya itu. Kapal kami memiliki keamanan yang baik. Sehingga tidak mungkin ada penyusup." Manager kapal tersebut terlihat gugup dengan pertanyaan kakek Evan.


Mereka tahu jelas siapa kakek Evan. Sehingga rasa takut semakin membuat mereka gugup.


"Lalu siapa orang berambut merah yang menyelamatkan Elyn." Sentak kakek Evan.


"Mungkin dia berbohong mengatakan pelayan di kapal ini tuan.. Tapi jelas tidak bisa masuk ke kapal ini jika tidak memiliki izin dan tanda penumpang." Kini manager kapal semakin gemetar ketakutan.


"Ummm... Anu.. Tuan..." Asisten manajer tersebut terlihat ragu-ragu.


"Ada apa? Kamu mengenal sosok berambut merah itu? Kamu pernah melihatnya?" Tanya Kakek Evan yang merasa asisten tersebut ingin mengatakan sesuatu.

__ADS_1


"Maaf tapi jika tidak salah pemilik kapal ini juga berambut merah" Ucapnya terbata-bata sambil melirik manager kapal tersebut.


"Ah.. Benar tuan.. Jika yang menyelamatkan nona Elyn memang orang dari kapal ini dan bisa membawa masuk nona Elyn ke kapal. Satu-satunya orang yang belum tuan temui adalah Pemilik Kapal ini tuan.." Seru manager kapal yang seolah menemukan harapan.


__ADS_2