Hukuman Bagi Sang Pembunuh

Hukuman Bagi Sang Pembunuh
Melamun


__ADS_3

Elyn tampak ceria hari itu. Mereka menghabiskan waktu bersama dengan nyaman. Seolah tak pernah terjadi apapun. Tak ada yang berani membahas apapun.


Hingga saat makan malam pun tiba. Elyn yang jenuh dengan perbincangan para orang tua itu pun memutuskan mengajak Evan berjalan-jalan sebentar di taman restoran.


"Kakak... Aku boleh bertanya sesuatu tidak?" Elyn tampak ragu-ragu namun rasa penasaran di hatinya sudah tak bisa lagi di bendung.


"Ya.. Tanyakan saja.." Evan memandang wajah Elyn dengan lembut.


Elyn terlihat sangat gusar. Evan tetap diam menunggu pertanyaan Elyn.


"Kak Evan.." Terdengar suara gadis yang tak asing di telinga Elyn.


Bella dan teman-temannya datang menghampiri mereka. Dengan wajah yang ceria Bella berjalan di samping Evan dan merangkul lengannya. Evan tampak risih. Ia berniat melepas genggaman tangan Bella. Namun Bella memegang lengannya dengan erat.


"Apaan sih ni anak.. Keras banget lagi. Ntar kalau aku paksa yang ada tangannya sakit." Evan akhirnya membiarkan Bella memegang lengannya.


Elyn terdiam melihat tangan Bella yang langsung merangkul Evan. Ia hanya berjalan perlahan di samping Evan.


"Ternyata Bella memang sudah berteman baik dengan Kak Evan. Dia juga memanggilnya kak Evan." Gumam Elyn yang kini langkahnya sedikit demi sedikit semakin tertinggal di belakang Evan.


Teman-teman Bella yang melihat langkah Elyn sedikit tertinggal itu dengan sigap menghampiri Elyn dan mengajaknya bicara.


"Elyn, katanya kamu tersesat ya. Kamu tidak apa-apa?" Dara memulai pembicaraan.


"Aku tidak apa-apa kok.." Elyn menjawab pelan.


"Aku dengar kamu juga pingsan waktu masuk ke portal karena belum sembuh sewaktu kamu tersesat ya. Kamu pasti kesakitan.


Kini giliran Rini yang berbicara. Ia merangkul lengan Elyn dan berhenti sejenak. Seolah memeriksa apa Elyn benar-benar baik-baik saja.


"Ah.. Syukurlah... Kamu baik-baik saja." Rini tersenyum licik.


"Aaa... Ah, iya... Aku baik-baik saja kok.." Elyn terbata-bata dan terlihat canggung dengan apa yang telah mereka lakukan padanya.


"Kami sangat mengkhawatirkan mu loh Abelyn.." Monic mengangguk pelan.


"Terimakasih.." Elyn tersenyum ketir.


Kini langkah Elyn dan Evan terpaut jarak yang cukup jauh. Seolah rencana mereka berhasil. Sekilas tampak senyuman yang membuat Elyn sedikit bergidik.


Elyn menatap lengan Evan yang masih di pegang Bella. Ia mempercepat langkahnya untuk menghampiri Evan.


"Eh, mau kemana.." Rini memegang tangan Elyn.

__ADS_1


Elyn sedikit takut dengan suara Rini yang keras dan membuatnya tersentak.


"Jangan ganggu mereka ya.. Kamu lihat sendiri kan. Evan bahkan tidak melirik ke belakang mencari mu." Ketus Rini lagi yang masih memegang tangan Elyn.


"Tidak peka sekali sih.." Geram Dara dan mereka pun menatap tajam wajah Elyn


Elyn hanya tertunduk diam dan membiarkan langkahnya bersama dengan ketiga teman Bella tersebut.


"Bagus temen-temen.." Bella tersenyum licik begitu melihat jarak mereka lambat-laun semakin menjauh.


Bella semakin bergelayut manja pada Evan. Evan semakin risih dengan tingkah Bella. Elyn yang melihat itu. Menghentikan langkahnya.


"Nah gitu dong. Awas kalau kamu ganggu.." Teman-teman Bella meninggalkannya sambil mencemooh Elyn.


Elyn terdiam menatap taman yang kini malah terlihat suram. Ia memutuskan kembali ke dalam restoran.


Elyn melangkahkan kakinya sambil terus menundukan kepalanya. Ia hanya berjalan lurus.


"Elyn.. mau kemana?" Terdengar suara Regi yang menghentikan langkah kakinya.


"Kembali ke restoran.." Ucapnya dengan santai.


"Kamu sadar ga sih.. Itu kan bukan ke restoran. Kamu melamun lagi." Regi tampak kesal.


"Tentu saja menjaga mu. Kamu kira kamu selama ini keluyuran sendiri. Aku harus terus menjaga mu gara-gara kamu sempat hilang waktu itu.." Regi mengandeng lengannya di dada.


"Kamu tahu seberapa khawatirnya om dan tante. Kita semua tu khawatir. Kamu jangan sering ngelamun dong. Kalau kamu kenapa-kenapa gimana?" Regi semakin menjadi-jadi menasehati Elyn.


"Iya kak.. Maaf.." Mata Elyn mulai berkaca-kaca.


"Ah, aku terlalu kasar ya membentaknya. Padahal aku tadi melihat semuanya.." Regi menyesali apa yang ia lakukan melihat ekspresi Elyn yang tampak sedih.


"Ya sudah yuk.. Maaf ya. Aku membentak mu. Kami sangat khawatir padamu Elyn. Banyak orang yang menyayangi dirimu. Kamu harus jaga diri dengan baik. Mengerti." Regi mengusap poni Elyn yang nyaris mengenai matanya.


Elyn masih tertunduk menutupi linangan air mata yang nyaris menetes di pelupuk matanya.


"Regi.." Samar terdengar suara Evan yang melihat kedekatan Elyn dan Regi.


"Eh.. Kakak.. Yuk kita kembali ke restoran saja. Sudah cukup jalan-jalannya." Elyn langsung melangkah ke depan memimpin jalan. Ia membiarkan Evan dan Regi di belakangnya.


"Aku yang akan menjaganya." Sentak Evan dan menatap tajam wajah Regi.


"Kamu kan tidak bisa selamanya disisinya. Aku juga akan terus menjaganya. Tadi siang saja kamu meninggalkan Elyn sendirian kan." Tegas Regi yang tak mau menyerah.

__ADS_1


"Regi kamu..." Evan sangat kesal mendengar apa yang Regi katakan. Namun belum usai ia berbicara Elyn sudah memanggil mereka agar bergegas kembali ke restoran.


"Kita harus bicara.." Ancam Evan dan langsung menghampiri Elyn.


"Kamu tadi kenapa bisa di sana dengan Regi. Gelap-gelapan." Ketus Evan dengan wajah cemberutnya.


"Aku nyasar. Rencana mau balik ke restoran. Untung ada kak Regi." Jawab Elyn tanpa menoleh sedikitpun ke wajah Evan.


"Yang bener nih..?" Tanya Evan lagi yang mencoba mencari pandangan Elyn. Namun Elyn masih saja menghindar.


"Elyn.. Coba lihat aku.." Bujuk Evan.


"Ogah.." Teriak Elyn dan berlari kecil.


"Ogah.." Evan mengulang perkataan Elyn.


"Hiiiihh... Elyyyyn" Evan pun mengejarnya.


"Hah.. hah.. hah.." Evan dan Elyn sama-sama terengah-engah.


Mereka kembali ke restoran dengan nafas yang sudah terputus-putus.


"Hah.. Capek..." Evan dan Elyn duduk di kursi dengan serentak.


"Ya ampun.. Kalian dari mana saja.." Ibu Elyn menyeka keringat yang menetes di kening putrinya.


"Kalian habis berlari-larian?" Tanya sang ayah yang melihat mereka terengah-engah.


Elyn tersenyum lebar. Ia menyeruput begitu saja minuman yang sudah di sodorkan ibunya.


"Elyn,, apa kamu tahu. Tujuan kita selanjutnya adalah Zornia." Ucap ayah Elyn.


"Oh ya.. Benarkan itu ayah.?" Elyn bertanya kembali pada ayahnya. Ia mencari pembenaran.


"Tentu saja.. Kamu sangat ingin ke sana kan.." Ayah Elyn menjawab tanpa ragu.


"Kapan kita akan sampai.? Apa besok pagi ketika aku bangun kita sudah di Zornia?" Elyn tampak antusias.


"Haha.. Kamu semangat sekali Elyn. Mungkin lusa siang kita sudah di sana." Kakek Evan ikut senang melihat ekspresi dari Elyn.


Elyn semakin bersemangat. Ia berceloteh dengan segala hal yang ingin dia lakukan selama di Zornia. Kabarnya mereka akan lama di sana. Sehingga Elyn lebih bersemangat lagi.


Malam itu masih terasa hangat dengan kebersamaan mereka di Ardima. Diselingi canda dan tawa diantara mereka.

__ADS_1


Tepat tengah malam mereka akan kembali berlayar. Kali ini tujuan mereka adalah benua Zornia. Benua impian bagi Elyn.


__ADS_2