
Bak tak terjadi apa-apa. Elyn hanya seperti anak kecil yang baru bangun dari tidur lelapnya. Ia hanya melirik kesana-kemari. Mengucek kedua matanya, dan menggeliat meregangkan tubuhnya.
Ekspresi di wajahnya terlihat jika ia merasa bingung. Karena banyak orang si sekitarnya dan memandang Elyn dengan tatapan tajam.
Namun, Elyn tak bertanya apapun. Ia tak mempertanyakan apa yang terjadi. Ia hanya tersenyum tulus tanpa niat lainnya.
"Kruyuuuuk..."
Suara yang tak asing lagi tersebut memecahkan keheningan di kamar Elyn.
"Hehehe.. Aku sangat lapar.." Elyn tertawa kecil dengan wajah yang memerah. Ia merasa sangat lapar. Seolah belum makan seharian.
"Wajar sih lapar. Ini juga sudah jam makan siang. Kita di sini juga pada belum makan ya ternyata." Ayah Elyn yang sudah mulai tenang, menyadari jika semua yang ada di sana belum makan. Mereka hanya fokus pada kejadian yang sangat mengejutkan itu.
"Putri ibu lapar ya.. Ibu ambilkan makanan ya." Ibu pun beranjak dari tempat duduknya untuk memesan makanan.
"Hhhmmm... Bu... Kak Evan mana?" Tanya Elyn yang menyadari sebelumnya ia bersama Evan.
"Evan mungkin ada di kamarnya, atau dia bisa saja sedang makan. Tadi dia juga belum makan. Nanti setelah ia makan siang ibu akan membawanya kesini." Ibu tersenyum ketir.
Evan sebenarnya terlihat aneh. Sejenak setelah ia sadar dan semua orang pun tersadar. Evan menjerit histeris. Ia mengatakan bahwa dadanya terasa terbakar. Terry dan Rory membawanya pergi. Mereka mungkin masih memeriksa Evan.
"Apa tadi aku bermimpi ya? Aku mendengar jika kak Evan akan melakukan apapun untuk ku dan akan selalu ada di sisiku." Elyn mencoba mengingat dengan baik. Namun Elyn tak menemukan jawabannya.
Elyn menatap kakinya yang di perban. Ia melihat seluruh plester yang melekat di tubuhnya. Ia kembali teringat jika ia sebelumnya memang terluka.
"Haduh.. Perutku.." Ucapnya lirih.
Ia menatap kamarnya yang kosong. Elyn mencoba bangkit untuk ke kamar mandi sendirian. Ia tak mau menunggu ayah atau ibunya hanya untuk membantunya sebentar. Elyn tak ingin merepotkan siapapun.
Elyn melepas selimutnya. Ia mencoba meraih kursi roda yang jaraknya sedikit jauh dari tempat tidurnya. Namun ketika ia bangkit. Kaki yang mulanya terasa ngilu itu sudah tidak terasa apa-apa lagi.
__ADS_1
"Eeeeh... Apa aku sudah sembuh." Elyn segera melepas perban di kakinya. Ia juga melepas plester yang melekat di tubuhnya.
"Ini Ajaib.. Tubuhku juga terasa ringan.. Hmmmm... Selain rasa lapar yang dahsyat ini. Selebihnya sih, aku sudah baik-baik saja."
"Ah.. Tadi kan katanya Penyihir Agung mengobati ku. Nanti aku harus berterima kasih padanya." Elyn tersenyum puas. Ia sudah pulih sepenuhnya.
Usai sarapan Elyn kedatangan banyak tamu yang menjenguknya. Setengahnya ia merasa senang karena banyak yang menyayangi dirinya. Namun setengah hatinya merasa jika perhatian mereka terasa sangat berlebihan.
"Hai Elyn.. Aku Terry.. Hmm.. Boleh kan aku memanggil mu Elyn?" Terry mencoba mengakrabkan diri pada Elyn.
"Tentu saja.. Aku sudah dengar dari ibuku tentang kakak.. Eeeeh... Nona Penyihir. Hmmm.. Ibu penyihir agung" Elyn tampak ragu-ragu. Ia merasa enggan memanggil Terry dengan kakak. Ia takut salah bicara.
Terry tersenyum kecil. Ia menatap lembut wajah Elyn. Terry pun duduk di samping Elyn. Ia memegang kedua tangan Elyn.
"Ya.. Panggil saja aku kakak. Aku tidak masalah mempunyai satu adik lagi." Ucap Terry dengan suara yang sangat lembut.
"Benarkah..." Elyn tampak sangat riang. Terry menyambut senyuman Elyn dengan senang hati.
"Kakak keren sekali.." Elyn menatap lekat-lekat Terry dari ujung rambut sampai ujung kepala. Berulang-ulang.
"Kakak keren sekali. Kata ibu kakak penyihir agung termuda. Wanita lagi.. Keren dong." Ucapnya dengan mata yang berkaca-kaca penuh semangat.
Terry termasuk muda. Ia berusia 18 tahun saat ini. Namun Terry sudah menyandang gelar Penyihir Agung. Ia memang penyihir jenius kebanggaan menara sihir.
"Itu karena aku tidak menyerah." Ucap Terry membanggakan dirinya.
"Kamu akan mencapai apapun cita-cita dan mimpimu jika kamu tidak menyerah. Sejauh apapun mimpi itu kelak kamu akan menggapainya" Terry memotivasi Elyn.
Elyn tersenyum lebar dengan mata yang bersinar dan anggukan Elyn yang keras.
Terry mengubah posisi duduknya. Ia kini menatap Elyn dengan wajah yang serius.
__ADS_1
"Elyn.. Bagaimana keadaan mu?" Terry bertanya dengan nada yang sangat terdengar serius.
Bukan nada khawatir atau nada orang bertanya karena ia penasaran. Tapi dengan nada serius. Elyn yang mendengar itu sedikit terkejut. Elyn merasa heran. Sebelumnya ayah dan ibunya juga bertanya hal yang sama namun itu terdengar seperti rasa khawatir orang tuanya. Beberapa penyihir juga bertanya. Namun lebih terdengar seperti orang yang penasaran dengan apa yang terjadi. Sedangkan Terry bertanya dengan serius. Membuat Elyn sejenak bingung akan jawabannya.
"Hmmmm" Ucap Elyn yang jelas terlihat bingung.
"Apa tubuh mu masih ada yang sakit?" Tanya Terry begitu melihat Elyn dengan ekspresi bingung.
"Tidak.. Aku baik-baik saja. Lihat ini.!!!" Elyn mengangkat gaunnya dan memperlihatkan kakinya pada Terry.
"Kaki ku yang keseleo kini baik-baik saja. Bahkan luka di tumit dan luka-luka lainnya juga menghilang. Tubuhku juga terasa ringan." Sambungnya lagi sambil memperlihatkan beberapa lokasi luka yang sebelumnya ada kini menghilang tanpa bekas. Bak tak terjadi apa-apa.
Terry hanya diam. Ekspresi wajah Terry yang bingung tersirat jelas di wajahnya.
"Ah.. Aku sampai lupa.. Terimakasih ya kak Terry.. Kan kakak yang mengobati ku." Elyn menundukkan kepalanya dan tersenyum lebar.
"Aku tidak berbuat apapun.. Anak itu. Evan. Anak yang tak terpengaruh sihir itu yang menyelamatkan Elyn.." Terry berkecamuk dengan pikirannya sendiri.
"Tidak.. Kamu harusnya berterimakasih pada teman mu itu, Evan. Jika bukan karena dia juga. Aku tidak bisa apa-apa." Terry berkata dengan tatapan yang masih bingung.
"Hmm.. Nanti aku akan berterimakasih juga pada kak Evan. Tapi aku juga berterima kasih pada kakak" Elyn tersenyum tulus.
Melihat senyuman Elyn yang tulus Terry hanya mengangguk pelan. Ia tak mungkin menyanggahnya lagi. Ini memang situasi diama siapapun pasti akan di buat pusing.
"Elyn.. Kamu ingat apa yang terjadi pada mu?" Tanya Terry.
"Bukannya aku sedang sakit. Terus aku tiba-tiba mabuk ketika di dalam portal sampai aku pingsan." Ucap Elyn dengan percaya diri.
"Bagaimana bisa pernyataan mereka sama. Para penyihir yang pingsan bahkan tidak mengingat kejadian yang menghebohkan itu. Mereka bahkan lupa jika ada Medan energi besar disini. Semua orang tak ada yang ingat kejadian itu selain aku dan Evan.?" Rasa penasaran yang berkecamuk di batinnya. Membuat Terry memasang wajah serius yang tampak sedikit menyeramkan.
Wajah Elyn terlihat berubah begitu Terry memperlihatkan wajah yang terasa menyeramkan baginya. Ia menggeser tubuhnya sedikit jauh dari posisi duduk sebelumnya.
__ADS_1
Terry yang menyadari hal itu kemudian mendekatkan dirinya kembali ke sisi Elyn.
"Iya.. Kamu pingsan karena mabuk. Mereka sangat menyayangimu sampai heboh begini." Ucap Terry dengan senyuman lebarnya.