Hukuman Bagi Sang Pembunuh

Hukuman Bagi Sang Pembunuh
Mencari Elyn


__ADS_3

*Satu Jam Sebelumnya


"Kamu jangan jauh-jauh ya.. Temani aku sampai pesta ini usai.." Evan meminta Bella untuk tetap bersamanya.


"Iya kak Evan.." Jawab Bella yang terlihat sangat bahagia. Ia bagaikan mimpi di siang bolong. Berhasil berada di sisi Evan di acara utama tersebut.


"Wah, kak Evan sendiri yang memintaku. Hari ini hari keberuntunganku kayaknya. Hahaha.. Abelyn.. Kamu sudah di buang ya.." Bella dengan pikiran liciknya.


Usai menyerahkan piagam pada acara tersebut. Evan sengaja terus bersama Bella. Ia berharap Elyn melihatnya. Ia ingin Elyn merasakan apa yang ia rasakan ketika Elyn bersama Regi.


"Kalau Elyn lihat.. Kira-kira apa reaksinya ya..?" Evan berpikir dalam hati. Mengira-ngira bagaimana reaksi Elyn nanti ketika melihatnya dengan Bella.


Bella yang bahagia bersama Evan mulai menyombongkan dirinya. Berbeda dengan Bella di sepanjang acara Evan terlihat tidak fokus. Ia melirik kesana-kemari mencari sosok Elyn


Evan mengabaikan Bella. Ia hanya ingin ketika Elyn melihatnya Bella masih ada di sisinya. Namun Evan yang masih mencari sosok Elyn tak kunjung menemukannya.


"Kemana lagi anak itu.?" Gumam Evan sambil mencari sosok Regi. Ia berpikir mungkin Elyn juga sedang bersama Regi.


"Tidak ada.. Apa dia sibuk makan sampai lupa segalanya?" Gumam Evan lagi ketika melihat Regi yang asyik mengobrol dengan teman lainnya tanpa ada sosok Elyn di sana. Ia juga mengingat jika Elyn sering lupa diri jika sudah menyantap makanan. Apa lagi pesta kali ini adalah acara utama sehingga banyak makanan enak tersaji di meja makan.


"Bella,, ayo kita ambil beberapa makanan.." Bujuk Evan agar Bella mengikutinya mengambil makanan.


"Iya kak.. Bella juga sudah lapar" Jawab Bella sedikit malu-malu.


Bella mengambil beberapa makanan di piring. Tapi Evan masih saja berlama-lama di meja makan. Ia seperti orang yang kebingungan mencari sesuatu.


"Ada apa kak? Apa menu makanan disini tidak sesuai selera kakak?" Tanya Bella yang melihat piring Evan kosong.


"Tidak apa-apa.. Ayo, makanlah..!" Seru Evan yang kemudian mengambil sepotong puding coklat yang ada di depannya tanpa pikir panjang.


"Jika aku duduk disini.. Elyn yang mengambil makanan akan terlihat jelas kan.." Pikir Evan yang merasa Elyn pasti melihatnya jika nanti Elyn mengambil makanan.


Mereka duduk tak jauh dari meja makan. Ia tidak duduk di meja yang disediakan untuknya. Bella merasa aneh tapi tidak mencoba bertanya dia terlalu senang mendampingi Evan hari ini.


Namun, ketika Evan menatap puding di piringnya. Ia semakin teringat dengan Elyn. Dia merindukan Elyn yang sudah beberapa hari di selubungi kesalahpahaman.


"Elyn suka sekali dengan puding coklat.." Gumamnya yang menatap puding coklat tersebut.


Evan memakan pudingnya perlahan. Matanya masih melirik kesana-kemari mencari sosok Elyn.

__ADS_1


"Evan... Elyn dimana, dia tidak sama kamu?" Tanya Ibu Elyn pada Evan. Yang tiba-tiba menghampiri mejanya dan membuat Evan sedikit terkejut.


"Ah.. Tidak, Tante... Tadi Elyn ada di ruang ganti. Saya juga mencari dari tadi. Elyn tidak kelihatan." Jawab Evan gugup. Mengingat ia sedari tadi juga mencari Elyn namun tak berhasil menemukannya.


"Aduh.. Dia kemana ya. Dari awal acara Tante tidak lihat dia. Tante kira dia sudah di belakang panggung bersama denganmu.." Ibu Elyn sudah terlihat mulai khawatir.


"Apa sejak mulai acara dia tidak ada?" Gumam Evan yang juga mulai khawatir.


"Apa dia kembali ke kapal ya? Tante dan Om coba mencari kembali ke kapal dulu ya..!" Seru ibu Elyn yang terlihat semakin pucat. Mereka berdua memutuskan mencari Elyn ke kapal.


"Biar Evan bantu cari di sekitar sini tante.." Tawar Evan yang memanglah sangat mencemaskan Elyn.


Bella yang mendengar itu terlihat sangat kesal. Di kepalnya kedua tangannya geram.


"Jadi dia sedari tadi terlihat tidak fokus mencari Abelyn.. Aku kira dia sudah mencampakkan Abelyn sialan itu.." Gerutu Bella dalam hati.


Evan tanpa basa-basi meninggalkan Bella di sana sendiri.


"Dia bahkan tidak pamit..Aarght.." Bella geram dengan apa yang dilakukan Evan padanya.


Evan kembali mengingat sosok Elyn yang ia tinggalkan tadi. Ia mencoba mengingat-ingat apa dia menyakiti Elyn hingga Elyn tidak muncul di acara.


Langkahnya terhenti sejenak. Ia memegang dadanya erat. Di cengkeramnya kerah bajunya dengan erat.


"Bodoh... Kamu bodoh Evan. Tadi kamu menepis tangan Elyn. Kenapa kamu sekadar itu padanya Evan" Geram Evan pada dirinya sendiri. Dengan tubuh yang gemetar karena diselubungi emosi. Evan semakin menyesali perbuatannya pada Elyn. Ia sudah terlalu kasar memperlakukan Elyn.


"Aah.. Elyyyn.. Maafkan aku.." Penyesalan Evan kian membuncah.


Evan memutuskan mencoba mencari Elyn ke tempat terakhir kali ia melihat Elyn.


Setibanya Evan di ruang ganti tersebut. Ia hanya bisa melihatn barang-barang yang menumpuk di sana. Ia melihat sekali lagi untuk meastikannya. Saat itu, di meja rias ia melihat sebuah Pita Kuning yang sudah kusut di pojok cermin.


"Elyn..." Evan mengingat dengan jelas jika itu adalah pita yang Elyn kenakan.


"Pintanya disini.. Kemana kamu pergi Elyn.." Evan menggenggam erat pita tersebut. Ia semakin khawatir dengan keadaan Elyn.


"Ah.. Dapur.. Mungkin dia ada di dapur hotel.. Elyn biasanya juga sering menyelinap ke dapur.." Pikir Evan mengingat kebiasaan Elyn.


Ia memutuskan menuju dapur hotel. Sepanjang perjalanan Evan tak henti-hentinya melihat kesana-kemari. Evan tak ingin melewatkan celah sedikitpun untuk menemukan Elyn.

__ADS_1


Elyn memanglah mudah tersesat. Dia buta arah. Itu juga menambah kekhawatiran Evan. Namun Elyn selalu bisa menemukan dapur dan sumber makanan. Sehingga Evan masih tidak putus semangat mencari Elyn di dapur. Pasalnya tiap Elyn tersesat Evan memang sering menemukannya di dekat makanan.


Sesampainya di dapur. Evan juga tidak menemukan Elyn. Ia tampak kecewa. Evan pu berpikir keras. Menerka tempat lain yang sekiranya akan di kunjungi Elyn.


"Elyn pasti sangat sedih.." Evan kembali mengingat perbuatannya pada Elyn.


"Bagaimana jika dia menangis sendirian.." Evan semakin mengkhawatirkan Elyn. Ia membayangkan Elyn yang telah ia lukai itu menangis sendirian.


"Kolam renang.. Dia menyukai kolam renang.." Sontak Evan mengingat ketika Elyn sedih di kapal. Ia berada di kolam renang.


Evan pun mencari kolam renang di hotel tersebut. Namun lagi-lagi dia tidak menemukan Elyn.


"Apa mungkin dia tidak di dalam hotel?" Pikir Evan lagi.


"Ya Tuhan.. Evan.. Kamu benar-benar bodoh.." Gumamnya yang sangat menyesali perbuatannya.


Betapa sakitnya hati Evan kala itu. Ia tak pernah berniat untuk menyakiti Elyn. Ia hanya ingin membuat Elyn kesal. Seperti kesalnya pada Elyn yang melihat kedekatan mereka.


Evan hampir menggila dengan pikirannya yang kacau. Namun.....


"Evan.." Tiba-tiba terdengar suara Regi yang memanggil namanya.


"Regi.." Evan tertunduk penuh penyesalan.


Regi hanya diam dan menghampiri Evan perlahan.


"Tante dan Om sudah mencari di kapal. Mereka sudah menemukan Elyn.." Ujar Regi.


"Apa dia baik-baik saja?" Tanya Evan pada Regi memastikan keadaan Elyn.


"Ya.." Regi mengangguk pelan.


Evan menatap Regi dengan perasaan lega mendengar kabar Elyn yang sudah di temukan. Evan berjalan lunglai menuju kapal kembali. Ia diselimuti pertanyaan yang tak berujung. Pikirannya kian kacau.


"Apa mereka masih salah faham.." Ujar Regi yang menatap punggung Evan yang kian menjauh.


"Biacaralah dengannya Evan..." Teriaknya dari jauh.


Evan terkaget. Ia menatap tajam Regi. Dilihatnya Regi yang mengangguk. Ia memantapkan langkahnya. Evan pun berlari menuju kapal. Ia bertekad untuk bicara dengan Elyn kali ini.

__ADS_1


__ADS_2