Hukuman Bagi Sang Pembunuh

Hukuman Bagi Sang Pembunuh
Janji


__ADS_3

Pagi itu seperti biasa Elyn bangun lebih awal. Lebih tepatnya sudah seminggu ia terus-menerus bangun lebih awal karena tidak sabar menunggu untuk berlayar ke benua Zornia.


Ini memanglah awal hari liburan sekolahnya. Meski di akhir pekan mereka tetap mempunyai kebiasaan untuk bangun pagi dan sarapan bersama.


Elyn duduk di meja makannya dengan riang. Ia menggoyang-goyangkan kedua kakinya. Ia menyantap makanannya dengan lahap.


"Pelan-pelan makannya Elyn, tidak ada yang akan merebut makanan mu!" Seru ibu pada Elyn.


"Iya,nanti kamu bisa tersedak loh..!" Ujar ayah meyakinkan Elyn. Kedua orangtuanya sangat khawatir Elyn akan tersedak jika terus makan dengan buru-buru seperti itu.


Elyn hanya mengangguk pelan dan tetap melahap makanannya. Mau bagaimana lagi, itu salah satu makanan favoritnya. Roti panggang dengan Eltra coklat di semua sisinya. Ibu dan ayah hanya tersenyum melihat anaknya menyantap makanan dengan lahap.


Ting tong... Ting Tong... Bel rumah Elyn berbunyi.


"Itu pasti kak Evan" Ujar Elyn seraya bangkit dari meja makan dan meninggalkan makanan favoritnya yang masih bersisa di piringnya.


Dengan penuh semangat Elyn berlari ke arah pintu untuk membukakan pintu tersebut.


" Kak Evan.... " Elyn berteriak lantang penuh semangat. Ia menyambut kedatangan Evan dengan ceria.


"Fhuft.. hahaha." Evan tertawa lebar di depan pintu yang baru saja Elyn buka.


"Kenapa Kaka ketawa?" Elyn bertanya dengan penuh kebingungan.


"Elyyyyn, lihat ini.. Pipi mu penuh dengan coklat. Kamu sangat mirip kucing yang baru merampok ikan di dapur." Ledek Evan pada Elyn.


"Kak Evaaan..." Teriak Elyn jengkel. Sambil membersihkan pipinya dengan kedua punggung tangannya.


Melihat Elyn yang mengambil tersebut Evan jadi ikut membantu membersihkan pipi Elyn. Ia mengusapnya dengan lembut kedua pipi Elyn.

__ADS_1


"Kenapa sih, kamu suka sekali coklat ekstra di rotimu. Apa benar-benar seenak itu jika di tambahkan ekstra coklat pada roti?" Tanya Evan penasaran.


"Tentu saja.. Cobalah nanti.. Elyn akan buatkan untuk Kakak..." Elyn berseru sambil tersenyum lebar.


"Hahahah.. Ya Ampun Elyn... Apa lagi ini. Bisa-bisanya ada coklat dirambutmu Elyn.." Evan kembali tertawa lebar.


"Hhmmm.. Kak Evan.." Elyn merajuk dan wajahnya merah padam.


Elyn mempersilahkan Evan untuk masuk. Elyn pun menghabiskan kembali makanan yang awalnya dia tunda tadi.


"Kakak mau roti kesukaanku? Akan Elyn buatkan untuk kakak" Seru Elyn.


Melihat Elyn yang bersemangat tentu saja Evan tidak bisa menolak. Elyn menyiapkan roti untuk Evan dan segelas coklat hangat. Mereka sarapan dengan penuh canda tawa.


Usai sarapan. Elyn mengajak Evan ke kamarnya. Ia menunjukkan bahwa dia tengah bersiap-siap untuk berlayar nanti.


"Kak.. Lihat.. aku akan membawa pita ini.." Elyn mengacungkan pita berwarna biru langit dan mengibar-ngibarkan pada Evan dengan mata berkaca-kaca.


"Kamu pasti sangat cantik memakainya Elyn!" Evan berkata dengan tersipu. Membayangkan Elyn yang memakai pita tersebut.


"Aku dengar kita akan bermalam di sebuah pulau di benua Zornia. Aku akan memakainya di sana. Ayah bilang tempat itu memiliki pantai yang sangat indah.." Elyn mengoceh lagi penuh semangat pada Evan.


"Iya,, itu adalah tempat yang indah.. Pantainya berpasir putih dan langitnya sebiru pita mu itu.." Ujar Evan penuh keyakinan menjelaskan suasana di sana.


"Benarkah.. Kakak pernah kesana?" Tanya Elyn antusias.


"Tentu saja, aku pernah kesana bersama kakek.." Jawabnya lagi.


"Waaaah.... " Elyn berseru penasaran, Elyn sungguh tak sabar untuk melihatnya secara langsung.

__ADS_1


"Ada satu tempat yang sangat indah di sana. Di pantai itu kita bisa mengambil kerang dengan berbagai bentuk. Jika kamu mau. Aku akan mengantar mu ke tempat itu." Ujar Evan lagi yang melihat Elyn berseru dengan mata yang berkaca-kaca penuh semangat.


"Iya.. Elyn mau.. Elyn sangat tidak sabar ingin kesana.. Janji ya kak.."


"Iya aku janji.." Jawab Evan sambil mengacungkan jari kelingkingnya dan mereka pun berjanji akan bermain di pantai serta mencari kerang bersama-sama.


Tentu saja. Evan pasti ikut. Bagaimana tidak. Nevan Zahair Naratama adalah anak CEO perusahaan ayah Elyn. Bukan hanya itu. Dia adalah calon pewaris perusahaan tersebut. Karena perusahaan itu memanglah milik kakeknya, yang sekarang dipimpin oleh ayahnya sebagai CEO.


Elyn yakin salah satu alasan perusahaan tersebut setuju untuk memajukan jadwal liburan karyawan dengan permintaan ayah, juga disebabkan Evan yang sering bermain dengan Elyn. Ayah Evan pasti menyetujuinya karena ia memang dekat dengan ayah Elyn. Nevan yang akrab disapa Evan oleh keluarganya itu memang sering berkunjung ke rumah Elyn di akhir pekan. Bahkan saat keesokan harinya adalah hari keberangkatan merekapun Evan tetap berkunjung ke rumah Elyn. Akan tetapi Evan mungkin merasa ada yang kurang jikalau dia tidak mampir ke rumah Elyn.


Mereka bercerita panjang lebar, merencanakan apa yang akan mereka lakukan saat liburan nanti.


kruyuuuuk...


Seketika Evan pun tertawa terbahak-bahak.


"Bagaimana bisa kamu sudah lapar? Aku datang kesini saja kamu belum selesai makan Elyn. Kamu bahkan ikut makan bersamaku tadi." Evan bertanya sambil berusaha keras menahan tawa. Ia mengatupkan mulutnya erat-erat takut Elyn kembali ngambek seperti ketika tadi ia membukakan pintu untuk Evan.


Elyn yang malu pun hanya bisa tersenyum. Tidak bisa di pungkiri. Itu memang yang sebenarnya. Perut itu tidak berbohong. Jika lapar dia akan ganas tepat pada waktunya.


"Ya sudah makan saja dulu sana.. sebentar lagi juga memang jam makan siang.." Ibu yang juga mendengar alarm perut Elyn menyuruh mereka untuk makan terlebih dahulu.


Evan ikut makan siang bersama mereka. Ya.. Evan disini sudah seperti penghuni rumah ini saja. Dia bisa datang dan pergi sesukanya. Elyn juga begitu di rumah Evan. Mereka sudah lebih leluasa melakukan apa saja. Tapi memang Evan yang lebih mendominasi datang ke rumah Elyn.


"Sampai jumpa besok Elyn.. Ingat kamu harus tidur yang cukup. Jangan terlalu bersemangat hingga tidak bisa tidur. Simpan tenagamu untuk besok oke." Evan pun berpamitan setelah makan siang itu. Biasanya dia akan pulang sore atau malam. Akan tetapi karena besok mereka akan pergi berlibur. Tentu saja Evan pulang lebih awal hari ini.


"Iya, baweeel... Sudah sana pulang.. " Cibir Elyn sambil mendorong Evan keluar pintu.


"Kamu mengusirku Elyn.." Goda Evan dengan nada sedih.

__ADS_1


"Kan kakak juga harus siap-siap. Gimana sih.." Seru Elyn.


"Ya sudah.. Dadah Elyn.." Evan mengusap kepala Elyn dan pulang. Ia sudah di jemput oleh supir pribadinya sedari tadi.


__ADS_2