Hukuman Bagi Sang Pembunuh

Hukuman Bagi Sang Pembunuh
Batu Sihir


__ADS_3

Sesuai janji Evan pergi ke pasar malam dengan Bella dan ketiga teman-temannya. Mereka pergi tepat waktu dan berkeliling melihat suasana malam di sana.


"Kali ini.. Aku harus benar-benar bicara dengan Elyn. Entah kenapa jadi tertunda terus. Aku nyaris lupa awal mula kenapa hubungan kita jadi begini." Evan yang bertekad kali ini harus bisa bicara dengan baik. Entah mengapa jika menunda lagi dia benar-benar merasa hubungannya dengan Elyn akan berakhir begitu saja.


"Aku harus segera menemuinya jika sudah dapat hadiah yang cocok." Tekadnya lagi. Yang tak sabar ingin menemui Elyn.


"Kak kita lihat itu sebentar ya.." Bella menunjuk ke arah pedagang kalung di situ.


"Iya.." Evan hanya mengangguk pelan.


Evan setengah hati mengikuti mereka. Hanya saja ia tidak enak jika membatalkan janji.


"Ah... Ini salahku. Kenapa juga aku mengiyakan ajakan Bella. Hanya karena ingin membuat Elyn kesal." Gumam Evan dalam hatinya yang merasa sedikit menyesal telah mengiyakan ajakan Bella.


"Setidaknya aku harus dapat hadiah yang cocok.." Ujarnya penuh tekad.


Evan memandang dari jauh Bella yang fokus memilah mana kalung yang ingin di belinya. Ia berdiskusi dengan teman-temannya dengan heboh. Evan tampak bosan.


"Eh.. Udah yuk.. Evan terlihat bosan. Baru juga tempat pertama yang di kunjungi. Nanti kalau dia langsung pulang gmn? Gagal dong rencana kita." Ujar Bella yang melihat ketiga temannya masih sibuk melihat dan memilah kalung di sana.


"Ah iya... Maaf habisnya bangus banget barang di penjual ini.." Dara meminta maaf dengan lembut.


"Yuk.." Mereka pun serentak kembali ke sisi Evan.


"Aduh kak.. Maaf ya.. Tadi di sana bagus sekali barang-barangnya. Kakak pasti bosan menunggu kami" Bella terlihat sangat menyesal.


"Tidak apa-apa.." Jawab Evan singkat.


Bella dan teman-temannya sibuk mampir nyaris ke setiap pedagang perhiasan. Evan terlihat semakin bosan.


"Loh.. Kok tinggal kita berdua. Yang lain kemana?" Evan keheranan. Ia tidak sadar sejak kapan ia hanya tinggal berdua dengan Bella.


"Ah.. Mereka memutuskan berpisah dengan kita. Soalnya mereka pasti akan mampir di setiap toko yang menarik bagi mereka. Yang ada nanti kakak bisa bosan menunggu terus." Ujar Bella yang mencoba membuat Evan percaya.


"Ah.. Iya juga.." Ujar Evan.


"Kalau bersama mereka yang ada aku tidak bisa membeli hadiah buat Elyn. Mereka pasti akan singgah kesana-kemari tanpa henti." Gumam Evan yang merasa akan memakan waktu lama jika teman-teman Bella yang heboh itu.


"Yes.. Aku berhasil berduaan terus dengan kak Evan." Ujar Bella bahagia.


Mereka pun melanjutkan perjalanan itu berdua melihat berbagai toko.

__ADS_1


"Kak.. Lihat.. Ini cocok tidak denganku?" Tanya Bella yang menunjukkan jepit rambut berwarna putih polos pada Evan.


"Hmmmm...." Evan terlihat bingung. Ia tidak mengerti itu cocok atau tidak dengan Bella. Itu tidak penting menurutnya.


"Atau yang ini?" Timpal Bella lagi yang melihat Evan kebingungan.


"Yang itu lebih baik.." Jawabnya singkat yang ingin segera mengakhiri percakapan itu. Pasti tidak akan usai jika dia tidak membuat keputusan. Yang ada Bella akan bertanya terus menerus.


"Ah.. Jadi yang begini selera kak Evan.." Gumam Bella yang menatap jepit rambut berbentuk bunga besar berwarna-warni. Agak terlihat norak di mata Bella. Tapi karena itu dianggapnya sebagai pilihan Evan. Ia jadi menyukainya.


"Ah... Pasar ini indah.." Tak sadar Evan yang menatap hiruk pikuk di pasar itu bersuara dengan takjub.


"Harusnya aku menemui Elyn dan ikut mengajaknya kesini tadi. Kenapa aku malah berakhir berdua dengan Bella." Gumamnya dalam hati yang melihat suasana di sana sangat indah. Dan Elyn pasti menyukainya.


"Iya kan kak.. Sangat Romantis.." Sahut Bella begitu mendengar Evan berkata tempat itu indah.


"Tuh kan.. Harusnya aku pergi dengan Elyn juga. Kapan lagi coba bisa kesini." Evan tampak menyesali keputusannya.


"Syukurlah kakak menikmatinya.." Timpal Bella lagi.


Evan hanya tersenyum ketir mendengar perkataan Bella.


"Ayo di lihat disini banyak barang-barang khas Benua Vadim. Dari mulai mainan, Barang Atik hingga perhiasan. Semua memiliki batu sihir yang bisa di gunakan siapa saja.." Teriak pedagang tersebut dengan pengeras suara sehingga menjadi pusat perhatian di sana.


Mendengar barang dengan batu sihir. Evan langsung teringat akan mainan yang di katakan Elyn.


Batu sihir terbagi atas 4 kategori. Batu sihir murni yaitu batu sihir yang hanya bisa di gunakan oleh penyihir sehingga manusia biasa atau yang tidak memiliki kemampuan sihir tidak bisa menggunakannya. Hanya akan seperti batu biasa jika bukan penyihir yang menggunakannya.


Ke dua ialah Batu Sihir Beku batu ini dapat menyimpan kekuatan sihir dan di bekukan ke dalamnya. Teksturnya yang keras dan kuat serta kemampuan menyimpan berbagai jenis kemampuan sihir. Sehingga batu ini menjadi batu yang tepat untuk senjata sihir.


Ke empat adalah Batu Aura Sihir. Banyak di pakai di perhiasan pada umumnya. Ia akan membuat perhiasan tersebut lebih berkilau. Sehingga lebih terlihat indah dan lebih mewah. Banyak dipakai di acara pesta agar lebih glamor oleh para wanita-wanita sosialita di seluruh dunia.


Terakhir adalah Batu Sihir Kristal batu ini bisa di gunakan siapa saja. Hanya memiliki sedikit sihir di dalamnya sehingga tidak berbahaya. Batu ini juga banyak di terapkan di berbagai perabotan dapur, alat-alat komunikasi, mainan, perhiasan dll. Ia biasanya menjadi sumber daya bagi alat-alat tersebut.


Tentu jika kita ke Vadim yang terkenal dengan pertambangan batu Sihirnya. Seharusnya kita membeli barang khas sebagai Hadian atau oleh-oleh.


"Ah.. Mungkin di sana ada.." Evan melangkah begitu saja menghampiri pedagang tersebut tanpa memperdulikan Bella yang masih asyik memilah topi di salah satu pedagang di sana.


Evan melihat-lihat dagangan di situ dengan seksama. Hingga didapatinya benda yang ia cari-cari tersebut.


"Ini dia.." Teriaknya girang. Sambil mengacungkan senjata yang di temukan ya di sela-sela tumpukan mainan lainnya.

__ADS_1


"Ah.. Anak muda.. Pilihan yang bagus.." Ucap pedagang itu setelah mendengar Evan berteriak girang.


Evan hanya diam dan terlihat bingung. Pedangan tersebut mengambil senjata berbetuk pistol kecil lainnya. Ia menunjukkan cara memainkannya.


"Ini ada yang mengeluarkan Air, ada yang berupa salju dan ada juga yang mengeluarka butiran bunga tapi yang sedang populer adalah senjata yang mengeluarkan cahaya." Ucap pedagang tersebut menjelaskan dagangannya.


"Kamu mau mencari yang mana.. Saya punya berbagai macam bentuk juga" Ujarnya lagi.


Mainan dengan bentuk senjata populer di Vadim. mengingat mereka juga pemasok senjata terbesar di dunia.


"Yang bunga saja.. Aku mau pistol berukuran kecil." Ujarnya setelah berpikir mengira-ngira mana yang akan membuat Elyn bahagia nantinya.


"Bunga ya... Tunggu sebentar.." Pedagang tersebut mencari-cari pistol ukuran kecil yang mengeluarkan bunga namun ia kesulitan mencarinya.


"Biar saya bantu pak.." Evan yang tak sabar itu mencoba membantu mencarinya.


"Ah baik.. Baiklah.. Lihat yang ada lambang bunga artinya benda itu akan mengeluarkan bunga jika di gunakan." Ujar bapak tersebut mencoba menjelaskan


"Ah.. Ketemu.. Ini bagus sekali.." Evan melihat pistol berwarna putih dengan lambang bunga di gagangnya. Bunga tersebut terbuat dari batu sihir berwarna merah. Sehingga terlihat cantik dan bersinar.


"Ah, apa aku punya stok senjata seperti itu ya? Tapi anak itu terlihat antusias. Aku mungkin bisa menjual dengan harga tinggi." Gumam pedangan tersebut.


"Yang ini saja ya pak.." Evan memutuskan membeli senjata itu.


"Iya.. Harganya 500.000 Zein.." Ujar pedagang tersebut ragu-ragu.


"Semoga anak ini tertipu. Tampaknya dia anak orang kaya." Gumam pedagang tersebut dengan liciknya.


Evan langsung menyerahkan uangnya tanpa menawar lagi. Ia sudah tak sabar ingin memberikannya pada Elyn.


Elyn memang memiliki selera yang unik. Dia tidak terlalu feminim dan juga tidak tomboi. Elyn hanya Unik. Dengan selera dan dunianya sendiri.


Evan memutuskan segera pulang setelah membeli mainan tersebut. Ia berpamitan dengan Bella dan langsung menuju kapal dengan terburu-buru.


"Baru juga 1 jam kita disini.." Bella tampak sedih.


"Mungkin aku tadi meninggalkannya terlalu lama dan berkali-kali. Ia pasti bosan. Aaah... Gimana sih Bella.. Kamu sudah susah-susah cari kesempatan malah di sia-siakan.. " Bella merasa kecewa dengan dirinya sendiri.


"Ya... Mau gimana lagi.. Barang disini bagus semua.. Aku bisa memamerkan pada teman-teman ku di sekolah jika memilikinya" Ujarnya yang memang tidak mampu menolak pesona perhiasan di Vadim yang rata-rata memiliki aura sihir.


"Yang lain mana ya...???" Bella akhirnya memutuskan untuk ikut bergabung dengan teman-temannya dan lanjut menikmati malam di pasar malam tersebut.

__ADS_1


__ADS_2