Hukuman Bagi Sang Pembunuh

Hukuman Bagi Sang Pembunuh
Raga Tanpa Jiwa


__ADS_3

Mendengar kondisi Elyn yang berbahaya Evan tertunduk dan larut dalam lamunannya sejenak. Ia memutuskan untuk menuruti perkataan Terry. Ia melangkahkan kakinya keluar ruangan. Begitu pintu tertutup. Evan kembali teringat dengan suara menggema yang entah dari mana asalnya tadi.


"Ternyata benar kondisi Elyn sangat buruk. Ini salahku. Apa aku harus menyetujui tawaran suara aneh itu agar Elyn kembali pulih?" Evan terpaku di balik pintu. Suaranya lirih dan tenggorokannya terasa sangat kering.


"Aduh.. Bagaimana ini..." Terdengar suara Terry yang panik.


Evan tersadar dari lamunannya. Pikirannya semakin tidak karuan. Ia sangat ingin menerobos masuk ke dalam. Tapi mengingat perkataan Terry yang mengatakan harus melepaskan pakaian Elyn untuk di periksa malah membuatnya semakin gusar.


"Duh.. Apa yang terjadi.." Kegelisahannya semakin menjadi-jadi.


***


Usai Evan meninggalkan ruangan tersebut. Terry mendekatkan dirinya ke tubuh Elyn. Rasa penasaran dan takut menyelimutinya.


"Bagaimana jika ia malah menghisap seluruh energi ku" Ucapnya setengah berbisik.


Tangan Terry sedikit bergetar ia meraih selimut Elyn. Ia sangat ingin melihat rupa dari Medan Energi yang sangat di takuti itu.


"Bagaimana jika aku membangunkannya. Akankah Medan Energinya semakin membesar juga." Gumamnya begitu melihat samar-samar Medan Energi yang seperti membuat dada Elyn berlubang. Hingga segala energi disekitarnya tersebut masuk ke dalam lubang tersebut.


"Apa mungkin penyebab Medan Energi itu bukan lubang yang sembarangan muncul begitu saja. Tapi merupakan kekuatan seseorang. Jika benar. Ini sebuah penemuan yang besar." Terry yang masih terus menatap lubang itu seakan-akan ia terhisap ke dalamnya. Lubang yang seolah memanggil-manggil namanya.


Terry hanyut dalam lamunannya. Matanya hanya tertuju satu arah. Yaitu lubang besar samar yang seolah sangat menggoda. Sehingga siapa saja ingin menyentuhnya. Layaknya orang yang terhipnotis. Ia mengulurkan tangannya ke dada Elyn.


Terry merasakan seluruh energinya terhisap perlahan. Hingga ketika ia mulai menyentuh Medan Energi tersebut jarinya terasa sedikit kesetrum.


"Aaah.." Teriaknya lirih.


Kesadaran Terry kini kembali. Begitu juga dengan Elyn. Elyn kini terbangun. Ia menatap tajam Terry. Tanpa kata tanpa ekspresi. Tatapannya kosong.


Terry menatap heran Elyn ia melihat ke sekitarnya. Aura sihir kini menyelimuti seluruh ruangan tersebut. Medan Energi yang tadinya samar kini semakin jelas dan semakin kuat menyerap energi dari tubuh Terry.


"Aduh.. Bagaimana ini..." Terry sedikit berteriak. Ia panik melihat energi yang terus keluar tanpa kendalinya.


"Bagaimana ini terjadi." Terry kebingungan. Ia tak sadar kapan semua hal itu bermula. Ia kini kewalahan dengan energi yang perlahan semakin banyak terhisap oleh Elyn.


***


Evan semakin gelisah. Ia mondar-mandir di depan pintu. Namun tiba-tiba cahaya terang keluar dari kamar Elyn. Secara spontan Evan masuk ke dalam ruangan dan tak teringat lagi perkataan Terry yang katanya melepas pakaian Elyn.


"Elyn...." Teriaknya lantang.

__ADS_1


Evan terkejut melihat cahaya putih terang menyelimuti tubuh Elyn. Tatapan Elyn yang kosong menerawang. Bagaikan raga tanpa jiwa. Udara di sekitar semakin terasa sesak. Cahaya yang menyilaukan dan juga Terry yang terduduk di lantai. Evan heran dengan kondisi itu.


"Jangan mendekat.. Bahaya.." Terry sekuat tenaga mengingat Evan untuk menjauh dari Elyn.


"Dia berbahaya.." Teriaknya lagi dengan terbata-bata.


"Aku saja tidak sanggup menahan Medan Energi ini. Bisa bahaya jika anak itu terus mendekat ke sana." Terry yang sudah tak sanggup lagi mengontrol energinya tersebut berusaha mencegah Evan mendekati Elyn.


"Hey.. Jangan mendekatinya." Teriak Terry dengan segenap kekuatannya.


Evan tahu jika Elyn mungkin membahayakan dirinya. Tapi ia juga sadar jika bisa saja Elyn seperti itu karena kesalahannya. Ia tak peduli apa yang akan terjadi padanya. Ia sudah berjanji akan ada di sisi Elyn apapun yang terjadi.


Beberapa penyihir datang karena keributan tersebut. Mereka mencoba mencari tahu apa yang terjadi. Namun tak ada satu pun uang yang berani bertindak. Jika melihat sang penyihir agung saja tak berdaya. Apa lagi mereka yang hanya penyihir biasa.


Evan hanya menatap Terry dan tersenyum kecil. Ia tak memperdulikan perkataan Terry. Ia tetap melangkahkan kakinya mendekati Elyn.


"Aku akan lakukan apapun untukmu Elyn.." Ucapnya lirih.


Bak terjatuh ke dalam sebuah jurang. Evan kembali berada di ruang hampa yang gelap gulita. Hanya ada Elyn yang terduduk di ranjang dan menatap kosong ke depan.


"Bagaimana? Kamu bersedia melakukan apapun agar dia pulih kan?" Suara besar yang menggema itu kembali terdengar.


Mereka kembali pada ruang asing yang misterius tersebut. Evan tanpa ragu menyetujui penawaran suara tersebut.


Evan tak menanyakan apapun perihal siapa pemilik suara itu, atau bertanya apa yang di inginkan nya. Ia hanya langsung mengiyakan tawaran suara misterius itu.


"Aku tak peduli apapun keinginanmu. Selama Elyn akan baik-baik saja" Tuturnya tanpa sedikitpun keraguan.


"Hahahaha.. " Suara tawa itu menggelegar, bergema dan memekakkan telinga.


"Cepat.. Kembalikan kondisi Elyn." Ucap Evan yang sudah tak tahan melihat Elyn tanpa ekspresi hanya raga tanpa jiwa.


Seketika Evan kembali ke dalam ruang rawat Elyn. Ia kini sudah menggapai tangan Elyn dan memeluk tubuh Elyn yang terduduk di atas kasur.


"Elyn.. Akan ku lakukan apapun untukmu. Aku akan selalu disisi mu" Ucapnya di telinga Elyn.


Pandangan Evan semakin kabur. Nafasnya terdengar berat dan terengah-engah. Kesadarannya semakin menurun. Evan yang mulai melemas itu kini terkapar di samping Elyn yang juga tertidur di kasur.


***


Suasana tiba-tiba menjadi hening. Semua penyihir yang ada di sana pingsan. Hanya Terry yang terlihat bingung dan tak memahami apa yang barusan terjadi.

__ADS_1


Tubuhnya lemas kaki nya tak bisa di gerakkan. Ia berusaha berdiri. Namun gagal. Di lihatnya orang-orang yang pingsan tak sadarkan diri bergelimpangan di depan pintu.


Namun anehnya. Medan Energi yang ada di tubuh Elyn menghilang. Ia masih tak percaya yang dilihatnya.


"Apa karena anak itu tak terpengaruh sihir. Sehingga dia tak terpengaruh Medan Energi. Lalu.. Bagaimana bisa Medan Energi itu tiba-tiba hilang." Terry masih larut dalam pikiran yang membuatnya semakin terheran-heran.


***


Rory melihat aura sihir aneh, ia bergegas berlari menghampiri aura aneh tersebut.


"Aaa.. Apa ini.." Tuturnya terbata-bata. Begitu melihat orang-orang yang pingsan terkapar di mana-mana.


"Syukurlah mereka masih hidup." Rory mencoba mengecek nadi mereka dan ternyata mereka masih hidup. Rory bernafas lega.


"Apa yang terjadi.???" Tanya nya pada Terry yang terduduk terdiam mematung.


"Haah.. Ah... " Terry tampak linglung.


Rory menghapiri Terry. Ia berlutut untuk menyamakan tinggi Terry.


"Apa yang terjadi.. Kenapa jadi begini.." Tanyanya lagi sembari menatap Terry dengan tatapan penuh rasa penasaran.


Namun, secara nyaris bersamaan para penyihir yang pingsan itu bangun satu-persatu. Mereka melirik kesana-kemari. Untuk menerka apa yang sedang mereka alami.


"Apa yang terjadi.."


"Ada apa ini..."


"Ah... Tubuhku lemas sekali.."


"Aduh kepalaku.."


Satu-persatu mereka bangkit dan masih mencoba mencerna apa yang sebenarnya terjadi.


Tatapan mereka akhirnya tertuju pada satu orang yaitu Terry Musea Lenara sang Penyihir Agung dari menara sihir.


**********************************************


Hai Readers Semuanya.. Bantu Naya biar Naya makin semangat lagi up nya dengan Vote Novel ini.


Like agar Naya tahu jika kalian menyukai novel ini.. Tinggalkan pesan semangat untuk Naya ya di kolom komentar.. Kritik dan sarannya juga di tunggu loh..

__ADS_1


Terimakasih.. ♥️ Snaya Studio


__ADS_2