
Tok tok tok.. Evan mengetuk pintu kamar Elyn.
"Elyn...." Teriaknya dengan lembut.
Seseorang membukakan pintu. Evan menatap orang tersebut dengan senyumannya yang ketir.
"Nona Terry.. " Ucap Evan lirih.
"Tidak ada yang tahu tentang kejadian itu. Hanya aku dan kamu yang mengingatnya" Ucap Terry setengah berbisik.
Evan mendelik mendengar ucapan Terry. Sedikit tidak masuk akal namun Evan berpikir ulang mungkin itu yang terbaik.
"Elyn.. Aku pamit dulu ya.." Terry pun pamit dan meninggalkan Evan bersama Elyn di sana.
"Kak Evan.." Elyn tersenyum cerah. Ia menatap wajah Evan dengan mata indahnya.
"Nih.." Evan menunjukkan sebungkus coklat besar kesukaan Elyn.
Elyn tersenyum riang mengambil coklat tersebut. Kebahagiaan terlihat jelas di wajahnya.
Elyn langsung membuka coklat tersebut dan memakannya. Ia menyodorkan coklat tersebut agar Evan juga ikut memakannya.
"Kamu saja yang makan.." Evan sengaja membeli coklat tersebut untuk Elyn.
"Kakak..." Rengek Elyn.
Evan mengigit kecil coklat tersebut. Ia tak ingin mengecewakan Elyn. Elyn tersenyum lebar begitu melihat gigitan Evan. Akhirnya mereka memakan coklat itu bersama.
Tok.. Tok.. Tok..
Seseorang mengetuk pintu kamar Elyn. Evan dengan sigap membukakan pintu tersebut. Terlihat Rory yang tersenyum lebar. Membawa parsel berisi cemilan dan beberapa minuman kaleng.
"Hai Elyn.. Bagaimana keadaan mu? Masih mengingat ku?" Tanya pria berambut merah tersebut.
"Ah.. Kakak tampan.." Ucap Elyn dengan suara yang lantang.
Evan terlihat kesal mendengar ucapan Elyn. Ia mengendus kesal dan menatap tajam Rory.
"Hahahaha.." Suara tawa Rory memecahkan keheningan di kamar Elyn.
"Syukurlah kamu baik-baik saja. Semuanya mengkhawatirkan mu tahu. Lain kali jangan keluyuran sendiri ya." Rory mengingatkan Elyn kembali.
"Aku tidak bisa terus-terusan jadi pahlawan kesiangan loh.." Ucapnya sambil menggandeng kedua tangannya di dada.
__ADS_1
Elyn menyambut hangat sang penolongnya tersebut. Sesekali Evan terlihat kesal dan cemburu. Rory hanya tersenyum kecil melihat tingkah kedua anak tersebut.
***
Satu jam telah berlalu. Kini kapal mereka sudah mendarat di sebuah kota di benua Ardima. Mereka akan mendarat di sana selama 2 hari.
Kondisi tubuh Elyn yang terlihat sembuh total membuat semua orang terlihat lega. Namun tingkat penjagaan mereka untuk Elyn semakin ketat. Elyn tidak di biarkan sendirian walau ia pergi ke toilet.
"Aku baik-baik saja loh Bu.." Ucapnya yang merasa malu ibunya ikut masuk ke dalam toilet.
"Aku sudah besar loh.." Rengek Elyn lagi.
"Pokoknya kamu di awasi terus.." Tegas ibunya tanpa bisa di bantah lagi.
Elyn dan kedua orangtuanya kini memutuskan untuk berjalan-jalan bersama. Elyn sangat ingin pergi dengan Evan. Namun kedua orangtuanya yang sempat khawatir malah lebih ingin menghabiskan waktunya bersama Elyn. Elyn sampai tidak bisa menolaknya.
Mereka mampir di berbagai restoran. Membeli banyak mainan dan boneka di sana. Lily juga membeli beragam pakaian khas dari benua Ardima. Pakaian yang bewarna coklat dan hijau yang dominan.
Elyn juga sesekali meminta dibelikan buah-buahan yang belum pernah ia rasa. Buah-buahan unik dengan beragam rasa. Elyn tampak bahagia. Begitu juga kedua orangtuanya.
Malam itu Elyn dan kedua orangtuanya sudah berencana untuk makan malam bersama dengan Evan, kakek Wiko dan Pak Reno ayahnya Evan.
Makan malam mewah tersebut terasa begitu nikmat. Aneka ragam masakan yang belum pernah di lihat tampak menggoda dan sangat mengiurkan.
"Elyn... Pelan-pelan makannya." Evan menyodorkan gelas minuman Elyn. Agar Elyn meneguk minumannya. Elyn sudah makan dengan sangat buru-buru dan lahap.
Semua orang di sana tersenyum melihat tingkah Elyn dan Evan. Makan malam berlangsung dengan penuh kehangatan.
"Evan.. Terimakasih. Kamu selalu menjaga Elyn dengan baik." Ucap ibu Elyn.
"Aku masih harus menjaga Elyn dengan lebih baik lagi. Tapi aku tidak akan ragu untuk melakukan apapun agar Elyn baik-baik saja" Ucapnya tegas.
"Kamu sudah berusaha dengan baik Evan.." Ayah Elyn ikut menambahkan.
Malam semakin larut. Pembicaraan orang tua yang membuat Elyn dan Evan jenuh akhirnya kedua anak tersebut tertidur.
Elyn yang tertidur di pundak Evan dengan nyenyak. Serta Evan yang bersandar di kursi dengan nyaman. Tidur mereka terlihat damai.
***
Pagi itu Evan sudah menjemput Elyn dengan semangat. Mereka sudah berencana untuk jalan-jalan bersama di perkebunan.
Ayah dan ibu Elyn sudah siap dengan bekal yang mereka siapkan. Elyn dengan gaun putihnya tersenyum cerah menyambut Evan.
__ADS_1
"Kamu mau ke perkebunan dengan pakaian seperti itu?" Tanya Evan heran yang melihat gaun Elyn.
"Kan cantik.." Rengek Elyn sambil mengibaskan gaunnya tersebut.
"Ibu sudah ingatkan loh.. Kamu bisa repot jika berpakaian seperti itu.." Ibu Elyn sudah berulang kali mengingatkan Elyn namun hanya di abaikan oleh Elyn.
"Kamu cantik sih.." Evan menatap Elyn dari ujung rambut hingga ujung kakinya
"Tuh kan.. Aku cantik.." Elyn merasa bangga dan merasa keputusannya mengenakan gaun tersebut sudah tepat.
"Kamu akan habis di gigit serangga di perkebunan, belum lagi kakimu akan lecet jika berjalan di sana" Lanjut Evan dengan tatapan serius.
"Hah.. Apa?" Elyn tampak sedikit bingung.
"Iya sangking cantiknya. Serangga akan tergoda olehmu dan ia akan mengigit kulitmu. Rasa gatalnya akan terus terasa." Tegas Evan lagi.
"Lagian gaun itu terlalu terbuka Elyn. Di sana banyak serangga."
Elyn yang sudah mulai mencerna perkataan Evan tersebut bergegas kembali ke kamarnya. Ia tak ingin tubuhnya di gigit serangga dan terasa gatal.
"Pakai pakaian yang sudah ibu siapkan Elyn" Teriak ibu Elyn yang melihat putrinya bergegas meluncur mengganti pakaiannya.
"Hahaha..." Ayah Elyn yang melihat kejadian itu tertawa lebar. Di iringi tawa istrinya dan Evan.
"Elyn..." Ibu Elyn menggelengkan kepalanya.
Elyn tampak imut dengan pakaiannya. Pakaian khas dari Ardima.
"Elyn tampak cocok dengan pakaian apapun.." Ucap Evan setengah berbisik.
"Dia cantik kan.." Goda ayah Elyn yang melihat Evan terpesona dengan putrinya.
"Iyaaa..." Evan tampak malu-malu. Wajahnya merah padam.
Mereka pergi bersama kesebuah perkebunan yang di jadikan tempat wisata. Di sana para pengunjung bebas untuk memanen buah dan sayuran sesuka hati mereka. Mereka juga bisa menyantap buah-buahan langsung dari pohonnya.
Beragam olahan buah tersebut juga di jual di beberapa toko di tempat tersebut. Mereka akan puas dengan aneka ragam buah dan makanan di sana.
Elyn tampak antusias untuk datang ke sana. Begitu sampai. Elyn sudah sangat terpesona dengan udara segar yang menyeruak sejuk. Aroma manis buah-buahan yang matang menggoda indra penciumannya.
Bunga-bunga cantik merekah tertata rapih menyambut mereka. Tampak aneka ragam buah berjajar rapih di salah satu toko di dekat pintu masuk.
"Waaaaaaah..." Elyn sangat terkagum-kagum melihatnya.
__ADS_1
"Elyn, kamu kagum apa lapar?" Goda Evan yang melihat tatapan cerah Elyn yang tertuju pada aneka ragam buah-buahan tersebut