Hukuman Bagi Sang Pembunuh

Hukuman Bagi Sang Pembunuh
Blood Hunter


__ADS_3

Rambut bernuansa merah memang sangat khas dan jarang di temui, namun bukan berarti keberadaan orang berambut merah itu langka. Rambut merah merupakan ciri khas dari negara Rufa di Benua Bena. Rufa sendiri berartikan Berambut Merah. Seluruh rakyat berkebangsaan Rufa memiliki rambut yang bernuansa merah. Selama mereka memiliki darah Rufa. Rambut mereka pasti akan bernuansa Merah.


Rufa adalah sebuah negara kepulauan yang termasuk dalam benua Bena. Awalnya Rufa masih tergolong dalam benua Vadim dan merupakan negara kerajaan. Namun sejak sekitar 200 tahun lalu. Rufa di alihkan menjadi wilayah negara Benua Bena dan sekarang tidak lagi menjadi negara kerajaan.


Awal mula Rufa tak lagi menjadi kerajaan karena anak-anak yang terlahir dari bangsa Rufa semakin lama semakin kehilangan kemampuan khas mereka. Awalnya para prajurit berkebangsaan Rufa sangat di takuti. Bahkan dari jauh rambut merah yang terlihat sudah membuat gentar para musuh di Medan perang.


Mereka terlahir sebagai pasukan khusus yang hebat. Bekerja secara diam-diam namun semua beres dalam seketika. Sehingga membuat nama mereka sangat di segani. Warna rambut mereka yang merah sangat mirip dengan merahnya darah. Namun ketika peperangan terjadi di medan perang yang pasti akan menumpahkan banyak darah. Jika mereka yang menanganinya. Tempat itu akan bersih tanpa darah setetes pun. Bagaimana itu terjadi. Tak ada yang mengetahui selain mereka sendiri. Mereka di beri gelar Blood Hunter karena hal tersebut.


Hal tersebut hanya mungkin jika mereka masih memiliki kekuatan khas yang tak pernah di ketahui selain keturunan mereka. Namun... Sedihnya mulai dari rakyat yang perlahan terlahir dengan kekuatan khas yang lemah, hingga terlahir tanpa kekuatan sedikitpun. Sang pangeran dan bahkan calon raja masa depan pun terlahir dengan kekuatan yang lemah dan generasi ke generasi semakin kehilangan kemampuan khas mereka. Hingga suatu saat sang Raja yang di lantik sama sekali tidak memiliki kekuatan apapun.


Kisah tentang mereka hanya menjadi legenda pengantar tidur. Kini negara mereka terkenal dengan para pelautnya. Sesuai dengan citra mereka yang merupakan negara kepulauan terbesar di dunia.


Meski mereka sekarang bukan lagi negara kerajaan. Namun mereka masih menghargai raja mereka sehingga negara mereka juga di kenal sebagai Negara Istimewa. Dimana sang Raja dan Presiden negara tersebut saling berdampingan.


***


"Saya David Roano Hien pemilik kapal pesiar ini" Sang pemilik kapal mencoba mengenalkan dirinya pada klien nya tersebut.


"Roano Hein.. Sepertinya nama yang familiar" Gumam kakek Evan dalam hatinya. Nama itu terkesan familiar namun ia tak ambil pusing. Bagaimanapun kondisi Elyn jauh lebih penting.


"Saya Wiko Naratama.. Langsung saja.. Seperti yang anda dengar. Tujuan saya ke sini ingin memastikan apakah anda yang telah menolong seorang anak perempuan." Kakek Evan tanpa basa-basi langsung mengatakan tujuannya.


Sang manager yang telah mempertemukan mereka, secara garis besarnya sudah menjelaskan maksud kedatangan kakek Evan.


"Iya.. Pak Manager sudah menjelaskan pada saya.." Tuturnya sambil tersenyum ramah.


"Ini.. Menurut anak ini. Ia di tolong oleh seseorang berambut merah yang mengaku sebagai pelayan di kapal ini. Namun tidak ada pelayan yang mengaku pernah melihat anak di foto tersebut." Ujar kakek Evan sambil menunjukkan foto Elyn pada Rory sang pemilik kapal.


"Ummms.. Iya anak ini.." David menatap foto Elyn dengan wajah yang sedikit.

__ADS_1


"Maaf sekali pak saya tidak pernah bertemu dengan anak ini.." Ujar sang pemilik kapal pesiar tersebut.


"Hah.. Lalu siapa lagi pria berambut merah. Apa tidak ada kemungkinan kapal ini di masuki penyusup?" Tanya Kakek Evan yang semakin cemas.


"Tidak pak.. Kapal ini keamanannya sangat ketat. Kita juga di lindungi sihir agar para penumpang lebih aman dan nyaman. Tidak mungkin ada yang bisa masuk tanpa izin." Jelasnya dengan penuh keyakinan.


"Hmm... Memangnya apa yang terjadi dengan anak tersebut pak?" Tanyanya lagi yang ingin.


Kakek Evan menjelaskan kondisi Elyn saat ini. Pak David sesekali tampak berfikir dan terlihat jelas di wajahnya yang ikut cemas.


"Hmm... Boleh saya lihat kondisi anak itu langsung pak?" Setelah mendengar cerita kakek Evan. Pak David merasa ikut prihatin dan mungkin saja ada yang bisa ia bantu. Mengingat kejadian tersebut juga masih dalam perjalanan tour kapal miliknya.


"Baik.. Mari kita melihat anak tersebut. Jika bapak kepikiran tentang seseorang saya mohon bantuannya. Kami sama sekali tidak tahu apa yang dialaminya hingga ia menjadi seperti ini." Kakek Evan terlihat sangat mengkhawatirkan kondisi Elyn. Ia juga takut keadaan Elyn yang buruk mempengaruhi cucunya yang baru saja bangkit dari keterpurukannya kehilangan ibu.


***


Orang tua Elyn hanya mengguk pelan. Ibu Elyn yang masih terisak di pelukan suaminya hanya bisa menatap sendu pak David. Ayah Elyn tersenyum ketir.


"Bagaimana apa sudah ketemu yang menolong Elyn?" Tanya ayah Evan cemas.


Kakek Evan hanya menggeleng lemah. Ia menatap kedua orang tua Elyn yang terlihat semakin cemas.


"Gimana yah.. Gimana ini.. Apa yang harus kita lakukan dengan Elyn." Ibu Elyn semakin histeris.


"Tenang Bu.. Tenang.. Kita tunggu sampai kita keluar dari portal ini dulu." Ayah Elyn kembali menenangkan istrinya.


Pak David menghampiri Elyn. Di tatapnya tubuh Elyn yang terbaring lemas dengan perban dan luka-luka di tubuh mungilnya.


"Tuan.. Bolehkah saya melihat luka di kakinya?" Pak David terlihat penasaran.

__ADS_1


Mereka hanya menatap heran tingkah pak David. Yang memeriksa keadaan Elyn.


"Apa bapak mengerti tentang kedokteran atau sihir?" Tanya ibu Elyn dengan terbata-bata.


"Sedikit Bu.. Saya punya mata yang sedikit istimewa" Pak David tersenyum kecil menjawab pertanyaan ibu Elyn.


"Ah... David Roano Hein ya nama anda tadi. Roano Hein nama itu nama keluarga kerajaan Rufa." Celetuk kakek Evan yang mengingat nama yang serasa familiar tersebut."


Pak David hanya tersenyum tipis. Ia tidak menyangkal atau bahkan mengiyakan perkataan kakek Evan.


"David Roano Hein.. Bukankah beliau yang seharusnya jadi Raja saat ini. Namun memilih menyerahkan tahtanya pada adik kembarnya Deva Roano Hein." Ayah Evan ikut terkejut begitu mendengar hal tersebut.


"Hahah.. Saya lebih suka berlayar seperti ini. Saya tidak tertarik dengan hal politik." Tuturnya lagi yang mulai tertawa kecil.


"Ah.. Pantas saja anda memiliki mata istimewa. Itu termasuk sisa kekuatan khas yang sekarang hanya di miliki oleh segelintir keluarga kerajaan Rufa saja." Lanjut ayah Evan lagi.


"Iya.. Ya begitulah.. " Pak David mengiyakan perkataan ayah Evan.


Ayah Elyn melepas semua perban yang ada di tubuh Elyn. Membiarkan pak David memeriksanya.


Ekspresi wajah pak David tampak muram. Ia mengerutkan keningnya. Jelas kondisi Elyn tampak tidak baik bahkan sebelum pak David mengatakan apapun.


"Sepertinya banyak sihir tercampur dan bergejolak di tubuhnya pak. Lukanya di selimuti beberapa aura sihir. Mungkin itu yang membuatnya seperti ini." Ujar pak David usai memeriksa kondisi Elyn.


"Kami tidak tahu apa yang terjadi hingga ia menjadi seperti ini. Satu-satunya orang yang bisa kami tanyai adalah orang yang menyelamatkan Elyn. Namun orang itu tidak bisa kami temukan" Tampak kekecewaan tersirat di wajah ayah Elyn.


"Ah.. Tunggu ada satu orang lagi. Ia memang suka seenaknya.. Dia tak terdaftar sebagai karyawan. Tapi sebagai penumpang" Teriak pak David yang merasa menemukan sosok penolong Elyn.


"Tunggu sebentar akan saya panggilkan dia" Tuturnya lagi sembari memerintahkan sang Manager yang sedari tadi menemani Pak David bersama mereka.

__ADS_1


__ADS_2