
Perjalanan panjang mereka memang sudah di rancang untuk singgah di beberapa negara di belahan benua. Menikmati keliling dunia dengan kapal yang nyaman dan mewah yang merupakan salah satu mimpi semua orang termasuk Elyn.
Usai sarapan yang heboh dengan Cheesecake. Evan dan Elyn berencana untuk ke balkon kapal. Menanti kapal yang akan memasuki portal sihir menuju benua Ardima.
"Elyn... Ayah sudah mengambilkan kursi roda untukmu.. Kamu tidak boleh berjalan seperti itu untuk sementara waktu." Ucap ayah begitu memasuki ruangan Elyn sambil mendorong kursi roda yang ia dapatkan.
"Wah... Ayah dapat dari mana. Asiiiiiiik.. Aku bisa main ini nih.." Ujar Elyn penuh semangat menghampiri kursi roda tersebut dan mendudukinya.
"Gimana cara jalaninnya ayah?" Ucapnya lagi yang kebingungan melajukan kursi roda tersebut.
"Begini nih.." Ayah menunjukkan bagaimana cara kerja kursi tersebut agar bisa di jalankan.
Elyn pun dengan girang melajukan kursi roda tersebut memutari ruangan. Sesekali ia tertawa kecil.
"Elyn... Itu bukan mainan.." Ibu yang sedari tadi melihat tingkah anaknya kini bersuara.
"Iya Bu..." Tutur Elyn yang akhirnya berhenti berputar-putar.
"Ya sudah yuk.. Biar aku dorong. Kita ke balkon sekarang" Evan yang berjongkok menatap Elyn pun mengajaknya untuk menuju balkon. Elyn hanya mengangguk pelan.
"Om.. Tante.. Kami pamit dulu ya. Aku akan menjaga Elyn dengan baik." Ucapnya berpamitan pada kedua orang tua Elyn.
"Iya Evan.. Titip Elyn ya.." Jawab ibu Elyn dengan senyuman. Ayah Elyn hanya tersenyum lembut.
***
"Yah.. Sepertinya Evan masih merasa bersalah dan bertanggung jawab?" Ucap ibu Elyn begitu Evan dan Elyn meninggalkan ruangan tersebut.
"Iya.. Ayah juga sudah membahas ini dengan Reno dan Pak Wiko.. Mereka juga malah ikut merasa bersalah."
"Ya.. Mau gimana lagi. Pak Wiko dan Pak Reno memang tahu jika Elyn sangat berharga untuk kita. Terlebih lagi. Elyn juga yang sudah membuat Evan kembali semangat hidup. Tentu saja mereka juga pasti merasa tidak enak." Ujar ibu Elyn mengiyakan pendapat suaminya.
"Umms... Kita juga baru dengan sekilas dari Evan. Kita harus mencari orang yang menyelamatkan Elyn. Untuk tahu lebih jelasnya. Pak Wiko dan Reno berkata mereka akan ikut membantu." Lanjut ayah Elyn lagi.
"Iya yah.. Kita harus bertanya pada pelayan itu sekaligus berterimakasih padanya. Ibu tidak bisa membayangkan Elyn yang di kejar anjing liar. Jika sempat ia di serang oleh anjing tersebut apa yang akan terjadi yah.. Ibu tidak bisa hidup tanpa Elyn." Ibu Elyn mulai menitikkan air matanya. Ia kembali membayangkan kondisi Elyn ketika di temukan.
"Iya Bu.. Kita harus sangat bersyukur Elyn baik-baik saja.." Ayah Elyn memeluk istrinya. Ia menghapus air mata istrinya tersebut. Hal yang wajar jika istrinya merasa seperti itu. Pasalnya ia hanya bisa melahirkan Elyn. Jika sesuatu terjadi pada Elyn. Ia tak bisa membayangkan bagaimana kondisi istrinya kelak.
***
Dari jauh pola portal sihir sudah terlihat. Elyn menatap pola indah tersebut dengan seksama.
__ADS_1
"Kak.. Apa pola portal sihir emang secantik itu?" Tuturnya yang melihat pola sihir yang penuh ukiran tersebut.
"Tergantung.. Pola yang rumit menentukan seberapa besar objek yang bisa di masuki dan seberapa jauh jarak yang bisa ia tempuh."
"Kita memasuki portal sihir dengan pola rumit seperti itu ya karena kapal ini juga berukuran besar. Jumlah penumpang juga di perhitungkan dan jarak tempuh yang akan kita lalui juga di hitung. Sehingga wajar jika pola sihir nya juga penuh ukiran dan rumit seperti itu!" Evan menjelaskan panjang lebar.
"Ini pertama kalinya aku melihat portal sihir.." Elyn masih terkagum-kagum dengan pola sihir tersebut.
"Tentu saja. Di Benua kita kan lebih banyak kendaraan umum dari pada kendaraan sihir. Penggunaan sihir jarang di lakukan. Karena rata-rata penduduk adalah manusia biasa." Evan lanjut menjelaskan.
"Kita akan langsung tiba di tujuan ya kak, jika kita masuk portal tersebut?" Tanya Elyn lagi penasaran.
"Iya.. Tapi untuk pola seperti itu kita akan ada di dalam portal selama 30 menit dan tiba di tujuan." Jelas nya lagi.
"Kakak bisa membaca pola sihir? Kakak kan bukan penyihir." Elyn tampak sedikit bingung
"Ummm... Aku juga tidak tahu. Aku hanya melihat polanya dan paham kegunaan dan fungsi pola tersebut begitu saja." Ujar Evan yang ikut bingung
"Hmmm.. Mungkin karena kakak pintar dan rajin belajar juga gemar membaca." Tutur Elyn.
"Hahaha.. Kamu sedang iklan layanan publik anak berbakti ya?" Evan tertawa mendengar perkataan Elyn.
"Huuuft... Aku tidak sabar kak.. Bagaimana suasana di dalam portal sihir ya?" Elyn mengabaikan candaan Evan dan semakin penasaran akan portal sihir.
"Hah.. Beneran?" Mata Elyn terbelalak kaget mendengar perkataan Evan.
"Iya.. Dan itu harus di tembus dari dalam bukan dari luar. Jika kita terjebak kita akan terkurung dalam ruang dan waktu yang acak selamanya." Ucapnya dengan tatapan serius.
Elyn bergidik ngeri. Ia membayangkan hal-hal aneh jika mereka sampai terjebak. Evan yang melihat keresahan Elyn tersenyum tipis.
"Tapi jika kita terjebak sekarang aku tidak apa-apa yang penting kamu ada di sisiku" Ujarnya lagi menggoda Elyn.
"Hiiih... Jangan lah.." Ujarnya spontan ia masih larut dalam pikiran konyolnya jika terjebak dalam portal sihir.
"Kamu tidak mau ada di sisiku?" Tanya Evan dengan wajah yang cemberut.
"Hiiih... Bukan gitu. Ya jangan kejebak di portal juga lah.." Elyn tampak semakin resah.
"Hahahaha.." Evan tertawa lepas
"Tidak akan terjebak. Jika portal itu rusak sudah dari awal akan terlihat. Dan sangat beresiko. Menara sihir juga memantau setiap portal yang ada. Para penyihir rutin melakukan perawatan terhadap portal tersebut. Kamu tenang aja.." Evan masih terkekeh geli yang melihat keresahan Elyn.
__ADS_1
"Iiiiiiiih... Kakak..." Elyn yang mengetahui jika ia telah di kerjai Evan pun memukul kecil lengan Evan.
"Hahaha... Iya Iya.. Maaf Elyn.." Evan berjongkok di hadapan Elyn yang duduk di kursi roda.
"Tapi aku serius. Apapun keadaannya aku tidak masalah jika kamu ada di sisiku Elyn. Aku janji akan melindungi mu dan menjaga mu sepenuh hatiku" Evan berkata lembut sambil mencium punggung tangan Elyn.
"Kakak.." Elyn tersenyum kecil menatap lekat wajah Evan.
"Aku janji" Tutur Evan lagi membalas tatapan wajah Elyn.
"Janji ya.. Kalau tidak aku tidak akan melepaskan mu loh kak.." Elyn memegang erat tangan Evan.
"Iya Elyn.. Aku janji." Tegasnya lagi.
"Elyn menyetujui janjiku. Apa kejadian waktu itu mempengaruhinya? Aku harus mencari orang yang menyelamatkan Elyn. Bisa jadi ada hal yang Elyn tak bisa ceritakan sehingga dia seperti ini" Evan bertekad untuk mencari tahu secara detail apa yang terjadi pada Elyn saat ia menghilang. Ia akan mengusut dan menyelidiki dengan pasti kejadian itu.
Tentunya Elyn jarang menanggapi janji janji yang seperti itu. Ia biasanya berkata tidak boleh sembarangan berjanji. Namun kali ini dia mengiyakan janji Evan. Hal itu tentu saja membuat Evan merasa ada hal yang mengganjal.
Evan semakin bertekad untuk menjaga Elyn. Rasa bersalah tak lekang dari benaknya. Ia tahu akar semua ini juga memang salahnya.
"Elyn.. Lihat lah.. Ujung kapal itu.." Evan menunjuk ujung depan kapal mereka yang sudah mulai memasuki portal sihir.
"Waaaa...." Teriak Elyn antusias.
Portal itu terlihat semakin besar dan dekat. Sudah hampir setengah badan kapal masuk dalam portal tersebut.
"Kita seperti sedang di makan." Ucap Elyn yang di lanjuti dengan suara perutnya.
"Kruyuuuuuk..." Perut Elyn berbunyi.
"Kruuyuuuk" Ucap Evan sambil menatap Elyn.
Elyn menatap Evan dan tersenyum kecil. Terus menatap perutnya.
"Hahahaha... Elyn.. Elyn.. Bukannya tadi sebagian besar sarapan kita kamu yang habiskan." Evan tertawa begitu menyadari perut Elyn yang berbunyi.
"Entahlah.. Aku merasa lapar terus" Ucapnya sambil tersenyum.
"Hmm.. Mungkin karena masa pengobatan." Jawab Evan
"Sementara ini dulu. Nanti kita makan siang lebih cepat saja." Evan menyodorkan permen Mint pada Elyn.
__ADS_1
"Hehehe.. " Elyn terkekeh geli dan mengambil permen dari tangan Evan.
"Semoga aku tidak mabuk ketika masuk ke portal" Ucapnya yang mulai mengulum permen tersebut.