Hukuman Bagi Sang Pembunuh

Hukuman Bagi Sang Pembunuh
Tidur


__ADS_3

Elyn yang duduk di samping ibunya itu kini mengetahui mengapa tempat duduk anak-anak dan orang dewasa di pisah. Karena ternyata dia sama sekali tidak mengerti tentang perbincangan saat itu. Elyn hanya diam dan sesekali meminum minuman nya.


Semakin lama ia semakin tidak mengerti apa yang di perbincangkan dan lagi itu juga bukan perbincangan untuknya. Elyn semakin setengah sadar. Ia mulai mengantuk. Matanya sayup-sayup dan sesekali terpejam. Kepalanya sesekali kehilangan tumpuan. Badannya kini mulai melemas dan ia akhirnya tersandar di kursi. Matanya kini sudah terpejam.


"Ya ampun.. Elyyyn.. Hahahaha.. Ternyata dia bosan dan akhirnya tertidur juga" Ujar ibu Elyn.


"Ayah, ibu akan mengantar Elyn dahulu ke kamar. Lehernya akan sakit jika dibiarkan disini." Lanjut ibu Elyn lagi pada ayah Elyn.


"Biar saya antar saja Bu.." Tiba-tiba Evan mengajukan diri.


Evan sedari tadi sudah melirik Elyn. Ia tahu Elyn sudah tampak sangat bosan. Dia jg sesekali tersenyum ketika melihat Elyn yang kehilangan tumpuannya.


"Wah,, makasih Evan. Maaf ya merepotkan. Elyn memang katanya tidak bisa tidur semalam. Tampaknya dia mulai kelelahan sekarang." Ibu Elyn menjawab lembut.


"Elyn.. Sayang... Ayo pindah ke kamarmu sana. Kak Evan akan mengantar mu." ibu Elyn mencoba membangunkan Elyn.


"Hati-hati ya Evan..."


Elyn pun bangun walau tidak sepenuhnya sadar. Evan merangkul pundak Elyn dan membawanya ke kamar Elyn.


Elyn memang bukan anak kecil. Usianya sudah 10 tahun. Tapi yang namanya mengantuk tentu tidak kenal tempat dan usia.


Sesampainya di kamar. Elyn langsung merebahkan tubuhnya. Dia sama sekali tidak peduli dengan kehadiran Evan atau sekedar berterimakasih karena sudah mengantarnya. Ia terlalu mengantuk untuk melakukan itu.


"Dasar Elyn... Tidur nyenyak ya Elyn.." Ujar Evan sembari menyelimuti Elyn.


Evan menatap wajah Elyn yang langsung tertidur pulas. Ia tersenyum simpul. Evan duduk di atas ranjang. Evan juga sedikit kelelahan setelah menemani Elyn jalan-jalan tadi. Tak lama Evan pun tertidur bersama Elyn.


Waktu berlalu. Evan pun terbangun dari tidurnya. Ia melihat langit-langit kamar. Sejenak dia bingung sedang dimana. Kemudian ia melihat Elyn yang masih tertidur di sampingnya. Evan kaget.

__ADS_1


"Hah.. Aku ketiduran.. " Seketika ia langsung keluar kamar Elyn dan kembali ke kamarnya.


Tak lama setelah Evan pergi, Elyn pun terbangun. Ia mengusap matanya. Dilihatnya sekeliling untuk memastikan keberadaannya. Hingga matanya tertuju pada jam dinding di kamar itu.


"Hah...sudah jam 6" ujarnya gusar.


Ia masih ingat janjinya untuk mengajak Evan ke taman Kinkin. Janjinya tentu saja sore jam minum teh. Sekitar jam 4.30 sore pastinya. Sedangkan ini sudah Jam 6 sore. Elyn semakin gusar. Ia terlambat. Elyn menjadi ragu untuk mengajak Evan atau membiarkan nya tidak menepati janjinya. Setelah beberapa saat ia berfikir. Akhirnya dia memutuskan untuk menemui Evan terlebih dahulu sebelum ia mengajak Evan ke taman Kinkin. Ia ingin mendengar pendapat Evan terlebih dahulu.


Ia berlari menuju kamar Evan. Tapi Evan tidak di situ. Ia mencoba mencari Pak Reno atau Kakek Wiko tapi ia tidak menemukan keberadaan mereka.


Tak sadar Elyn pun terjatuh dan membenturkan kepalanya ke pintu. Ia tergelincir keset kaki. Kepalanya berdenyut. Biasanya dia akan menangis atau sekedar menjerit. Kali itu dia tidak merespon. Dia terlalu gusar karena tidak bisa menemukan Evan. Bahkan dia terpaksa harus tidak menepati janjinya. Elyn terlihat sedih. Lututnya sedikit lecet. Kepalanya berdenyut dan sedikit benjol. Dia mengabaikannya dan bejalan lunglai.


Elyn terus menatap jauh. Hanya ada laut dan langit. Angin pun berhembus kencang. Aroma khas lautan semakin tercium oleh angin yang membawanya. Ia memegang pagar pembatas kapal tersebut. Sembari menghela nafas dalam-dalam. Ia tak habis pikir. Kemana dia harus mencari Evan. Jangankan Evan, orangtuanya pun tidak tahu dimana.


"Elyn.. Sedang apa disini? Matahari sudah mau terbenam. Jika kamu seperti itu. Kamu bisa masuk angin Elyn..!" Ujar Evan sembari menatap pakaian Elyn yang hanya menggenakan gaun tipis. Tanpa baju hangat atau baju lapis lainnya. Pakaian yang ia kenakan tadi siang.


Elyn menggenggam tangan Evan dan menyeretnya di kursi sandar kolam renang. Elyn pun mengomel melampiaskan emosinya.


Evan hanya diam menatapnya. Hingga lampu kapal serentak menyala. Dan Elyn yang membelakangi lampu pun ikut bercahaya. Elyn terlihat cantik dimata Evan.


"Hey kak... Kakak.. Kak Evan.. Berhenti tersenyum jadi ini bagaimana?" Elyn bertanya dengan nada kesal.


Evan pun kembali tersadar dari lamunannya. Ia terlalu terpesona dengan Elyn yang bercahaya saat tadi.


"Apanya yang bagaimana?" Ia bingung karena tidak mendengar dengan baik perkataan Elyn.


"Iih... dibilangin juga.. Tadi Elyn kan sudah bilang Elyn ketiduran dan lupa kalau teman yang lain mengajak kak Evan untuk ikut minum teh di taman Kinkin. Ketika Elyn bangun sepertinya sudah terlambat dan Elyn sudah mencari kakak sedari tadi tau...." Elyn kemudian menarik kedua pipi Evan dengan kedua telapak tangannya karena tidak habis pikir jika Evan sedari tadi tidak mendengarnya.


"Biarkan saja Elyn.. Kamu tertidur jadi mau bagaimana lagi. Itu sudah berlalu. Nanti kita minta maaf saja dengan yang lain jika kita tidak bisa datang sore tadi." Evan membelai poni Elyn sembari berusaha menenangkan Elyn yang masih emosi.

__ADS_1


"Elyn.. Apa ini.." Evan akhirnya melihat benjolan dan di balik poni Elyn.


Elyn langsung berdiri kaget. Ia tidak mau membuat Evan semakin merasa bersalah karena kecerobohannya. Dia sudah menyulitkan Evan untuk meminta maaf pada yang lainnya nanti. Evan pun akhirnya melihat lutut Elyn yang tergores lecet.


"Ini apa lagi.. Ayo masuk kedalam kita ke ruang kesehatan.." Tanpa basa-basi Elyn di bawa ke ruang kesehatan. Bahkan sebelum ia menjelaskan apa yang terjadi dengan kepala dan lututnya.


Elyn memang sedikit ceroboh. Ia biasanya sering terlalu bersemangat atau bahkan terlalu penasaran akan sesuatu. Hingga ia rentan terluka. Hal itu pula yang menjadi salah satu alasan Evan ingin terus menjaganya. Ia merasa menemukan arti hidupnya untuk menjaga Elyn sepeninggalan ibunya.


"Sudah.. Sekarang jangan berlarian di lorong kapal lagi dan jangan lupa di olesi salep agar cepat sembuh. Sekarang kompres dulu kepalanya disini" Ujar perawat di ruang kesehatan itu. Elyn mengangguk dan ia pun tertunduk malu.


Sambil memegang kantung yang mengompres kepala Elyn, Evan pun menatapnya tajam. Elyn tak bisa berkilah lagi. Ia tahu jika Evan sekarang sudah marah. Evan tidak suka jika Elyn terluka. Evan akan selalu memarahinya jika ia terluka dan sulit untuk membujuk Evan berbaikan lagi.


Elyn berbicara sangat pelan. Nyaris seperti orang berbisik. Karena takut Evan tambah marah.


"Abelyn Casia Nadifa" Evan mengeja nama Elyn dengan tegas. Itu tanda ia sudah dalam puncak emosinya.


Elyn pun akhirnya bersuara "Aku tergelincir ketika mencari kakak kesana-kemari" Ia menunduk dengan penuh rasa bersalah.


huuuuuft.. Evan menghela nafasnya. Ia tahu betul itu bukan sepenuhnya salah Elyn. Tidak ada yang meninggalkan pesan untuknya.


"Tadi kami ada di ruang Rapat. Kami mengecek ulang persiapan untuk acara nanti. Nanti kan ada pesta untuk memberikan apresiasi kepada karyawan teladan. Kamu lupa?" Ujar Evan lembut pada Elyn.


Elyn mengangguk pelan. Ia tahu betul acara karya wisata perusahaan tahunan ini juga merupakan ajang pemberian reward pada para karyawan teladan. Bukan hanya sekedar jalan-jalan dan berwisata saja.


Jam makan malam pun tiba. Elyn dan keluarganya pun menuju ruang makan. Kali ini makan malam bersama lagi. Ia juga sudah menyiapkan kata-kata untuk meminta maaf. Evan juga berjanji menemaninya dan ikut bergabung makan bersama anak-anak lain nantinya. Ya dia memang tidak pernah makan bersama anak-anak lainnya. Karena dia adalah Naratama, tentu dia sudah di bimbing untuk berbisnis dari kecil. Evan selalu bersama Ayah dan Kakeknya serta rekan bisnis lainnya.


Makan malam pun berlalu dengan tenang. Semua berjalan lancar. Hingga jam bebas pun dimulai. Evan juga harus kembali disisi ayah dan kakeknya.


"Elyn, hati-hati bermainnya. Benjol di kepala mu bahkan belum kempes total.." Evan mengacak rambut Elyn dan tersenyum sembari meninggalkannya bersama anak lainnya.

__ADS_1


__ADS_2