Hukuman Bagi Sang Pembunuh

Hukuman Bagi Sang Pembunuh
Penyesalan


__ADS_3

Elyn sudah terlihat sangat cantik kala itu. Ia mengenakan gaun berwarna merah, rambut yang ditata rapih dengan pita kuning. Dengan tatapan kebingungan Elyn perlahan menghampiri Regi.


"Kakak.. Lihat kak Evan tidak?" Elyn bertanya pada Regi.


"Hhhmmm.. Mungkin dia masih bersiap-siap" Jawab Regi setelah memutar bola matanya mencari sosok Evan.


"Tunggu saja disini, nanti juga dia datang.." Imbuh Regi.


Elyn memutuskan menunggu Evan bersama Regi. Mereka larut dalam perbincangan mereka. Sesekali kepala mereka melirik kesana kemari mencari sosok Evan.


Sepertinya Elyn sudah lupa dengan kejadian kemarin. Regi tampak lega melihatnya. Dia sudah cukup khawatir dengan Elyn beberapa hari ini.


Regi kembali melirik kesana-kemari ia mencari sosok Evan.


"Aah... " Perkataannya terputus. Ia hendak mengacungkan tangannya namun terhenti.


"Ada apa kak?" Elyn yang terlihat bingung berusaha mengikuti arah pandang Regi.


"Renji.. Aah... Aku lupa tadi ibu menyuruh ku mengambilkan air hangat untuk Renji. Sepertinya aku akan dimarahi nih.." Regi berdalih. Ia membuat asalan agar Elyn tetap tertuju padanya.


Regi melihat Evan yang memegang tangan Bella saat itu. Ia yakin jika Elyn melihatnya Elyn akan semakin sedih dan mengingat kejadian kemarin lagi.


"Ya sudah.. Yuk kita ambilkan air untuk Renji.." Elyn menarik tangan Regi.


"Ah.. itu kak Evan. Dia memegang tangan Bella. Ada apa ya?" Gumam Elyn.


Elyn sempat melihat Evan sekilas, mereka tadi sempat bertatap mata. Namun Elyn tidak berani mengganggu mereka, Bella akan marah jika ia mendekat tadi.


Regi perlahan mengisi air dalam gelas kecil. Ia mengambil segelas lagi untuk Elyn. Disodorkannya air itu pada Elyn.


Elyn menyambutnya, ia meneguk airnya perlahan. Tatapan Elyn kosong. Regi tahu ia cukup peka untuk melihat kejadian tadi.


"Maaf.." Regi akhirnya mengaku.


"Tidak apa.. Kakak hanya tidak mau Elyn semakin khawatir kan.." Elyn tersenyum ketir.


"Abelyn, jangan menahan perasaan mu. Cobalah bicara dengan Evan. Dia pasti akan membantumu. Coba untuk jugamendengarkan pendapat Evan." Regi yang sudah tidak tahan dengan semua kesalahpahaman itu mencoba membujuk Elyn. Dia tidak mungkin membicarakan ini langsung pada Evan tanpa seizin Elyn. Evan pun tidak bertanya padanya. Seandainya saja Evan bertanya Regi juga tidak akan seresah ini.


"Baiklah.. Nanti akan Elyn coba!!!" Seru Elyn dengan nada cukup rendah.


"Kamu baik-baik saja kan Lyn??" Tanya Regi serius.

__ADS_1


"Tidak apa-apa.. Syukurlah mereka sudah berteman. Semoga mereka tidak marah lagi padaku." Elyn menundukkan kepalanya. Dia merasa serba salah.


"Ya.. Syukurlah mereka sudah berteman akrab. Aku tidak ingin mengganggu. Tapi.. Kenapa dadaku terasa sesak." Elyn bergumam dalam hati. Ia memegang dadanya erat. Ia mengatur Hela nafasnya. Ia terlihat sangat gusar.


"Minumlah sedikit lagi.. Temui Evan dan bicarakan saja semuanya" Regi kembali memberi nasihat.


Suasana semakin riuh. Acara akan segera dimulai. Elyn tidak menemukan Evan dari tadi, baik di sekitar panggung atau di ruang tunggu.


"Iiih... Dimana sih tu orang.." Elyn sudah terlihat kesal. Ia menarik gaunnya kesana-kemari. Gaun itu sudah nyaris kusut. Ikatan rambutnya mulai longgar.


"Duh.. Kak Evan.." Elyn menggerutu.


Elyn memutar kedua bola matanya. Ia bertekad ini pencarian terakhirnya.


"Jika tidak ketemu awas saja nanti.." Elyn sudah pada puncak emosinya.


Ia adalah pasangan Evan tentu saja ia harus menemukan Evan. Jika tidak mereka akan muncul tidak sesuai jadwal. Acara bisa berantakan jika ada yang tidak tepat waktu. Begitulah pikir Elyn. Hingga ia melihat sosok itu. Sosok Evan yang sedang duduk manis di sebuah kursi di dekat tumpukan barang. Di ruang Ganti Pakaian yang kini menjadi tempat menaruh barang sementara.


"Yaaaa ampun... Dicariin.. Pantesan tidak ketemu. Dia ngumpet gitu" Elyn bergegas menghampiri Evan.


"Kakak.. Elyn nyariin dari tadi.." Elyn tersenyum lebar. Ia terlihat lega karena sudah menemukan Evan.


"Yuuk.. Sebentar lagi dimulai nih.." Elyn menarik tangan Evan. Namun Evan tak bergeming dari kursinya.


Saat itu Bella datang. Evan langsung berdiri, ditepisnya tangan Elyn.


"Yuk Bella.. Kamu pasanganku kali ini.." Evan mengulurkan tangannya pada Bella. Bella meraih tangan Evan dengan senyum lebar merekah. Mereka berlalu pergi meninggalkan Elyn sendirian.


Elyn masih tertegun. Ia berusaha mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Ditatapnya tangan yang ditepis Evan tadi.


"Kamu pasanganku kali ini.." Elyn mengulang kembali perkataan Evan pada Bella.


Ia menatap tajam dirinya di cermin. Air mata yang sudah tak lagi terbendung kini menetes dengan derasnya. Elyn menangis.


"Aku terlihat sangat menyedihkan.." Elyn terisak dalam tangisannya.


Elyn melihat sekeliling. Hanya ada dia di ruangan itu dan tumpukan barang. Rambut yang sudah berantakan dan ikatan yang kendor itu sudah sangat tidak nyaman. Ia menarik pita di rambutnya. Kepalanya menunduk. Dilihatnya lagi gaun yang sudah kusut itu. Elyn terduduk di kursi. Kakinya mulai terasa perih.


"Aah.. Sakit..." Elyn setengah berteriak dan kembali terisak. Kakinya sudah lecet dan berdarah. Ia berlari kesana-kemari mencari Evan dengan gaun dan sepatu pesta yang pastinya sangat tidak nyaman.


Elyn tidak menyangka Evan bisa mengabaikannya begitu. Ia memikirkan apa kesalahan yang ia lakukan pada Evan.

__ADS_1


Ia tidak masalah jika diperlakukan kasar oleh orang lain. Elyn tidak peduli. Tapi Evan bersikap dingin padanya. Itu membuat hatinya seperti terkoyak tercabik-cabik. Elyn berpikir keras. Berusaha mengingat kembali apa kesalahan yang telah ia lakukan. Ia sangat ingin berbaikan dengan Evan.


***


"Elyn.. Tadi kamu asyik bersama Regi sampai melupakanku. Kamu tadi melihatku di sana tapi jangankan menghampiriku. Kamu malah menarik tangan Regi dan berlalu pergi." Evan bergumam dalam hati. Tadi ia sempat bertatap mata dengan Elyn sekilas. Namun melihat Elyn yang memutuskan mengabaikan mereka justru membuat Evan semakin cemburu.


"Kak.. Aku senang sekali bisa jadi pasangan kakak.." Bella tersenyum lebar.


"Ya.." Jawab Evan singkat.


"Kak.. boleh tidak aku memanggil kakak Evan saja?" Tanya Bella ragu-ragu.


"Apa-apaan gadis ini. Mau memanggilku Evan. Panggil biasa aja kan tidak masalah. Kenapa sih?" Evan bergumam dalam hati. Ia terlihat sedikit risih dengan Bella.


"Kakak.. Abelyn saja boleh memanggil kakak Evan. Apa aku juga boleh kak?" Bella kembali mengerek.


"Kamu membandingkan dirimu dengan Elyn.. Huh dasar.. Kamu tidak sebanding dengannya. Elyn tidak berharap apapun untuk berteman denganku. Tidak seperti kalian yang ada maunya.." Evan menggerutu dalam hatinya. Keningnya sedikit mengkerut. Ia sedikit terlihat kesal.


"Hmmm... " Bella terlihat kecewa.


Acara itupun dimulai. Evan dan Bella muncul muncul di akhir acara.


"Baiklah.. Panggil aku Evan.." Ujar Evan tiba-tiba usai dari panggung tersebut.


"Hah.. Beneran kak.. Boleh?" Bella yang tampak tidak percaya dengan apa yang didengarnya.


"Iyaa.." Jawab Evan singkat


" Baiklah kak Evan.." Bella menyebut nama panggilan Evan dengan malu-malu.


Evan memutuskan membiarkan Bella memanggilnya 'Evan'. Ia ingin melihat ekspresi Elyn ketika mendengar itu. Ia sangat ingin membuat Elyn marah. Entah mengapa. Ia sangat ingin Elyn juga merasakan yang ia rasakan ketika ia melihat kedekatan Elyn dengan Regi.


"Apa aku keterlaluan ya.. Ah.. Sudahlah.." Evan yang sedikit menyesali perbuatannya.


Acara pemberian penghargaan pada karyawan teladan itu pun telah berlalu. Seperti dugaan Evan yang berpasangan dengan Bella membuat kehebohan. Elyn tidak terlihat di acara tersebut. Orang tua Elyn mulai tampak khawatir.


Evan kembali mengingat Elyn yang ia tinggalkan tadi. Sepanjang acara ia tidak melihat sosok Elyn. Evan bahkan melihat Regi yang asyik dan larut dalam meriahnya acara. Tapi tidak dengan Elyn. Ia mulai gusar. Pikirannya kacau. Ia menyesali tindakannya pada Elyn tadi.


"Aah.. Elyyyn.. Maafkan aku.." Penyesalan Evan kian membuncah.


Evan memutuskan kembali ke ruangan tadi untuk mencari Elyn.

__ADS_1


__ADS_2