
Dari kejauhan mata Evan sudah tertuju pada bayangan Regi. Regi bejalan menuju geladak kapal. Perlahan Evan mengikuti jejak langkah Regi. Tak lama langkahnya terhenti. Lagi.. Dilihatnya lagi Regi menghampiri Elyn yang sedang terduduk menghadap laut dan berpegangan pada pembatas kapal. Regi mengusap pundak Elyn perlahan. Evan yang melihat itu langsung bersembunyi di balik dinding kapal. Ia memperhatikan dan mendengarkan mereka dari jauh.
"Abelyn..." Regi berseru lembut. Di usapnya pundak Elyn dengan sangat lembut. Ia mencoba menenangkan Elyn. Ia sudah tau perasaan Elyn yang sudah campur aduk itu.
Regi sedari awal memang sudah memperhatikan gerak gerik mereka. Elyn yang tampak semakin gugup, tawa tawa kecil dari anak-anak lainnya, serta tingkah Evan yang mengabaikan Elyn. Ia jadi semakin mengkhawatirkan Elyn. Elyn sebenarnya masih tergolong sepupu Regi.
Menjadi asisten di keluarga Naratama sudah menjadi pekerjaan yang turun temurun di keluarga Regi. Ini pula yang membuat ayah Elyn jatuh cinta pada Tante Nina yang merupakan adik sepupu Ayahnya Regi yang saat itu jelas adalah sekertaris dari Ayah Regi. Hal itu pula yang membuat Regi semakin khawatir dengan Elyn. Ia tahu betul Elyn seperti apa.
"Kakak.." Elyn menoleh dengan mata berkaca-kaca.
"Tidak usah di tahan!" Regi berseru pada Elyn agar ia melampiaskan emosinya dan membiarkannya menangis.
"Ta.. di... kan.. Kak Evan.. Hiks... Hiks.. Dia mengabaikan Elyn.. Hiks.." Elyn menangis tersedu-sedu. Ucapannya menjadi terputus-putus.
Regi menepuk-nepuk pundak Elyn perlahan. Dia mendengarkan cerita Elyn dengan seksama. Sesekali Elyn terdengar terisak-isak.
Regi mengusap wajah Elyn yang basah dengan air mata itu. Di hapusnya air mata Elyn. Namun Elyn menarik baju Regi.
Heeeempf... Ia mengeluarkan ingus yang dari tadi sudah tidak nyaman dan sangat mengganggu itu.
"Eeelyyyyn.." Regi berteriak dan terlihat kesal. Elyn tersenyum dan mulai tertawa.
Melihat itu perasaan Evan semakin tidak karuan. Tubuhnya lemas dan pikiran nya semakin kacau.
Evan terlihat sangat marah.
"Abelyn Casia Nadifa" Evan menyebut nama Elyn dengan penuh amarah. Di kepalnya jari-jari tangan nya.
***
Keesokan harinya mereka sudah tiba di Benua Vadim tepatnya di Negara Tronto. Jadwal hari ini merupakan Pemberian Penghargaan untuk para pegawai teladan di perusahaan. Acara tersebut akan di selenggarakan di sebuah Hotel mewah yang sudah di pesan. Ini adalah acara utama. Sehingga hari ini pasti sangat sibuk.
"Waaah..." Elyn berseru takjub. Matanya sibuk berkeliling. Ia melihat seluruh kota dari atas kapal.
__ADS_1
Benua Vadim memang merupakan benua dengan nuansa kegelapan yang kontras. Hitam adalah warna agung bagi mereka. Hingga warna hitam sangat mendominasi kota tersebut. Tidak hanya melahirkan para pejuang dan kesatria yang hebat. Vadim juga terkenal akan hasil tambangnya. Mulai dari Baja, Bijih besi, Emas hingga Batu sihir. Semua banyak terdapat di benua ini. Hal paling utamanya ialah batu sihir. Batu sihir dari benua ini sangat terkenal dengan kualitas terbaik yang ada di dunia serta kemampuan sihir pada batu yang stabil.
"Ayah.. lihat itu..." Elyn menunjuk pada suatu gedung tinggi yang di cat hitam legam.
"Ayah... itu keren sekali.." Kini Elyn menunjuk lagi ke arah Jam Raksasa yang menjadi maskot kota tersebut.
"Itu yah.. itu..."
"Yah.. lihat..."
Elyn tak henti-hentinya takjub dengan suasana di Benua Vadim. Ia melihat kesana kemari Tangannya menunjuk semua hal yang membuatnya takjub. Warna hitam yang lekat itu jelas membuat suasana semakin menakjubkan. Sangat terasa nuansa kegelapan yang menyelimuti benua tersebut. Kabarnya di sore hari akan semakin berkabut dan suhu akan semakin dingin di malam hari disini.
Setibanya di hotel. Orang-orang sibuk mempersiapkan acara Penghargaan Karyawan Terbaik. Termasuk Evan dan juga Elyn yang akan menjadi maskot pembawa piagam di acara tersebut berserta anak lainnya. Ada juga anak-anak lain yang juga akan menjadi paduan suara. Serta acara hiburan lainnya. Suasana di sana sangat riuh. Anak-anak sibuk mempersiapkan acara. Mereka sudah berpakaian dan berdandan dengan mewah untuk acara tersebut.
Evan menuju Ruang tunggu. Ia sudah bersiap-siap untuk acara itu. Di gang menuju ruang tunggu tersebut Bella dan teman-temannya menghampiri Evan.
"Kak Nevan, kakak masih ingat janji kita semalam kan?" Tanya nya memastikan janji mereka semalam untuk pergi ke pasar melihat-lihat.
"Nanti setelah acara kita ketemu di bawah Jam Raksasa itu ya kak." Bella tersenyum lebar.
"Iya Bella.." Evan meyakinkan Bella dan melanjutkan langkahnya menuju ruang tunggu. Bella jg seharusnya menuju ke sana dia jg akan menjadi maskot yang membawa piagam.
"Yes..Aku berhasil ngajak Nevan" Ujar Bella kegirangan
"Kalian ingat ya.. nanti kalian jaga jarak atau sekalian aja cari alasan dan biarkan aku dengan Nevan berjalan-jalan berdua" Imbuhnya lagi
"Iya.. tenang aja.." Jawab Monic.
"Kami pastikan nanti berjalan lancar kok!" Seru Rini dengan penuh keyakinan.
"Ah.. Jagan lupa pastikan Elyn tidak mengekor dengar kita nantinya" Bella menatap tajam mereka.
Di depan ruang tunggu. Dari kejauhan lagi-lagi Elyn terlihat bersama dengan Regi. Memang Elyn dari dulu sering bersama Regi. Tapi entah kenapa sejak Evan melihat Elyn dan Regi berpelukan. Evan sangat tidak suka kedekatan mereka.
__ADS_1
"Sejak kapan sih mereka semakin dekat begituitu?" Ujar Evan kesal.
"Dulu apa dia juga sering dengan Regi ya?" Evan berpikir dalam hati.
"Hmm.... Elyn selalu bersama ku sebelum nya. Kita tidak pernah seperti ini sebelumnya. Arrrght..." Evan bergumam dalam hati dengan penuh kekesalan. Karena sangat kesal dan marah Evan menggigit ujung bibirnya hingga berdarah.
"Kak Nevan..." Bella yang melihat itu mengusap bibir Evan dengan tangannya. Ia berusaha membersihkan darah yang mengalir dari bibir Evan.
"Kenapa sih kak.." Gerutu Bella sambil terus membersihkan noda darah itu.
Evan yang telah sadar dari lamunan dan emosinya itu memegang tangan Bella yang sedari tadi mengusap bibirnya perlahan.
"Mau jadi pasanganku?" Evan bertanya dengan tegas.
"Hah..." Jawab Bella spontan, ia masih kebingungan dengan situasi tersebut.
"Iya.. Jadi pasanganku untuk membawakan piagam nanti!" Evan menjelaskan kembali maksudnya.
Menyadari maksud Evan, Bella pun tersenyum lebar.
"Mau kak.. mau banget.." Bella terlihat sangat bahagia. Ia girang bukan kepalang.
"Jangan jauh-jauh dariku. Mengerti.." Evan menegaskan.
Bella mengangguk keras. Ia melirik teman-temannya. Terlihat jelas kebahagiaan diwajahnya. Bak mimpi disiang bolong ia berhasil menjadi pasangan Evan. Biasanya Elyn lah yang selalu jadi pasangan Evan. Tidak pernah yang lain. Bahkan sebelum ia dekat dengan Elyn ia memilih menyerahkan piagam itu sendiri. Tanpa pendamping, baru sejak Evan dekat dengan Elyn lah kegaduhan antar anak-anak pegawai yang ingin dekat dengan Evan semakin menjadi-jadi.
"Ahahahha... Abelyn kini kamu dicampakkan ya.." Bella tertawa puas sepeninggalan Evan.
"Sudah pastilah.. Dia pasti sudah bosan dengan Abelyn!" Timpal Monic.
"Tampaknya langit berpihak pada kita.." Ujar Dara.
"Satu lagi, nanti kita pastikan dia bersama kita ke pasar. Pastikan semua berjalan lancar." Bella yang tidak mau semua yang ia rencanakan gagal memastikan kembali pada teman-temannya tersebut.
__ADS_1