
Seperti biasa. Setiap pagi, Elyn sangat sulit untuk di bangunkan.
"Elyn... Ayo bangun nak.." Ibu Elyn mencoba membangunkan putri kesayangannya.
Sesuai diskusi panjang mereka semalam. Mereka akan tetap memperlakukan Elyn seperti biasa. Agar Elyn tidak semakin terbebani. Meski berat ibu Elyn tetep berusaha memperlakukan Elyn seperti biasanya.
"Hmmmm... Ibu..." Elyn hanya bergumam pelan dan tak menghiraukan ibunya.
"Bangun nak..." Ibu Elyn membelai lembut rambut putri kesayangannya tersebut.
Elyn tak menghiraukan ibunya. Meski sesekali tersadar. Elyn masih sangat mengantuk dan kembali tertidur dia sela-sela suara ibu yang membangunkannya.
"Kita sedang menuju benua Ardima loh.." Ibu Elyn memulai pembicaraan. Ia tahu jika anaknya sudah setengah tersadar.
" Katanya kamu penasaran gimana rasanya masuk ke portal sihir. Kapalnya mau masuk portal sihir loh.. Kamu yakin masih mau tidur?" Bisik ibu Elyn di telinga Elyn.
Elyn yang awalnya bermalas-malasan itu kini terbelalak. Ia masih setengah berusaha mencerna perkataan ibu yang di dengarnya.
"Kita mau masuk portal sihir Bu?" Tanyanya meyakinkan apa yang ia dengar.
"Iya.. Makanya kamu harus bangun dan bersiap-siap. Kamu kan tidak mau melewatkan kesempatan ini.." Ucap ibu Elyn yang melihat anaknya mulai antusias dan penuh semangat.
"Ibu tahu aja... Aku jadi semakin tidak sabar nih.. Kapan Bu kita masuk ke portal sihirnya?" Tanya Elyn antusias.
"Hmm... Mungkin sebentar lagi atau bisa jadi nanti siang.." Jawab ibu Elyn ragu-ragu.
"Pokonya kamu harus bersiap-siap dulu yuk.." Ajak ibu Elyn.
Elyn di bantu ibunya bersiap-siap. Ia masih terlihat kesusahan berjalan.
"Aah.. " Elyn sesekali meringis kesakitan begitu lukanya terkena air. Tapi ia tetap berusaha tersenyum ketika ibu menatapnya.
Ibu Elyn yang melihat ketegaran Elyn hanya bisa diam membisu sambil tersenyum ketir melihat anaknya.
"Aku penasaran sekali Bu.. Gimana jika kapal itu masuk ke dalam portal sihir ya.. Apa kita akan mual dan pusing?" Elyn semakin penasaran.
"Sebagian sih begitu.. Mereka mabuk karena masuk portal. Sehingga mual dan pusing bahkan muntah. Tapi ada juga yang biasa saja. Toh sama saja dengan naik kendaraan ada yang mabuk ada yang tidak." Tutur ibu Elyn.
"Humm.. Kira-kira aku akan mabuk tidak ya?" Elyn bertanya-tanya penasaran.
"Wah.. Ibu juga tidak tahu tuh.. Tapi kamu biasanya jarang mabuk. Tapi buat jaga-jaga ibu akan siapkan teh hangat dan permen mint. Agar kamu tidak terlalu mual nantinya." Ibu Elyn terlihat ragu.
"Ya Tuhan... Aku terlalu fokus untuk bersikap normal. Malah melupakan hal ini.." Gumam ibu Elyn yang sebelumnya hanya mengkhawatirkan kejadian yang menimpa Elyn. Kini kembali tersadar. Ia kini mulai khawatir jika Elyn akan mabuk saat memasuki portal sihir nanti.
Tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar. Seiring dengan suara lembut yang memanggil nama Elyn.
"Elyyyyn..." Evan mengetuk pintu sambil memanggil nama Elyn.
__ADS_1
"Ah.. Kak Evan.." Elyn terlihat sangat antusias menyambut Evan. Ibu Elyn pun membukakan pintu tersebut.
"Wah... Evan.. Elyn masih baru siap tuh.. Dia belum sarapan juga. Tante akan ambilkan sarapannya dulu ya? Kamu sudah sarapan?" Tanya ibu Elyn begitu melihat Evan dan mempersilahkannya duduk di sofa.
"Tidak usah tante. Aku datang kesini justru ingin sarapan bareng Elyn. Aku sudah memesan sarapan tadi mungkin sebentar lagi akan di antar kesini." Evan tersenyum lebar.
"Ya ampun.. Kamu sudah berencana sarapan dengan Elyn ya.. " Ibu Elyn ikut tersenyum lebar.
"Kalau gitu Tante titip Elyn ya.." Ibu Elyn pamit dan menitipkan Elyn pada Evan.
"Habiskan sarapan mu ya. Ibu akan bawakan permen Mint untuk mu nanti." Ujar ibu yang ikut pamit pada Elyn.
Elyn mengangguk dan tersenyum lebar. Ia menghampiri Evan dengan langkah yang tergopoh-gopoh.
Evan yang melihat itu langsung memapah Elyn ke sofa.
"Hati-hati jalannya.." Tuturnya yang memegang erat pinggang Elyn.
"Aduh... Aku baik-baik saja loh.." Jawabnya seraya melempar senyuman cerianya.
"Tentu saja aku baik.." Evan menyambut perkataan Elyn dengan cepat.
"Apa sih.. Ga nyambung tauuuu..." Elyn terlihat gemas dengan tingkah Evan.
"Iyaa tauuuu.. Aku emang baik.." Jawab Evan lagi dengan senyuman nakalnya.
"Hahaha..." Evan tertawa melihat ekspresi Elyn yang di godanya..
Tak lama pelayan yang mengantarkan sarapan pun tiba. Evan menyambutnya dengan riang.
"Elyn.. Lihatlah.. Aku juga memesan cheesecake untuk sarapan kita." Evan dengan antusias menunjukkan cheesecake lembut berbentuk bundar besar yang sangat cantik. Dengan ukiran nama Elyn di atasnya.
"Wah.. Ada namaku juga.. " Teriak Elyn begitu melihat namanya terukir di atas cheesecake tersebut.
Elyn menyentuh cheesecake tersebut yang tampak sangat lembut. Cake tersebut bergoyang karena sentuhannya.
"Huwaaaaa... Imutnya... " Teriaknya lagi begitu melihat cheesecake tersebut bergoyang dengan lembut.
Evan tersenyum lembut melihat keceriaan Elyn. Evan menyusun makanan tersebut di meja. Ia mulai meletakkan beberapa roti dan puding di piring Elyn.
"Makan yang itu dulu ya.. Nanti cheesecake nya terakhir saja. Oke.." Evan mulai menjauhkan cheesecake tersebut dari Elyn. Ia akan lalai bermain dengan cheesecake jika tidak di hentikan.
"Siap Kapten" Ujar Elyn masih dengan mata yang menatap Cheesecake dari jauh.
"Elyn... Cheesecake nya akan menciut jika kamu menatapnya seperti itu? Dia akan malu dan menciut." Goda Evan yang melihat Elyn tak bisa melepas pandangannya dari Cheesecake tersebut.
"Hehehe.." Elyn tertawa kecil. Ia menyantap makanan di piringnya.
__ADS_1
Evan yang sarapan dengannya sesekali mengusap bibir Elyn yang penuh noda makanan.
Elyn hanya tersenyum ketika Evan menyeka sisa makanan di bibirnya.
"Kak.. Aku sudah menghabiskan semuanya." Ucap Elyn yang sangat menginginkan menu utama Sarapan mereka. Yaitu Cheesecake lembut yang terukir namanya tersebut.
"Iyaa.. Aku akan memotongnya" Ucap Evan sambil mengambil Cheesecake.
"Tidaaaak.. Biar aku saja yang potong" Teriak Elyn.
"Oke.. Nih.." Evan menyerahkan pisau cake pada Elyn.
"Aaah... Ga tega.." Teriaknya lagi sambil menatap tajam Cheesecake tersebut.
"Kalau gitu langsung makan saja seperti itu." Tutur Evan mencoba memberi solusi pada Elyn.
"Hih.. Kan sayang kalau di makan." Elyn mengernyitkan keningnya.
"Lebih sayang kalau ga di makan Elyn." Ucap Evan yang mulai gemas dengan tingkah Elyn.
"Kalau aku nanti masih kelaparan karena tidak jadi makan Cheesecake. Aku akan memakan pipimu saja." Evan ngambek dan menggoda Elyn.
"Iya iya.. Aku potong nih..." Elyn masih terlihat ragu dengan pisau cake di tangannya.
"Aaaa... Tidaaaak..." Jeritnya lagi.
"Elyn..." Evan menatap tajam Elyn yang masih tidak memotong cheesecake tersebut.
"Heheheh.." Elyn tersenyum nakal.
"Iya deh..." Elyn menutup matanya untuk memotong cake tersebut.
Akhirnya Cheesecake tersebut terpotong menjadi 2 bagian yang tidak sama besar. Terpotong begitu saja tak jelas bentuknya.
"Ya ampuuuuun.. " Sesal Elyn begitu melihat Cheesecake yang telah di potong olehnya.
"Hahaha.." Evan tertawa terbahak-bahak.
"Ya sudah lah.. Tetap toh nanti di makan. Kan tidak merubah rasanya." Evan masih tertawa melihat kekecewaan yang terlihat jelas di wajah Elyn
Elyn menggerutu kecil tak henti-hentinya karena kekecewaan dirinya yang memotong cake sembarangan dan terlihat jelek itu.
"Syukurlah dia sudah kembali ceria." Evan merasa lega melihat kondisi Elyn saat ini.
Sesekali Evan tersenyum kecil begitu melihat ekspresi wajah Elyn.
Rasa syukur dia di temukan baik-baik saja. Terus terngiang di benaknya.
__ADS_1