Hukuman Bagi Sang Pembunuh

Hukuman Bagi Sang Pembunuh
Mengigit


__ADS_3

"Sekarang kamu mengerti kan.." Regi menepuk pundak Evan.


"Kamu faham kenapa kamu masih belum layak menjaga Elyn. Kamu hanya membutuhkan dirinya untuk keegoisan mu. Kamu tidak tahu apa-apa tentang Elyn. Aku tidak menyalahkan mu. Elyn juga terlihat bahagia di sisimu. Tapi.. Aku tidak mau adikku semakin terluka. Sudah cukup dengan segala yang di alami olehnya. Aku akan ikut menjaganya. Jadi kamu tenang saja dan cobalah renungkan apa kamu benar-benar peduli dengan Elyn" Regi meninggalkan ruangan tersebut. Ia membiarkan Evan larut dalam renungannya.


Evan berjalan lunglai. Ia melangkahkan kakinya perlahan kembali ke kamarnya. Lamunannya tiada henti. Semua kenangan tersirat bak menonton film dokumenter. Saat ia tertawa bersama Elyn hingga saat ia menyakiti Elyn. Ia berulang kali mencoba menanyakan apa yang sebenarnya ia rasakan untuk Elyn.


"Aku tak ingin mengakuinya. Tapi aku tak bisa memungkiri jika Elyn adalah keegoisan ku agar lari dari kelamnya kenyataan ibuku yang meninggal. Elyn seperti pelarian agar hatiku tenang. Tapi aku tak pernah memikirkan perasaan Elyn." Evan menghela nafasnya dan merebahkan tubuhnya di kasur.


Ia terlalu malas untuk melakukan apapun. Tubuhnya lemas dan terasa berat. Beban pikirannya terasa sangat berat dan kusut tanpa solusi.


"Kak Evaaaan.." Terdengar suara yang tak asing di telinga Evan.


"Elyn.." Ucapnya lirih. Evan mengigit ujung bibirnya. Ia kesal akan dirinya sendiri.


Evan membukakan pintu sambil berusaha memasang wajah datar. Ia tak ingin menunjukkan keresahan di hatinya pada Elyn.


"Ya ampun.. Kakak kenapa?" Tiba-tiba Elyn langsung masuk dan memegang bibir Evan.


Evan sedikit terkejut. Ia tak menyangka dengan reaksi Elyn. Di bayangannya Elyn mungkin hanya akan bertanya kenapa aku memasang wajah aneh. Ini tak sesuai bayangannya.


"Bibir kakak berdarah.." Elyn mengusap lembut bibir Evan.


"Eh.. " Evan mengusap kasar bibirnya. Darah segar melekat di tangannya.


"Pantesan Elyn bersikap seperti itu. Aku tak tahu jika bibir ku berdarah". Evan memandang darah yang melekat di tangannya


Elyn menarik lengan Evan. Ia membawanya duduk di sofa. Elyn mencari secarik tisu dan mengelap lembut bibir Evan.


"Kok bisa berdarah gini. Kakak tidak tahu? Wajah kakak sampai pucat tadi begitu buka pintu." Elyn mengomel sembari terus mengobati luka di bibir Evan.


"Aku jatuh.. Iya aku jatuh.." Ucap Evan sedikit terbata-bata.


"Aku jatuh dalam keegoisanku" Benak Evan yang kemudian kembali mengulum bibirnya dan akan mengigit bibirnya tersebut.


Taaaaak....


"Aduh..." Evan meringis.

__ADS_1


Elyn membenturkan kepalanya dengan kepala Evan. Ia kesal karena jelas-jelas Evan mengigit bibirnya yang masih luka di depan matanya.


"Jelas-jelas kakak mengigit bibir kakak sampai berdarah. Berani-beraninya kakak berbohong padaku." Elyn melipat tangannya di dada dan menatap tajam Evan.


"Sini bibir kakak. Jika kakak ingin mengigitnya. Biar aku bantu. Sini biar aku gigit bibir kakak." Elyn gemas. Ia memegang dagu Evan dan mengigit lembut bibir Evan.


"Eyyyin.." Evan sulit berbicara karena bibirnya di gigit Elyn.


Elyn kaget begitu mengingat apa yang ia lakukan. Elyn menutup mulutnya. Matanya bergetar. Ia terlihat canggung dan salah tingkah.


"Pokoknya kita main di kolam renang nanti.." Teriak Elyn dan berlari meninggalkan Evan.


"Brraaaak..." Elyn menutup pintu dengan buru-buru hingga pintu tersebut terbanting.


"Tadi itu..."


Bluuuush... Telinga Evan memerah, pipinya terasa memanas. Nafasnya terasa semakin tidak karuan. Jantungnya berdetak kencang dan hatinya merasa senang dengan apa yang di lakukan Elyn.


"Apa aku boleh bilang jika ini ciuman?" Evan menyandarkan tubuhnya di sofa. Ia tersenyum, mengingat apa yang ia pikirkan.


"Aku menginginkan mu Elyn.." Ucapnya lirih.


"Ah.. Iya ini kan.." Evan menatap benda yang tak asing di meja rias kamarnya itu.


Benda yang ia belikan untuk Elyn dengan tujuan meminta maaf yang bahkan tidak sempat ia berikan pada Elyn.


"Aku sampai lupa padamu.." Evan memegang pistol kecil itu.


"Apa Elyn akan senang ya jika aku memberikan mu sekarang padanya. Dia mungkin akan berteriak girang atau memelukku lagi." Evan tersenyum ia membayangkan wajah bahagia Elyn.


"Aduh, tadi kan.. Yaah.. Gimana nih untuk membuat suasana kembali menjadi tidak canggung. Elyn pasti canggung banget nanti." Evan mengingat kembali kenangan tadi saat Elyn mengigit ujung bibirnya.


"Elyn.." Lagi-lagi wajah Evan memerah. Ia mengusap dadanya dengan lembut. Evan larut dengan pikiran nakalnya.


***


Evan datang menjemput Elyn ia mengetuk pintu rumah Elyn dengan ragu. Elyn yang membukakan pintu itu tergagap dan tak memandang wajah Evan sedikit pun.

__ADS_1


"Lihat itu, Elyn tak menatap ku. Aku harus mencairkan suasana duku" Benak Evan yang ikut terganggu dengan kecanggungan tersebut.


"Elyn, aku kan sudah janji jika kita akan main di pantai di pulau pribadiku di Zornia." Evan mencoba memecahkan suasana canggung tersebut.


"Kamu akan memakai pita itu kan. Pita yang kamu tunjukkan padaku" Ucap Evan malu-malu


"Iya aku akan memakainya.." Elyn perlahan mulai menatap Evan.


Tatapan mereka saling bertemu. Membuat suasana kembali hening dan canggung.


"Duh susah banget sih.. Aku tidak tahu mau ngomong apa" Batik Evan yang bergejolak mencoba mencari apapun agar mendapat pembahasan.


"Kak sini deh.. Lihat.." Elyn tiba-tiba menarik Evan masuk ke dalam kamarnya.


Evan yang masih asyik dengan lamunannya tiba-tiba terkejut akan tingkah Elyn.


"Lihat ini.." Elyn kembali menunjukkan apa yang ia maksud.


"Elyn, bagaimana bisa?" Evan terkejut setengah mati. Ia menggoyang tubuh Elyn dengan kuat.


"Aaaku.. Aku tidak tahu. Tiba-tiba saja kak.." Elyn terlihat ketakutan.


Evan dan Elyn adalah klan manusia ia tidak mungkin memiliki sihir atau menguasai sihir dan semacamnya. Namun apa yang di lihat oleh Evan jelas menyerupai sihir, kekuatan magis atau apapun itu istilahnya.


"Apa ada orang yang mengetahui ini Elyn?" Tanya Evan panik.


Elyn menggelengkan kepalanya ia masih tersentak kaget ketika Evan menggoyangkan tubuhnya tadi.


"Jangan katakan pada siapapun mengerti." Tegas Evan.


Elyn saat itu menunjukkan jika dirinya bisa menghisap masuk benda yang ada di tangannya. Bagaikan di telan oleh tubuh mungilnya. Seolah benda tersebut larut dan masuk ke dalam tubuh Elyn.


"Ini tidak mungkin Elyn.. Kita harus tetap merahasiakan ini.." Evan masih tidak menyangka apa yang ia lihat tadi.


Melihat Elyn yang masih sedikit gemetar, Evan menyadari jika ia tadi sudah terlalu kasar pada Elyn.


"Elyn.. Maaf ya.. Aku sangat terkejut. Aku harap kamu memaafkan aku. Hingga saat kita tahu ini apa. Aku mohon jangan katakan atau tunjukkan apapun. Kita ini manusia biasa Elyn. Ini hal yang mustahil dan lagi aku tidak pernah tahu ada sihir yang seperti itu." Evan merendahkan suaranya.

__ADS_1


Elyn mengangguk pelan tampaknya ia mengerti dengan apa yang Evan maksud.


"Ya sudah.. Yuk.. Katanya kita mau berenang.." Evan tersenyum lembut.


__ADS_2