Hukuman Bagi Sang Pembunuh

Hukuman Bagi Sang Pembunuh
Makhluk Aneh


__ADS_3

Tubuh Evan terasa sakit. Bagaikan seluruh tulangnya remuk. Keringatnya bercucuran membuat pakaian Evan basah. Dadanya terasa sesak, nafasnya tidak beraturan. Evan berteriak. Sontak saja membuat Terry bangkit dan mencoba menolong Evan.


Rory juga ikut membantu memegang erat Evan yang berteriak begitu ia tersadar dari kekacauan Medan energi aneh tersebut.


Para penyihir lain yang masih kebingungan itu di suruh untuk memindahkan Elyn ke kamarnya. Agar tidak terganggu atau malah membuat suasana menjadi semakin kacau.


Meski dengan kondisi sedikit bingung karena mereka mendapati tubuh mereka yang terbangun dengan kondisi tergeletak di lantai. Mereka tetap menuruti perintah Terry terlebih dahulu. Biar bagaimanapun pasien adalah yang utama.


Evan sudah mulai tenang berkat sihir penenang dari Terry. Nafasnya kini mulai teratur. Tatapan matanya kembali terisi dan Rory mulai melepaskan pegangan erat dari tubuh Evan. Membiarkannya berbaring perlahan di kasur.


Setelah Evan tampak tenang. Rory memberinya segelas air mineral hangat. Evan bisa saja dehidrasi setelah kejadian tadi. Ia berkeringat cukup banyak, dan berteriak cukup keras.


"Minumlah.. Tenggorokan mu sakit kan.." Rory menyodorkan gelas minumannya.


"Terimakasih.." Evan meminum air tersebut dengan perlahan.


"Hmm.. Kakak yang waktu itu kan.." Evan masih ingat pelayan yang waktu itu. Orang yang dia ceritakan tentang rasa cemburunya pada Regi karena dekat dengan Elyn.


"Ah... Iya.. Aku tidak menyangka jika hubungan kita bisa jadi seperti ini.." Rory tersenyum kecil.


"Kakak yang menolong Elyn?" Tanya Evan tanpa basa-basi. Ia sebelumnya sedang dalam pengaruh penenang karena histeris. Sehingga suara yang di dengarnya hanya sayup-sayup terdengar juga pandangannya rabun. Jadi dia tidak bisa lihat orang yang menolong Elyn.


"Iya.. Padahal aku kira kita tidak akan bertemu lagi. Apa lagi dalam situasi seperti ini" Ucapnya lirih.


"Terimakasih ya kak.. Sudah menolong Elyn..Aku juga kira kita tidak akan bertemu lagi." Evan menundukkan kepalanya.


"Bagaimana keadaan Elyn ya.. Aku tidak berani bertanya." Evan takut jika Elyn masih dalam keadaan tidak baik.


Ia kembali menatap tajam Terry. Seolah ada yang ingin dia tanyakan. Namun dia kembali menunduk.


"Apa sih tu anak. Kalau mau tanya ya tanya aja. Aku yakin dia mau nanya keadaan Elyn.." Terry yang melihat itu jadi merasa geram.


"Rory.. Bisa tidak tinggalkan kami berdua dulu.." Pinta Terry.

__ADS_1


Rory mengangguk pelan. Ia faham jika Terry mungkin akan menjelaskan keadaan tubuh Evan atau keadaan Elyn saat ini.


"Dia baik-baik saja." Ucap Terry begitu Rory meninggalkan ruangan tersebut.


"Aku belum mengeceknya karena tadi kamu kesakitan. Mereka memindahkan Elyn ke kamarnya. Meski begitu. Aku yakin dia baik-baik saja." Terry meyakinkan Evan.


Evan terlihat lega. Matanya tampak berkaca-kaca. Rasa syukur terlihat jelas di raut wajahnya.


"Evan.. Apa yang kamu lakukan tadi?" Tanya Terry tanpa basa-basi.


Ia mendekati Evan yang masih terduduk di ranjang. Ia berdiri menatap Evan dengan serius.


"Maksudnya?" Evan merasa heran dengan pernyataan Terry.


"Keadaan Elyn sudah buruk. Aku tidak bisa berbuat apa-apa tapi bagaimana bisa dia jadi baik-baik saja setelah kamu mendekati nya tadi?" Terry mencoba bertanya dengan lebih jelas.


Evan terdiam. Ia kini teringat dengan suara aneh yang bergema. Tentang janjinya pada suara aneh itu. Tentang syarat apa saja selama Elyn bisa kembali pulih.


"Memangnya jika aku bilang yang sebenarnya dia akan percaya?" Pikir Evan yang merasa suara tersebut terlalu misterius.


"Yang penting Elyn baik-baik saja. Aku tidak peduli dengan yang lainnya." Tambahnya yang sudah cukup bersyukur selama Elyn tidak terluka atau kesakitan.


Terry hanya diam. Ia masih yakin jika itu karena Evan yang tak terpengaruh sihir. Hingga Terry tak mencoba memaksa Evan untuk menjelaskan hal yang bisa saja memang tidak di ketahui Evan.


"Mungkin karena dia tidak terpengaruh sihir. Sehingga amukan Medan energi tersebut menjadi kembali netral. Mengingat tubuhnya yang bereaksi setelah Medan Energi itu hilang. Bisa saja itu terjadi." Pikirnya tanpa ambil pusing lagi.


"Evan.. Sebenarnya yang lain sepertinya tidak mengingat kejadian tadi. Apa bisa aku minta kamu merahasiakan hal itu juga.?" Terry memasang raut wajah serius.


"Kenapa?" Tanyanya penuh rasa curiga.


"Aku tidak bermaksud apa-apa. Jangan mencurigai ku. Terlihat jelas di wajahmu tuh.." Terry sedikit kesal.


"Aku minta karena aku tidak mau kalau kamu dan Elyn nantinya harus jadi bahan penelitian bagi para penyihir. Biar bagaimanapun aku masih punya hati dan tidak menjadikan anak kecil sebagai kelinci percobaan. Meski sebenarnya aku juga sangat penasaran." Jelasnya.

__ADS_1


"Oh.. Baiklah. Aku juga tidak akan rela jika Elyn jadi bahan percobaan.?" Jawab Evan spontan.


"Hmmm... Tapi aku tidak akan menyerah jika kalian berdua sudah cukup umur. Tentu saja sebagai penelitian ku sendiri." Terry tersenyum licik.


"Aku tidak akan terbujuk olehmu. Elyn juga akan ku jaga.." Evan menanggapi ketus pernyataan Terry.


Terry tersenyum. Ia pamit meninggalkan Evan untuk memeriksa Elyn.


Sepeninggalan Terry. Evan beranjak menuju ke kamarnya. Pakaiannya yang sudah basah itu terasa semakin tidak nyaman. Ia ingin segera mandi dan mengganti pakaiannya. Perutnya juga mulai merasakan lapar.


Setibanya Evan di kamar. Ia menatap dirinya di cermin. Tubuhnya memang terasa sakit tadi. Tapi anehnya kini dia baik-baik saja. Badannya malah terasa segar dan tenggorokannya yang sakit tadi kini sudah hilang. Pandangan matanya terasa lebih segar dan jelas.


Ia menanggalkan pakaiannya untuk segera mandi. Betapa terkejutnya Evan begitu membuka pakaiannya.


"Apa ini..." Evan memegang tepat di tengah dadanya. Yang sepeti tertancap sesuatu. Terdapat batu berwarna Merah Darah di dadanya.


Evan menyentuhnya perlahan. Terasa getaran halus dari batu tersebut. Rasa hangat menjalar di tubuhnya dan batu itu tenggelam kedalam tubuhnya. Menyatu dengan tubuhnya.


Evan mencoba kembali menyentuh dadanya. Dan batu tersebut kembali muncul dan terlihat jelas di kulitnya yang putih.


"Apa sih ini..." Ucapnya penasaran.


Suasana tiba-tiba berubah. Suhu mendadak menurun dan menjadi dingin. Lampu perlahan mulai meredup. Hingga yang tersisa hanya kegelapan.


"Kamu sudah menerimanya. Itu syarat ku. Jadilah pemilik batu itu. Suatu saat akan ku minta kembali batu itu." Suara yang menggema besar itu perlahan menghilang dan cahaya pun perlahan kembali.


"Dia cuma mau bilang itu? Makhluk aneh" Ucapnya yang masih bingung benda apa yang ada di dadanya.


Perutnya semakin terasa lapar. Sehingga daripada larut dengan pertanyaan yang tidak tahu apa jawabannya. Evan memilih menyegerakan aktifitasnya. Agar segera makan siang.


Usai mandi dan makan. Evan mencoba menemui Elyn. Ia berjalan perlahan ke kamar Elyn. Sambil membawa sebungkus coklat yang ia beli ketika makan siang tadi.


"Elyn pasti senang.." Evan sudah tak sabar ingin melihat wajah senang Elyn begitu melihat coklat yang ada di tangannya tersebut.

__ADS_1


__ADS_2