
Elyn kelelahan setelah berenang dan bermain di kolam renang seharian. Usai makan malam Elyn tidur lebih cepat akibat rasa lelah yang tak sanggup di tahannya.
Malam ini Elyn ulang tahun yang ke 11. Ayah dan ibunya termasuk juga Evan sudah mempersiapkan kejutan untuknya.
"Semuanya sudah siap kan Tante?" Evan mamastikan dengan baik persiapan untuk kejutan Elyn.
"Sepertinya sudah. Tinggal cake dan lilin ulang tahunnya saja." Ucap ibu Elyn.
"Itu juga sudah sih. Aku meletakkan di dalam pendingin di kamarku. Nanti akan ku bawa sekalian saja." Meski sudah memastikannya. Namun Evan masih merasa ada yang kurang.
"Ah iya.. Aku lupa dimana meletakkan kado yang sudah ku persiapkan untuk Elyn."
"Tante, om.. Aku pamit dulu. Sampai jumpa jam 12 nanti." Seru Evan dan bergegas kembali ke kamarnya.
Ia masuk dengan buru-buru. Ia membongkar seluruh koper yang di bawanya.
"Aduh, dimana aku menaruhnya ya?" Evan menggaruk kepalanya ia memutar otaknya mengingat dimana dia menyimpan kado tersebut.
"Aku ingat aku memasukkan kado itu ke koper. Masa hilang sih..." Evan geram. Ia mencoba mencari sekali lagi dan mengobrak-abrik seluruh tas yang di bawanya.
Evan mencari ke seluruh pelosok kamarnya. Karena ia hanya mencari Tampa mengingat dimana dia meletakkan kado tersebut.
"Padahal aku mempersiapkan kado itu udah lama banget. Masa iya ketinggalan dan tidak di bawa sih.." Evan mulai gemas akan kecerobohannya.
Seluruh kamarnya kini berubah menjadi kapal pecah. Berantakan dan kacau..
"Gimana nih.. Kemaren-kemaren aku kok ga kepikiran buat nyari tu kado ya.?" Evan menatap langit-langit kamarnya. Ia menyesal baru mengingat kado itu di waktu yang mepet seperti sekarang.
"Aku memang tidak pantas. Ya wajar saja Regi juga geram padaku. Kado untuk Elyn aja aku lupa taruh dimana" Evan mengusap wajah. Ia mengacak-acak rambutnya dengan geram.
"Evan bodoh.." Ucapnya geram
Tok Tok Tok..
Seseorang mengetuk pintu kamar Evan. Ketukan pintu itu membuatnya sedikit tersentak. Ia membuka perlahan pintu tersebut.
"Ya Ampuuuuun..." Teriak ayah Evan begitu pintu tersebut di buka.
"Ada apa ini?" Ayah Evan heran. Evan adalah anak yang selalu tampil rapih dan bersih. Ia tak suka tempat yang berantakan, dan pemandangan yang di lihat kali ini sungguh di luar dugaan ayahnya.
"Kamu kenapa?" Ayah Evan melihat wajah murung putranya.
"Apa ada sesuatu yang hilang.? Apa penyusup masuk ke kamar mu? Kamu baik-baik saja.?" Ayah Evan tampak panik dan khawatir.
"Aku tidak apa-apa ayah.." Jawab Evan lemas
"Kalau tidak apa-apa. Lalu ini apa?" Ayah Evan seolah tidak percaya.
__ADS_1
"Katakan yang sebenarnya Evan. Apa kamu habis mengamuk?"
"Bisa saja sih.. Kan dia masa puber. Tentu ada kalanya ia ingin memberontak dan mengacak-acak kamar." Benak ayah Evan sembari mengingat masa remajanya dulu.
Evan hanya menggeleng pelan. Ia duduk di sofa di tengah-tengah pakaian dan barang-barang yang berantakan.
"Evan..." Ayah Evan merendahkan suaranya. Ia mencoba mendekati dengan lebih perlahan agar anaknya bisa terbuka.
"Jika kamu tidak mengatakan apapun. Bagaimana bisa orang di sekita yang peduli padamu membantumu. Padahal ayah sangat ingin membantu mu loh.." Ayah Evan tersenyum dengan tulus.
"Aku kehilangan sesuatu ayah." Evan menundukkan kepalanya. Matanya berkaca-kaca dan tampak air mata di pelupuk matanya.
"Apa, kamu kehilangan sesuatu?" Teriak ayah Evan dengan penuh amarah.
"Bu..." Evan tak sempat berkata apa-apa.
"Penjaga..... Anakku kehilangan sesuatu di kamarnya!" Ayah Evan berteriak memanggil bodyguard yang menjaga kamar Evan.
"Bukan gitu ayah... Dengarkan aku dulu.." Evan akhirnya berteriak. Ayahnya terlalu panik begitu mendengar anaknya mengalami kehilangan.
Nyaris saja sang penjaga kamar Evan kena marah habis-habisan jika memang itu terjadi.
"Aku lupa dimana menaruh kado untuk Elyn. Aku merasa sudah membawanya. Tapi ketika aku cari. Kado itu tidak ada." Evan mencoba menjelaskan dengan berapi-api.
"Kado..." Ayah Evan tampak memikirkan sesuatu.
"Nih.." Ayah Evan merogoh sakunya dan menyodorkan sebuah kotak cantik berwarna pink dengan pita biru.
"Hampir lupa.. Ayah keburu kaget melihat kamar mu yang berantakan begini." Ayah Evan menggaruk kepalanya meski tidak terasa gatal.
"Ayah kesini mau memberikan itu. Sepertinya malah terselip di koper ayah."
Evan tersenyum tipis. Ia tampak lega karena kado tersebut sudah ada di tangannya.
"Syukurlah..." Ucapnya lirih dan memandang hangat kado tersebut.
"Kamu mau merayakan ulangtahun Elyn kan.. Mau memberinya kejutan?" Tanya ayah Evan.
"Kamu sangat menyukai Elyn ya?" Tanya ayah Evan sembari mengusap lembut kepala putranya.
"Iya.. Aku sangat menyukainya.." Evan tersenyum lebar dan telinganya memerah.
Ayah Evan ikut tersenyum melihat putra tercintanya.
"Tidur dulu, nanti akan ku minta seseorang untuk membangunkan mu jam setengah 12." Ayah Evan menepuk pundaknya.
"Eh.... Kamu tidur di mana?" Ayah Evan kaget begitu ia bangkit dari sofa. Ia kembali menyadari jika kamar Evan kini sudah sangat berantakan.
__ADS_1
Evan tersenyum licik. Ia ikut bangkit dari sofa yang di dudukinya dan beranjak menuju tempat tidur. Evan memegang ujung sprei di atas kasurnya. Senyuman liciknya semakin jelas terlihat.
1... 2... 3...
"Yaaaaaa....." Evan menarik keras sprei tersebut. Seluruh barang yang ada di atas kasur tersebut kini jatuh ke lantai.
Hahahahah...
Seketika ayah dan anak tersebut tertawa terbahak-bahak. Tawa yang sudah sangat lama tak di dengar di antara mereka.
"Kapan ya, kami tertawa bersama seperti ini.. Sejak istriku sakit kami jarang bisa tertawa lepas begini." Ayah Evan mengingat istrinya. Ia semakin merindukan mendiang istrinya.
Evan tidur meski dengan kamar yang berantakan. Ayahnya meninggalkan Evan ketika ia sudah terlelap. Sudah lama mereka tida melewati waktu yang intens seperti itu.
Tak lama Evan terlelap hanya beberapa jam saja. Ia sudah di bangunkan lagi untuk memberi kejutan pada Elyn.
"Iya aku cuci muka dulu.." Ucap Evan yang mengucek matanya pelan. Ia masih terlihat mengantuk.
Evan menyimpan kadonya di dalam saku. Ia memegang dengan kedua tangannya cake yang cukup besar. Cake yang di penuhi dengan coklat dan strawberry di atasnya.
"Sssst... 1.. 2.. 3.." Dengan aba-aba ayah Elyn mereka membuka pintu kamar Elyn dan berteriak bersama.
"Elyyyn.." Ayah dan ibu Elyn meniup terompet yang membuat Elyn terkejut dan mengucek matanya. Ia sejenak bingung dengan apa yang ia lihat.
"Selamat Ulang Tahun...." Serentak mereka mengucapkan selamat pada Elyn.
"Happy Birthday Elyn.." Evan tersenyum lembut.
Evan yang memegang cake dan lilin angka 11 di atasnya mendekatkan cake tersebut dan bernyanyi untuk Elyn.
Happy Birthday to You
Happy Birthday to You
Happy Birthday, Happy Birthday
Happy Birthday to You
One more candle to light
On your birthday cake
Hope your wishes all come true
Now let’s celebrate
Elyn terharu. Kebahagiaan tersirat jelas di wajahnya.
__ADS_1
"Terimakasih.. Aku cinta kalian.." Ucap Elyn lirih.