
7 Tahun Kemudian
Elyn kini adalah gadis cantik berusia 18 tahun. Ia semakin energik dan ceria. Senyumnya selalu merekah.
Elyn kini berkuliah di salah satu universitas di kotanya. Bukan Universitas Negeri atau Universitas Swasta yang terkenal. Namun hanya Universitas Swasta biasa.
Suasana kampus biasa. Terdiri dari anak-anak biasa dengan kemampuan yang juga biasa saja. Kalangan menengah ke bawah. Meski bigitu Elyn selalu tampak ceria. Ia memiliki banyak teman di kampusnya. Ia juga heboh dengan senior tampan seperti kebanyakan mahasiswi pada umumnya.
"Elyn, kamu yakin mau mencoba mendekati senior itu?" Tanya Merry setengah berbisik pada Elyn.
"Iyaa.. Aku penasaran setelah beberapa kali melihatnya. Wajahnya sih lumayan." Elyn menyeruput minumannya.
Cafe itu sangat ramai oleh mahasiswa dan mahasiswi di kampus tersebut. Mengingat lokasinya yang memang sangat dekat dengan kampus mereka.
"Kamu berani ngajak kenalan duluan Elyn?" Amira bertanya dengan tatapan yang jelas sangat penasaran.
"Kalau Elyn yang mulai sih, tidak masalah. Coba yang deketinnya aku. Dia pasti kabur duluan" Nira terkekeh geli. Di susul dengan tawa kami semua.
"Jadi gimana strateginya kamu kenalan sama dia?" Amira kembali penasaran.
Elyn memutar otaknya ia kemudian tersenyum licik. Elyn memakan sedikit cemilannya. Ia menyeruput kembali minumannya untuk menghilangkan rasa gugupnya.
"Ehem... Liat deh. Pokoknya yang penting bisa kenalan kan.." Elyn kini merasa rencananya akan berhasil.
Elyn berjalan ke arah kamar mandi. Ia mencuci tangannya dengan air. Tangannya kini sudah basah. Ia berjalan ke meja dekat pria itu dan beberapa temannya duduk.
Ketika akan melewati mereka Elyn sengaja mengibaskan kedua tangannga yang basah. Ia pura-pura kesulitan mengusap matanya. Elyn pun mulai rubuh ia terjatuh seolah tersandung.
"Ya ampun.. Apa kamu tidak apa-apa?" Terdengar suara seorang pria dengan suara husky
"Aduh.. Sepertinya kaki ku sakit.." Elyn mengusap kakinya ia memasang wajah kesakitan.
"Sini, biar saya bantu.." Pria tersebut mencoba membantu Elyn.
Elyn yang awalnya hanya tertunduk dan terus mengusap pergelangan kakinya. Kini kepala Elyn dan menengadahkan kepalanya.
"Ka.. Kamu.." Elyn terperanjat begitu melihat sosok yang ada di dekatnya tersebut.
Pria tersebut tersenyum kecil. Ia memegang tubuh Elyn dan memapahnya ke kursi terdekat.
__ADS_1
"Kenapa malah kamu.." Elyn tampak kesal.
"Iiiich.. " Elyn tampak semakin kesal.
Elyn merasa sudah rugi dan rencananya gagal total. Pria yang seharusnya membantunya adalah target mereka. Senior tampan dengan wajah sendu dan kalem.
Pria tersebut sedikit heran dengan tingkah orang yang telah du tolong olehnya.
"Kenapa kesal begitu?" Tanya pria tersebut penasaran.
Elyn menggembungkan pipinya. Ia cemberut. Elyn kembali mengusap pergelangan kakinya. Pandangannya kembali pada pria yang menjadi targetnya.
Pria tersebut tampak acuh. Dia masih asyik mengobrol dengan temannya. Tak ada yang menghiraukan Elyn ketika ia terjatuh. Hanya tatapan mata yang seolah berkata itu bukan urusanku.
"Nyebelin.." Elyn tak menjawab ucapan pria yang telah membantunya. Pandangan matanya kembali pada teman-temannya.
"Kok nyebelin.. Aku kan sudah membantu mu.." Ucap pria tersebut.
Elyn kembali menatap pria tersebut. Di lihatnya sosok pria yang jauh lebih tampan dari targetnya semula. Wajah yang baru ia lihat.
"Cih, di banding dengan senior itu. Pria ini jauh lebih tampan. Tampang senior itu sih lumayan. Kirain dengan wajah sendunya hatinya baik. Ternyata dia tak sebaik wajahnya." Elyn menggerutu di dalam hatinya. Ia sedikit kesal karena rencananya gagal. Namun sebagai gantinya dia jadi lebih mengenal sosok seniornya tersebut.
"Hai nona.. Kamu tidak apa-apa?" Tanya pria itu lagi.
"Aku baik-baik saja.. Terimakasih ya.. Maaf aku sedikit ada pikiran jadi itu.. Ehmm..." Elyn berusaha menjelaskan namun ia tak kunjung menemukan alasan yang tepat.
"Oh, pantesan kamu sampai terjatuh.." Pria itu spontan menjawab.
"Ah.. Iya.. Hehehe" Elyn tersenyum lebar.
"Hmm.. Tunggu sebentar ya.." Pria tersebut pamit sejenak dan meninggalkan Elyn. Ia berjalan menghampiri salah seorang pelayan di Cafe tersebut. Tak lama pria tersebut kembali dan membawa sebungkus plastik berisi es batu.
Pria itu berlutut di dahapan Elyn. Ia memegang dengan lembut kaki Elyn. Di kompresnya kaki Elyn dengan kantung es yang ia bawa.
"Eh.. Hmm.. Biar aku saja." Elyn merasa canggung dengan perhatian pria tersebut.
"Terimakasih.." Elyn dengan malu-malu berterimakasih terhadap perhatian pria tersebut.
"Hmmm.. Sepertinya kamu bukan mahasiswa kampus sini ya?" Tanya Elyn memulai memecah kecanggungan.
__ADS_1
"Iya.. Wah.. Kamu bisa tahu.." Wajah tegas pria itu kini terukir dengan senyuman yang lembut.
"Sialan.. Tampan juga nih cowok.." Gumam Elyn yang memandang lekat wajah pria di hadapannya.
"Aku sering ke sini. Tapi ini kali pertama aku melihatmu." Elyn tersenyum kecil.
"Wah, kamu langganan sini. Terimakasih ya.." Pria tersebut tersenyum semakin lebar.
"Loh, kok terimakasih sih?" Elyn tampak kebingungan.
"Fth.. Fh..ft.. Hahaha" Pria tersebut kini tak sanggup lagi menahan tawanya. Ia tertawa lepas.
"Kenalin aku Riko anak pemilik Cafe ini. Terimakasih sudah langganan disini." Pria itu menyodorkan tangannya untuk berkenalan dengan Elyn.
"He.. He.. He.. Elyn.." Elyn senyum dengan canggung.
"Haha.. Imut banget.. Kalau tahu kamu langganan sini. Aku seharusnya dari dulu mampir ke sini. Mungkin kita bisa kenal lebih cepat."
"Hmm.. Pantesan kamu bantuin aku. Kalau bukan anak pemilik Cafe kamu pasti cuekin aku juga." Elyn tersenyum kesal. Di sambut tawa Riko.
"Elyn.. Nama kamu Elyn kan.. Kamu benar-benar menarik." Pria senyum nakal
"Mampir kesini. Aku pasti akan sering disini. Oh ya.. Nih kartu nama aku.." Pria itu menyodorkan kartu nama miliknya.
"Hmm.. Tampaknya teman-teman kamu mulai gelisah tuh. Aku pamit dulu ya.. Lain kali kamu kesini aku kasih spesial service deh." Pria itu pamit dengan senyuman licik yang tersirat di wajahnya.
Elyn kesal, namun hal itu justru membuatnya seperti ketahuan sedang merencanakan sesuatu dan tertangkap basah.
"Elyn.." Kini teman-teman menghampiri Elyn.
"Baru nyamperin. Tadi akunya di cuekin.." Kesal Elyn.
"Ma,, Maaf.." Nira terbata-bata. Ia jelas takut jika Elyn ngambek dan marah pada mereka.
"Tapi pria yang menolong kamu tadi.." Ucap Amira yang langsung duduk di samping Elyn.
"Setidaknya kamu berhasil kenalan dengan cowok yang lebih keren." Sambung Amira lagi
Elyn mendelik memandang lekat teman-temannya yang justru kepo dengan pria yang barusan membantunya.
__ADS_1
"Balik ke kampus yuk.. Bantuin. Sakit nih.." Elyn merajuk dan meminta teman-temannya untuk memapahnya.
Elyn di papah kembali ke kampus. Mereka kembali ke kampus. Ini adalah jam terakhir sesi perkuliahan. Riko dari jauh memandang kepergian Elyn. Elyn tampaknya sudah menarik perhatiannya.