
Evan merasakan hangatnya pelukan Elyn. Pelukan yang terasa sangat tulus itu. Hingga membuat Evan mengingat akan kesalahnya. Kenangan buruk itu terus berputar-putar di kepalanya. Ia pun memberanikan dirinya untuk meminta maaf. Ia sangat menyesal sudah bertindak egois bahkan sampai menepis tangan Elyn.
"Elyn... Maafkan aku.. Aku benar-benar menyesal sudah egois selama ini. Aku bahkan sampai menepis tanganmu tadi.. Aku benar-benar menyesal Elyn. Kamu seperti ini pasti karena salahku.." Ujarnya lirih penuh penyesalan. Mata Evan tampak berkaca-kaca. Ia tertunduk putus asa menyesali segala perbuatannya.
Elyn menatap tajam Evan yang tampak menyesal. Ia pun mengingat akan segala hal yang ia lakukan. Melihat Evan yang jelas tampak putus asa membuat hati Elyn semakin sakit.
"Kenapa kak Evan seperti itu. Ini kan salah ku.. Aku yang mulanya mengabaikan kak Evan. Aku juga yang berbohong. Jika kak Evan tahu dan marah padaku itu harusnya hal yang wajar. Akulah yang salah.." Pikiran Elyn terus berkecamuk. Ia merasa harusnya dialah yang meminta maaf.
"Kak Evan..." Elyn memegang kedua tangan Evan dengan lembut. Evan hanya diam dan terus menunduk. Bayangan ketika ia menepis tangan Elyn masih terus menghantuinya.
"Kak.. Lihat sini dong.." Ujar Elyn lagi seraya memandu Evan untuk memandang wajahnya.
"Kak.. Elyn juga salah. Semua ini juga awalnya Elyn lah yang salah, harusnya justru Elyn yang meminta maaf duluan pada kakak." Elyn memandang lekat wajah Evan.
"Tapi.. Kamu jadi seperti ini Elyn. Seandainya aku tidak egois dan berbicara baik-baik denganmu. Mungkin kamu tidak akan begini. Kamu bahkan tidak bisa jalan-jalan Vadim. Kondisimu jadi seperti ini. Terus, tadi apa yang terjadi denganmu selama kamu hilang Elyn?" Tanya Evan antusias. Ia masih meyakini jika saja ia tidak egois dan menghadapinya dengan kepala dingin mungkin Elyn masih baik-baik saja.
"Ah... Tidak.. Bukan hanya itu. Seandainya aku tidak cemburu dengan Regi... Apa yang aku lakukan selama ini.. Aku benar-benar sudah gila..". Gumamnya lagi yang mengingat akar masalah keegoisan Evan adalah rasa cemburunya yang membara. Cemburu akan kedekatan Elyn dan Regi yang bahkan ia ragukan kedekatan mereka sudah sejak kapan. Ia tahu betul Regi merupakan salah satu orang yang memperlakukan Elyn dengan baik.
"Elyn baik-baik saja kak.. Elyn justru mau minta maaf pada kakak.. Elyn salah pada kakak. Jika Elyn tidak mengabaikan kakak dan pergi dengan kek Regi. Aaah... Tidak hanya itu. Jika saja aku tidak berbohong ketika sarapan di taman Jasmin. Mungkin kakak juga tidak akan marah kan." Kini Elyn sudah menitikkan air matanya. Ia sangat menyesal.
Evan menghapus air matanya. Ia tahu betul jika mereka masing-masing memang memiliki kesalahan. Evan menggagukan kepalanya.
"Sepertinya kita berdua juga memiliki kesalahan ya Elyn. Kita saling memaafkan kan?" Ujar Evan yang tersenyum. Masih memegang pipi Elyn yang basah oleh air mata.
__ADS_1
"Hmm.... Tapi apa aku boleh tanya kenapa kamu mengabaikan ku dan berbohong Elyn?" Tanya Evan dengan tatapan tajamnya penasaran.
Elyn terdiam untuk sejenak dia sempat ragu untuk menceritakannya namun ia mengingat kembali nasihat Regi. Ia harus membicarakan ini dengan Evan dan mendengar bagaimana pendapatnya. Tidak mungkin Elyn selamanya menghindari Evan.
"Ah.. Tapi kak Evan baru saja berteman dengan Bella. Bagaimana jika terjadi salah paham dan kak Evan malah marah pada Bella ya.." Elyn kembali merasa ragu mengingat kedekatan Bella dan Evan yang baru terjalin. Ia tak ingin di Bella salah pahami oleh Bella lagi. Namun ia juga tak ingin menyakiti perasaan Evan.
"Apa yang harus ku katakan agar semuanya baik-baik saja ya.. Ya tuhan.." Gumamnya lagi yang masih memikirkan tindakan tepat apa yang harus ia lakukan agar keadaan kembali seperti semula.
"Elyn... Ayo jawab.. Memangnya kenapa kamu menghindari ku waktu itu?" Evan merasa Elyn berat untuk menjawab ke dua pertanyaan ia memutuskan mendengar jawaban satu persatu secara perlahan.
Perkataan Evan membuat Elyn tersadar akan lamunannya. Ia pun memutuskan tidak mengatakan hal yang membuat Evan akan salah paham terhadap Bella.
"Baiklah.. Aku hanya tinggal mengatakan yang sebenarnya namun tidak membuat mereka salah paham kan. Aku tidak akan mengganggu hubungan mereka." Gumam Elyn kali ini dengan penuh keyakinan.
"Tapi Elyn... Jika saat itu kamu memintaku aku akan menemanimu." Seru Evan antusias.
"Ya Ampun kak... Hari itu kan acara makan malam pertama. Tidak sopan dong kakak yang sebagai tuan rumah acara malah pergi denganku. Lagian alasan kakak juga makan di meja bersama om dan kakek kak karena itu juga. Karena kakak itu Naratama." Tutur Elyn penuh keyakinan
"Ah... Iya juga.. Dia mana mungkin berani menghampiriku jika mengingat situasi seperti itu. Aku sudah terlalu sensitif sepertinya.. Eh.. Tapi... Jika dia segan mengajakku karena aku sibuk mengapa ketika aku menghampirinya dia tetap memilih pergi bersama Regi?" Evan meragukan jawaban Elyn. Ia pun memberanikan dirinya untuk bertanya lagi.
"Terus kenapa, kenapa kamu mengabaikan aku ketika aku menghampiri mu?" Tanya Evan penasaran.
"Aduh kak Evan.. Aku sudah capek-capek ngajak kak Regi. Trs dia sudah meninggalkan mejanya dan ikut membantuku. Eh.. Aku meninggalkannya gitu aja.. Gitu... Gadis macam apa aku ini. Jika melakukan itu.. Kak.. Aku bisa di hujat di hujat..." Jawab Elyn antusias seraya mengacungkan jarinya.
__ADS_1
"Ah.. Iya itu tidak sopan.." Evan mulai tampak tersenyum.
"Sepertinya aku memang sudah terlalu sensitif.. Aku benar-benar egois deh.." Gumamnya dalam hati penuh penyesalan.
"Tuh kan.. Kalau saja aku tidak egois. Kamu pasti tidak akan begini. Maafkan aku Elyn.. Aku terlalu terbawa emosiku hingga aku mulai mengabaikan mu juga." Evan yang semakin merasa bersalah atas kejadian itu.
"Eh.. Kok kak Evan malah tambah sedih sih.. Aduh gimana dong.." Elyn mulai terlihat sedikit panik.
"Kak aku baik-baik saja. Sudah ku bilang. Awalnya aku yang salah. Jadi kakak tidak perlu merasa bersalah dong.." Elyn tampak semakin terbebani atas rasa bersalah Evan.
Melihat Elyn yang terbebani dan lagi dengan kondisi seperti itu membuat Evan memutuskan untuk mengakhiri perdebatan antara siapa yang salah. Ia tak ingin Elyn semakin sedih. Intinya ya seharusnya dia yang lebih dewasa yang harusnya bisa lebih berkepala dingin.
"Baiklah.. Yang penting kita saling memaafkan." Seru Evan yang tak ingin membuat kondisi Elyn semakin parah.
Evan sudah cukup keras bertanya pada Elyn. Membuat Elyn terlihat sedikit gusar dan tidak nyaman. Padahal Elyn baru saja di temukan dan di obati.
"Elyn.. Masih banyak hal yang ingin aku tanyakan padamu. Tentang kenapa kamu berbohong dan tentang bagaimana kamu terlihat berpelukan dengan Regi. Huuuuuft... " Evan menghembuskan nafas panjang. Ia larut sejenak dalam pikirannya.
Ia memandangi Elyn dengan lekat. Kaki yang di perban. Luka di mata kakinya. Bahkan lutut dan siku tangannya juga lecet. Serta ada beberapa goresan kecil di lengannya.
"Bodoh..." Gumamnya tampak kesal.
"Kenapa aku malah bertanya itu ya. Aku sebodoh itu. Harusnya aku tanya dulu apa yang terjadi pada Elyn." Gumamnya kesal. Ia nyaris lupa bertanya alasan kenapa Elyn seperti ini. Bagaimana ia bisa terluka seperti itu. Atau apa yang sebenarnya terjadi hingga dia tak ikut pesta.
__ADS_1
Pertanyaan demi pertanyaan kian berkecamuk di hati dan pikiran Evan.