Hukuman Bagi Sang Pembunuh

Hukuman Bagi Sang Pembunuh
Ingkar Janji


__ADS_3

Elyn yang sudah merasa lega telah meminta maaf pun mulai kembali tersenyum. Makan malam memang sudah usai. Tapi waktu berbincang masih ada. Keadaan semakin ribut. Anak-anak di meja lain pun sudah mulai ribut. Semua mulai berbincang-bincang sesekali pelayan lewat menawarkan cemilan dan minuman. Elyn mengambil sepotong cake. Ia berniat memakannya.


"Aaah... Maaf.." Ujar Bella. Ketika Elyn mau memakannya, lengan Elyn pun di senggol dengan cukup keras oleh Bella.


Bella adalah anak direktur pemasaran di salah satu mall milik keluarga Evan. Anak-anak yang duduk di meja Elyn adalah anak yang sebaya elyn juga, berbeda di setiap mejanya. Tentu Evan juga sebaya dengan Elyn sehingga anak-anak yang seumuran Evan lebih agresif untuk mendekat dan berteman dengan Evan. Elyn biasanya tidak ambil pusing. Dia tidak pernah menghalangi Evan untuk berteman dengan siapapun. Bella adalah salah satu yang selalu berusaha mendekati Evan. Bahkan ketiga temannya Rini, Dara dan Monic juga merupakan anak-anak yang paling berusaha mendekati Evan.


"Iya.. Tidak apa-apa.." Elyn tersenyum ketir. Tangannya kotor terkena krim dari cake yang ia makan.


Elyn berusaha mencari tisu untuk mengelap kotoran di tangannya. Tapi itu tetap tidak membersihkan sepenuhnya. Ia harus ke toilet dan mencuci tangannya dengan sabun.


"Hmmmmmm,, sepertinya aku harus cuci tangan dulu. Aku permisi ya.." Elyn sedikit membungkuk dan pamit untuk membersihkan tangannya.


Bella dan teman-temannya hanya tersenyum. Elyn pun menuju toilet dengan segera. Ia masih mengusap-usap tangannya. Elyn langsung mencucinya. Ia membasuh kedua tangannya dengan air. Setelah selesai ia berniat kembali ke meja makannya. Tapi dari depan pintu toilet Bella dan yang lain menghadangnya. Elyn yang kebingungan pun perlahan menjadi jalan mundur selangkah demi selangkah. Ia semakin terdorong hingga terpojok di kloset duduk toilet tersebut.


"Aaa..aada apa ya.?" Elyn gugup sekaligus bingung dengan situasi saat itu.


"Masih tanya ada apa? Kamu tidak tau kesalahan mu?" Bella terlihat kesal.


Elyn hanya tertunduk diam. Dia sama sekali tidak terpikirkan apa kesalahan yang telah ia lakukan.


"Heh.. Kalau ditanya itu ya dijawab.. Bukan bengong" Rini menimpali sembari mendorong pundak Elyn.


"Maaf, aku salah apa sama kalian?" Elyn menjawab ragu-ragu


"Benar-benar deh kamu Abelyn" Bella semakin kesal.


"Kamu kan janji akan mengajak Evan untuk minum teh bersama kami di taman Kinkin. Kami percaya padamu. Tapi kamu justru ingkar janji" Dara mengomel dengan nada penuh kekecewaan.


"Maaf, Aku ketiduran dan belum sempat mengabari kak Evan". Elyn pun kembali merasa bersalah.


"Alasan aja kamu.. Padahal kami percaya pada mu. Kami sungguh kecewa Abelyn. Teganya kamu begitu. Kami bahkan menunggumu dan Evan tapi jangankan hadir kabar pun kamu tidak sampaikan. Kan ada banyak pelayan disini. Kamu bisa titip pesan pada mereka. Kamu bahkan tidak menemui kami Abelyn" Tutur Monic semakin emosi.

__ADS_1


"Tapi.... Tadi kan sudah di jelaskan. Aku dan kak Evan juga sudah meminta maaf " Elyn menjawab dengan tersendat-sendat. Ia seperti akan menangis.


"Hahaha.. Sekarang kamu mau menangis? Kamu bahkan membuat kami terlihat jahat. Padahal kan kamu yang ingkar janji Elyn." Dara meninggikan suaranya sambil menunjuk-nunjuk Elyn.


"Sudah lah.." Bella menghela nafas. Ia juga takut jika Elyn benar-benar menangis nantinya.


"Tidak bisa begitu Bella.. Dia itu selalu ingin menguasai Evan. Dia Bahkan menggunakan Evan sebagai tamengnya. Yang meminta maaf itu seharusnya dia. Bukannya Evan" Rini menggerutu pada Bella.


Bella mengerti maksud Rini. Tapi dia juga akan susah jika Elyn melaporkan kejadian ini pada Evan. Kesempatannya untuk mendekat dengan Evan bisa lenyap.


"Aku bilang sudah cukup.." Bella menatap tajam Rini


"Awas kalau kamu ngadu pada Evan. Kamu akan menyuruhnya membereskan kekacauan yang kamu buat lagi?" Ancam Rini lagi.


Mereka akhirnya meninggalkan Elyn sendiri di kamar mandi.


"Rini, bagaimana jika tadi Abelyn menangis?" Bella menggertak Rini.


"Tapi bukannya tadi kita memang berencana menggertak ya?" Rini mencoba membela diri.


"Ah, iya juga. Lagian Abelyn juga cengeng sekali. Masa begitu saja dia ketakutan" Timpal Dara


"Ah ayolah, kamu lupa dia itu selalu di manja!' Seru Monic.


Di kamar mandi itu. Elyn masih terdiam membisu. Dia sangat ketakutan tadi. Tapi setelah mendengar apa yang Rini katakan. Ia pun berpikir ulang.


"Iya.. Rini benar. Ini salahku. Tidak seharusnya aku mengajak kak Evan untuk meminta maaf pada mereka juga. Seharusnya aku pergi ke taman ketika tidak menemukan kak Evan dan meminta maaf pada mereka. Wajar saja mereka marah padaku." Elyn masih gemetar dan berusaha menenangkan dirinya.


"Ibu, aku mau jalan-jalan.. Mungkin melihat laut dan suasana kapal malam hari boleh Bu?" Elyn yang tidak berani untuk kembali ke meja makannya memutuskan untuk berjalan-jalan. Ia pamit pada ibunya.


"Hmmmmmm.. Kamu jalan-jalan dengan siapa?" Ibu melihat sekeliling. Ia tidak ingin anaknya berjalan sendirian. Ibu melihat Evan masih mengobrol dengan ayah dan kakeknya.

__ADS_1


"Mau ibu minta Evan menemani mu?" Ujar ibu kemudian. Elyn sebenarnya tidak masalah bersama Evan. Tapi suasana hatinya kacau. Ia tidak ingin menemui Evan dulu. Dia ingin menenangkan hatinya terlebih dahulu. Elyn memilih menghindari Evan.


Elyn memutar kedua bola matanya. Didapatinya Regi yang duduk santai sembari menyeruput jusnya.


"Aku akan ajak kak Regi Bu.. Sepertinya dia sedang senggang tuh.." Elyn menunjuk Regi yang duduk sendiri di mejanya sembari meminum jus.


"Baiklah, jangan lama-lama dan segera kembali sebelum jam 08:30" Ibu akhirnya mengizinkan Elyn


Elyn menghampiri Regi yang masih asyik menyeruput jus apel miliknya. Regi merupakan anak asisten ayahnya Evan. Usianya terpaut 4 tahun dari Elyn.


"Kak Regi.. mau temani Elyn jalan-jalan tidak.. Elyn bosan di sini.." Rengek Elyn pada Regi.


"Baiklah Abelyn.. Evan mana?" Regi menyetujuinya tanpa pikir panjang. Ia menyeruput habis jusnya dan menggandeng tangan Elyn.


"Sepertinya Kak Evan masih sibuk tuh.." Jawab Elyn dengan nada sedih.


"Baiklah biar aku yang menemanimu.." Elyn dan Regi pun keluar dari ruang makan.


Evan melihat kepergian mereka. Ia sedikit tidak senang. Elyn biasanya selalu mengajaknya dulu tak peduli di situasi apapun. Tapi kali ini dia pergi begitu saja. Terlebih lagi bersama Regi. Regi memang sesekali bergabung dengan mereka. Salah satu yang memperlakukan Elyn dengan baik adalah Regi. Tapi Evan memiliki obsesi sedikit lebih pada Elyn. Sehingga dia ingin Elyn hanya membutuhkannya bukan yang lain.


"Elyn mau kemana...???" Evan akhirnya mencoba menyusul mereka.


"Hanya mau jalan-jalan.. Yuk Kak Regi!" Elyn menarik tangan Regi dan mempercepat langkah mereka. Elyn mencoba sesegera mungkin menghindari Evan. Hal itu membuat Evan semakin emosi.


"Kenapa" Evan bergumam. Ia mengepalkan kedua tangannya geram. Ia menahan emosinya setelah melihat Elyn dan Regi pergi dari hadapannya. Ia memutuskan kembali kamarnya dan meninggalkan acara berbincang malam itu.


Regi yang peka akan situasi itu pun mengikuti saja kemauan Elyn. Dia tau ada sesuatu yang terjadi sehingga Elyn seperti itu pada Evan. Tidak biasanya dia sedingin itu pada Evan. Biasanya dia akan mengekor Evan kemanapun dan Evan tidak pernah keberatan dengan kehadiran Elyn. Ia justru tampak menikmati keberadaan Elyn.


Elyn menoleh kebelakang sudah tidak terlihat lagi sosok Evan dia akhirnya menghela nafas panjang.


"Abelyn..." Regi memanggil namanya.

__ADS_1


Elyn menatap Regi ia pun akhirnya menangis. Tangisan yang sudah ditahannya. Elyn terisak-isak dengan tangisannya. Melihat itu Regi pun menepuk pundaknya. Ia membiarkan Elyn menangis tanpa menanyakan apapun.


Evan yang ingin kembali ke kamar itu tak sengaja berhenti melihat adegan tersebut. Tangan Regi yang merangkul pundak Elyn. Ia geram meski dari jauh dia yakin Elyn di peluk Regi. Begitulah adegan yang terlihat dimata Evan.


__ADS_2