Hukuman Bagi Sang Pembunuh

Hukuman Bagi Sang Pembunuh
Sapu Tangan


__ADS_3

Elyn tertunduk begitu mendengar Evan menyebut namanya Abelyn. Ia tahu betapa kecewanya Evan begitu mendengar hal tersebut.


Elyn mengangkat kepalanya memandang pundak Evan yang semakin menjauh. Elyn menitikkan air matanya. Ia menyesal sudah bercanda dengan keterlaluan.


"Hiks.... Hiks... Kak Evan.." Elyn melangkah pelan. Ia memutuskan untuk kembali ke sisi orang tuanya.


Namun langkahnya kembali terhenti. Di kursi tempat ia dan Evan tadi istirahat. Elyn duduk di sana. Memandang danau yang awalnya terlihat indah kini terasa buram.


"Ternyata suasana hati menentukan apa yang kita lihat.." Elyn menghapus air matanya. Ia menatap hatinya kembali agar ia tidak tampak habis menangis ketika bertemu orang tuanya.


***


*Di waktu yang sama


Evan berjalan dengan langkah yang berat. Ia kecewa dengan candaan Elyn yang keterlaluan.


"Apa dia tidak tahu sebesar apa rasa khawatir ku padanya. Bagaimana bisa dia bercanda seperti itu?" Evan melampiaskan kekecewaannya.


Rasa kesal bergumul di benaknya. Ia pun mempercepat gerak kakinya yang berat tersebut.


"Kamu tega sekali Elyn." Ucapnya sambil menundukkan kepalanya.


Matanya melihat rerumputan yang ia injak selangkah demi selangkah. Membuatnya mengingat betapa ia sangat menyesal telah meninggalkan Elyn sendirian ketika di hotel waktu itu.


Langkahnya terhenti. Dia panik begitu mengingat kejadian waktu Elyn menghilang. Nafasnya menjadi tidak beraturan. Jantungnya berdetak kencang. Ia takut jika sesuatu terjadi lagi pada Elyn.


"Bodoh.. Apa yang aku lakukan. Apanya yang berjanji akan selalu di sisi Elyn." Ucapnya marah pada dirinya sendiri.


"Elyn.. Dia hanya manja pada mu bodoh. Kenapa juga kamu meninggalkan Elyn lagi sendirian." Evan marah pada dirinya sendiri.


Evan berlari kembali ke tempat ia meninggalkan Elyn. Namun ia tak menemukan sosok Elyn lagi.


Evan memutar kedua bola matanya mencari sosok Elyn.


"Kak Evan.."


Evan memalingkan wajahnya. Mencari sosok yang memanggil namanya.


"Bella.." Kekecewaan terlihat jelas di raut wajahnya.


"Kakak kenapa? Wajah kakak pucat sekali." Bella yang memperhatikan gelagat Evan mencoba memberanikan dirinya bertanya.


"Apa kamu melihat Elyn?" Tanya Evan tanpa basa-basi lagi.


Bella menekuk wajahnya. Ia terlihat sedikit kesal. Namun tiba-tiba raut wajahnya berubah. Ia tersenyum lebar. Ia memegang lengan Evan dengan cepat.

__ADS_1


"Ah.. Aku ingat. Aku tadi melihatnya" Ucapnya yang menarik tangan Evan.


Evan yang mendengar jika ia melihat Elyn tanpa pikir panjang lagi mengikuti kemana Bella membawanya.


"Ayo kak.. Cepat. Tadi aku melihatnya duduk di sana. Nanti dia keburu pindah." Ucapnya lagi mempercepat langkah mereka.


"Yaaaah... Tu kan Elyn sudah tidak ada. Padahal tadi aku melihatnya." Bella menundukkan kepalanya ia tampak sangat kecewa.


Evan dan Elyn memang sempat ada di situ tadi. Ia menyuapi Evan dengan buah yang terasa asam. Evan yang melihat tempat yang di tunjuk Bella semakin merasa bersalah.


"Ah.. Ya sudah tidak apa-apa aku akan mencarinya lagi." Evan tidak mau ambil pusing. Ia merasa jika harus segera mencari Elyn. Sebelum terlambat dan malah terjadi sesuatu lagi pada Elyn.


"Ummm.. Kak.. Nanti jika aku bertemu lagi dengannya akan aku sampaikan jika kakak mencarinya." Bella tampak sangat ingin membantu.


"Iya.." Jawab Evan singkat.


Tanpa kata perpisahan Evan langsung meninggalkan Bella. Ia mencari sosok Elyn lagi.


"Hahaha.. Lucu sekali tadi wajah Elyn begitu melihat aku dan kak Evan bergandengan. Dia pasti kesal. Syukurlah kak Evan tidak curiga. Tapi aku kan tidak sepenuhnya berbohong aku memang melihat Elyn. Tapi di belakangnya bukan disini." Bella membenarkan apa yang telah ia lakukan.


"Duh.. Kak Evan. Kamu benar-benar segitunya pada Elyn. Ah, sudahlah. Aku sudah sukses mengulur waktu." Ucapnya ketus.


***


Elyn awalnya ingin mencari sosok Evan dari pada kembali kepada orangtuanya. Ia takut jika langsung kembali malah membuat kedua orangtuanya semakin khawatir. Namun melihat Evan dan Bella tadi. Elyn menjadi tak tahu harus bagaimana.


"Aku di sini saja lah.." Ucapnya dengan pandangan yang kosong.


Dimatanya ia melihat danau yang luas. Namun pikirannya masih jauh menerawang.


"Huh.. Huh... Huh... Ternyata kamu disini."


Siaran yang tak asing itu, memecahkan lamunan Elyn. Ia menatap sosok yang ada di depannya. Matanya berkaca-kaca dan ia menggigit ujung bibirnya.


"Kak Evan.." Elyn menahan air matanya.


"Maafkan aku kak.." Ucapnya dengan suara bergetar.


"Iya.. Aku juga minta maaf.. Seharusnya aku tidak meninggalkan mu lagi. Maafkan aku.." Evan berlutut di hadapan Elyn. Ia menyamakan pandangannya dengan wajah Elyn.


Elyn memeluk erat Evan. Ia merangkul leher Evan dan menangis di pelukannya.


"Aku janji tidak akan bercanda seperti itu lagi" Ucapnya dengan terisak-isak.


"Iya.. Aku juga salah. Karena meninggalkan mu. Aku menyesal. Padahal aku sudah janji tidak akan meninggalkan mu apapun yang terjadi." Ucapnya yang masih di selimuti rasa sesal.

__ADS_1


"Tidak apa-apa yang penting kakak kan sudah kembali pada ku." Elyn tersenyum lebar.


Evan yang melihat senyuman Elyn kini sedikit merasa lega. Meski ia tak bisa memaafkan dirinya sendiri. Namun ia bersyukur kali ini tidak terjadi hal buruk pada Elyn.


"Hmm.. Tadi kak Evan bersama Bella ya. Apa aku tanya saja tadi dia kemana menggandeng tangan kak Evan" Elyn tampak ragu.


"Ada apa?" Evan yang merasa jika ada sesuatu yang ingin di katakan Elyn mencoba bertanya.


"Tidak ada apa-apa. Aku mau tanya apa kakak punya sapu tangan?" Elyn mengurungkan niatnya. Ia tak mau jika pertanyaannya malah merusak suasana lagi.


"Sudahlah apapun yang terjadi dengan kak Evan dan Bella aku rasa aku tidak berhak untuk ikut campur. Kak Evan bebas kok bermain dengan siapapun." Pikir Elyn mencoba meyakinkan dirinya.


"Nih.." Evan menyodorkan lengan kemejanya.


"Apanya yang nih?" Elyn terlihat bingung.


"Kamu mau membuang ingus mu itu kan. Ya sudah lap saja dengan kemeja ku. Aku tidak punya sapu tangan" Ucap Evan tanpa ragu dan kembali menyodorkan lengan bajunya.


"Serius.." Tanyanya sembari menarik hidungnya yang meler akibat menangis tadi.


"Iya.. Sebelum aku berubah pikiran nih.." Evan mengayunkan lengannya yang sedari tadi di sodorkan pada Elyn.


"Ssssrrrrt....." Elyn tanpa ragu mengeluarkan seluruh cairan yang mengganjal pernapasannya.


"Hehehe.." Elyn tertawa puas.


"Iiiiiih.." Elyn sendiri merasa jijik dengan ingusnya yang melekat di kemeja Evan.


"Tampaknya aku harus membasuhnya." Evan tampak serius dan tak berani melipat tangannya. Ia terlihat enggan dan takut jika ingus Elyn malah menempel di mana-mana.


"Hahahahah.." Evan dan Elyn tertawa lepas.


Mereka tertawa dan bercanda dengan riang sampai mereka kembali ke sisi orang tua Elyn.


"Evan.. Kamu kenapa?" Tanya Ibu Elyn.


Elyn sembunyi di balik tubuh ayahnya. Melihat reaksi Elyn yang seperti itu. Ibunya langsung tahu jika itu adalah ulah anaknya.


" Ya ampun.. Ini ingus mu Elyn.." Ibu Elyn menggenggam lengan Evan.


"Iya.." Elyn menjawab pelan.


"Elyn.. Anak gadis mana yang sepeti ini. Kamu tidak boleh seperti itu. Jaga martabat mu sebagai wanita. Anggun Elyn anggun.." Ibu Elyn kembali berceloteh.


Elyn tertunduk diam mendengarkan seluruh nasehat ibunya. Tentang etika, tentang martabat dan hal yang menurutnya membosankan.

__ADS_1


"Syukurlah.. Kini suasana kembali normal" Ayah Elyn yang melihat suasana saat ini merasa lega.


__ADS_2