Hukuman Bagi Sang Pembunuh

Hukuman Bagi Sang Pembunuh
Menantu


__ADS_3

Evan berlari sekencang mungkin yang ia bisa. Ia memegang erat pistol sihir yang baru di belinya. Evan berharap hubungan mereka akan membaik.


"Elyn... Tunggu aku.." Ujarnya sambil terus berlari.


Evan pun tiba di depan ruangan Elyn. Ia mengetuk perlahan pintu tersebut.


"Elyn.... Elyn..." Ujarnya di sela-sela ketukan pintu tersebut.


Pintu itupun terbuka. Dan... Betapa kagetnya Evan ketika melihat siapa yang membuka pintu. Itu membuat jantungnya yang sudah berdegup kencang karena berlari semakin berdegup tak karuan. Seakan jantungnya bisa saja meledak.


"Regi.." Ujar Evan lirih.


Begitu melihat Regi yang membuka pintu. Evan yang tadinya dengan semangat ingin memberikan pistol itu pada Elyn membatalkan niatnya. Ia menyembunyikan pistol itu di balik jaketnya.


"Masuk Van.. Yang lain sudah nunggu tuh.." Regi dengan santai mempersilahkan Evan masuk.


"Regi.. Kenapa dia di sini sih.. Jangan-jangan dia dari tadi memang bersama Elyn." Gumam Evan dengan segala prasangka di hatinya.


"Eh, Evan sudah datang.. Ayo Masuk.." Ujar ayah Elyn begitu melihat Evan dan mempersilahkannya duduk di sofa.


"Iya om.. Bagaimana kondisi Elyn?" Tanya Evan cemas.


"Dia sedang bersama Dokter dan ibunya. Kakinya keseleo dan lukanya terpapar debu sihir sehingga menjadi infeksi. Kita telat mengetahuinya karena terlalu khawatir dan membiarkan ia tertidur dulu tadi. Seharusnya kita bangunkan saja dia tadi. Melihat itu kami bahkan tidak berani bertanya kenapa dia kembali ke kapal sendirian" Ucap ayah Elyn yang tampak sedih dan kecewa.


"Apa kondisinya parah?" Tanya Evan lagi.


"Lumayan. Om dan Tante merasa telah lalai menjaganya. Om kira karena acara ini dia pasti di pesta bersama kamu atau sekedar memakan cemilan di pesta. Om benar-benar tidak tahu jika dia akan seperti ini. Bagaimana jika dia kenapa-kenapa. Om dan Tante tidak akan bisa hidup lagi." Ayah Elyn melampiaskan kekecewaan dirinya terhadap kelalaian mereka sebagai orang tua Elyn.


Evan tertunduk malu. Tangannya bergetar, jantungnya kini terasa sudah tercabik-cabik. Matanya berkaca-kaca nyaris mengeluarkan air mata.


"Maaf om.. Seharusnya Evan tidak meninggalkan Elyn begitu saja.." Ujarnya dengan penuh penyesalan. Mengingat apa yang ia lakukan pada Elyn sebelum ia pergi meninggalkan Elyn sendirian.


"Tidak Evan.. Kami juga lalai. Ini bukan salah siapa-siapa. Kita semua hanya khawatir padanya. Om tahu betapa kamu menyayangi Elyn."


"Maaf om.. Aku akan menjaga Elyn dengan segenap hati ku. Apapun yang terjadi aku akan tetap di sisinya.." Janji Evan pada ayah Elyn. Ia bertekad. Bahkan jika ia semarah apapun pada Elyn dia tidak akan meninggalkan Elyn lagi. Dia bertekad akan terus menjaga Elyn.


"Heheh.. Sudah sudah.. Jadi suram begini suasananya. Tapi... Evan... Om akan ingat janji itu ya.. Jaga Elyn sampai kamu bisa jadi menantu om" Ucap ayah Elyn sambil meledek Evan.


"Menantu.." Benak Evan yang seraya membuat jantungnya yang sedari tadi sudah tak karuan semakin berdegup kencang. Evan yakin jika dia menderita penyakit jantung. Hari ini dia bisa mati berkali-kali.

__ADS_1


"Ah... huh..." Evan terlihat salah tingkah. Pipi dan telinganya memerah. Ia tersipu malu.


"Hahahaha..." Ayah Elyn tertawa lepas melihat reaksi Evan.


"Om.. Berkata begitu pada anak usia 12 tahun loh.." Ucap Evan sambil terbata-bata.


"Memangnya kenapa, om dengar anak sekarang pada cepat punya pacar." Godanya lagi yang melihat Evan semakin salah tingkah.


"Ya sudah.. Kamu disini dulu sama Regi. Om akan menyusul Elyn dulu. Tunggu sebentar ya.." Pamit ayah Elyn yang juga merasa cemas dengan kondisi anaknya.


Evan memandang Regi yang asyik dengan buku yang di bacanya. Dia sangat dingin dan cuek. Khas Regi sekali. Dia memang tidak peduli apapun sehingga itu juga yang membuat Evan nyaman dan akrab dengan Regi. Namun ia juga bingung kenapa ia jadi kesal dengan Regi sejak Elyn selalu terlihat bersama Regi.


"Regi.. Kamu ngapain disini?" Tanya Evan penasaran.


"Aku di suruh menjaga Abelyn oleh ayahku" Jawabnya singkat dan memandang Evan seolah masih ada yang ingin ia bicarakan.


"Ayahmu yang suruh? Bukan ayahku?" Evan bertanya heran. Dia percaya jika Regi di suruh ayahnya untuk menjaga Elyn. Dia juga terlatih sebagai bodyguard karena Regi Alankar yang sebagai pemegang nama Alankar selalu di latih menjadi bodyguard keluarga Naratama secara turun-temurun.


"Iya ayahku.. Hmm.... Evan.." Perkataan Regi terputus ia terlihat ragu.


"Kenapa?" Evan lebih penasaran dengan yang ingin di katakan Regi daripada alasan ayahnya yang memerintahkan untuk menjaga Elyn.


"Kenapa?" Tanyanya lagi yang kini mengeraskan suaranya.


"Aku rasa aku tidak berhak untuk ikut campur. Tapi jika itu kamu. Mungkin bisa" Ucapnya ambigu.


"Maksud kamu gmn Regi?" Tanya Evan yang tidak mengerti maksud ucapan Regi yang terdengar ambigu tersebut.


"Kamu dan Abelyn kan hubungan kalian sedikit renggang belakangan ini." Jawabnya masih dengan nada yang ragu.


"Ah.. Ini hal yang ingin aku tanyakan juga padanya. Tapi apa maksudnya berkata seperti itu. Aku sepertinya harus bertanya langsung pada Elyn." Gumamnya yang masih tidak mengerti maksud Regi.


"Pokoknya kamu bicara lah dulu dengan Abelyn aku tidak mungkin mengatakannya sebelum kamu bertanya pada Abelyn langsung." Ucapnya kali ini dengan tegas.


"Aku juga berencana begitu.." Ujarnya pada Regi dengan yakin.


Pada dasarnya Evan sudah berniat kali ini untuk bicara dengan Elyn tapi mendengar ucapan Regi barusan rasa penasarannya kian membesar.


"Sebenarnya ada apa dengan Elyn.." Evan bertanya-tanya dalam hatinya.

__ADS_1


Ayah dan Ibu Elyn keluar dari kamarnya. Begitu juga dengan dokter yang mengobati Elyn. Seketika Evan menghampiri mereka.


"Bagaimana keadaan Elyn." Tanyanya cemas


"Dia baik-baik saja. Saya sudah memberinya antibiotik dan pereda nyeri. Kakinya yang keseleo juga sudah di benarkan. Hanya saja dia harus hati-hati berjalan sampai kondisinya pulih total." Ucap dokter ketika melihat tatapan khawatir Evan.


"Iya.. Elyn sudah terlihat baik kok. Ia juga kembali ceria. Temui saja dia.. Elyn pasti senang ada kamu." Ucap ibu Elyn seraya membukakan pintu kamar Elyn.


"Ah iya Tante.." Ucapnya sambil mengangguk.


"Elyyyn... Ibu dan ayah akan mengantar dokter terlebih dahulu. Kamu akan di temani kak Evan ya nak.." Pamit kedua orangtuanya pada Elyn.


"Regi... Ayo.. Biarkan mereka dulu.." Ayah Elyn ikut mengajak Regi agar memberikan kesempatan mereka berbincang.


Evan dan Elyn kini tinggal berdua. Elyn tampak kaku dan canggung. Evan tahu jika di ingat lagi. Kesalahannya pada Elyn lebih besar. Dia juga janji pada ayah Elyn untuk tetap berada di sisi Elyn apapun yang terjadi.


"Sampai kamu bisa jadi menantu Om" Seketika kata-kata itu kembali terngiang di kepala Evan.


Uhhukkk... Evan tersedak karena malu sendiri


"Pikiran sialan..." Ujarnya yang tanpa sengaja terucap dari mulutnya.


"Maksud kakak..." Elyn menatap Evan dengan bingung. Matanya terbelalak kaget.


"Ah.. Bukan apa-apa.." Jawabnya sambil mendekati Elyn yang tengah duduk di ranjang.


Evan berjalan perlahan. Selangkah demi selangkah. Senyumnya tersirat lembut mendekati Elyn.


"Eelllyyn..." Ucapnya sangat lembut ketika berada tepat di depan Elyn.


Evan merendahkan tubuhnya. Hingga Evan pun kini berlutut di hadapan Elyn. Elyn yang masih terpaku heran dengan apa yang di lakukan Evan semakin tak bisa berkata-kata.


Evan yang berlutut itu memegang kaki Elyn perlahan dengan lembut.


"Kakimu jadi seperti ini Elyn..." Ujarnya dengan nada sedih.


"Ah.. Itu ti.. Tidak apa-apa.. Ini cuma.. " Jawab Elyn gugup.


Belum usai Elyn melanjutkan ucapannya. Seketika Evan mencium lembut pergelangan kaki Elyn yang sedari tadi di genggam lembut olehnya.

__ADS_1


__ADS_2