Hukuman Bagi Sang Pembunuh

Hukuman Bagi Sang Pembunuh
Paksaan


__ADS_3

"Elyyyyn....."


Bryyyyyur.....


"Gelap dan dingin.. Aku tidak bisa bernafas.. Aku tenggelam? Tubuhku! Tubuhku tidak bisa di gerakkan. Sakit.. Ayah Ibu.. Kak Evan.. Tolong aku.. Siapa saja ku mohooon."


Haah.. hah... hah...


Elyn terbangun dari tidurnya. Tubuhnya berkeringat. Nafasnya sesak. Ia melihat ke sekitar.


"Di kamar.." Elyn pun bergumam pelan. Dilihatnya jam dinding masih menunjukkan jam 3 malam.


"Masih jam segini.." Elyn merapikan selimutnya untuk kembali tidur. Masih sangat lama jika ia harus menunggu pagi. Ia pun kembali berusaha memejamkan mata untuk kembali tidur.


Namun, sekilas ia memejamkan mata ia akan teringat akan mimpi itu lagi. Karena ini sudah jam 3 malam. Tidak mungkin ayahnya akan ke kamarnya untuk menemaninya sampai tertidur. Ia pun hanya berdoa dalam hati agar bisa kembali tidur. Elyn pun tertidur dan sesekali terbangun. Tidurnya tidak nyenyak malam itu.


***


Keesokan harinya di pelabuhan. Evan menghampiri Elyn.


"Elyn, ada apa dengan matamu? Jangan bilang kamu tidak bisa tidur karena tidak sabar menunggu hari ini?" Ledek Evan pada Elyn.


"Hhhhiiih.. Aku tidak bisa tidur karena bermimpi buruk tahu kak" Jawab Elyn.


"Aku kira kamu terlalu bersemangat lagi. Sehingga tidak tidur tepat waktu." Evan mengulurkan tangannya, ia mengusap kepala Elyn.


"Nanti akan ku temani untuk tidur siang. Oke." Sahutnya lagi


Elyn mengangguk pelan. Ia tersipu dan membiarkan Evan mengelus kepalanya.


"Ayo kita masuk.. Kapal akan segera berangkat..!" Ayah Evan menggiring mereka masuk.


Rombongan mereka pun naik ke kapal tersebut. Tujuan pertama kapal ini adalah Negara Tronto di Benua Vadim. Butuh waktu sekitar dua hari perjalanan untuk menuju ke sana. Bisa dilalui satu hari jika menggunakan portal sirih. Tetapi mereka memang ingin berlayar sehingga menggunakan jalur umum saja sudah cukup.


Memang tidak biasanya acara karya wisata perusahaan menggunakan kapal pesiar. Biasanya perusahaan hanya menyewa hotel di tempat wisata dan mengadakan acara di sana.


Elyn tampak girang di atas kapal tersebut. Itu kapal yang sangat mewah.


"Kamu ingin melihat-lihat dan berkeliling di kapal?" Tanya kakek Wiko. Kakek Wiko adalah kakeknya Evan. Ia adalah pendiri dari Naratama Grup. Perusahaan dimana ayah Elyn bekerja.


"Evan.. Pergilah temani Elyn jalan-jalan.. Kembalilah sebelum jam makan siang. Mengerti.." Pinta kakek pada Evan.

__ADS_1


"Iya kek..." Jawab Evan


Evan meraih tangan Elyn. Mereka bergandengan tangan dan mulai berkeliling kapal.


"Anak itu, hanya tersenyum pada Elyn.." Ujar kakek Wiko.


Nevan Zahair Naratama adalah anak dari Reno Naratama. Sejak Ibunya meninggal Evan sering terlihat murung. Hingga suatu hari ia kembali tersenyum. Sejak ia bertemu dengan Elyn. Ia jadi punya tujuan hidup. Mungkin untuk melindungi Elyn. Tak heran Elyn memang terlihat rapuh dan sedikit ceroboh. Bukan hanya itu pembawaan Elyn yang ceria pun bisa mengembalikan keceriaan Evan.


"Kamu benar tidak mau jadi direktur Bima?" Tanya ayah Evan pada ayah Elyn.


"Aku hanya ingin lebih banyak waktu untuk keluargaku. Cukup mengurus outlet itu sajalah" jawab ayah Elyn.


"Hahahaha..." Kakek Wiko pun tertawa. Disusul dengan tawa lain dari ayah Evan tentunya.


Ayah Elyn adalah teman satu universitas dengan ayahnya Evan. Ia tapi lebih memilih untuk tetap di posisinya daripada mendapatkan jabatan sebagai direktur sesuai tawaran teman baiknya itu.


Ibu Elyn hanya bisa melahirkan Elyn saja. Itu karena ketika Elyn lahir. Ibunya harus ikut mengangkat rahim agar keduanya bisa selamat. Sehingga waktu bersama dan keberadaan Elyn sangat berharga bagi mereka. Ayah dan Ibu Elyn lebih memilih menghabiskan banyak waktu bersama daripada sibuk bekerja.


"Huwaa....."


"Waaaaaa.."


"Kereeeeen..."


"Aah..Cantik sekali.."


"Itu Apa?"


"Woooow.."


Elyn berseru tak henti-hentinya setiap ia melihat sesuatu yang indah dan menarik. Di sana banyak hal menarik pandangannya. Tentu saja itu karena kapal pesiar mewah, sudah pasti memiliki fasilitas yang mewah pula.


"Kak.. Lihat itu.. Keren.." Elyn menunjuk sebuah kolam renang. Ia tidak menyangka di kapal juga bisa tersedia kolam.


Evan hanya tersenyum. Ia sangat kelelahan. Karena Elyn tak henti-hentinya berlari kesana-kemari. Ia nyaris terjatuh di tangga jika Evan tidak menahannya. Dia hampir memecahkan lampu hias jika Evan tidak merebutnya tadi. Elyn sudah menguras habis energinya.


"Hentikan.. kamu bisa tercebur ke sana.. Kamu kan tidak bisa berenang Elyn.." Kali ini Evan juga harus menghentikan Elyn sebelum ia tercebur ke kolam dan membuat masalah.


"Kakak kan bisa berenang.. Kalau aku tercebur kakak harus menolongku.." Elyn berlari mendekati kolam itu.


"Kamu ya.. Dibilangin juga.." Evan tampak kesal.

__ADS_1


Elyn mengabaikan Evan yang mengomel. Ia pun mencipratkan air kolam renang itu pada Evan.


Evan yang sedari tadi sudah kesal itu membalasnya. Ia menciptakan air pada Elyn. Seketika mereka pun basah kuyup diselingi tawa riang mereka.


Haaatcciiim.. Elyn pun bersin.


"Udahan yuk.. Basah nih.. Nanti bisa di marahin ibu.." Elyn yang mulai merasa dingin pun akhirnya meminta Evan berhenti.


"Iya dech.. Kita harus segera mandi nih." Jawab Evan. Mengingat mereka harus berganti pakaian sebelum jam makan siang dimulai.


"Kamu harus mandi air hangat ya Elyn. Kalau tidak kamu bisa terkena flu." Timpalnya lagi yang kemudian mengkhawatirkan Elyn yang sudah basah itu.


Setelah mengganti pakaian mereka pun menuju ruang makan. Di sana sudah tersedia berbagai makanan dan minuman. Juga terdapat cemilan. orang dewasa berkumpul dengan orang dewasa. Anak-anak tentu saja mereka juga berkumpul di meja yang sama. Supaya lebih akrab. Begitulah maksudnya. Hanya Evan yang duduk terpisah. Ia duduk dan makan bersama kakek dan ayahnya.


"Abelyn, setiap tahun kamu selalu menempel pada Kak Nevan. Apa kamu bisa mengajak kami juga untuk bermain dengannya?" Pinta salah seorang anak di meja itu.


"Tinggal berteman saja. Kak Evan baik kok. Kenapa harus aku yang mengajaknya." Jawab Elyn


"Abelyn jadi kamu tidak membiarkannya. Kamu hanya mau Evan bermain denganmu. Kamu tidak suka dia bermain dengan kami. Jika kamu yang mengajaknya kan bisa lebih mudah dari pada kami yang mengajaknya. Kamu kan juga akan bermain dengan kami." Jawab anak itu ketus.


"Ituuu.." Elyn belum sempat melanjutkan ucapannya. Salah seorang anak di sana langsung memojokkan Elyn.


"Kamu benar-benar serakah Elyn. Memangnya dia itu kakak kandung mu?"


Elyn terdiam. Pasalnya ia juga tidak mempermasalahkan Evan bermain dengan siapapun. Menurutnya itu tergantung Evan sendiri. Jika ia ingin bersama siapapun ya biarlah Evan yang menentukan. Tidak perlu di paksa tanpa paksaan.


"Nanti sore jam 4.30 ajak dia di taman Kinkin. Kami berencana bermain dan minum teh di sana." Ujar Bella meminta pada Elyn.


Taman Kinkin adalah taman di atap kapal. Dia juga sudah melihat taman itu tadi bersama Evan. Di taman itu terdapat berbagai tanaman juga meja dan kursi yang cantik. Tempat yang memang sangat cocok sebagai tempat minum teh. Bahkan kabarnya di saat malam. Kita bisa nyaman melihat bintang dari sana.


Elyn mengangguk pelan. Ia pun tak menghabiskan makanannya, ia sudah tidak berselera. Ia memutuskan kembali ke sisi orang tuanya. Semua yang ada di sana larut dalam perbincangan yang panjang.


"Hahahaha.. Aku takut sekali tadi. Bagaimana jika tadi dia menangis" Ujar salah seorang anak tersebut.


"Dia benar akan mengajak Nevan kan. Kita harus berteman dengannya. Ayahku terus memaksa. Jika tidak aku akan di marahi lagi." Ujar Bella sedikit kesal.


"Tentu saja. Abelyn pasti mengajak Nevan" Jawab anak lainnya.


"Lagian dia itu sangat menyebalkan. Bagaimana bisa dia seakrab itu dengan Nevan. Dia bahkan memanggilnya Evan. Kita yang anak direktur saja tetap memanggilnya Nevan."


"Lihat saja.. Aku juga akan memanggilnya Evan sebentar lagi.." Ujar salah seorang anak.

__ADS_1


__ADS_2