
Evan meninggalkan Elyn yang tertidur di kamar. Pengaruh obat membuatnya semakin mengantuk dan akhirnya tertidur pulas.
"Elyn.. Maafkan aku. Kamu tidak akan begini jika bukan karena keegoisan ku." Evan menyelimuti tubuh Elyn. Ia menatap tajam kondisi tubuh Elyn.
"Elyn.. Kamu benar-benar tidak bisa di biarkan sendirian" Ujarnya lagi begitu melihat setiap luka di tubuh Elyn.
Evan meninggalkan kamar Elyn perlahan. Di depan pintu kamar tersebut. Ayah dan ibu Elyn sudah menunggu.
"Evan.." Ayah dan Ibu Elyn serentak menyebut nama Evan. Mereka menatap tajam Evan dengan penuh harap.
Mereka ingin mendengar cerita Elyn dari Evan. Mereka tak berani bertanya. Rasa sayang mereka membuat mereka ingin terlihat tegar di hadapan Elyn. Mereka tahu jika mereka terlihat khawatir dan resah. Elyn akan merasa bersalah dan semakin tidak menceritakan apa yang di alaminya.
Evan mengangguk pelan. Evan menatap ke dua orang tua Elyn. Ia semakin merasa bersalah telah egois dan mengabaikan Elyn. Sehingga Elyn menjadi terluka seperti ini.
Mereka memutuskan untuk mendiskusikannya di ruangan sebelah. Di ruangan ke dua orang tua Elyn.
Kedua orang tua Elyn yang duduk di sofa tersebut menatap tajam Evan dengan penuh harap. Menunggu Evan memulai pembicaraan saat itu.
"Maaf ya Om, Tante.. Ini semua terjadi karena keegoisan ku. Jika saja aku tidak mengabaikan Elyn. Mungkin hal ini tidak akan terjadi." Tutur Evan dengan segala penyesalan yang bertumpuk di hatinya.
"Tidak nak.. Tidak.. Tidak ada yang salah. Elyn memang terlalu kami manjakan juga. Sehingga dia bisa saja kesulitan jika sendirian." Ujar ayah Elyn sambil memegang tangan Evan yang gemetar karena penuh penyesalan.
"Iya Evan.. Benar itu. Tidak apa-apa. Kita semua memang hanya terlalu menyayanginya. Sehingga kita terlalu berhati-hati padanya" Lanjut ibu Elyn yang menenangkan Evan.
"Maaf.. Aku janji kedepannya akan terus menjaga Elyn sepenuh hatiku.." Evan berjanji pada kedua orang tua Elyn.
"Aku harus menebus kesalahanku dengan menjaga Elyn sepenuh hati kedepannya. Aku tak mau lagi melihat Elyn yang terluka seperti ini." Tekad Evan dalam hati. Terlebih ia telah mendengar langsung cerita Elyn yang membuatnya semakin merasa bertanggung jawab.
"Awalnya Elyn sempat terluka ketika mencari ku sebelum pesta tersebut dimulai. Kakinya lecet dan pakaiannya kusut." Dengan suara yang bergetar Evan menceritakan apa yang ia dengar pada kedua orang tua Elyn.
"Ini bukan sepenuhnya salahmu nak.." Ayah Elyn memegang erat tangan Evan dengan mata yang berkaca-kaca.
__ADS_1
"Elyn mencoba kembali ke kapal. Ia pikir mungkin akan sempat mengganti pakaiannya jika dia kembali ke kapal saat itu" Ucap Evan terbata-bata.
Evan menarik nafas panjang. Ia tertunduk semakin dalam. Penuh sesal, sedih dan emosi lainnya yang berkecamuk menjadi satu.
"Elyn berjalan sendirian untuk kembali ke kapal. Kakinya semakin lecet di sana-sini. Elyn sampai di kejar anjing liar. Ia sempat jatuh beberapa kali dan pasti dia sangat ketakutan." Air mata Evan kini sudah membasahi pipinya. Ia membayangkan betapa menakutkannya di posisi Elyn. Ia bisa membayangkan tubuh Elyn yang kecil itu gemetar ketakutan.
Ibu Elyn sudah menangis terisak mendengar cerita Evan tentang putri satu-satunya tersebut. Ia mengusap lembut pipi Evan. Untuk sama-sama memenangkan hati mereka.
"Ia bilang ia diselamatkan oleh seseorang. Ia bahkan memberikan Elyn makanan dan mengantarkannya juga kembali ke kapal." Lanjut Evan dengan suaranya yang semakin serak.
"Aku tidak berani bertanya lebih.. Aku takut ia malah mengingat kenangan buruk itu.. Ini salahku. Seandainya aku tidak membuatnya mencari ku." Evan terisak dan sangat menyalakan dirinya.
"Elyn memang tidak bisa di biarkan sendiri. Dan ini bukan salahmu sepenuhnya Evan. Kita semua yang sudah lalai.. Sudah kedepan kita harus menjaganya lebih baik lagi." Ucap ibu Elyn lagi yang melihat Evan menangis terisak.
"Evan.. Kami tahu bagaimana kamu sangat menyayangi Elyn. Kami tahu jika Elyn juga sangat berharga untukmu.." Timpal ayah Elyn sembari menepuk pundak Evan.
"Aku akan menjaganya lebih baik lagi." Evan kembali berjanji.
"Kita harus tetap ceria di hadapan Elyn. Jangan buat dia semakin terbebani. Ia tahu jika kita pasti mengkhawatirkan dirinya. Sehingga dia hanya bercerita singkat." Sambung ibu Elyn yang sangat mengenal sifat putrinya tersebut.
"Iya.. Aku akan berusaha membuat Elyn kembali ceria dan melupakan pengalaman buruknya." Sambut Evan penuh tekad.
"Jangan menyalahkan dirimu sendiri Evan.." Ayah Elyn mengangguk pelan dan tersenyum tipis.
Ibu Elyn ikut mengangguk mengiyakan pernyataan suaminya tersebut.
"Kembalilah ke kamarmu. Tenangkan dirimu juga ya Evan.. Besok kita harus menyambut Elyn dengan ceria." Lanjut ayah Elyn.
Evan kembali ke kamarnya dengan langkah berat. Ia terlihat sangat penuh penyesalan. Masih terlintas cerita Elyn ketika di pikirannya. Tatapannya kosong. Tubuhnya ikut lemas.
"Aku akan terus menjagamu Elyn" Ucapnya berulang-ulang di sepanjang perjalanan menuju ruangannya.
__ADS_1
***
"Ayah.. Elyn pasti sangat ketakutan kan.." Ibu Elyn yang sedari tadi resah kini menumpahkan semua kegelisahannya di pelukan suaminya. Selepas Evan meninggalkan ruangan tersebut.
"Tubuh kecilnya itu.. Aku tidak bisa membayangkannya di kejar anjing liar ayah.." Ibu Elyn semakin terisak. Ia membayangkan putrinya yang gemetar ketakutan.
Ayah Elyn memeluk istrinya dengan erat. Ia mengusap pundak istrinya dan menghapus air mata di pipi istri tercintanya tersebut.
"Sudah Bu.. Yang penting Elyn selamat. Tuhan masih menyayangi putri kita Bu.. Kita jangan membuat Elyn semakin terbebani ya Bu.." Ucap ayah Elyn.
"Aku selalu memohon pada Tuhan agar anak kita selalu di beri keselamatan yah. Dia harta kita satu-satunya yang paling berharga." Ibu Elyn kini sudah mulai tenang.
"Kita juga harus berterima kasih pada yang menyelamatkan Elyn." Ucap ayah Elyn yang sangat berterimakasih karena putrinya terselamatkan.
"Iya ayah.. Kita harus mencarinya dan berterimakasih dengan benar." Sambut ibu Elyn.
"Ummms... Ayah.. Evan pasti sangat merasa bersalah.." Lanjut Ibu Elyn mengingat ekspresi Evan tadi.
"Iya.. Dia terlihat sangat menyesal dan berkali-kali berjanji menjaga anak kita Bu. Sepertinya dia benar-benar sangat tulus menyayangi anak kita ya Bu.." Ucap ayah Elyn mengiyakan pendapat istrinya.
"Iya.. Syukurlah banyak yang menyayangi Elyn Bu.. Evan juga pasti sama cemasnya seperti kita." Lanjut ayah Elyn lagi.
"Iya yah.. Dia benar-benar tulus.." Ucap ibu Elyn.
"Semoga dia juga tidak terbebani ya yah.." Ibu Elyn melanjutkan perkataannya.
***
Kapal kembali melaju tepat tengah malam dari Vadim. Mereka kembali berlayar. Kini karena acara resmi sudah usai. Tinggal waktunya jalan-jalan. Semua orang tak sabar menantikannya. Waktu bebas yang bisa di nikmati semua orang.
Kini tujuan pelayaran mereka berikutnya adalah Benua Ardima. Benua yang di penuhi oleh beraneka ragam makanan.
__ADS_1