Hukuman Bagi Sang Pembunuh

Hukuman Bagi Sang Pembunuh
Khawatir


__ADS_3

Sepanjang perjalanan hati Evan berdetak tak karuan. Mengingat perbuatannya pada Elyn. Ia juga khawatir bukan main dengan kondisi Elyn.


"Semoga dia tidak kenapa.." Gumamnya yang terus berlari menuju kapal.


Setibanya Evan di depan pintu kamar Elyn. Dia masih terengah-engah karena berlari cukup jauh menuju kapal untuk menemui Elyn. Dilihatnya Elyn yang tertidur pulas. Serta orang tuanya yang duduk di samping Elyn sedang menepuk-nepuk pundak Elyn.


"Elyn..." Evan memanggil nama Elyn dengan lembut yang masih berdiri tegak di depan pintu. Sambil mengatur nafasnya.


"Oh, Evan.. Syukurlah Elyn ternyata sedang tidur di kamarnya. Ketika kami menemukannya Elyn sudah disini dan tertidur pulas" Ujar ayah Elyn yang merasa lega putrinya sudah ditemukan.


"Hmmm.. Iya Tante. Apa Elyn baik-baik saja ya?" Tanya Evan penuh rasa khawatir.


"Itu... Sepertinya Elyn sedikit terluka. Kakinya lecet dan berdarah. Tante juga tidak berani membangunkannya." Jawab ibunya Elyn yang bersiap-siap untuk mengobati luka di kaki Elyn.


Hati Evan terasa tercabik-cabik. Dilihatnya dengan seksama kaki Elyn yang merah terluka. Pakaiannya yang kusut dan rambut yang acak-acakan.


"Elyn berantakan begitu? Apa karena dia tidur atau dia pulang dengan keadaan begitu ya?" Evan bertanya-tanya dalam hati.


"Uuuuhhhgt... " Elyn menarik kakinya yang tengah diobati ibu Elyn. Mungkin karena pedis. Tapi Elyn tak kunjung bangun dari tidurnya.


Mereka memutuskan membiarkan Elyn tertidur lebih lama. Semua merasa cemas dan khawatir.


"Tante, apa Elyn sudah makan?" Tanya Evan yang mengingat Elyn menghilang ketika acara baru di mulai.


"Ya Tuhan... Sampai lupa.. Kita sibuk khawatir Sampai lupa hal yang paling penting" Ujar ibu Elyn yang tersentak kaget mendengar pertanyaan Evan.


"Biar Ayah ambilkan saja Bu.. Ibu temani Elyn saja di sini nanti kita bangunkan jika makanan sudah siap." Sahut ayah yang buru-buru menuju restoran untuk memesan makanan.


"Mereka pasti lebih khawatir pada Elyn daripada aku.." Evan tertunduk dan bergumam dalam hatinya. Ia tak ingin menganggu suasana saat ini. Orangtua Elyn pasti lebih khawatir.


"Tante, Evan kembali ke acara dulu ya.. Kabari Evan juga jika Elyn sudah bangun.." Pamit Evan pada orangtua Elyn.


"Oh, ya sudah Evan.. Sampaikan pada kakek dan ayahmu kami pamit dari pesta lebih dulu serta tidak bisa ikut sampai pesta usai.." Ujar ibu Elyn dengan nada tak ingin mengecewakan kakek dan ayah Evan.


Evan memutuskan mengurungkan niatnya untuk meluruskan kesalahpahaman itu. Ia membiarkan Elyn bersama keluarganya terlebih dahulu. Dia merasa tak berhak mengganggu kedua orangtua yang juga butuh penjelasan dan pasti lebih khawatir pada Elyn.


"Evan... Sudah mau pergi?" Tanya ayah Elyn yang berpapasan di depan pintu kamar Elyn sembari membawa banyak makanan dan beberapa cemilan.

__ADS_1


"Iya om..." Jawab Evan sambil tersenyum tipis.


"Nanti jika Elyn bangun, Om akan langsung mengabari kamu.." Ujar ayah Elyn yang mengetahui jika Evan juga pasti mengkhawatirkan Elyn.


"Iya om.. Tolong ya.." Jawabnya sambil tertunduk.


Evan kembali ke hotel dan melanjutkan pesta tersebut.


"Kak Evan.. Dari mana saja?" Bella tiba-tiba menghampiri Evan dengan senyum yang cerah merekah.


"Oh.. Sebentar ya.. Aku ada urusan" Jawab Evan ketus. Mencoba menghindari Bella.


Bella menggerutkan keningnya. Ia semakin bingung Evan menjadi lebih dingin padanya. Padahal sebelumnya Evan sudah mulai baik padanya.


"Apa karena Elyn yang hilang? Dia itu.. Selalu saja bisa cari perhatian orang. Apa lagi pada Evan" Gerutu Bella yang kesal di acuhkan oleh Evan.


"Kamu ngapain ngikutin aku?" Tanya Evan tiba-tiba. Ia terlihat kesal karena diikuti Bella kemanapun dia melangkah.


"Kan kakak yang bilang jangan jauh-jauh, dan temani kakak sampai pesta ini usai." Jawabnya dengan polos.


"Oh iya kak.. Nanti jadi kan kita ke pasar dan lihat-lihat pasar malam di sini." Timpal Bella lagi yang tak ingin melewatkan kesempatan memastikan janji mereka.


"Aduh, padahal aku menyetujui itu karena ada Elyn. Aku ingin Elyn kesal. Tapi tadi aku juga meninggalkannya begitu saja.. " Gumam Evan yang sedikit merasa bersalah karena meninggalkan Bella tiba-tiba.


"Iya baiklah.." Jawabnya pada Bella singkat. Dia tidak mungkin mengabaikan Bella lagi. Bisa-bisa dia mendapat citra buruk jika memperlakukan Bella seenaknya dan memanfaatkannya hanya untuk membuat Elyn marah.


"Lagian dia membahas itu terus tak ada salahnya sih.. Tapi nanti aku mau bertemu Elyn.. Apa tidak apa-apa ya.." Evan tampak ragu akan ucapannya sendiri.


"Kak nanti tunggu di bawah jam ya.. Disana pasti banyak di jual berbagai macam hal yang unik." Tutur Bella dengan semangat membara. Tampak kebahagiaan terukir di wajahnya.


"Ah iya... Senjata... Pas sekali apa aku belikan saja sekalian untuk meminta maaf." Pikir Evan yang sontak mengingat jika Elyn pernah membahasnya. Evan berpikir mungkin Elyn akan lebih mudah memaafkannya jika Evan membawakan hadiah.


"Oke sampai jumpa ya.. Aku harus menemui kakek dan ayah dahulu.." Pamit Evan pada Bella dan langsung menghampiri kakek dan juga ayahnya.


"Kakek, Ayah.... Elyn sudah ketemu. Tante dan Om meminta maaf tidak bisa ikut serta sampai pesta ini usai" Ujar Evan menyampaikan pesan orangtua Elyn.


"Bagaimana keadaannya, apa dia baik-baik saja?" Tanya Ayah Elyn yang juga menghawatirkan Elyn.

__ADS_1


"Bagaimana bisa dia menghilang?" Timpal kakek sebelum Evan menjawab pertanyaan ayahnya.


Mereka pasti khawatir mengingat kedekatan Elyn dan Evan juga. Tetapi mereka adalah tuan rumah. Tidak mungkin meninggalkan pesta jika itu bukan keadaan darurat. Tapi... Sebagai gantinya Kakek dan ayah Evan sudah mengerahkan anak buah mereka untuk ikut mencari Elyn.


"Elyn tertidur ketika orangtuanya menemukannya di kapal. Aku tidak berani mengganggu mereka. Orangtua Elyn juga pasti khawatir. Dan lagi....." Perkataan Evan terhenti. Ia tertunduk dengan tatapan yang sedih.


Kakek dan ayahnya hanya menatapnya. Ia memberi kesempatan Evan untuk mencoba menceritakan kegalauan hatinya. Mereka tahu jika Evan juga yang paling mengkhawatirkan Elyn.


"Sepertinya itu salahku.. Aku sudah kasar padanya. Elyn mungkin kabur dari pesta semua karena aku.." Lanjutnya dengan suara bergetar penuh penyesalan.


"Evan.. Sayang.. Kamu sudah coba bicara dengan Elyn?" Tanya ayahnya yang mencoba menenangkan emosi putranya yang tampak sedih itu.


"Belum" Evan menggelengkan kepalanya perlahan.


"Kamu harus coba bicara. Dan meminta maaf pada Elyn dengan baik. Dia pasti akan memaafkan mu" Nasihat ayahnya.


"Iya ayah..." Jawab Evan sembari mengaggukkan kepalanya.


Pesta yang masih berlanjut itu tampak meriah. Acara hiburan silih berganti. Namun berbeda bagi Evan dia merasa sedikit sepi dan hampa karena tidak ada Elyn disisinya.


"Elyn.. semoga kamu baik-baik saja.. Tunggu aku.." Gumam Evan yang masih saja memikirkan Elyn.


Pesta itupun hampir usai. Kini jam makan malam pun tiba. Acara penutupan ditutup dengan makan malam bersama.


"Sampai sekarang belum ada kabar?" Evan yang mulai kesal karena belum mendapat kabar Elyn.


"Ummmm... Mungkin orangtua Elyn sibuk menjaga Elyn dan lupa menyampaikan padaku! " Seru Evan meyakinkan dirinya.


"Evan, Elyn baik-baik saja. Dia bilang kakinya lecet jadi malas ikut pesta dan memutuskan kembali ke kapal untuk istirahat. Dia juga sudah makan. Katanya ada pelayan kapal berambut merah memberinya makanan ketika ia tiba di kapal sendirian. Dia juga meminta maaf sudah membuat orang-orang khawatir padanya." Tiba-tiba Regi menghampirinya dan menjelaskan panjang lebar kondisi Elyn.


"Oh.. Iya..." Jawab Evan singkat.


"Lagi-lagi Regi.. Dia juga yang duluan tahu kabar Elyn." Evan yang kesal karena tahu kabar Elyn belakangan mulai menggerutu.


"Huuuuuft... Tapi aku harus dengar penjelasan dari Elyn langsung.." Gumamnya dengan penuh tekad.


Evan bertekad kali ini ia tidak boleh lagi menunda. Jika tidak dia merasa hubungannya dengan Elyn akan berakhir.

__ADS_1


__ADS_2