
Kedua orang tua Elyn pergi untuk mengemas beberapa perlengkapan yang mungkin di perlukan oleh Elyn. Kalau-kalau Elyn nantinya akan di pindahkan dari kapal ini.
Ayah Evan dan kakeknya sibuk memandu para karyawan lain untuk mengungsi ke pulau terdekat. Rory dan ayahnya yang ikut mempersiapkan seluruh karyawan mereka.
Para dokter berdiskusi di ruang rapat membahas kondisi Elyn dengan beberapa utusan penyihir dari menara sihir. Sebagian penyihir membantu menjaga portal sihir dan membuat kubah pelindung di pulau.
Penyihir agung menjelaskan dan meyakinkan jika tidak ada hal buruk yang terjadi. Hanya saja demi kenyamanan dan keamanan para penumpang harus di ungsikan terlebih dahulu. Meski terkesan berlebihan. Yang lain menerima hal tersebut mengingat Elyn memang sangat di sayang oleh keluarga Naratama.
Semua orang jelas terlihat sibuk, satu persatu dari mereka meninggalkan ruangan tersebut. Kini hanya tinggal Evan dan Elyn di ruangan tersebut. Meski penjaga tetap berjaga di depan pintu.
Semakin lama kesadaran Evan mulai kembali. Kini ia nyaris pulih sepenuhnya. Meski masih merasa lemas di seluruh tubuhnya namun ia sudah bisa bangkit dan duduk di samping Elyn.
"Elyn.. Apa yang harus aku lakukan jika sesuatu terjadi padamu.?" Evan memegang lembut jemari Elyn. Ia terlihat sangat sedih.
Elyn masih tak bergeming. Hanya suara nafas yang terdengar olehnya. Serta bekas air mata yang mengering di pelupuk matanya.
Huuuuuft...
Evan menghembuskan nafas panjangnya. Ia menatap Elyn dengan segala pikiran yang terus berputar.
Evan menyentuh pipi Elyn. Ia terlihat kesakitan meski dalam keadaan tidur. Tangan dingin Evan membuat Elyn bergerak halus. Seakan menyambut sentuhan Evan.
"Elyn.. Akan ku lakukan apapun untukmu" Bisiknya lembut di telinga Elyn.
Ngiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing......
"Aaaaaaa..." Rintihan Evan yang Tiba-tiba saja telinganya berdengung keras. Ia memegang kedua telinganya erat-erat dan menutup kedua matanya. Suara itu sungguh menganggu.
"Kamu sungguh akan melakukan apapun untuknya?" Tiba-tiba saja suara besar menggelegar di telinganya.
Evan tersentak. Evan segera bangkit dari duduknya. Ia berdiri tegak. Namun ia sekali lagi terkejut. Ia berada di ruangan gelap dan hanya ada dirinya dan Elyn yang tertidur di ranjang. Evan dengan sigap memeluk tubuh Elyn yang masih terpejam itu.
"Kamu sungguh akan melakukan apapun untuknya?" Suara besar yang menggelegar itu kembali terdengar.
Evan tampak bingung. Ia semakin erat memeluk tubuh Elyn.
"Siapa kamu?" Dengan kebingungan dan ketakutan yang menyelimuti Evan mencoba memberanikan dirinya.
"Aku bisa menyembuhkannya jika kamu mau melakukan sesuatu untukku." Ucapnya dengan suara besarnya.
"Aku tidak percaya.. Kembalikan kami" Teriak Evan.
"Dia sungguh dalam keadaan yang buruk. Jika kamu mau melakukan sesuatu untukku aku akan membuatnya kembali pulih."
__ADS_1
Tubuh Evan gemetar. Ia terlihat sangat ketakutan. Bukan takut terjadi sesuatu padanya. Namun karena ada Elyn di sisinya saat ini.
"Elyn... " Ucapnya lirih.
"Aku tak percaya... Kembalikan kami.." Teriaknya lagi.
"Hahahaha.. Pertimbangkan lah dulu.." Suara itu semakin samar.
Evan masih memeluk erat Elyn. Namun lambat laun kegelapan itu akhirnya memudar. Ia kini kembali ke ruangan tempat Elyn di rawat. Perlahan Evan turun dari ranjang Elyn. Ia merapihkan selimut Elyn.
"Yang tadi itu apa?" Tangannya masih gemetar atas pengalamannya tadi.
"Apa itu sihir? Lalu siapa dia?" Pikiran Evan kembali melayang.
***
"Maafkan aku.. " Ucap Evan lirih pada kedua orang tua Elyn. Begitu mereka kembali ke ruangan tersebut.
"Tidak.. Ini bukan salahmu nak.." Ibu Elyn mengusap pundak Evan.
"Kita doakan ia baik-baik saja. Jangan menyalahkan dirimu ya.." Ayah Elyn kembali menenangkan Evan. Mereka tahu betul sifat Evan. Ia pasti akan kembali terpuruk dan menyalahkan dirinya sendiri.
Evan hanya tertunduk. Ia diam sejenak dan kembali menatap Elyn. Ia segera duduk di samping Elyn dan memegang jemari Elyn dengan kedua tangannya.
Diwaktu yang sama Penyihir agung datang bersama yang lainnya. Begitu pintu terbuka. Mata penyihir agung terbelalak kaget.
"Maaf sebentar.." Pamit Terry dan mengajak anak buahnya menjauh dari Elyn.
Mereka terlihat berdiskusi serius. Sesekali samar-samar terdengar suara teriakan Terry yang memarahi anak buahnya.
"Maaf ya.. Saya sudah bertindak kurang sopan" Ucapnya sambil tersenyum ketir. Menatap kedua orang tua Elyn.
Terry sang penyihir agung sebenarnya terkejut melihat kondisi Elyn yang cukup aneh. Ia marah karena bahkan penyihir dari menara sihir tak bisa mengetahui keanehan tersebut.
"Haduh... Apa-apaan ini.. Bagaimana bisa justru Medan Energi ini ada di ruangan ini?" Terry merasa firasat buruknya tadi kini menjadi nyata.
"Bagaimana aku menjelaskan pada mereka." Gumamnya sembari memutar otaknya. Ia berpikir keras.
"Maaf bagi yang tidak berkepentingan sebaiknya meninggalkan ruangan ini terlebih dahulu." Ucapnya tegas.
"Jika sekecil ini wajar saja jika aku tidak merasakannya lagi jika tidak melihat pusaran energi tadi." Gumam Terry mengingat ia nyaris tak merasakan lagi Medan Energi. Awalnya ia berfikir itu karena Medan Energi sudah jauh tertinggal di lautan lepas. Namun ia sangat tidak menyangka jika Medan tersebut berada di ruangan sempit begini.
"Haaaah.. Aku tak bisa menyalahkan penyihir lainnya. Mereka memang tidak bisa melihat Medan Energi jika sekecil ini." Gerutunya yang tak bisa marah pada anak buahnya yang salah menganalisa kondisi Elyn.
__ADS_1
"Kenapa tidak ada yang pergi?" Teriaknya lagi.
"Cepat pergi bagi yang tidak berkepentingan." Terry kembali bersikeras.
Semua orang tertunduk dan tak bergerak. Hanya dokter dan penyihir lain yang meninggalkan ruangan tersebut.
"Aduh.. Apa-apan para manusia keras kepala ini" Kesal Terry sambil memijat keningnya. Ia memutar otaknya lagi agar mereka mau meninggalkan ruangan tersebut.
"Saya akan memeriksa anak ini. Lebih baik jika tinggalkan saja kami berdua." Ucapnya dengan nada rendah. Ia memendam emosinya yang tadi sudah meledak-ledak.
Kakek Evan dan ayah Evan akhirnya pamit dan memutuskan untuk mengurus karyawan lain yang mungkin sedang panik karena tiba-tiba di suruh untuk mengemas pakaian sementara dan pindah ke pulau terdekat dengan bantuan teleportasi para penyihir.
"Maaf.. Saya tahu jika kalian khawatir tapi aku harap kalian mempercayakan Elyn padaku." Pintanya agar kedua orang tua Elyn juga ikut pergi meninggalkan anak mereka.
"Tuan, nyonya.. Saya akan langsung mengabari jika sudah memeriksanya. Saya mohon pengertian dan kepercayaan anda.."
Kedua orang tua Elyn mengangguk pelan dan melangkahkan kakinya dengan berat keluar dari ruangan tersebut.
"Looh.. Kamu tidak keluar." Tuturnya heran begitu melihat Evan yang masih saja menggenggam erat tangan Elyn.
"Apapun yang terjadi aku akan tetap disini.." Ucapnya tegas dengan tatapannya yang tajam.
"Haduh.. Ini pasti repot. Aku benar-benar malas berurusan dengan anak kecil yang keras kepala" Terry terlihat kesal.
"Hey.. Aku harus membuka pakaiannya loh untuk memeriksa kondisi Elyn. Kamu yakin masih tetap disini dan melihatnya tanpa busana." Tegas Terry sambil tersenyum licik.
"Hayo.. Kali ini kamu pasti malu dan meninggalkan ruangan ini kan.." Terry menemukan ide liciknya untuk mempercepat kepergian Evan.
Wajah Evan memerah. Ia tersipu malu. Sangat jelas apa yang di katakan Terry mempengaruhinya.
"Aaa.. Aku tetap di sini. Aku tidak akan membuka mataku kok.." Ucap Evan terbata-bata.
"Aaarrrrgt.. Dasar anak kecil menyebalkan. Apa harus aku hipnotis saja bocah ini biar cepat.." Terry jelas terlihat kesal. Ia sangat tidak menyukai berurusan dengan anak-anak. Terry merapal sebuah mantra. Ia kemudian menunjuk Evan.
"Sekarang kamu pergi, tinggalkan kapal ini dan bergabunglah bersama orang tuamu" Ucap Terry percaya diri.
Namun Evan tidak bergeming. Ia memegang erat tangan Elyn dan menatap tajam Terry.
"Tidak mau.." Ucapnya sambil menggelengkan kepala.
Terry terkejut. Bagaimana bisa anak ini tidak terpengaruh sihir hipnotis. Ia mengulangi sihirnya. Namun lagi-lagi tidak mempan terhadap Evan.
"Anak ini aneh. Aku harus menganalisanya. Apa anak ini tidak bisa di sihir. Hari ini sungguh aneh. Ada anak yang tak mempan disihir dan ada anak yang dibselubungi Medan Energi. Aku penasaran dengan anak itu. Tidak ada orang yang tak terpengaruh sihir. Tapi dia begitu murni sihir tak bisa merasukinya. Hah,,Tapi Elyn jauh lebih bahaya. Aku sungguh ingin segera memeriksa apa yang terjadi pada Elyn. Bagaimana caraku mengatakannya dalam bahaya jika dia tetap disini." Pikirannya bergejolak tak karuan.
__ADS_1
"Ayolah.. Anak ini dalam keadaan bahaya. Aku mohon tinggalkan kami." Ucap Terry lirih.
Evan yang mendengar itu tertunduk sedih. Ia menuruti perkataan Terry tanpa kata-kata lagi dan langsung melangkah keluar.