Hukuman Bagi Sang Pembunuh

Hukuman Bagi Sang Pembunuh
Kaki Elyn


__ADS_3

* Beberapa Saat Sebelumnya


Elyn memandang Evan yang berjalan perlahan sambil tersenyum menghampirinya.


"Ah.. Kak Evan.. Aku harus gimana ini. Ia mendekat.." Gumam Elyn yang melihat Evan mendekatinya.


Elyn masih merasa canggung dengan kehadiran Evan. Selama Elyn menghilang. Elyn banyak merenungkan segala tindakannya. Elyn pun menyadari akan kesalahannya.


Ia sadar jika ia pernah menghindari Evan ketika di hari pertama mereka berlayar dan memilih bersama Regi. Elyn ingat dia bahkan berbohong pada Evan ketika mereka sarapan di taman Jasmin. Elyn merasa yakin jika Evan menyadari itu dan marah padanya karena hal tersebut.


Semua dia yang mulai duluan. Awalnya semua baik-baik saja. Tapi sejak itu hubungannya dan Evan semakin renggang. Elyn sangat yakin akan kesalahannya yang memulai semua kecanggungan itu. Selama ia menghilang Elyn sudah bertekad akan meminta maaf karena sudah menghindari Evan dan juga berbohong. Padahal Elyn bukanlah orang yang suka berbohong. Namun ia sendiri bingung kenapa dia berbohong pada Evan saat itu.


"Eelllyyn..." Ucapnya dengan sangat lembut sambil menatap kedua bola mata Elyn. Seraya memecahkan lamunan panjang Elyn.


"Kak Evan memanggil namaku dengan lembut begitu.. Apa dia sudah tidak marah lagi.. Tapi... Aku tetap harus minta maaf dengan benar padanya kan. Kak Regi juga pernah bilang untuk menyampaikan semuanya pada kak Evan" Pikir Elyn lagi begitu mendengar Evan memanggil namanya dengan sangat lembut.


Evanpun merendahkan tubuhnya perlahan. Hingga ia berlutut di hadapan Elyn. Itu membuat Elyn yang sedari tadi larut dalam lamunannya semakin terheran-heran dan tak bisa berkata apa-apa.


"Kak Evan mau ngapain.." Pikirnya dalam hati melihat Evan yang sudah berlutut di hadapannya itu. Matanya berkedip dengan cepat.


Perlahan tangan Evan dengan lembut menyentuh kaki Elyn. Tangannya terasa dingin yang kemudian menjalar ke seluruh telapak kaki kanan Elyn.


"Hmm... Apa kak Evan khawatir dengan kaki ku ya.. Duh.. Tangganya dingin sekali. Gimana nih... Masa iya dinginnya sampai membuat semua usus di perutku seolah menari-nari begini." Gumam Elyn yang merasakan dinginnya tangan Evan juga membuat semua ususnya ikut tergelitik.


"Kakimu jadi seperti ini Elyn..." Ujarnya dengan nada sedih. Sambil menatap tajam tumit Elyn yang terluka. Ia memandang ke kaki kiri Elyn. Yang dibalut perban. Tanda bahwa kaki itu tidak boleh di gunakan sembarangan karena baru tahap penyembuhan dari keseleo dan harus berhati-hati.


Kini kaki kanan Elyn sudah di genggam sepenuhnya oleh Evan. Elyn yang bingung dengan semua hal itu menjadi salah tingkah. Telapak kakinya tepat di atas telapak tangan Evan. Satu tangan Evan lagi memegang pergelangan kaki Elyn.


"Ah.. Itu ti.. Tidak apa-apa.. Ini cuma.. " Jawab Elyn gugup. Belum lagi Elyn menyelesaikan ucapannya.


Cup.........


Seketika Evan mencium pergelangan kaki kanan Elyn dengan lembut.


"Pasti sakit.. Maafkan aku.. Kamu jadi begini karena aku. Aku sudah bertindak terlalu egois tanpa menanyakan apapun padamu Elyn. Seandainya aku tidak menepis tanganmu. Kamu pasti tidak akan seperti ini.." Evan menggosokkan pipinya di kaki Elyn. Ia sangat menyesali perbuatannya tersebut.


***

__ADS_1


Evan menatap wajah Elyn dengan mata yang berkaca-kaca penuh kekhawatiran dan memelas. Elyn yang juga menatap wajah Evan masih membeku kaku penuh keheranan.


deg


deg


deg


"Eh, apa yang terjadi tadi.." Elyn bingung sambil terus menatap Evan. Jantungnya berdegup kencang.


"Aku siapa, lagi dimana, sedang apa?" Elyn berpikir keras dan kemudian bayangan Evan yang mencium kakinya kembali terlintas


Kesadaran Elyn pun mulai kembali. Ia mengingat jelas Evan yang mencium kakinya. Bekas bibir Evan yang dingin itu masih terasa di pergelangan kaki kanannya.


"Kak Evaaaan.... " Teriaknya sambil berusaha bangkit namun kakinya masih sedikit nyeri.


Bbbbuuuuuk..


"Aaaaak.... " Teriakan Elyn dan Evan pun menggema di ruangan tersebut.


Evan terkejut. Ia juga bingung dengan apa yang terjadi. Dilihatnya Elyn yang sudah tertidur dengan kaki kanannya terangkat ke atas.


"Ah... Maaf..." Tiba-tiba Evan meminta maaf dan membalikkan badannya.


"Kenapa kak Evan meminta maaf. Kan aku yang menendang wajahnya." Gumam Elyn yang masih membeku itu.


"Elyn... Kaki mu..." Ucap Evan yang kemudian menutup mulutnya dengan punggung tangannya karena malu.


Elynpun tersadar dengan posisi kakinya yang terangkat ke atas itu.


"Aaaaa... Ya ampun.." Teriak Elyn seketika.


Begitu menyadari kakinya yang terangkat keatas sedangkan Elyn menggunakan gaun tidur yang tipis. Sehingga posisi tersebut terlihat sangat tidak nyaman.


Hahahahaha...


Mereka pun tertawa lepas akan kejadian konyol tersebut. Suasana kini semakin mencair.

__ADS_1


"Apa masih sakit kak.. Tadi wajah kakak ketendang olehku." Elyn bertanya pada Evan yang melihat wajah Evan memerah.


"Tidak kok.. Kamu tidak apa-apa? Sampai jatuh lagi. Kakimu tidak sakit lagi kan baru juga di obati?" Tanya Evan khawatir.


"Elyn sih tidak apa-apa.. Tapi wajah kakak merah begitu.." Ucap Elyn yang menatap tajam wajah Evan


"Duh.. Elyn.. Wajahku merah bukan karena ke tendang tapi karena melihat itu...." Gumamnya sambil mengingat kejadian tadi. Ia malah mengingat posisi kaki Elyn yang terangkat ke atas tadi. Evan tersenyum tipis mengenangnya.


"Ya Tuhan apa yang ku pikirkan.." Sentaknya dalam hati untuk menyadarkan dirinya dari pikiran konyol itu.


"Bener kok tidak apa-apa Elyn.." Ucapnya yang seraya duduk di samping Elyn.


"Ummmm... Kakak tidak jalan-jalan? Kan kakak akan ke pasar malam bersama Bella dan teman-temannya?" Tanya Elyn yang membuat perbincangan mereka menjadi serius.


"Tadi aku sudah pergi dengan mereka sebentar dan langsung kesini untuk menemui mu.." Jawab Evan sambil merapihkan rambut Elyn.


"Kakak sudah berteman baik dengannya kan.." Tanya Elyn antusias.


"Bukannya aku selalu berteman baik dengan siapapun!" Ujar Evan percaya diri. Ia yakin tidak pernah memancing permusuhan dengan siapapun termasuk anak-anak dari karyawan perusahaan Naratama Grup. Ia yakin betul telah menjaga wibawanya sesuai yang di ajarkan Kakek dan Ayahnya.


"Bella juga tadi jadi pasangan kakak ya?" Tanyanya lagi memastikan apa yang ia dengar di ruangan itu.


"Kenapa sih dia nanya Bella yang tidak penting itu. Dia tak menanyakan apapun tentang aku." Gerutu Evan yang mulai kesal dengan pertanyaan Elyn.


Melihat ekspresi Evan yang terlihat jelas jika ia sedang meredam emosinya itu Elyn pun langsung memeluk Evan.


"Syukurlah..." Elyn memeluk erat Evan. Kemudian ia mengusap-usap punggung Evan.


"Syukurlah kak Evan sudah akrab dengan Bella. Harusnya aku lega sih. Tapi rasanya kok sesak ya.. Tapi ya sudahlah. Setidaknya kelak Bella tidak marah lagi padaku. Ini semua juga salahku yang ingkar janji dan membuat kesal Bella." Gumam Elyn yang masih memeluk Evan.


Evan terdiam ia sedikit bingung dengan pelukan Elyn. Namun Evan menyambut hangat pelukan itu ia pun merangkul pinggang Elyn dan memeluknya.


"Elyn.. Maafkan aku ya.." Ucapnya seraya mempererat pelukannya pada Elyn.


Elyn mengangguk pelan. Evan merasakan anggukan itu di bahu nya.


"Iyaa..." Ucap Elyn lembut di telinga Evan.

__ADS_1


__ADS_2