
Sang Manager menerobos masuk ke kamar Rory. Anak pemilik kapal pesiar mewah tersebut. Rory sangat terganggu. Ia menggerutu tiada henti karena di bangunkan untuk menemui ayahnya.
Rory Roano Hein Ia memiliki tabiat yang sedikit unik. Melakukan hal sesuka hatinya. Membuat ayahnya tak bisa berkata apa-apa jika ia sudah mulai bertingkah.
"Tapi Tuan Muda.. Anda harus segera menemui Tuan Besar" Sang manager terlihat gugup.
"Apa sih.. Ngantuk nih.." Rory menggerutu begitu di paksa mengikuti Manager menemui ayahnya.
"Nanti aja kan bisa.. Emang ayah ada perlu apaan sih sampe maksa gini" Ia kembali menggerutu namun tetap berjalan mengikuti sang Manager.
"Maaf sekali tuan. Tapi ini hal yang penting dan tak bisa di tunda lagi." Sang Manager semakin sangat gugup.
"Apa sih.. Emangnya ada yang mau mati apa?" Kesal Rory yang merasa istirahatnya terganggu.
'Aaah.. Hmmm..." Manager tersebut kebingungan untuk memulai penjelasan dari mana. Gerak tubuhnya yang gugup itu membuat Rory berpikiran macam-macam.
Rory malah ikut merasa cemas setelah melihat ekspresi sang manager. Ia mempercepat gerak langkahnya. Di benaknya mungkin terjadi sesuatu pada ayahnya.
"Apa terjadi sesuatu dengan ayah?" Gumamnya penuh rasa cemas.
"Ayah tidak apa-apa?" Teriaknya begitu pintu ruangan tersebut terbuka.
Semua yang ada di situ terkejut mendengar suara teriakan Rory. Ia langsung menghampiri ayahnya. Mastikan kondisi ayah yang baik-baik saja. Ia memutar tubuh ayahnya dan mengeceknya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Pak David terlihat gugup dan hanya bisa mengikuti kemauan anaknya.
"Tenanglah Ry.. Ayah baik-baik saja.. Dengarkan ayah dulu.." Pak David mencoba menenangkan anaknya yang panik tersebut.
"Aaah.. Oke." Rory tampak sudah tenang mendengar ucapan ayahnya. Ia juga telah usai memeriksa kondisi tubuh ayahnya tersebut.
__ADS_1
"Eh.. Anak ini kan.." Pekiknya begitu melihat ke arah ranjang Elyn. Ia mendekati Elyn dengan perlahan.
"Kamu mengenalnya?" Tanya pak David melihat reaksi Rory tersebut.
"Yaa.. Aku menolong anak ini. Apa yang terjadi padanya kenapa dia malah jadi seperti ini?" Tanya Rory heran dengan kondisi Elyn yang tampak semakin buruk.
"Looh.. Kami mencari mu justru ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Kondisi anak ini sangat tidak baik." Pak David ikut heran dengan pernyataan anaknya tersebut.
"Tidak.. Dia baik-baik saja sebelumnya. Kondisinya tidak seperti ini. Dia hanya terluka biasa. dan hanya membutuhkan perawatan biasa. Selain syok yang di alaminya seharusnya dia baik-baik saja." Ungkap Rory yang masih heran.
"Maksudnya? Coba kamu jelaskan apa yang sebenarnya terjadi Rory?" Pinta Pak David.
Semua orang yang ada disana ikut penasaran dengan kejadian yang menimpa Elyn sebelumnya. Mereka semua diam seribu bahasa menanti cerita Rory dengan seksama.
"Aku menolongnya ketika ia terpojok di suatu gang. Aku mendengar suara tangisan dan teriakannya. Serta suara anjing yang menggonggong juga sangat nyaring terdengar. Beberapa orang hanya melihatnya tanpa berani mencoba menyelamatkan anak itu. Aku berusaha mengusir anjing liar yang tiba-tiba mengamuk itu. Ia nyaris di terkam oleh anjing tersebut. Anak ini pasti sangat ketakutan. Ia menangis terisak-isak. Aku memeriksa keadaannya terlebih dahulu. Dia tampak syok dan sedikit mengalami luka luar. Mungkin ada yang keseleo juga. Tubuhnya gemetar hebat, sehingga aku menggendongnya dan menenangkannya. Setelah tenang aku memberinya makanan. Ia bahkan menghabiskan makanannya waktu itu. Ia juga bercerita tentang tujuannya dan alasannya kenapa ia berjalan sendirian. Karena tujuan kita juga sama, aku mengantarnya sampai kapal dengan selamat. Aku bahkan mengantarkannya ke ruang kesehatan. Tapi di sana tidak ada satupun dokter dan anak itu menghilang. Aku tidak tahu dia kemana dengan kondisi seperti itu. Aku pikir dia mungkin sudah bersama orang tuanya." Cerita Rory panjang lebar.
Mereka menyaksikan cerita Rory dengan wajah tegang dan ekspresi yang mengkhawatirkan.
"Lalu kenapa dia bisa jadi seperti ini.." Tanya ayah Elyn kebingungan.
"Apa tidak ada kejanggalan selama kejadian itu?" Tanya pak David.
"Tidak yah.. Eh.. Tunggu.. Sangat jarang anjing liar itu mengejar seseorang apa lagi hingga terlihat ingin menerkamnya. Anjing tersebut terlihat sangat ganas dan kelaparan. Namun aku hanya mengira itu karena ia terluka dan anjing tersebut mencium aroma darah di kaki anak tersebut. Tapi, apa mungkin jika anjing tersebut dalam pengaruh sihir?." Rory yang tiba-tiba saja mengingat kejanggalan pada kejadian tersebut kini bertanya-tanya.
Hal itu sangat jarang terjadi. Anjing memang menurut pada tuannya. Kebanyakan orang memberikan batu sihir di kalung anjing peliharaan mereka sehingga wajar jika ada anjing yang memiliki aura sihir. Namun jika ada anjing tanpa kalung atau anjing liar yang memiliki pengaruh sihir itu pasti ulah para penyihir gelap.
Mendengar kata Penyihir Gelap semua yang ada di ruangan tersebut terdiam. Mereka tahu betul jika penyihir gelap memang sedang meresahkan seluruh dunia.
__ADS_1
"Jika memang ada sangkut pautnya dengan penyihir gelap kita harus melaporkannya pada menara sihir." Ayah Evan terlihat sangat cemas. Apalagi setelah mendengar hal tersebut.
"Lalu apa yang bisa kita lakukan pada Elyn yah?" Ibu Elyn kembali cemas.
"Kita harus memastikan dia tetap tertidur sampai kita keluar dari portal ini. Kemudian meminta tolong kepada Menara Sihir sekalian melaporkan hal ini" Ucap Rory dengan sigap.
Semua yang ada di sana kini mengkhawatirkan kondisi Elyn. Apalagi jika memang adanya keterlibatan penyihir gelap. Tentu saja itu membuat kekhawatiran semakin bertambah.
***
Evan masih setengah sadar. Ia masih di pengaruhi obat penenang. Meski tubuhnya lemas dan pandangan kabur. Evan masih bisa mendengar dengan jelas seluruh perbincangan mereka.
"Ya.. Tuhan.. Ini ternyata memang salahku. Seandainya aku tidak menepis tangan Elyn dan tetap menjadi pasangannya di pesta. Elyn pasti tidak akan mengalami hal ini." Pikirnya dengan segala sesal yang menyelimuti hatinya.
Ia ingin meronta. Berteriak keras. Ia ingin meraih tubuh Elyn yang terkapar lemas. Namun ia juga tak berdaya. Ia tak bisa apa-apa.
"Tuhan.. Apa yang harus aku lakukan untuk menebus semua ini?"
"Aku bersumpah akan melakukan apapun untuk Elyn."
Evan tak hanya mengutuk dirinya berkali-kali. Ia juga bersumpah pada tuhan.
Penyesalan Evan sangat dalam. Setelah kepergian ibunya. Hanya Elyn lah yang membuatnya semangat untuk menjalani hidup.
Dengan pandangan Evan yang rabun ia mencoba menatap Elyn. Ia meneteskan air mata di sela-sela doa yang ia panjatkan untuk Elyn.
Perlahan tubuhnya kembali bisa di gerakkan meski masih terasa lemah namun ia sudah mampu menggapai tangan mungil Elyn.
__ADS_1
Evan menggenggam tangan Elyn dengan lembut. Ia memanjatkan doa dan sumpahnya pada tuhan berulang-ulang.
"Tuhan, akan aku lakukan apapun selama Elyn baik-baik saja. Akan aku lakukan semua hal selama itu membuatnya bahagia"