
Regi yang menyadari hal tersebut segera menyelam ke dasar kolam renang. Berusaha untuk menyelamatkan Elyn.
"Hah.. Hah.. Hah.." Nafas Regi terengah-engah. Ia juga sudah menelan cukup banyak air demi membawa Elyn kembali ke darat.
Panik bukan kepalang tangan Regi gemetar. Nyaris seluruh orang di kapal turun saat itu. Sedangkan para awak kapal mengadakan rapat demi keselamatan penumpang akibat kejadian yang menimpa Elyn. Sehingga kapal menjadi sangat sepi.
"Eeevan.." Regi kembali melihat Evan yang tergeletak di lantai. Ia pingsan dan kini di hadapannya Elyn juga terkapar lemah.
Regi mencoba memeriksa nadi Elyn. Tak terasa lagi tanda-tanda kehidupan dari tubuh Elyn. Air mata pun jatuh di pipinya. Tangan dan tubuhnya gemetar. Ia mencoba memeluk tubuh Elyn. Elyn di dekap dengan erat.
"Elyn.. Bangun.. Elyn.." Isaknya yang terus mendekap tubuh Elyn.
Pakaiannya yang basah kini berlumur darah. Regi ingin berteriak namun mulutnya kini tak sanggup mengeluarkan suara. Ia mencoba mengambil alat komunikasi, namun alat tersebut telah basah dan tidak berfungsi. Ia kini tak tahu harus berbuat apa. Rasa tak berdaya menyelimuti dirinya. Ia merasa gagal akan tugasnya.
Suara seseorang terdengar oleh Regi. Ia menengadahkan kepalanya. Regi menatap penuh harap orang tersebut
Seolah berkata " Tolong kami.."
*Diwaktu yang sama
Duarrrrr....
Suara ledakan itu terasa sangat dekat. Rory dan seluruh orang yang menghadiri rapat tersebut terkejut.
"Suara apa itu?"
"Apa dari kapal kita?"
"Coba hubungi bagian mesin. Apa ada mesin kita yang meledak dan terbakar?"
"Tidak bisa, alat komunikasi tidak berfungsi.."
"Suaranya terdengar di arah balkon depan. Coba cek saja dahulu"
"Kita ke sana saja dulu.."
Suara riuh ruang rapat menyebabkan sedikit kepanikan. Semua memiliki asumsi masing-masing. Namun tak ada yang benar-benar berlari untuk mengetahui sumber suara ledakan tersebut.
Rory bergegas berlari begitu melihat semua orang yang hanya bisa berceloteh dan saling berpandangan. Ia berusaha untuk menuju sumber suara. Namun ia tak melihat adanya sesuatu yang aneh. Sampai Rory mendengar suara tangisan seorang anak.
"Iii.. Tu.... Itu.." Rory yang berjalan perlahan itu terbata-bata.
Sosok yang tampak tak asing itu membuat jantungnya berdegup kencang.
__ADS_1
"Elyn bukan sih.." Gumam Rory.
"Semoga aku salah.." Ucap Rory lagi di dalam benaknya. Ia tak mungkin bisa membayangkan jika kesialan kembali mengusik bocah kecil tersebut. Ia sempat menolongnya dan baru saja rasanya anak malang tersebut di tolong olehnya.
Matanya menyisir area sekitar. Mencari apa yang sebenarnya terjadi. Namun matanya terhenti di satu tempat. Wajahnya pucat pasi. Ia mengigit ujung bibirnya. Nafas dalam di tariknya. Rory tak ingin membayangkan apa yang terjadi.
"Darah.." Ucapnya keras begitu melihat darah yang sudah bercampur dengan air kolam renang.
"Ada apa ini.." Regi mulai menyadari jika sesuatu yang fatal telah terjadi
Regi tersentak ia menatap penuh harap pada Rory. Rory menatap sosok yang di rangkul Regi. Sosok yang tak asing itu semakin mengoyak hati Rory.
"Elyn.." Rory sangat tidak menyangka apa yang ia lihat. Firasat buruknya yang menyangka jika yang ia lihat itu Elyn. Kini benar adanya.
"Medis.." Lirih Rory begitu ia menyadari kondisi saat itu.
Rory berlari ia berteriak lantang. Memanggil tim medis. Alat komunikasi tidak berfungsi. Sehingga Rory membutuhkan waktu yang cukup lama untuk memanggil tim medis.
Lambat laun orang-orang mulai berdatangan. Mengingat tim medis pun sudah datang. Regi terdiam di sudut. Tubuhnya gemetar. Ia tak menyangka apa yang sedang terjadi saat itu.
Tubuh Elyn yang basah dan dingin masih terasa jelas di dekapannya. Ia merangkul kedua lututnya dan menangis tersedu-sedu.
Evan di angkut oleh tim medis. Dugaan para tim medis dia pingsan karena shock. Rory segera menghubungi orang tua Elyn dan tentu saja ayah Evan.
"Elyn.."
"Elyn.. Bangun Nak.."
"Elyn.."
Suara idaman dan teriakan memilukan hati tersebut berulang kali di ucapkan oleh ibu Elyn.. Ayah Elyn mencoba menenangkan istrinya namun ia juga tak kuasa menghalangi sang istri.
Tubuh Elyn yang kaku dan bersimbah darah meremukkan hati kedua orang tersebut.
"Ayah, Elyn yah.. Dia tidur kan yah.. Dia akan bangun kan.."
"Ayah, Elyn kenapa tidak membuka matanya yah.."
"Ayah, jawab ibu. Ayah.. Ayah anak kita yah.. Anak kita satu-satunya.."
Ibu Elyn sangat tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Elyn yang sangat ia cintai, anak satu-satunya yang ia miliki, putri berharga dan harta terbesar mereka. Kini terbujur kaku tak bernyawa.
Regi di bawa juga oleh tim medis untuk di tenangkan. Ia juga mengalami shock. Regi terbata-bata berbicara. Ucapannya tergagap. Dokter bilang karena dia shock hingga lidahnya kelu dan kaku.
__ADS_1
Mereka tak menanyakan hal lainnya. Semua hanya diam dengan segala kejadian yang bertubi-tubi selama di perjalanan tersebut. Kematian Elyn menyayat hati semua orang.
***
Zornia benua bagi para penyihir. Sebuah benua yang terkenal sebagai sumber kebahagiaan. Namun kini bagi keluarga Elyn yang ada hanya kepedihan.
Elyn tewas di hari ulang tahunnya. Hari yang sangat ia tunggu dan hari yang mungkin berisi kebahagiaan bagi Elyn dan keluarganya. Namun kini terasa perih dan menyakitkan.
Tentu bukan sekedar isapan jempol istilah sumber kebahagiaan. Namun Zornia di anggap makmur karena hukum yang berlaku di benua ini sangat ketat dan terdengar adil.
Termasuk untuk kasus Elyn. Kejadian tersebut terjadi di wilayah kekuasaan Zornia. Sehingga pengadilan yang di terapkan pun harus sesuai dengan aturan hukum Zornia.
Regi berkali-kali di panggil sebagai saksi. Ia menjelaskan apa yang ia lihat, dengar dan apa yang ia lakukan. Penyelidikan terhenti beberapa kali. Karena Evan yang tak mau bicara sama sekali.
Evan masih di kurung di istana kerajaan Zornia. Alat pembunuh menjadi satu-satunya bukti. Evan yang diam menandakan apa yang ia lakukan bukanlah sebuah kecelakaan.
Hingga tak terasa 4 hari pun sudah berlalu. Penyelidikan demi penyelidikan masih terus di lanjutkan. Evan masih tidak mau berbicara.
Saat ini tubuh Elyn akan di periksa dan di autopsi oleh para penyihir dan Dokter dari kerajaan Zornia. Tubuhnya masih di dalam mesin pendingin.
Mulai dari kenangan tubuh yang bisa di lihat menggunakan sihir. Jelas jika Evan lah membunuh Elyn. Momentum kematian tersebut bisa di rekam menggunakan batu sihir dan di gunakan sebagai barang bukti di persidangan nanti.
Kejadian itu memang masih aneh. Senjata tersebut merupakan senjata sihir. Dimana Evan yang seharusnya manusia biasa tidak mampu mengoperasikan senjata tersebut. Namun misteri tersebut tidak bisa di ungkap karena Evan menolak berbicara. Ia hanya diam dengan matanya yang kosong.
Kini giliran tim kedokteran. Mereka harus membedah tubuh Elyn untuk mengautopsi. Tubuh Elyn yang sudah mulai mencair dari pendingin mayat tersebut. Mulai di bacakan doa bersama sebelum benar-benar mulai membedah tubuh Elyn. Tubuhnya di tutup oleh kain lebar, tanpa pakai.
Seorang dokter memulai pembedahan. Namun betapa terkejutnya dia ketika memegang tubuh Elyn. Tubuh itu terasa hangat seolah tubuh manusia yang masih hidup.
"Aaa.. Apa ini.." Dokter tersebut panik. Ia mencari tanda kehidupan di tubuh Elyn, dan benar saja. Nadi Elyn kembali terasa. Elyn kembali hidup.
Tidak mempercayai apa yang ia lihat. Dokter mencoba kembali memeriksa tubuh Elyn. Namun kini bekas luka di menghilang. Tubuhnya terasa semakin hangat dan nafasnya perlahan kembali. Tak lama Elyn kembali membuka matanya.
"Hah.. Hah.. Hah.." Nafas beratnya terdengar jelas.
Seluruh mata menatapnya. Mereka terkejut dengan apa yang sedang terjadi.
"Ini mustahil.."
"Tidak mungkin.."
"Ini pertama kalinya.. Ya tuhan.. Ini berkah dewa atau mukjizat Tuhan"
Ungkapan demi ungkapan tidak percaya terus terucap dari mereka.
__ADS_1
Tak pernah ada dalam sejarah jika seseorang yang sudah mati bisa hidup lagi di dunia ini. Tidak dengan sihir putih bahkan sihir hitam. Banyak penelitian sihir hitam untuk membangkitkan orang mati. Namun semua itu gagal dan tak pernah ada yang terwujud. Satu-satunya hal yang mustahil adalah menghidupkan mereka yang mati.