
Elyn terlalu bersemangat. Ia berlari kesana-kemari. Ia bahkan ingin memanjat beberapa pohon. Jika kedua orangtuanya dan Evan tidak menghalanginya. Entah apa yang sudah di lakukan oleh Elyn. Mungkin dia sudah tersangkut di atas pohon dan tidak bisa turun.
"Ini coba rasa buah ini.." Elyn tersenyum licik.
Evan tak mencurigai apapun. Ia dengan polos mengambil buang yang di sodorkan Elyn tanpa bertanya buah apa itu.
"Ayo, coba di makan.." Pinta Elyn lagi pada Evan.
Evan menggigit buah tersebut dengan sekali gigitan besar.
"Aaaaaaa.... Bleeeeh.. Fuuuuuh..." Rasa asam menjalar hingga tengkuknya. Buah itu seketika di muntahkan oleh Evan.
"Hahahaha..." Elyn tertawa puas.
"Elyyyyn... " Teriak Evan di iringi tawa lepas Elyn yang merasa sukses besar telah mengerjai Evan.
"Huh... Huh.. Huh..." Nafas berat mereka yang berlarian mulai terdengar bersahutan.
"Udah yuk.. Capek kejar-kejarannya.. Kita istirahat dulu.." Pinta Evan yang mulai lelah.
Evan menunjuk sebuah kursi taman di bawah pohon yang rindang dan menghadap ke danau. Tempat yang pas untuk beristirahat dan menikmati pemandangan.
Elyn duduk dan menyodorkan sebotol minuman pada Evan. Evan menyambut minuman itu dan meneguknya. Elyn tersenyum manis menatap keindahan alam di sana.
"Banyak sekali tanaman yang baru aku lihat. Buah-buahan disini juga beragam. Ada yang manis, sedikit pahit, ada juga buah yang asam." Ucap Elyn sambil menatap Evan ketika mengucapkan kata asam.
"Hahahaha..." Pekik Elyn lagi begitu mengingat ekspresi Evan ketika mengigit buah yang asam tersebut.
"Puas ya.. Puas..." Evan cemberut. Ia sebenarnya senang melihat Elyn yang tertawa lepas saat itu. Namun ia juga sedikit kesal karena Elyn mengerjainya. Evan sangat tidak suka buah-buahan yang terasa asam.
"Marah ni.. Maaf deh.." Rengek Elyn sembari menggenggam lengan Evan.
Melihat Elyn yang menggemaskan ketika menggenggam lengannya. Evan menjadi luluh.
"Duh, gemesnya..." Ucapnya lirih melihat Elyn yang memelas.
Evan mencubit hidung Elyn dengan lembut. Elyn menutup matanya karena tangan Evan yang berada di hidungnya tersebut.
"Lain kali jangan jail gitu dong. Aku kan tidak suka rasa asam. Dasar gadis nakal.." Ucap Evan kesal.
"Iya iya.. Lain kali akan aku kasih lagi buah yang lebih asam." Elyn terkekeh geli. Ia masih tidak menyerah untuk terus menggoda Elyn.
"Elyn..." Evan memegang kedua pipi Elyn.
Elyn tersenyum lebar. Ia senang karena Evan terlihat kesal.
"Kak Evan.. Lihat deh.. Ada perahu angsa. Aku ingin naik itu boleh tidak?" Elyn melihat ada wahana perahu angsa di danau tersebut.
"Kamu sekarang mau menyuruhku mendayung ya?" Goda Evan begitu melihat perahu angsa tersebut.
"Hahahaha.." Elyn kembali terkekeh geli. Ia sepertinya puas tertawa hari ini.
__ADS_1
"Bukan itu maksudku.." Ucapnya yang masih terkekeh.
Elyn serius ingin naik perahu angsa tanpa terpikirkan jika nanti Evan lah yang mendayung perahu angsa tersebut.
"Aku serius kak.. Nanti kita bergantian deh mendayung perahu angsanya." Rengek Elyn.
Evan melihat tatapan Elyn yang memelas tak tega untuk menolaknya.
"Awas ya.. Kalau nanti ujung-ujungnya aku juga yang mendayung." Ancam Evan.
"Haha.. Iya iya.." Elyn tampak puas.
Mereka bangkit dari kursi tersebut dan menuju ke tepi danau. Petugas perahu tersebut memasangkan pelampung di tubuh Elyn dan Evan.
"Jika terjadi sesuatu atau tidak sanggup lagi mendayung tolong tetap di tempat dan panggil petugas saja ya.." Sang petugas perahu angsa tersebut mengingatkan para penumpang yang akan menaiki perahu angsa tersebut.
"Perhatikan juga. Jika tiba-tiba di tengah danau ada angin kencang dan membuat perahu bergoyang. Jangan panik. Panggil petugas yang berkerja. Nanti kami yang akan menghampiri kalian." Lanjutnya lagi.
"Jangan bercanda yang berlebihan di atas perahu dan selalu hati-hati. Mengerti." Ucapnya tegas.
"Yaaaa...." Teriak beberapa orang di sana termasuk Elyn dan Evan.
Danau tersebut memang terlihat dalam. Pasti banyak penumpang lain yang bermain sembarangan hingga perahunya terbalik atau mereka tercebur ke danau.
Para petugas tersebut sudah mengingatkan dengan seksama sebelum kejadian itu terjadi. Evan menyimak dengan baik kata demi kata dari petugas tersebut.
Ia bisa membayangkan betapa hebohnya Elyn. Sehingga Evan harus siap siaga jika Elyn kembali heboh dan tak terkendali.
"Cih.. Serius amat pak." Ledek Elyn yang melihat Evan sangat serius menyimak.
"Memangnya aku bagaimana kak Evan?" Elyn tampak kesal.
"Kamu kan super super aktif Elyn..." Ucapnya dengan penuh penekanan.
"Hiiiih... Aku kan tidak segitunya. Aku juga tahu kok mana yang berbahaya. " Elyn berdalih.
"Hah.. Apa? Terus aksi manjat pohon tadi apa? Kamu bikin heboh aja tahu.." Ucap Evan mengingatkan Elyn akan aksinya yang beberapa kali ingin memanjat pohon.
"Iii... Itu kan..." Elyn tampak ragu-ragu.
"Aku kan tidak akan memanjat jauh ke atas." Elyn tertunduk malu. Ia tidak bisa menyangkal pernyataan Evan kali ini.
"Pokoknya kamu harus dengerin kata-kata ku nanti di perahu. Jangan sampai kamu kembali beraksi" Evan mengernyitkan keningnya.
"Iya..." Elyn mengulum bibirnya. Ia cemberut sambil melangkah perlahan ke atas perahu angsa tersebut. Evan tersenyum kecil melihat Elyn yang cemberut.
Perlahan perahu tersebut mulai ke tengah. Evan mendayung dengan cepat. Elyn sangat antusias dengan perahunya yang melaju cepat.
"Nah dari sini kamu yang dayung pelan-pelan saja sambil menikmati suasana." Ucap Evan yang menagih janji Elyn untuk membantunya mendayung.
Elyn masih ngambek dengan ucapan Evan yang mengatakan dia super aktif. Ia memutar otaknya untuk kembali mengerjai Evan.
__ADS_1
"Aduuuh.. Aduuhh...." Ucap Elyn ringkih ketika mendayung perahu tersebut.
"Elyn apa yang sakit?" Evan terlihat panik.
"Apa kaki mu sakit lagi.? Sudah biar aku saja yang dayung. Mana lihat kakimu Elyn.." Evan semakin panik. Ia membungkuk mencari kaki Elyn di bawah kursi.
Elyn terkejut melihat reaksi panik Evan. Evan yang tampak pucat dan suara yang serak membuat hatinya bergetar.
"Ah... Seharusnya aku tidak bercanda tenang hal yang seperti ini**." Elyn menyesali apa yang telah ia lakukan.
Evan meraba kaki Elyn. Ia memijat perlahan kaki Elyn. Ia juga memastikan Elyn tidak ada yang terluka.
"Kak.. Maaf.. " Terdengar suara lirih Elyn yang bergetar.
Evan menatap Elyn dalam-dalam. Ia tak mengerti kata maaf apa yang di maksud Elyn.
"Yang mana yang sakit Elyn.? Apa kaki yabg sebelah lagi?" Tanya Evan dengan pandangan serius.
Elyn mengigit bibirnya. Ia tak sanggup menatap wajah Evan yang jelas terlihat sangat mengkhawatirkan dirinya.
"Aku tidak apa-apa kak.." Ucap Elyn pelan.
"Tidak biar aku periksa dulu. Atau kita kembali saja ke sana" Evan semakin terlihat pucat.
"Aku bilang aku baik-baik saja kak." Elyn menahan tangisnya.
"Tidak.. Kita harus kembali.." Evan tanpa pikir panjang lagi langsung memutar balik perahu angsa tersebut.
Ia mendayung dengan sekuat tenaganya. Elyn kembali mengigit bibirnya. Ia tak bisa mengatakan apa-apa lagi. Evan pasti akan marah padanya.
"Kak.. Aku..." Belum usai Elyn mengatakan apapun Evan sudah memutus perkataan Elyn.
"Tunggu sebentar ya Elyn.." Evan semakin fokus mendayung.
"Loh cepat sekali kembalinya. Ada apa?" Tanya petugas tersebut begitu perahu angsa Evan dan Elyn menepi.
"Apa disini ada petugas medis?" Evan tampak panik.
Petugas perahu tersebut mencoba menghubungi rekannya yang menjadi petugas medis. Elyn yang mendengar hal itu akhirnya memberanikan diri untuk bicara.
"Aku bilang aku tidak apa-apa." Ucapnya setengah berteriak.
"Tidak Elyn, sebentar lagi petugas medis akan datang." Evan memegang pundak Elyn.
Elyn lagi-lagi mengigit bibirnya. Kini bibir Elyn berdarah akibat gigitan geramnya sendiri.
"Aku hanya tidak mau mendayung dan ingin mengerjai kakak." Ucapnya dengan suara rendah.
Evan terlihat murka. Wajahnya merah dan matanya melotot ke arah Elyn dengan tajam.
"Elyn.." Evan menyebut nama Elyn dengan penuh penegasan.
__ADS_1
"Iya, aku hanya mengerjai kakak." Ucap Elyn lirih.
"Elyn, bercanda kamu sudah kelewatan Elyn. Kamu tahu betapa aku mengkhawatirkan mu Abelyn." Evan terdengar sangat kecewa. Ia melepas tangannya dari pundak Elyn dan berjalan meninggalkan Elyn.