
Papa nya Ruby memeluk Ruby dengan hangat untuk memberikan kekuatan untuk Ruby bisa menjalani kehidupannya dengan tegar sambil memikirkan sebuah cara untuk membantu Ruby hadir di acara ulang tahun Ahma nya Devano Wandani di Beijing.
" Aku punya sebuah cara yang pastinya akan membuat Devano Wandani di coret dari daftar warisan keluarga Wandani karena perbuatan nya itu kepada Ruby telah melanggar persyaratan yang di ajukan oleh Tuan Besar Peter Andy Wan di dalam surat warisannya itu untuk cucunya yang kurang ajar itu. " Kata Mama nya Ruby yang di hubungi oleh Papa nya Ruby untuk datang ke kota Los Angeles oleh Papa nya Ruby.
"Tapi, kita juga harus mencari bukti tentang operasi plastik yang di lakukan Devano Wandani untuk gadis bernama Soledad Zevanya untuk kita mengusir Soledad Zevanya dari keluarga Devano Wandani karena Ia telah menipu kita dan keluarga kita. " Kata Papa nya Ruby yang segera memerintahkan para stafnya untuk mencar tahu keberadaan dokter yang mengoperasi wajahnya Soledad Zevanya di kota Dublin melalui HP nya.
" Ruby , kau tenang sajalah karna kami sebagai orangtua mu akan membantu mu mendapatkan keadilan di dalam rumah tangga mu yang telah di nodai oleh suami mu sendiri yang sangatlah ambisius terhadap harta warisan Akong nya sendiri. " Kata Papa nya Ruby membelai rambut panjang Ruby.
" Iya, anak itu tidak akan pernah mendapatkan haknya sebagai calon pewaris tahta kekayaan dari Tuan Besar Peter Andy Wan." Kata Mama nya Ruby yang merasa geram sekali memikirkan menantunya yang tak mempunyai sifat orang baik.
*******
Ibukota Beijing, China.
Semilir angin kencang menerpa seluruh benda yang berada di sekitar kota Beijing di karenkan di bulan itu adalah musim gugur yang amat dingin dan kering kontang bagi warga -warga yang merasakan angin musim gugur tahun itu.
" Aku juga merasakan angin musim gugur di dalam diriku loh, "Kata Soledad yang memegangi lengan Devano Wandani begitu mereka telah tiba di kediaman Keluarga besar Wandani.
" Aku justru merasakan angin panas karena kau memegangiku begitu kencang seakan Aku akan terbang menabrak tiang Tian An Men deh jika tak kamu jagain begitu ketat. " Omel Devano kepada Soledad yang harus berperan sebagai Ruby di dalam keluarga besar Wandani.
__ADS_1
" Siapa suruh kau mengubahku dengan wajah istrimu yang sudah meninggal dunia katamu itu." Kata Soledad dengan desisan sinis kepada pria di sampingnya itu.
" Kalian berdua kenapa jalan kalian begitu lama dan lambat seperti kura-kura saja ?" Tanya Tuan besar Peter Andy Wan menengok ke belakang nya dan melihat sepasang muda dan mudi itu begitu lambat berjalan mengikuti nya ke ruang pribadi keluarga besar Wandani.
" Ya, karena kami mengalami jetlag yang begitu memusingkan kami, Akong." Jawab Devano yang memegangi kepalanya sebagai isyarat dirinya mengalami jetlag kepada Akong nya.
" Ah, yang benar saja kamu baru juga dua tahun kamu tak bepergian dengan menggunakan alat transportasi udara kelas ekonomi untuk kamu membiasakan diri hidup sebagai orang belajar hidup mandiri. " Kata Akong nya dengan nada tak percaya dengan sikap manja nya Devano selama ini di kenalnya itu.
" Aku terbiasa naik pesawat pribadi yang dapat menempuh perjalanan jauh dengan ekstra cepat sampai ke tempat tujuan tapi sekarang Akong malah menggunakan pesawat umum yang amat bising sekali. " Kata Devano Wandani dengan nada uring-uringan kepada Akong nya.
" Emm, sepertinya pelatihan hidup mandiri mu selama dua tahun masih kurang untuk melatih mu menjadi orang muda yang tidak manja dan suka berhidup mewah dengan fasilitas top dunia dan aku pikir kamu akan berubah setelah aku memblokir semua fasilitas mewah yang kamu miliki itu. " Kata Akong nya mengernyitkan dahi kepada Devano Wandani.
" Kau ini minta di pukul pakai tongkat ku ya?" Bentak Akong nya mengangkat tongkat untuk memukul kepala Devano Wandani tetapi pemuda ini dengan lincah menangkap tongkat akong nya dan berlari masuk ke ruangan pribadi keluarga besar Wandani dan bertemu dengan seorang gadis yang di tubruk nya hingga terjengkang di lantai karena Ia membuka pintu ruangan pribadi keluarga besar Wandani dengan kencang.
" Adudduh..! " Pekik Vicky Wandani sepupunya yang kepalanya benjol karena membentur lantai.
" Ups, maafkan aku Vicky.. Hehehe.. " Kata Devano Wandani malah menertawakan gadis itu merintih kesakitan pada kepalanya.
" Kapan kau bisa mengasihani orang yang alami kesusahan yang di sebabkan oleh ulah mu itu?" Tanya Soledad yang menyambarnya bangun dari atas tubuh Vicky Wandani.
__ADS_1
" Kapan -kapan saja ya karena semua orang di sini tak ada hati untuk ku..! " Jawab Devano nada datar menghadapi sejumlah sepupunya yang di sekitar Ahma nya yang sedang menunggunya di dalam ruangan pribadi keluarga besar Wandani.
Ahma nya menatapnya dengan lembut, tenang dan sabar sekali menghadapi ulah nya itu. Ia pun segera menghampiri Ahma nya lalu memberikan salam nya dengan sopan santun yang tinggi kepada Ahma nya.
"Selamat sore Ahma , lihatlah Van Van sudah pulang ke rumah dengan keadaan sehat dan juga selamat. " Sapa Devano Wandani dengan nada sopan santun kepada Ahma nya.
" Umm.. Kemarilah..! " Kata Ahma nya dengan tangan melambai lembut kepada nya. Ia pun melangkah maju untuk menghampiri Ahma nya di kursi kebesaran Ahma nya.
" Ya? "
" Anak nakal kau membuat ulah apa lagi di kota Los Angeles selama hampir dua tahun ini.. ?" Ternyata Ahma nya mengomeli nya juga dan Ia cemberut.
"Aku gak membuat ulah apa -apa di kota Los Angeles. Aku ini mencari pekerjaan di seluruh kota Los Angeles hingga aku dapat bekerja di perusahaan Bruce yang akhirnya memecatku karena Akong yang mendatangi kantor aku bekerja dengan mengatakan bahwa aku tak bisa bekerja di kantor sekecil itu dengan gaji yang cuma bisa aku pakai untuk jajan permen karet ku saja. " Jawab Devano Wandani dengan nadanya yang mengadukan kelakuan Akong nya kepada Ahma nya.
" Terus saja kau membela dirimu, Devano. Kau tak pernah bisa berubah menjadi orang yang hidupnya serba kekurangan sepersen pun dan kau memang harus hidup sebagai Tuan Muda yang bergelimpangan harta dan kasta mu yang memang di takdirkan untuk menjadi hakmu dari leluhur keluarga besar Wandani. " Kata Akong nya tersenyum lembut dan sayang kepadanya.
" Emm, lalu apakah aku akan menetap di Ibukota Beijing untuk selamanya setelah Akong bicara tentang aku adalah cucu kesayangannya Akong dan Ahma?" Tanya Devano Wandani yang cerdas menangkap arti perkataan Akong nya itu.
Bersambung!
__ADS_1