
Ibukota Beijing, China.
Angin di luar jendela kamar hotel yang di jadikan sebagai tempat menginap bagi seorang Richard Evander menerpa rambut pria asal Irlandia Utara berdarah Indonesia ini tampak berantakan di depan dahinya.
" Rich, kamu jadi atau tidak nih untuk menemui aku di tempat wisata istana musim panas..! " Pesan Vivian Wandani melalui WeChat kepada Richard Evander di pagi hari ini adalah hari kedua pemuda ini mengunjungi kota Beijing
" Jadi, dong..! " Balas WeChat Richard Evander kepada Vivian Wandani.
" Oke, jangan lupa kamu harus ajak istrimu juga untuk berkenalan dengan aku karena aku juga akan memperkenalkan tunangan ku kepada mu dan istri mu loh..! " Pesan WeChat Vivian kepada Richard Evander.
Richard Evander memikirkan cara untuk temukan seorang gadis yang bisa di bayarnya untuk pura -pura menjadi istrinya untuk dikenalkan kepada Vivian Wandani untuk memenuhi janjinya kepada sepupunya itu.
" Hmm, aku tak mempunyai kenalan seorang gadis di kota Beijing ini untuk berperan sebagai istriku yang akan aku kenalkan kepada Vivian Wandani si cerewet itu..!" Batin Richard Evander kepada dirinya sendiri sambil mengambil kopi kaleng di meja sebelah ranjang hotelnya.
Lalu hp Richard Evander berdering untuk satu panggilan dari seseorang yang fotonya muncul di layar HP Richard Evander dengan nama Sonya Chen.
" Aha, ini dia gadis yang aku butuhkan untuk aku bayar sebagai istri pura-pura ku di depan Vivian Wandani..! " Kata Richard Evander kepada hpnya sendiri seraya tersenyum bahagia menemukan ide cemerlang untuk mengatasi masalahnya.
Di mansion keluarga Wandani.
Ruby Yolanda duduk menghadapi cermin rias di hadapannya sambil mengeringkan rambutnya yang basah kuyup karena Ia usai mandi dan keramas bersama dengan suaminya yang saat ini sudah tidur pulas di ranjang.
" Dasar serigala laki-laki itu..! Dia menerkam ku berkali-kali sampai sekujur tubuh ku penuh riasan ciptaan nya yang membuat aku persis seperti wanita penghibur saja..! " Batin Ruby Yolanda menghadapi suaminya yang sedang tidur pulas dengan posisi telentang bebas di ranjang.
__ADS_1
Ruby Yolanda mengambil hpnya untuk melihat isi pesan WeChat, instagram dan twitter yang di miliknya untuk mendapatkan informasi dari adik tirinya yang tinggal di Los Angeles, USA.
" Hmmm.. Parah nih anak tak pernah balas pesan ku..! " Kata Ruby Yolanda sambil menepuk dahinya sendiri.
" Kamu menulis pesan untuk siapa di hpmu itu? " Tanya Devano Wandani yang tiba-tiba bangun dari tidurnya lalu merampas HP Ruby Yolanda untuk melihat tulisan di HP istrinya.
"Apa yang kamu lakukan, Devano? Kenapa kamu merampas HP kuuu? " Ruby Yolanda berdiri untuk merebut kembali hpnya tetapi Devano Wandani malah melemparkan Hp nya ke luar kamar.
Brak!
" Hei..! Kau sudah tak waras ya melempar hp ku begitu saja..?! " Bentak Ruby Yolanda kepada Devano Wandani yang menariknya sampai ia jatuh di ranjang.
" Aku memang sudah tak waras semenjak aku mencintaimu yang membuat aku tak pernah suka kalau istri ku menyimpan foto dan nomor HP pria lain selain diriku dan keluarganya..! " Jawab Devano Wandani yang mengikat kedua tangan Ruby Yolanda di tiang ranjang.
" Kau mau apa?" Ruby gemetar ketakutan pada suaminya.
"Apa kamu sudah lupa untuk kamu harus jaga sikapmu kepada ku atau kamu akan kehilangan hak warisan mu dari Akong mu? " Ruby Yolanda dengan marah berusaha untuk mengingatkan Devano Wandani untuk memperlakukan dirinya dengan baik.
" Tidak...! Aku tak pernah melupakan janjiku pada mu untuk mencintaimu dengan tulus dan kelembutan kasih sayang ku kepada mu...! " Devano Wandani menghentikan kegiatannya di pagi hari itu di tubuh Ruby Yolanda dengan pria ini melepaskan istrinya.
Ruby Yolanda dengan cepat merapikan pakaian dan riasan nya karena wanita ini mendengar suara ketukan pintu dari luar kamar yang di dengarnya sebagai suara putra mereka berdua.
Tok!
__ADS_1
Tok!
"Mama...! Papa, Ziko sudah rapi dan wangi nih untuk berangkat ke sekolah dengan di antar oleh Papa dan Mama..! " Kata Ziko Wandani dengan suara manisnya dari luar kamar tidur Ruby Yolanda dan Devano Wandani.
Devano Wandani membukakan pintu kamar untuk putra mereka yang segera di gendongnya dengan kasih sayang lalu di ajak ke ruang makan di lantai bawah.
Ruby Yolanda yang ingin mengikuti mereka di tahan oleh sepupunya Devano Wandani yang membuat Ruby Yolanda mengangkat kedua alisnya ketika wanita itu mengenal pria yang menghadangnya itu.
" Eduardo? "
" Betul sekali, Aku Eduardo Wandani. Ahh, aku kira kamu sudah lupa tentang masa lalu kita di beberapa waktu lalu..! " Kata Eduardo Wandani yang menatap Ruby Yolanda dengan tatapan mata yang membuat risih Ruby Yolanda.
" Aku tak pernah lupa kepada mu tetapi aku tak pernah mempunyai masa lalu dengan mu selain masalah pekerjaan ku sebagai artis Hollywood yang pernah bekerjasama dengan mu yang dulu sebagai produser film ku..! " Kata Ruby Yolanda dengan nada judes kepada Eduardo Wandani.
" Oh ya? Kamu memang seorang artis yang amat pandai berakting sampai -sampai kamu pun di sini berakting sebagai seorang wanita baik-baik dan terhormat yang belum pernah berhubungan dengan laki-laki di luar sana di masa remaja mu atau di masa kamu belum berjumpa dengan seorang Devano Wandani yang menjadi suami mu sekarang ini...! " Ucap Eduardo Wandani yang menimbulkan amarah di dalam diri Ruby Yolanda yang menampar pipi pria itu dengan kencang.
Plak!
" Dengar ya Eduardo Wandani! Aku seumur hidup aku tak pernah berhubungan dengan pria lain meskipun aku seorang artis yang banyak sekali membintangi film atau drama yang banyak sekali adegan romantis dengan pasangan ku di dunia kerja ku. .! Aku selalu menjaga kehormatan dan nilai -nilai moralitas ku sebagai seorang wanita yang terhormat! " Kata Ruby dengan nada ketus kepada Eduardo Wandani yang di lewati olehnya dengan sikap angkuh.
" Gadis sialan yang sombong! Lihat saja nanti aku akan membuat mu terusir dari rumah ini..! " Kata Eduardo Wandani dengan tatapan mata sinis kepada punggung Ruby Yolanda yang berjalan menuruni tangga untuk pergi ke ruang makan untuk sarapan pagi bersama dengan para anggota keluarga Wandani.
Di ruang makan, Ruby mendengarkan dengan cermat amanat dari Nyonya besar Wandani yang memberinya dokumen untuk perjalanannya ke kota Xiamen bersama dengan Devano Wandani untuk kunjungan ke panti jompo.
__ADS_1
" Kau harus temui kepala panti nya yang tentu akan memberikan arahan untuk mu dalam misi sosial mu terhadap orang-orang tua yang malang itu di panti jompo di kota Xiamen..! " Kata Nyonya besar Wandani kepada Ruby Yolanda yang menganggukkan kepalanya dengan patuh.
Bersambung!