
Richard Evander membuka file di laptopnya untuk mencari tahu tentang riwayat asli dari Devano Wandani untuk Ia bisa mencari peluang dalam merebut kembali Ruby Yolanda dari pria yang menjadi saingan terberatnya itu.
" Aku harus mencari tahu siapa dia sebenarnya? " Kata Richard mengetik sesuatu di keyboard laptopnya.
Lalu, sebuah file keluar dari kolom yang di cari olehnya itu dan Ia tersenyum getir karena tak ada satu pun file yang bisa di temukannya di setiap kolom di internet yang di gunakan olehnya itu.
" Sial..! " Umpat Richard sambil mengacak-acak rambutnya sendiri.
******
Kota Xiamen, China.
Devano Wandani mengedipkan sebelah matanya kepada Ruby Yolanda yang mengacuhkannya dengan asyik membuat rajutan di sofa panjang di depan televisi di ruang keluarga.
" Ih, kamu kok mendiamkan aku terus menerus sih, Sayang?Aku capek nih berkedip-kedip terus menerus persis lampu di jalanan hanya untuk mengajakmu berbicara dengan aku. " Kata pria ini yang menempatkan diri di samping Ruby Yolanda yang terus menerus mengacuhkannya.
" Apa sih yang menarik dari rajutanmu itu suami kamu yang tampan ini? " Tanya Devano Wandani yang merebut rajutan di tangan Ruby Yolanda dan menyelipkan kepalanya di bawah kedua lengan Ruby Yolanda.
__ADS_1
" Aku ingin membuatkan pakaian musim dingin untuk para lansia di panti jompo keluarga kita, Dev. Karenanya aku sangat sibuk, jadi maafkan aku jika aku mengabaikan kamu. " Jawab Ruby Yolanda yang menundukkan kepalanya untuk wajahnya dan tatapannya terarah kepada Devano Wandani suaminya yang sedang ingin bermanja-manja dengannya.
" Oh, begitukah? Hmm, ngomong-ngomong soal lansia -lansia itu membuat aku teringat akan masa lalu ku di panti asuhan kota Yilan utara, Taiwan. " Kata Devano Wandani yang merenung sesaat dan menyiratkan kesedihan di wajahnya yang sangat tampan itu.
" Panti asuhan di kota Yilan utara? Memangnya kamu pernah tinggal di sana? Bukankah orang tua mu lengkap dan keluarga mu berada? " Tanya Ruby Yolanda yang tertarik dengan cerita masa lalu Devano Wandani yang tak sengaja di buka oleh pria itu.
" Iya, aku pernah tinggal di sana semenjak Papa kandung ku dan Mamaku bercerai pada usiaku baru sembilan tahun. Aku baru tahu kalau aku adalah cucu orang kaya raya setelah Mamaku menikah lagi dengan pria pilihan Akong ku yaitu Papa ku yang sekarang yang juga Papanya Sonya Wandani yang merupakan putri asli dari Papa kedua ku yang sebelum menikahi Mamaku itu awalnya sudah punya istri yang akhirnya telah meninggal dunia setelah melahirkan Sonya Wandani adik tiriku itu..! Akong pikir aku tak pernah tahu riwayat asliku dan siapa orangtua asliku. Kau tahu sampai detik ini aku ingin cari Papa kandung aku yang tak pernah di akui sebagai menantunya Akong ku yang super tajir itu. " Jawab Devano Wandani dengan senyum pahit yang mengembang di bibirnya.
" Ohhh, apakah kamu tahu siapa Papa kandung mu itu, Dev? " Tanya Ruby Yolanda yang tiba-tiba merasa kasihan kepada Devano Wandani.
" Hmm, kau yang sabar ya dan yakinlah suatu saat nanti kamu akan bisa bertemu dengan Papa kandung mu. " Kata Ruby Yolanda yang menepis jari nakal Devano Wandani yang telah menyusup ke dalam bajunya dan memainkan isi dalam bra nya.
" Ya, terimakasih untuk kamu yang sudah mau mendengarkan cerita masa lalu aku. Sekarang giliran mu yang bercerita tentang kamu di masa lalu mu, Sayang! " Kata Devano Wandani yang ganti menyusupkan tangannya ke bawah perut Ruby Yolanda.
" Ihh, jauhkan dulu tanganmu itu dari tubuh aku..! " Pekik Ruby Yolanda yang sudah ingin berdiri dari sofa malah di jatuhkan kembali ke sofa oleh Devano Wandani yang mulai menyerangnya.
" Ceritakan masa lalu mu sebagai cara kita untuk menjalin hubungan yang baik dan saling berbagi pengalaman masing-masing. " Kata Devano Wandani yang mencium bibir dan menjelajahi rongga mulutnya.
__ADS_1
" Aku dulu di rawat dengan cinta oleh kedua orang tua ku sampai Aku tahu kalau Papaku mempunyai anak lain di luar negeri dan adikku itu adalah asisten pribadi ku sendiri di tempat kerja Aku dulu sebagai artis Hollywood yang terkenal. Aku dulu punya banyak penggemar ku hingga Aku mendapatkan hadiah cincin batu emerald dari teman di Peru. " Kata Ruby Yolanda yang tidak sengaja memberitahukan bahwa ia dulu pernah di beri hadiah dari seorang pria kepada Devano Wandani.
" Apaa? " Tanya Devano Wandani mendadak marah kepada Ruby Yolanda.
" Ehhh, itu masa lalu ku..!" Jawab Ruby Yolanda yang kaget karena Devano Wandani telah berhenti menjelajahi tubuhnya dan pergi ke luar cottage dengan wajah merah.
" Dasar semua wanita itu sama saja! Penipu! " Teriak Devano Wandani yang melampiaskan amarahnya dengan memukul pohon di depan cottage sampai Ruby Yolanda menjerit-jerit ngeri melihat amarahnya.
" Aaghh!!! Devano, aku minta maaf telah bicara tentang masa lalumu! Aku tak pernah ada rasa apapun terhadap pria fansku itu! Karena aku dari aku kecil telah mencintai seseorang di masa lalu ku di panti asuhan St. Thomas dan orang itu adalah kamu suamiku sendiri..! " Teriak Ruby Yolanda yang mencemaskan tangan Devano Wandani yang berdarah-darah itu karena pria itu memukuli pohon dengan sekuat tenaganya.
Devano Wandani berhenti memukuli pohon di depan cottage. Ia membalikkan badannya untuk menghadap kepada Ruby Yolanda istrinya lalu menghambur dan memeluk Ruby.
"Cheni, tolong kamu jangan membenci aku yang dahulu pernah menyakiti kamu karena aku pikir semua wanita itu sama penipu dan hanya bisa mengandalkan kecantikan dan keindahan tubuh mereka saja untuk menjebak pria sampai pria itu jatuh ke dalam perangkap cintanya, maka wanita akan membuangnya jauh-jauh seperti yang telah Mamaku lakukan kepada Papaku yang malang. " Kata Devano Wandani yang menaruh wajahnya di bahu Ruby Yolanda lalu menangis sedih sekali sampai Ruby Yolanda merasakan luka di hati Devano Wandani.
" Aku tak pernah membencimu, Dev. Aku juga tak merasa diriku cantik dan tubuh Aku indah, maka Aku tak pernah ada niatnya mau menjebak mu dalam perangkap cintaku, karena aku bukanlah wanita-wanita yang kamu benci itu dan aku juga tak memiliki kekayaan yang seperti Akong mu itu yang membuatmu merasa muak dengan segala drama dan kekayaan dari keluarga Akong mu itu. " Kata Ruby Yolanda yang membelai punggung Devano Wandani dengan kelembutan.
Bersambung!
__ADS_1