
Kota Xiamen, China.
Devano Wandani merenggangkan kedua lengan ke atas kepalanya karena Ia merasa tubuhnya pegal-pegal akibat seharian suntuk Ia hanya menjalankan segala aktivitas di tempat tidur di cottage.
" Wah, danau yang aku lihat airnya sangat jernih sekali membuat sepasang mataku menjadi lebih segar. " Kata Devano Wandani menghirup udara di bukit tempat cottage nya berada.
Ia menengok ke arah kanannya untuk melihat Ruby Yolanda istrinya yang sedang merajut syal di kotak kain dan benang yang di letakkan di atas pangkuan istrinya.
" Ruby, bagaimana jika kita habiskan sisa waktu kita di cottage ini dengan berlayar ke tengah danau itu? " Tanya Devano Wandani yang temui istrinya dengan berjongkok di bawah bangku yang di duduki oleh Ruby Yolanda.
" Aku tak berani berlayar ke tengah danau itu yang menurut orang di sini adalah danau yang angker. " Kata Ruby Yolanda istrinya dengan nada malas menjawabnya.
" Ah, jangan kamu percaya kepada takhayul yang tak ada yang tahu kebenarannya itu. Ayolah, kita liburan sampai puas. " Kata Devano Wandani yang merebut kotak kain dan benang rajutan milik Ruby Yolanda dan menggendong istrinya pergi ke tepi danau.
Di tepi danau ada perahu kecil yang terdampar di pantai danau. Devano Wandani menaruh Ruby Yolanda di atas perahu itu lalu Ia mendayung perahu hingga ke tengah danau dan bernyanyilah Ia di sana dengan sukacita.
' Wahai, langit biru yang indah, Aku menyebut namanya yang membuat hatiku bahagia.
Aku ingin Ia tahu bahwa aku mencintainya.
Wahai awan sampaikan suara hatiku kepada nya'
Ruby Yolanda menutup kedua telinganya dengan jarinya karena suara Devano Wandani sangatlah sumbang sekali. Ia mencibir suaminya dengan lirikan matanya yang merasa sebal kepada suaminya itu.
"Ruby, giliran kamu untuk bernyanyi dengan dayungku sebagai alat musiknya. " Kata Devano Wandani dengan tawanya yang menggema di seluruh bukit.
" Baik, aku nyanyi. " Jawab Ruby Yolanda istrinya dengan senyuman kecil.
' Daun bunga teratai berkembang di musim semi dimana tangkainya menciptakan keharmonisan di daunnya, Aku menuangkan air teh di bangku di atasnya membuat suasana di hari sore ku selalu indah'
__ADS_1
Suara merdu Ruby Yolanda membuat kawanan burung murai di sekitar danau ikut bernyanyi dengan suara kicauan mereka yang ramai dan menambah suasana di hari itu sangat indah bagi Ruby Yolanda
" Cheni, apakah tamu bulanan mu sudah pulang ke rumahnya atau belum?" Tanya Devano yang merusak suasana hati Ruby seketika itu juga.
" Belum. " Jawab Ruby Yolanda yang tak mau melayani hasrat suaminya terus menerus untuk mencapai tujuan suaminya itu.
" Lama sekali. Aku sudah puasa selama tujuh hari loh sedangkan liburan kita akan segera usai. Ahh, gagal dong kita menambah momongan kita untuk jadi adiknya Ziko putra kita. " Kata Devano Wandani dengan wajahnya agak mendung pada Ruby Yolanda.
" Sabarlah sedikit karena menambah momongan tak semudah membalikkan telapak tangan." Kata Ruby Yolanda dengan nada lembut di telinganya.
"Ya, baiklah. Aku akan menunggu kehadiran buah hati kita yang akan datang setelah kita kembali ke Los Angeles rumah kita yang baru. " Kata Devano Wandani yang mendayung perahu kembali ke tepian pantai danau.
Ruby Yolanda turun dari perahu dengan lincah karena hatinya sangat bebas usai mendengar Devano Wandani akan memberinya cuti cukup lama dari pekerjaan sebagai seorang istri yang baik.
Devano Wandani menghela napas dalam-dalam sambil turun dari perahu namun ia di kejutkan oleh perahu yang oleng dan terbalik ke air danau yang membuatnya ikut terjungkal ke air danau.
Byurrr!
" Devano...! " Teriak Ruby Yolanda yang telah sampai di dekat cottage mereka. Ruby kaget melihat Devano Wandani yang terjungkal ke air danau.
Devano Wandani menggunakan kepandaian berenangnya untuk kembali ke permukaan air danau dan Ia segera sampai ke tepi danau, jika tak ada seekor ular besar sejenis anaconda di dekat tepi danau yang bersebelahan dengan perahunya.
" Celaka! " Teriak Ruby Yolanda yang segera memanggil para pengawal pribadi Devano Wandani untuk menyelamatkan Devano Wandani dari danau.
Salah satu dari pengawal pribadi Devano telah mengambil senapan yang membidik ular itu dengan tepat sekali sehingga ular langsung terkapar di tepi danau dalam keadaan tak lagi bernyawa.
" Dev, cepatlah kau raih tanganku untuk naik ke perahu. " Kata Ruby Yolanda yang duduk di perahu telah mengulurkan tangannya untuk menolong Devano Wandani.
"Cheni, aku datang..! " Kata Devano Wandani yang meraih tangan Ruby Yolanda lalu memanjat naik ke atas perahu dan menubruk Ruby Yolanda di perahu.
__ADS_1
" Ahhh! Hati -hati kau nyaris membuat aku jatuh ke danau juga..! " Kata Ruby Yolanda yang di bawah tubuh Devano Wandani di atas perahu.
" Ya, tenanglah. " Kata Devano Wandani yang menarik Ruby Yolanda bangun dari perahu dan tak sengaja menyentuh bokong Ruby Yolanda.
" Aduh.. Jangan sentuh bokongku ya?! " Kata Ruby Yolanda dengan nada galak kepada Devano Wandani yang segera mengangkat kedua tangannya ke atas kepalanya dengan cengiran lebarnya kepada Ruby Yolanda.
" Kau menipuku ya gadis nakal! Awas kau nanti malam oleh ku! " Kata Devano Wandani di dalam pikirannya seraya turun dari perahu mengikuti Ruby Yolanda.
Ruby Yolanda berlari dengan cepat seakan-akan ia takut dengan pikiran yang muncul di kepala Devano Wandani begitu pria itu tahu bahwa Ia tak memakai pembalut wanita.
" Aduh, kenapa aku begitu ceroboh sampai Ia tahu kalau aku sudah selesai datang bulannya? " Tanya Ruby Yolanda pada dirinya sendiri. Ia pun segera menutup pintu kamar dengan rapat untuk menghindari dari terkaman Devano Wandani pada dirinya.
*****
Kota Ningbo, China.
Eduardo menaruh Soledad Zevanya di ranjang di dalam rumah sewa yang berhasil di temukannya di kota kecil yang belum pernah di kunjungi oleh Eduardo dan Soledad Zevanya.
" Uang sewanya lima puluh Yuan atau lima puluh RMB. " Kata pemilik rumah kepada Eduardo yang sedang menggendong Soledad Zevanya yang pingsan karena kelelahan.
" Baiklah, aku akan menyewa rumahmu ini, Tuan. " Kata Eduardo yang merogoh dompetnya dari saku celana panjang lalu mengeluarkan uang senilai lima puluh RMB kepada pemilik rumah sewa.
" Tunggu, apakah kalian berdua ini suami istri? ' Tanya pemilik rumah sewa kepada Eduardo dengan sorotan mata menyelidik.
" Ya, istriku ini jatuh pingsan karena kelelahan di dalam perjalanan kami dari Ibukota hingga ke kota ini dalam kondisi hamil muda. " Jawab Eduardo untuk keamanan mereka bersama kepada pemilik rumah sewa.
" Oh, kalau begitu, silakan kamu dan istrimu menempati rumah ku dengan nyaman." Kata pemilik rumah sewa dengan nada ramah usai Eduardo mengatakan bahwa ia dan Soledad Zevanya adalah suami istri.
Bersambung!
__ADS_1