
" Diam kamu dan jangan pernah kamu bicarakan hal yang terlarang kamu ucapkan di depan Vano cucuku atau kamu akan kehilangan semua yang pernah kamu miliki dariku..! " Ancam Tuan besar Wandani dengan tatapannya begitu tajam sekali kepada Tuan Benny Wandani.
" Baik, aku hanyalah orang kecil yang harus mematuhi orang besar seperti mu. Permisi aku sudah menyelesaikan tugas aku di ruangan ini dan sekarang aku harus melakukan sesuatu yang aku sukai. " Kata Tuan Benny Wandani dengan kepalanya tertunduk di hadapan Tuan besar Wandani.
Lalu, pria ini meninggalkan Tuan besar dan juga nyonya besar Wandani di ruang utama keluarga besar Wandani dengan dadanya seakan-akan sesak karena Ia merasa dirinya tak mempunyai martabat di hadapan Tuan besar Wandani.
******
Di bandara internasional Beijing.
Soledad Zevanya mengambil tas besar miliknya dari para pengawal pribadi Tuan besar Wandani yang telah di perintahkan oleh Tuan besar dan nyonya besar Wandani untuk menyuruhnya pergi dari Beijing.
" Kau harus pergi dari kehidupan Tuan Muda Eduardo Wandani yang kini bukan lagi memiliki status di keluarga besar Wandani melainkan ia hanyalah seorang Eduardo saja. " Kata kepala pengawal pribadi Tuan besar Wandani kepada Soledad.
" Iya, lagipula aku tak pernah mencintainya, aku ini mencintai Devano Wandani Tuan Muda kalian yang menjadi cucu kesayangan dari Tuan besar Wandani. " Kata Soledad Zevanya yang segera berjalan masuk ke boarding pass untuk menuju ke pesawat yang akan mengantarkan Soledad Zevanya kembali ke Irlandia Utara.
Eduardo juga di suruh meninggalkan Beijing dan rumah keluarga besar Wandani untuk selamanya oleh Tuan besar Wandani dengan tiket pesawat ke negara Jamaika.
" Aku di usir ke Jamaika oleh kakek tua itu.. Ugh, aku akan membalasnya nanti jika aku sudah ada kekuatan. " Kata Eduardo dengan wajah geram dan penuh kebencian terhadap keluarga besar Wandani.
Di lorong menuju ke pesawat yang telah menanti dirinya untuk berangkat ke Jamaika. Pria ini diam -diam menyelinap dari pandangan mata para pengawal pribadi Tuan besar Wandani dengan pergi ke arah lain yaitu ke kota Shuzhuo.
" Tuan, kau salah naik MRT untuk jurusan ke kota Shuzhuo. " Kata seorang wanita menegurnya.
__ADS_1
" Ah, diam kau..! Aku batal pergi ke kota Shuzhuo sekarang! " Kata Eduardo yang terpaksa harus kembali ke kota Beijing untuk mencari armada darat lain untuk menjauhkan diri dari keluarga besar Wandani untuk sementara waktu.
Ia menyelinap naik ke bus jurusan kota Ningbo untuk alternatif yang terbaik untuknya dan Ia tak pernah menyangka bahwa Soledad Zevanya juga kabur dari pandangan mata pengawal pribadi Tuan besar Wandani dan masuk ke bus kota Ningbo juga.
" Heii..! "
" Ssstttt, diam kau! "
" Kau berhasil kabur dari mereka yang dungu..! "
" Iya, aku masih betah di China karena aku masih mengharapkan Devano Wandani kembali kepada diriku. " Kata Soledad Zevanya yang duduk di kursi seberangnya.
" Ouh, meskipun bayi di kandungan mu bukan anaknya tetapi anakku? Kau masih kepengen jadi istrinya Devano Wandani yang jelas -jelas tak pernah mencintaimu karena Ia cuma cinta uang saja. " Kata Eduardo dengan lirikan sinis kepada gadis asal Irlandia Utara itu.
" Masa bodoh, aku tak perduli dengan kamu dan semua orang di sini karena aku hanya perduli terhadap keinginan hatiku yaitu aku mau jadi istrinya Devano Wandani. " Kata Soledad Zevanya yang membalasnya dengan lirikan sinis juga.
******
Ruby Yolanda menganggukkan kepalanya untuk memahami seorang nenek yang sudah tua renta sekali yang dikunjunginya di rumah jompo untuk pelayanan sosial dari keluarga besar Wandani terhadap negara.
" Ya, Nek. Aku mengerti kok maksud kamu. Mari, aku bantu nenek untuk membersihkan kedua kaki nenek. " Kata Ruby dengan suaranya yang lembut dan ramah kepada nenek di rumah jompo itu.
Sikap dan perilaku serta tutur kata dari Ruby yang begitu bersahaja dan penyayang terhadap sesama membuat Devano Wandani merasakan hatinya tersentuh sekali dengan kebaikan dan kelembutan istrinya itu.
__ADS_1
" Kau bisa memperlakukan orang lain dengan lembut dan penuh kasih sayang, tapi kenapa kepada aku suamimu sendiri kamu tak akan bisa melakukannya? " Tanya Devano Wandani usai mereka melakukan kunjungan ke panti jompo itu kepada Ruby Yolanda.
" Lain lagi caranya ya? Kamu itu dahulunya pernah ada salah kepada aku! Jadi, tak mungkin dong aku bisa semudah itu bersikap manis dan lembut kepada mu. " Jawab Ruby Yolanda dengan nada sarkastis kepada Devano Wandani.
" Tapi, kan aku sudah minta maaf kepadamu dan mengubah sikap aku kepada mu? " Ucap Devano Wandani di sebelahnya. Mereka berdua di dalam mobil limousine warna silver untuk kembali ke rumah peristirahatan mereka.
"Aku belum melihat kesungguhan hatimu yang berbeda dengan perilaku mu yang cuma sebagai image mu saja untuk mendapatkan nilai plus dan positif di mata keluarga mu dan semua orang mu. " Kata Ruby Yolanda yang memilih pindah tempat duduk ke seberang Devano Wandani untuk menghindari erangan kesal suaminya itu.
Di sepanjang perjalanan mereka hanya saling diam dan melirik saja tak hingga Devano Wandani semakin kesal lalu begitu mereka tiba di rumah peristirahatan. Pria ini mengejarnya ke bagian kamarnya dan menahan pintunya dengan kedua tangan memegang pintu.
" Kau mau apa? Aku sudah lelah dengan segala permainan mu yang konyol bagiku..! " Kata Ruby Yolanda yang terperanjat karena suaminya itu melepaskan pegangan pintu yang langsung menutup dengan otomatis dan menguncinya dengan otomatis pula.
" Aku mau melanjutkan permainan konyolku untuk kamu tak merasa lelah lagi..! " Devano Wandani yang memanggul Ruby Yolanda di bahu kanannya lalu di bawa ke kamar mandi untuk mandi bersama-sama dengannya.
" Aakhhh..! " Jerit Ruby Yolanda yang lagi -lagi harus melayani suaminya.
Malam harinya, Ruby Yolanda terbangun dari tidurnya dan menemukan dirinya berbaring di ranjang di samping Devano Wandani yang tidur pulas dengan tubuh terbuka.
" Kau pikir tubuhmu atletis apa? Ugh, pamer terus menerus saja kelakuan mu itu..! " Kata Ruby Yolanda yang mendorong Devano Wandani dengan kakinya menendang kasar suaminya hingga Devano Wandani terguling ke lantai dari ranjang.
" Auwww...! " Pekik Devano Wandani yang kaget dirinya ada di lantai. Ia bangun untuk melihat Ruby Yolanda dan terlihatlah olehnya istrinya tidur pulas di ranjang tanpa mengetahui bahwa ia terjatuh dari ranjang tanpa sebab.
" Aku kok bisa terjatuh dari ranjang tanpa sebab. Ah, untung aku tak benjol di kening ku...! " Kata Devano Wandani yang cengengesan sendiri lalu kembali naik ke ranjang dengan merangkul Ruby Yolanda dari belakang.
__ADS_1
"Uuh,untung saja bocah itu tak tahu bahwa aku yang sudah menendangnya hingga jatuh dari ranjang. Kalau ia tahu, ugh habislah aku nanti di hukum olehnya. " Kata Ruby Yolanda di dalam hatinya.
Bersambung!